Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

HUBUNGAN NARSISTIK DENGAN CYBERBULLYING PADA GENERASI Z Christianty, Nidya; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i3.27461.2024

Abstract

Kemajuan teknologi telah berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk pada media sosial. Hal ini didukung dengan keragaman media sosial dan kemudahan bagi penggunanya dalam mengakses fitur yang terdapat didalamnya. Melalui kemudahan tersebut, media sosial memberikan dampak positif sesuai dengan penggunaannya, akan tetapi, bila penggunaan media sosial digunakan secara berlebihan juga dapat menimbulkan masalah yang berdampak bagi diri sendiri dan juga orang lain. Media sosial kerap dijadikan tempat mengekspresikan emosi dari penggunanya, namun kerap disalahgunakan bagi penggunanya untuk melakukan perundungan yang mengarah pada cyberbullying. Perilaku cyberbullying salah satunya karena faktor kepribadian dari pelaku. Kepribadian yang cenderung gelap berkemungkinan mendukung seseorang dalam melakukan tindak kejahatan terutama yang lebih mudah dilakukan yakni di dunia maya. Peneliti berasumsi bahwa kepribadian terutama narsistik berhubungan dengan perilaku negatif cyber bullying yang dilakukan generasi Z. Adapun penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan narsistik dengan cyberbullying pada generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif berjenis non eksperimental menggunakan survei dan sampel yang diambil berdasarkan teknik convenience sampling. Partisipan pada penelitian ini sebanyak 353 partisipan pengguna aktif media sosial yang memiliki rentang usia 17-28 tahun. Dalam penelitian ini menggunakan dua alat ukur, yakni The Short Dark Triad (SD3) oleh Jones dan Paulhus (2013) dan Cyberbullying Questionnaire (CBQ) oleh Guadix et al. (2014). Hasilnya didapatkan bahwa narsistik tidak berhubungan dengan perilaku cyberbullying pada generasi Z (r = -0.016 dengan nilai p > 0.05).
PERANAN TOXIC WORKPLACE TERHADAP PHONE-SNUBBBING Monica, Angeline; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 3 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i3.27891.2024

Abstract

Penggunaan smartphone terus-menerus bertambah dari tahun ke tahun, sehingga menjadikan negara Indonesia dengan penggunaan smartphone tertinggi ke-4 di dunia. Akan tetapi, dibalik penggunaan smartphone yang bermanfaat, terdapat pula dampak negatif, diantaranya orang dapat menjadi kecanduan serta tidak menghargai orang lain. Phone-snubbing atau dikenal dengan phubbing merupakan salah satu bentuk tindakan seseorang tidak menghargai lawan bicara karena sibuk bermain dengan ponsel ketika sedang berinteraksi dengan orang lain. Tindakan phubbing ini menyebabkan beberapa dampak negatif, diantaranya dapat membatasi komunikasi serta interaksi dengan orang lain. Perilaku phubbing ini tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, namun juga dapat terjadi di lingkungan kerja. Apabila hal ini terus berlanjut akan menimbulkan lingkungan kerja yang buruk bagi perusahaan atau dikenal dengan toxic workplace. Lingkungan kerja yang buruk dapat menimbulkan dampak negatif berupa kecemasan, selain itu perilaku phubbing diketahui juga ditandai dengan individu cenderung merasa cemas. Akan tetapi, belum ada penelitian lebih lanjut yang menghubungkan secara langsung antara toxic workplace dengan perilaku phubbing. Pada penelitian ini melibatkan sebanyak 224 karyawan yang bekerja di tiga perusahaan entertainment dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan, karyawan dengan usia 20-63 tahun, karyawan yang memiliki smartphone, serta kebiasaan menggunakan smartphone ketika berinteraksi dengan orang lain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik convenience sampling. Terdapat dua alat ukur pada penelitian ini, yaitu Toxic Workplace Environments yang dikembangkan oleh McCulloch dan Phubbing Scale yang dikembangkan oleh Karadag. Hasil uji menunjukkan bahwa nilai (p) < 0,05, dengan nilai t sebesar 7.226 dan untuk nilai F = 52.209. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa toxic workplace berperan terhadap perilaku phone-snubbing dengan kontribusi atau nilai R-Square sebesar 0.190 atau 19%.
PERAN MORAL DISENGAGEMENT TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING PADA DEWASA AWAL: AGRESIVITAS SEBAGAI MEDIATOR Andriyani, Adinda; Rostiana
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i2.7161

