Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Penerapan Health Book Passport Bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) Yang Dideportasi Dari Malaysia Melalui PLBN Entikong Tri Aan Agustiansyah; Lidia Hastuti; Lilis Lestari; Wida Kuswida Bhakti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9299

Abstract

Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia melalui Pos Lintas Batas Negara Entikong merupakan kelompok rentan yang memiliki berbagai permasalahan kesehatan, khususnya penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, gastritis, dan gangguan psikologis dan Penyakit Menular seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tuberkulosis, penyakit kulit menular, diare, hingga penyakit infeksi berbasis lingkungan akibat kondisi tempat tinggal yang padat dan kurang higienis selama bekerja maupun saat berada di depot tahanan imigrasi. Selama proses deportasi, sebagian besar PMI tidak memiliki dokumen kesehatan maupun riwayat pengobatan yang lengkap sehingga pelayanan kesehatan sering tidak berkesinambungan. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan penanganan penyakit, putus pengobatan, serta rendahnya pemantauan kesehatan PMI setelah kembali ke daerah asal. Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan inovasi Health Book Passport sebagai media pencatatan kesehatan manual bagi PMI yang di deportasi melalui PLBN Entikong. Inovasi ini berupa buku kesehatan portabel berbentuk seperti paspor yang digunakan untuk mencatat identitas kesehatan, hasil pemeriksaan kesehatan awal, monitoring penyakit menular dan penyakit tidak menular, riwayat pengobatan, edukasi kesehatan, dan rujukan pelayanan kesehatan. Health Book Passport dirancang sederhana, praktis, mudah digunakan, dan tidak bergantung pada jaringan internet sehingga sesuai diterapkan di wilayah perbatasan dengan kendala jaringan internet. Implementasi inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesinambungan pelayanan kesehatan, mendukung deteksi dini PTM dan penyakit menular, mempermudah tenaga kesehatan dalam pemantauan kondisi PMI deportasi, serta mencegah putus pengobatan penyakit kronis. Selain itu, Health Book Passport dapat menjadi dokumen kesehatan portable yang dibawa PMI hingga kembali ke daerah asal untuk tindak lanjut pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan ditempat mereka berasal. Dengan demikian, inovasi ini berpotensi meningkatkan perlindungan kesehatan PMI deportasi secara komprehensif dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tugas Kader Posyandu Dalam Mendukung Integrasi Pelayanan Keehatan Primer di Puskesmas: Scoping Review Imran Zamzami; Cau Kim Jiu; Lidia Hastuti; Haryanto Haryanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54788

