Claim Missing Document
Check
Articles

Hasil Musyawarah Keagamaan KUPI Tentang Perlindungan Perempuan Dari Bahaya Pemakasaan Perkawinan Perspektif Maqāṣid Al-Sharī‘Ah Dan Feminist Theory Hesti Rohma Wadda; Zakiyatul Ulya
Al-Qadlaya : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 5 No. 01 (2025): Al-Qadlaya
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemaksaan perkawinan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius di Indonesia karena dilegitimasi oleh budaya patriarki, kehormatan keluarga, dan pemahaman keliru atas otoritas wali. Praktik ini bertentangan dengan prinsip Islam tentang kerelaan, keadilan, dan kemanusiaan. Penelitian ini menganalisis Fatwa Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) tentang Perlindungan Perempuan dari Pemaksaan Perkawinan melalui perspektif maqāṣid al-syarī‘ah Jasser Auda dan feminist theory Nawal El Saadawi. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan normatif filosofis berbasis studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fatwa KUPI, dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah Jasser Auda, selaras dengan tujuan universal syariat yang menekankan keadilan, kemaslahatan, martabat manusia, kebebasan, dan kesetaraan. Sementara itu, dalam perspektif feminist theory Nawal El Saadawi, fatwa KUPI merepresentasikan kritik terhadap struktur patriarki yang melegitimasi pemaksaan perkawinan atas nama tradisi, kehormatan keluarga, dan otoritas wali, serta menegaskan perlindungan perempuan sebagai kewajiban hukum kolektif.
Comparative Study of Husband’s Iddah Policy in Indonesia: Imam al-Ghazali’s Maslahah and Jeremy Bentham’s Utilitarianism Perspective Marshalina Rahadatul 'Aisyi; Ulya, Zakiyatul; Hidayat, Muhammad Rifqi
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v5i2.2797

Abstract

The existence of the iddah policy for husbands has caused much debate because the validity of the iddah adopted by the majority of scholars is only for women. This study aims to analyze the iddah policy for husbands in the Circular of the Director General of Islamic Community Guidance, Number P-005/DJ.III/HK/007/10/2021 using Imam al-Ghazali's maslahah theory and Jeremy Bentham's utilitarianism theory. This study is library research with a qualitative approach, using documentation as a data collection technique and descriptive analysis as a data analysis technique. The study concluded that the policy of iddah for husbands in the Circular of the Director General of Islamic Community Guidance, Number P-005/DJ.III/HK/007/10/2021 is in accordance with Al-Ghazali's maslahah because it has fulfilled 5 (five) elements of maqashid al-shari’ah, namely: hifdz ad-din (maintenance of religion), hifdz an-nafs (maintenance of the soul), hifdz al-aql (maintenance of reason), and hifdz an-nasl (maintenance or offspring), hifdz al-mal (maintenance of property) and is in accordance with Jeremy Bentham's utilitarianism theory because it has fulfilled seven core elements of happiness, namely: intensity of pleasure, duration of pleasure, certainty of happiness, closeness to achieving pleasure, fecundity, purity, and extent. By fulfilling the five elements of maqashid al-shari’ah and seven core indicators of happiness, it can be concluded that this policy is appropriate to implement because it contains benefits and happiness. Keywords: Husband's Iddah Policy, Al-Ghazali's Maslahah, Jeremy Bentham's Utilitarianism, maqashid al-shari’ah.   Abstrak: Keberadaan kebijakan iddah untuk suami telah menimbulkan banyak perdebatan karena keabsahan iddah yang diadopsi oleh mayoritas ulama hanya untuk wanita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan iddah bagi suami dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Panduan Masyarakat Islam Nomor: P-005/DJ. III/HK/007/10/2021 menggunakan teori maslahah Imam al-Ghazali dan teori utilitarianisme Jeremy Bentham. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang menggunakan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data dan analisis deskriptif sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kebijakan iddah untuk suami dalam Surat Edaran Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: P-005/DJ. III/HK/007/10/2021 sesuai dengan maslahah Al-Ghazali karena telah memenuhi lima unsur maqashid, yaitu: hifdz ad-din (pemeliharaan agama), hifdz an-nafs (pemeliharaan jiwa), hifdz al-aql (pemeliharaan akal), dan hifdz an-nasl (pemeliharaan atau keturunan), hifdz al-mal (pemeliharaan harta benda) dan sesuai dengan teori utilitarianisme Jeremy Bentham karena telah memenuhi tujuh unsur inti kebahagiaan,  yaitu: intensitas kesenangan, durasi kesenangan, kepastian kebahagiaan, kedekatan untuk mencapai kesenangan, kesuburan, kemurnian, dan luasnya jangkauan. Dengan memenuhi lima unsur maqashid al-shari’ah dan tujuh indikator inti kebahagiaan, dapat disimpulkan bahwa kebijakan ini tepat untuk diterapkan karena mengandung manfaat dan kebahagiaan. Kata kunci: Kebijakan Iddah Suami, Maslahah Al-Ghazali, Utilitarianisme Jeremy Bentham, maqashid al-shari’ah.
Fenomena Pindah Agama Di Desa Ngadirejo Untuk Mendapatkan Legalitas Perkawinan Perspektif Maqāṣid al-sharī’ah Abidah, Hany; Ulya, Zakiyatul
Al-Qanun: Jurnal Pemikiran dan Pembaharuan Hukum Islam Vol 28 No 2 (2025): Al-Qanun, Vol. 28, No. 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/alqanun.2025.28.2.163-175

Abstract

This research is motivated by the phenomenon of religious conversion to obtain legal marriages that occurs in the Ngadirejo Village community. In response to the prohibition of interfaith marriages in positive law and Islamic law in Indonesia, couples of different religions choose to convert so that their marriages can be legally recognized temporarily. While Islamic jurisprudence (fiqh) has regulated invalid marriages, it has not explicitly explained the provisions for couples who convert to obtain legal marriages. The results of this study indicate that the phenomenon of religious conversion in Ngadirejo Village involves temporarily converting to obtain legal marriage, then returning to the original religion after the marriage is consummated. This decision is made due to religious differences between couples, local customs that require men to follow women, and the need for practical solutions to overcome administrative obstacles. And the phenomenon of changing religions to obtain legal marriage in Ngadirejo Village is contrary to the maqāṣid al-sharī’ah of Asy-Syathibi because it is not in accordance with the objectives of sharia, namely ḥifẓ al-dīn, ḥifẓ al-nafs, ḥifẓ al-'aql, ḥifẓ al-naṣl, and ḥifẓ al-māl.