Abstract

Perkembangan teknologi dan informasi di era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam cara berinteraksi melalui ruang digital. Media sosial memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Di sisi lain, penggunaan media sosial juga membawa dampak negatif, salah satunya yaitu meningkatnya perilaku cyberbullying. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terutama pada dewasa awal, yang merupakan kelompok usia paling aktif menggunakan media sosial. Namun, alasan yang mendorong individu melakukan cyberbullying masih belum banyak diketahui. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran moral disengagement terhadap perilaku cyberbullying dengan agresivitas sebagai mediator. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Partisipan pada penelitian ini diperoleh sebanyak 391 orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah Mechanism of Moral Disengagement Scale (MMDS) milik Bandura et al. (1996), Cyber Offending Scale (COS) oleh Hinduja & Patchin (2015), dan The Buss-Perry Aggression Questionnaire (BP-AQ) oleh Buss & Perry (1992) yang sudah ditranslasi ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moral disengagement berperan secara signifikan dalam memprediksi perilaku cyberbullying, baik secara langsung maupun melalui agresivitas sebagai mediator.Kata Kunci: Moral Disengagement, Perilaku Cyberbullying, Agresivitas, Dewasa Awal
PERAN SELF-ESTEEM TERHADAP PERILAKU CYBERBULLYING PADA DEWASA AWAL: MORAL DISENGAGEMENT SEBAGAI MODERATOR Niziliani, Shyakia; Rostiana
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 3 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i3.7163

Abstract

Kemajuan teknologi informasi telah memberikan dampak besar dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kemudahan berkomunikasi melalui media sosial. Media sosial membawa manfaat positif, namun juga memunculkan efek negatif, salah satunya adalah perilaku cyberbullying. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terumata di kalangan generasi Z yang berada pada fase dewasa awal. Meski demikian, masih terdapat keterbatasan pemahaman mengenai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran self-esteem dan cyberbullying, dengam moral disengagement sebagai moderator. Penelitian ini menggunakan pendekatan non-eksperimental dengan teknik pengambilan data purposive sampling. Alat ukur yang digunakan meliputi Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Mechanism of Moral Disengagement (MMDS), dan Cyber Offending Scale (COS). Partisipan penelitian adalah dewasa awal dari generasi Z yang aktif menggunakan media sosial. Hasil analiis menunjukkan bahwa moral disengagement memoderasi hubungan self-esteem dan perilaku cyberbullying. Kontribusi moral disengagement sebagai moderator memperkuat cyberbullying. Temuan ini menegaskan bahwa individu dengan moral disengagement tinggi cenderung terlibat dalam cyberbullying, terutama jika self-esteem mereka rendah. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai faktor psikologis yang mendorong perilaku cyberbullying, sekaligus menawarkan dasar intervensi yang berfokus pada peningkatan self-esteem dan pengurang moral disengagement.Kata Kunci: Self-Esteem, perilaku Cyberbullying, Moral Disengagement, Dewasa Awal
GRIT SEBAGAI MEDIATOR HUBUNGAN HASRAT BERPRESTASI DENGAN RESILIENSI WIRAUSAHAWAN E-COMMERCE PADA ERA DIGITAL Tanujaya, Aurellya Marcella; Rostiana; Gismar, Abdul Malik
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i2.28939.2023

Abstract

Saat ini teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan sangat pesat ditambah lagi dengan dampak Pandemi Covid-19 yang menyebabkan semua elemen bergantung pada teknologi digital. era digital merupakan era dimana wirausaha mengoptimalkan penggunaan alat-alat digital untuk kepentingan bisnis karena permintaan konsumen yang semakin variatif menyebabkan tantangan pada bisnis wirausahawan. Para wirausahawan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan usahanya dan tetap lancar dan menjadi semakin dikenal pada kalangan masyarakat. Resiliensi, hasrat berprestasi dan grit di dalam diri wirausahawan e-commerce penting untuk bertahan dan menghadapi tantangan yang terjadi pada era digital ini serta wirausahawan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran grit sebagai mediator antara hubungan hasrat berprestasi dengan resiliensi. Penelitian ini melibatkan 217 partisipan dengan rentang usia 18 – 51 tahun yang mempunyai usaha di e-commerce. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini yaitu McClelland Motives Questionnaire, The Brief Resilience Scale, dan Grit Scale. Hasil pengolahan data dengan uji regresi sederhana yang menujukkan bahwa hasrat berprestasi memiliki hubungan yang signifikan dengan resiliensi diperoleh nilai (p) 0.000 < 0.05, dan R2 = 39.4%. Namun, peran mediasi yaitu grit tidak dapat dilakukan karena korelasi antara grit dengan hasrat berprestasi dan resiliensi tidak signifikan.
PERAN KETERIKATAN KERJA SEBAGAI MEDIATOR ANTARA MODAL PSIKOLOGIS, MINAT PEKERJAAN, DAN PERSEPSI DUKUNGAN ATASAN DENGAN KINERJA Dicky, Dicky; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 3 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v7i3.3537.2023

