Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Peran Dukungan Organisasi pada Karyawan yang Memiliki Kecemasan di Masa Pandemi Covid 19 Diniprilia, Mita; Rostiana
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 1
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i1.321

Abstract

At the beginning of 2020, more precisely in March, the world was shaken by the Corona Virus, which is better known as Covid-19. The corona virus first started to enter Indonesia in the city of Depok, West Java and continued to spread throughout other areas of Indonesia. This virus has a big impact on various aspects of human life, because residents are required to stay at home and do everything at home so as not to become infected with the Covid virus. As a result of the Covid-19 case, the Indonesian government has made various efforts to break the chain of spread of Covid-19, one of which is the policies recommended by the government for companies to implement, namely the implementation of employees working from home or working from office while still implementing the health protocols that have been previously arranged. It is hoped that working employees will continue to do good work for the company, even though there will be anxiety about working in the midst of a pandemic. Researchers used anxiety as a moderator by dividing high anxiety and low anxiety. It is hoped that the condition of employees with high or low levels of anxiety will play a role in the influence of perceptions of organizational support on work performance. The number of samples is 100 people. The data collection technique is a quantitative research method. The results of this research are perceptions of participating organizations' support for work among employees with low levels of anxiety. However, when anxiety levels are high, perceptions of organizational support do not contribute to work.
Peran Moderasi Modal Psikologis pada Hubungan Antara Stres Digital dengan Kesiapan Untuk Berubah Septian, Andra; Rostiana
Psyche 165 Journal Vol. 17 (2024) No. 3
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35134/jpsy165.v17i3.394

Abstract

Perubahan dalam organisasi telah menjadi kebutuhan utama bagi organisasi, khususnya dalam menjawab tantangan transformasi teknologi 4.0. Semakin meningkatnya produktivitas teknologi baru secara radikal mengubah cara kita melakukan pekerjaan. Namun demikian fenomena stres digital hadir akibat ketidakmampuan karyawan ditengah penerapan teknologi baru di tempat kerja. Penelitian ini berusaha meneliti apakah stres digital berperan terhadap kesiapan karyawan untuk berubah, khususnya perubahan teknologi. Selain itu penelitian ini juga membahas peran modal psikologis sebagai moderator kedua hubungan tersebut. Berdasarkan analisis statistik korelasional dan regresi terhadap 199 karyawan di PT X yang bergerak di bidang pertambangan, stres digital berperan secara signifikan terhadap kesiapan untuk berubah (R2 = 0.031, R2 Adjusted = 0.26 F (1, 197) = 6.329) sig. p < 0.001). Selain itu modal psikologis terbukti berkorelasi secara signifikan dengan kesiapan untuk berubah (r = 0,499, p < 0,01), namun interaksi modal psikologis tidak memoderasi hubungan antara stres digital dengan kesiapan untuk berubah (b = -0.12, 95% CI, p > 0.05).
PERAN SENSE OF BELONGING TERHADAP STRES DIGITAL DENGAN LOCUS OF CONTROL SEBAGAI MODERATOR Felicia, Feby; Rostiana; Malik Gismar, Abdul
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i3.19149.2022