Abstract

Transformasi sistem kesehatan Indonesia mendorong penerapan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dengan Posyandu sebagai simpul layanan berbasis siklus hidup. Keberhasilan ILP sangat dipengaruhi oleh kinerja kader Posyandu yang menjalankan tugas sebelum, saat dan sesudah hari buka Posyandu (penggerak, penyuluh, pencatat/pelapor, dan pendamping). Tujuan: Memetakan bukti terkini (2023–2026) tentang faktor-faktor yang memengaruhi tugas/kinerja kader Posyandu dalam mendukung ILP di Puskesmas. Metode: Scoping review mengikuti kerangka Arksey & O’Malley yang diperkaya Levac serta panduan JBI, dan dilaporkan berdasarkan PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada PubMed, DOAJ, GARUDA/SINTA, dan Google Scholar (Januari 2026) menggunakan kata kunci Indonesia Inggris terkait ‘kader’, ‘Posyandu’, dan ‘Integrasi Layanan Primer/primary health care integration’. Kriteria inklusi: artikel 2023–2026, konteks Indonesia (dan bukti global pendukung), membahas faktor determinan tugas/kinerja/keaktifan/kesiapan kader dalam layanan Posyandu/ILP. Hasil: Dari 160 rekaman, 15 studi dimasukkan. Faktor yang konsisten berhubungan dengan tugas/kinerja kader meliputi pengetahuan dan literasi program, pelatihan/pendampingan, motivasi dan insentif, dukungan tenaga kesehatan/supervisi, ketersediaan alat dan sistem pencatatan pelaporan (termasuk digital), serta dukungan sosial dan partisipasi masyarakat. Hambatan utama mencakup beban kerja, keterbatasan waktu, keterampilan pencatatan, dan variasi implementasi ILP lintas wilayah. Kesimpulan: Penguatan tugas kader untuk ILP membutuhkan paket intervensi yang menautkan peningkatan kapasitas (pelatihan, coaching), penguatan sistem (SIP, logistik, alur rujukan), dan tata kelola dukungan (supervisi, insentif, pengakuan) yang kontekstual di tingkat Puskesmas.
Penguatan Kader Posyandu melalui Model 3P (Pelatihan, Pendampingan, dan Pemantauan) Dalam Mendukung Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Puskesmas Selimbau Imran Zamzami; Cau Kim Jiu; Lidia Hastuti
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) merupakan bagian dari transformasi sistem kesehatan di Indonesia yang menekankan pelayanan berbasis siklus hidup dan penguatan promotif preventif. Kader Posyandu memiliki peran penting dalam mendukung implementasi ILP di masyarakat. Namun, hasil identifikasi di wilayah kerja Puskesmas Selimbau menunjukkan masih terdapat kendala berupa belum meratanya pemahaman kader tentang ILP, belum tersedianya kartu kendali tugas kader, serta belum optimalnya pendampingan dan supervisi tenaga kesehatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan Model 3P Kader ILP yang terdiri atas pelatihan, pendampingan, dan pemantauan kader Posyandu. Metode yang digunakan meliputi identifikasi masalah lokal, telaah kebijakan, perancangan model, penyusunan perangkat inovasi, dan perumusan implementasi. Hasil kegiatan menghasilkan modul pelatihan, lembar pendampingan, kartu kendali kader, dan format monitoring bulanan. Model 3P Kader ILP berpotensi meningkatkan keteraturan pelaksanaan tugas kader serta mendukung implementasi ILP di Puskesmas Selimbau.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif pada Anak Down Syndrome: Studi Cross-Sectional Siti Masdah; Lidia Hastuti; Cau Kim Jiu; Sri Ariyanti; Usman Usman; Muhammad Alfarizi; Ravi Aulia Febriyanti
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59846

Abstract

Latar Belakang: Anak dengan Down Syndrome (DS) memiliki berbagai kondisi klinis yang dapat menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kondisi seperti hipotonia, kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD), dan penyakit penyerta berpotensi mengganggu kemampuan menyusu dan mempertahankan laktasi. Tujuan: Menganalisis determinan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 70 ibu yang memiliki anak Down Syndrome. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta regresi logistik biner dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil: Proporsi keberhasilan ASI eksklusif sebesar 47,1%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa penyakit penyerta, CHD, hipotonia, mudah lelah saat menyusu, kesulitan mengisap, dan kebutuhan bantuan posisi berhubungan signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa CHD (AOR=0,24; 95%CI=0,07–0,83), hipotonia (AOR=0,25; 95%CI=0,07–0,88), dan penyakit penyerta (AOR=0,29; 95%CI=0,09–0,93) merupakan faktor dominan yang menurunkan peluang keberhasilan ASI eksklusif. Kesimpulan: Keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome dipengaruhi terutama oleh kondisi klinis anak. CHD merupakan faktor paling dominan yang menurunkan keberhasilan ASI eksklusif. Diperlukan dukungan laktasi dan pendampingan multidisiplin untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif pada anak Down Syndrome.
Efektivitas Penerapan Discharge Planning Berbasis Edukasi Telenursing Melalui Whatsapp Group Dalam Meningkatkan Self-Care Management Dan Kesiapan Transisi Perawatan Pada Pasien Diabetes Melitus: Scoping Review Heny Aristiani Aristiani; Lidia Hastuti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.804