Abstract

Kinerja adalah salah satu hal kunci agar perusahaan dapat tetap bertahan dan bersaing dalam dunia bisnis. Pekerjaan seorang sales tidak terlepas dari modal psikologis, minat terhadap pekerjaan, dan persepsi terhadap dukungan atasannya. Modal psikologis, minat terhadap pekerjaan, dan persepsi terhadap kinerja diasumsikan berhubungan dengan kinerja melalui keterikatan kerja akan tetapi belum ada penelitian yang membuktikan hal ini. Penelitian dilakukan di PT A, sebagai salah satu perusahaan distribusi bahan bangunan di Indonesia. Jumlah sampel yang digunakan sejumlah 151 responden. Metode analisis dilakukan dengan metode SEM. Dari hasil analisis data, ditemukan bahwa keterikatan kerja tidak dapat memediasi modal psikologis dan kinerja (RMSEA = 0.031, P-value = 0.2188). Namun, keterikatan kerja ditemukan dapat memediasi minat dengan kinerja (RMSEA = 0.000, P-value = 0.2188). Selain itu, dalam penelitian ini ditemukan salah satu model penelitian dinyatakan tidak fit (RMSEA = 0.067, P-values = 0.00035).
The Relationship Between Learning Motivation And Student Readiness To Take Exams Rostiana
International Journal of Pedagogy Vol. 1 No. 01 (2023): International Journal of Pedagogy
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/ijp.v1i01.13830

Abstract

The level of student learning outcomes is influenced by the readiness of students to take the exam. This study aims to examine the relationship between learning motivation and students' readiness to take exams. This research uses descriptive correlational method, data collection uses a questionnaire and is analyzed using the percentage formula and correlation test using SPSS 20.00. the sample is 72 with the sampling method using simple random sampling technique. The results of the study (1) the results of research findings on students' learning motivation are classified as moderate. (2) The research findings regarding students' readiness to take exams are classified as moderate , (3) there is a significant relationship between students' learning motivation and students' readiness to take exams. The implication of this research is that counselors provide guidance and counseling services that can minimize students who lack motivation to learn, so that students can develop their potential. The services that can be provided are information services, group counseling services, individual counseling services and other Counseling Guidance services. Then the school principal is to provide a minimum of 2 (two) hours per week for each class used by the counseling teacher to carry out the above activities.
MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN MELALUI KETERIKATAN KERJA DAN RASA SYUKUR Rostiana; Kristiani, Monika Dwi; Rizki , Selly Qoriana
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32458

Abstract

Employee performance is a crucial factor in achieving organizational goals. Company X, which is engaged in financing services in Indonesia, faces challenges in creating competent and high-performing employees. Various initiatives have been taken by the HR division, but the success rate to achieve competent and high-performing employees has not been optimal. According to Bakker et al. (2019), employee performance is influenced by internal motivation known as work engagement, employees who are engaged in work will be more focused, proactive, and effective in completing tasks. Based on the job demands-resources (JD-R) theory, work engagement changes when personal resources and job resources fluctuate (Bakker & Demerouti, 2017). In this context, gratitude is identified as a valuable personal resource as it can increase adaptability and positive impact in the work environment (Nicuță et al., 2022). In a highly dynamic and uncertain business environment, especially post-pandemic, the ability of employees to stay motivated and engaged with their work has become increasingly crucial. Through understanding the benefits of gratitude, employees are expected to increase work engagement, which in turn will affect overall work performance. The webinar was conducted at Company X involving 52 employees from various HR departments including Recruitment, Training, Personnel, Performance Management, and Organization & Policy. The results of the t-test on this activity show a significant number (p<0.05), so it can be concluded that this activity provides meaningful changes for the participants ABSTRAK Kinerja karyawan adalah faktor krusial dalam mencapai tujuan organisasi. Perusahaan X, yang bergerak dalam bidang jasa pembiayaan di Indonesia, menghadapi tantangan dalam menciptakan karyawan yang kompeten dan berkinerja tinggi. Berbagai inisiatif telah diambil oleh divisi SDM, namun tingkat keberhasilan untuk mencapai karyawan yang kompeten dan berkinerja tinggi belum optimal. Menurut Bakker et al. (2019), kinerja karyawan dipengaruhi oleh motivasi internal yang dikenal sebagai keterikatan kerja, karyawan yang terlibat dalam pekerjaan akan lebih fokus, proaktif, dan efektif dalam menyelesaikan tugas. Berdasarkan teori job demands-resources (JD-R), keterikatan kerja berubah ketika sumber daya pribadi dan sumber daya pekerjaan berfluktuasi (Bakker & Demerouti, 2017). Dalam konteks ini, rasa syukur diidentifikasi sebagai sumber daya pribadi yang berharga karena dapat meningkatkan adaptabilitas dan dampak positif di lingkungan kerja (Nicuță et al., 2022). Dalam lingkungan bisnis yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian, terutama pasca-pandemi, kemampuan karyawan untuk tetap termotivasi dan terikat dengan pekerjaannya menjadi semakin krusial. Melalui pemahaman mengenai manfaat rasa syukur, diharapkan karyawan dapat meningkatkan keterikatan kerja, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja kerja secara keseluruhan. Webinar dilakukan pada Perusahaan X dengan melibatkan 52 karyawan dari berbagai departemen SDM termasuk Recruitment, Training, Personnel, Performance Management, dan Organizational & Policy. Hasil uji t test pada kegiatan ini menunjukkan angka yang signifikan (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini memberikan perubahan yang berarti bagi para peserta.