Abstract

Transformasi digital terus menerus berlangsung, menyebabkan berbagai perubahan pada kehidupan manusia, baik itu positif maupun negatif. Perubahan yang baik dapat dinikmati, namun perubahan yang buruk, perlu segera diidentifikasi dan diantisipasi. Penelitian ini, mengangkat salah satu isu akibat transformasi digital yang telah diidentifikasi oleh penelitian sebelumnya, yaitu stres digital. Pada penelitian ini, stres digital ditinjau dari aspek kebutuhan psikologis manusia, yaitu sense of belonging. Variabel ini dipilih mempertimbangkan sense of belonging adalah salah satu dari unsur kebutuhan utama manusia diidentifikasi oleh tokoh psikologi Maslow. Memiliki karyawan dengan sense of belonging yang erat dengan perusahaan adalah hal yang penting, karena bukan hanya menguntungkan bagi karyawan namun juga bagi perusahaan. Penelitian terdahulu belum mengidentifikasi variabel ini dari konteks organisasi dan transformasi digital, sehingga penelitian ini bertujuan untuk meninjau dari konteks tersebut. Lebih lanjut lagi, penelitian ini juga meninjau peran faktor kepribadian yaitu locus of control untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terhadap faktor yang mempengaruhi peran sense of belonging terhadap stres digital. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional study. Penelitian ini melibatkan 166 karyawan dari empat perusahaan media ternama di Indonesia. Hasil dari penelitian ini membuktikan adanya kontribusi sense of belonging terhadap stres digital sebesar 7.6%, namun locus of control tidak berperan dalam memoderasi hubungan sense of belonging terhadap stres digital. Lebih jauh lagi, ditemukan bahwa locus of control berperan sebagai prediktor terhadap stres digital sebesar 13%.
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KETERIKATAN KARYAWAN MELALUI MEDIASI THRIVING DAN FLOURISHING Hani, Umi Mahmudah; Rostiana; Idulfilastri, Rita Markus
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karyawan dapat bekerja dengan baik di perusahaan apabila mempunyai keterikatan yang tinggi, oleh karena itu perlu dikaji faktor-faktor yang berperan terhadap pembentukan keterikatan karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi terhadap keterikatan karyawan melalui mediasi thriving dan flourishing. Budaya organisasi merujuk suatu sistem pengertian bersama oleh anggota organisasi dan membedakan organisasi tersebut dari organisasi lainnya. Keterikatan kerja merupakan keterlibatan, kepuasan dan antusiasme individu dengan pekerjaannya. Thriving adalah perasaan mengalami perkembangan dan kemajuan dalam mengembangkan diri. Flourishing adalah kombinasi antara pengalaman hidup yang berjalan baik, perasaan positif serta mampu berfungsi optimal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non eksperimen dengan jumlah sampel 238 orang, yang pengambilannya ditentukan dengan teknik convenience sampling. Keterikatan karyawan diukur menggunakan Gallup   question 12 survey (Q12 survey), budaya organisasi diukur menggunakan skala budaya organisasi, 36 butir, thriving diukur menggunakan Brief Inventory of Thriving (BIT) sebanyak 10 butir; dan flourishing diukur menggunakan The Flourishing Scale Diener sebanyak 8 butir. Hasil uji hipotesis menunjukkan budaya organisasi memberikan efek langsung kepada keterikatan karyawan, thriving berperan sebagai mediator, namun flourishing tidak terbukti berperan sebagai mediator antara budaya organisasi dengan keterikatan karyawan. Implikasi penelitian ini memperlihatkan karyawan terikat dengan organisasi karena adanya tata nilai dan kebersamaan terutama untuk mengembangkan diri. Namun, kedekatan dan tanggung jawab karyawan tersebut belum membangun perasaan positif karyawan pada organisasinya. Saran penulis untuk penelitian selanjutnya adalah agar dapat meneliti budaya organisasi dan keterikatan karyawan dengan melibatkan level manajerial sehingga didapat hasil yang lebih lengkap dan maksimal.
HUBUNGAN MANAJEMEN WAKTU DENGAN KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA MAHASISWA YANG BEKERJA Siu Chian, Lin; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27176.2024

Abstract

ABSTRAK Di kampus tak jarang kita melihat ada mahasiswa yang kuliah dan bekerja. Menjalankan peran sebagai mahasiswa sangatlah tidak mudah. Mahasiswa harus bisa menyeimbangkan kehidupan perkuliahan, pekerjaan dan pribadi atau yang disebut dengan keseimbangan kehidupan-kerja. Namun berdasarkan survei, mahasiswa yang bekerja memiliki keseimbangan kehidupan-kerja yang rendah. Dalam menerapkan keseimbangan kehidupan-kerja, mahasiswa perlu memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang berusia 18-22 tahun dan memiliki pekerjaan sebagai freelance/ part time/ magang. Penelitian ini menggunakan Time Management Questionnaire untuk menguji manajemen waktu dan menggunakan work-life balance scale untuk menguji keseimbangan kehidupan-kerja. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 235 orang dan menggunakan uji korelasi pearson dan mendapatkan nilai R sebesar .483 dan nilai P sebesar .000 < 0.05 sehingga dinyatakan bahwa kedua variabel memiliki hubungan korelasi sedang dan positif.
PERAN GAYA KELEKATAN TIDAK AMAN TERHADAP PHUBBING PADA REMAJA DI JAKARTA DENGAN PROBLEMATIC SOCIAL MEDIA USE SEBAGAI MODERATOR Naftali, Nicholas; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27210.2024