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan angka komplikasi dan kejadian rawat inap ulang yang masih tinggi. Rendahnya kemampuan self-care management menjadi faktor penting yang memengaruhi kontrol glikemik pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Perkembangan teknologi komunikasi digital mendorong pemanfaatan telenursing berbasis WhatsApp sebagai media edukasi dan pendampingan pasien secara berkelanjutan. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti ilmiah terkait efektivitas intervensi telenursing berbasis WhatsApp dalam meningkatkan self-care management pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Metode: Penelitian menggunakan desain scoping review berdasarkan pedoman PRISMA-ScR dan framework Joanna Briggs Institute. Hasil: Sebanyak 10 artikel memenuhi kriteria inklusi. Sebagian besar studi menunjukkan bahwa intervensi digital keperawatan mampu meningkatkan perilaku self-care, self-efficacy, dan kepatuhan terapi pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Kesimpulan: WhatsApp-based telenursing menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan self-care management pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
Relationship between Child Marriage and Stunting Incidence Lidia Hastuti; Ridha Mardiyani; Abdu Samad; Dedy Purwanto; Wulan Masitha; Ika Laksita Dewi; Yudi Herdianto Wibowo
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 4 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i4.6766

Abstract

Child marriage has a negative impact on the health of mothers and toddlers and can contribute to stunting. In reality, many women who marry at a young age and give birth under the age of 19 are mentally unprepared to face pregnancy, childbirth, and raising children. Objective: This study aims to find out the relationship between child marriage and stunting. This study uses a quantitative research design with a cross-sectional approach. The population in this study were married couples who already had children. The sample selection used an accidental sampling technique, with a sample size of 30 respondents. Data collection using questionnaires by research surveyors to collect primary data. Data analysis in this study used the chi-square test. Statistically, there is a significant relationship between child marriage and stunting incidence p=0.04 (p<0.05). Child marriage has a risk of 1.67 times having a child with stunting compared to marriage in adulthood (OR= 1.67, 95% CI 1.32-8.74). The level of maternal education is not related to the incidence of stunting p = 0.09 (p> 0.05). There is no relationship between maternal employment and the incidence of stunting p = 0.27 (p> 0.05), but the results of the estimation test show that mothers who do not work have a risk of 2.8 times stunted children compared to mothers who work (OR = 2.8, 95% CI 0.42-18.38). There is a relationship between the number of children and the incidence of stunting p = 0.04 (p <0.05). Mothers who have children > 2 are at risk of having stunted children compared to mothers who have children ≤2 (OR = 2.17, 95% CI 1.43-3.28). Anemia in mothers during pregnancy is not related to the incidence of stunting with a value of p = 0.35 (p> 0.05). There is a significant relationship between early marriage, the number of children, and the incidence of stunting. The level of education, employment, and anemia status in mothers during pregnancy are not related to the incidence of stunting.
EDUKASI NENEK UNTUK PENGUATAN PERAN DALAM PENCEGAHAN STUNTING Lidia Hastuti; Ridha Mardiyani; Yenni Lukita; Yuyun Nisaul Khairillah; Tilawati Aprina; Putri Ayu Acik Kusuma
Jurnal LENTERA Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Lentera
Publisher : Institut Kesehatan Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/lentera.v6i2.605

Abstract

Background: Grandmothers play a crucial role in supporting child growth and development, particularly in family contexts where they are primary caregivers during pregnancy and early childhood. Evidence indicates that although grandmothers significantly influence caregiving practices, their role is often limited by insufficient knowledge regarding balanced nutrition and appropriate infant feeding practices. Limited understanding of stunting, its determinants, and preventive strategies may contribute to suboptimal nutritional practices that increase children’s risk of growth faltering. Objective: This study aimed to enhance grandmothers’ knowledge of nutrition and caregiving practices and to improve their skills in processing local foods into healthy and nutritious meals. Methods: A community-based intervention was conducted using an educational approach combined with a practical cooking class involving 15 participants. Program effectiveness was evaluated through structured observation of cooking-class performance and measurement of knowledge using validated pre-test and post-test instruments. Results: The findings demonstrated a substantial improvement in participants’ knowledge scores, increasing from 64 ± 2.51 before the intervention to 89 ± 6.72 after the intervention, with a mean difference of 25 ± 3.74. Evaluation of the cooking-class activities indicated that participant performance was categorized as very good. Conclusion: The intervention effectively improved grandmothers’ knowledge regarding caregiving practices, exclusive breastfeeding, and infant and toddler nutrition, highlighting the importance of empowering extended family members as key agents in stunting prevention efforts.