Abstract

Penggunaan internet semakin merajalela semenjak adanya pandemi. Salah satunya adalah penggunaan smartphone atau telefon pintar yang memiliki akses terhadap internet. Hal ini memunculkan suatu fenomena yang disebut phubbing, kondisi dimana seseorang memilih untuk berinteraksi dengan smartphone dibandingkan dengan individu lain. Hal ini tentu menimbulkan dampak negatif sehingga dapat mengorbankan hubungan sosial, pekerjaan, studi, dan tugas penting lainnya. Salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab phubbing adalah penggunaan media sosial yang berlebihan. Penggunaan internet ini yang menjadi masalah atau tidak sehat ternyata juga diduga turut berperan, dan pada penelitian ini diangkat sebagai moderator. Penelitian ini melibatkan 391 partisipan dengan rentang usia 12-19 tahun. Metode yang digunakan penelitian adalah kuantitatif dengan non-probability sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Phubbing Scale, The Experiences in Close Relationships-Relationship Structure (ECR-RS) dan Social Media Addiction Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan gaya kelekatan tidak aman berperan terhadap phubbing dengan F hitung sebesar F hitung>F tabel (9.682>3.865), (p) < 0.001. Problematic Social Media Use (PSMU) juga telah menggambarkan bahwa adanya peran secara signifikan sebagai moderator dengan F hitung>F tabel (85.571>3.865), (p) < 0.001. Namun, hanya dimensi gaya kelekatan cemas yang ditemukan memiliki peranan pada phubbing, tidak dengan gaya kelekatan menghindar.  
PERAN MODAL PSIKOLOGIS TERHADAP KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA MAHASISWA PEKERJA Lazuardi, Lawrencia Audrey; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27226.2024

Abstract

Fenomena mahasiswa bekerja sudah tidak asing dan banyak ditemukan. Hal ini terjadi karena mahasiswa sudah memasuki masa dewasa awal di mana individu sudah memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung ingin mandiri. Namun, ada faktor–faktor lain yang memengaruhi mahasiswa dalam mengambil keputusan untuk bekerja. Pada mahasiswa bekerja, fokus utama mahasiswa yaitu belajar dan menimba ilmu di universitas menjadi terbagi sehingga mahasiswa memiliki dua tanggung jawab besar yaitu berkuliah dan bekerja. Hal ini merupakan konsekuensi yang harus dihadapi, dimana mahasiswa yang bekerja dituntut untuk dapat melakukan kedua tanggung jawab tersebut secara bersamaan. Oleh karena itu, mahasiswa bekerja harus dapat menyeimbangkan hidupnya dengan baik agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti menurunnya nilai akademik, stress, dan kondisi-kondisi psikologis negatif lainnya. Salah satu karakteristik individu yang diduga turut berperan dalam menentukan keseimbangan kehidupan-kerja adalah modal psikologis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat peran modal psikologis terhadap keseimbangan kehidupan-kerja pada mahasiswa bekerja. Data dikumpulkan dari 254 mahasiswa bekerja dengan cara menyebarkan kuesioner yang berisikan alat ukur Psychological Capital Questionnaire (PCQ) dan Work Life Balance Scale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal psikologis memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap keseimbangan kehidupan-kerja (R2 = 0.047, p < 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa modal psikologis memiliki peran terhadap keseimbangan kehidupan-kerja mahasiswa bekerja.     The phenomenon of working students is familiar and often found. This happens because students have entered early adulthood where individuals already have a sense of responsibility and tend to want to be independent. However, there are other factors that influence students in making the decision to work. For working students, the main focus of students is studying and gaining knowledge at university is divided so now students have two big responsibilities that is studying and working. This is a consequence that must be faced, working students are required to be able to carry out both responsibilities simultaneously. Therefore, working students must be able to balance their lives well so as not to cause negative impacts such as decreased academic grades, stress, etc. One of the individual characteristics that is thought to play a role in determining work-life balance is psychological capital. Therefore, this research aims to examine the role of psychological capital on work-life balance in working students. Data was collected from 254 working students by distributing questionnaires containing the Psychological Capital Questionnaire (PCQ) and Work Life Balance Scale measuring instruments. The research results show that psychological capital has a significant positive influence on work-life balance (R2 = 0.047, p = 0.001 < 0.05). This shows that psychological capital has a role in working students' work-life balance.  
HUBUNGAN KEPRIBADIAN MACHIAVELLIANISME DENGAN PERILAKU CYBERBULLYING PADA GENERASI Z Triana, Nabila Maulita; Rostiana
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i2.27466.2024

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada ditunjukkan dengan kebergaman fitur internet, khususnya media sosial. Saat ini, media sosial memiliki beragam manfaat mulai dari aspek komunikasi, hiburan, hingga pendidikan. Namun, tidak sedikit individu yang kurang bijak sehingga menjadikan media sosial sebagai media untuk menyerang atau mengujar kebencian yang dikenal sebagai cyberbullying. Perilaku cyberbullying merupakan bentuk agresi yang sengaja dilakukan berulang melalui media online. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi individu menjadi pelaku cyberbullying adalah tipe kepribadiannya. Kepribadian dark triad diperkirakan dapat mendorong terjadinya cyberbullying. Peneliti berasumsi kemungkinan individu machiavellianisme sebagai individu manipulatif, tidak segan menjatuhkan orang lain melalui dunia maya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan kepribadian machiavellianisme dengan perilaku cyberbullying pada generasi Z. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-experimental dengan teknik convenience sampling, melalui penyebaran kuesioner. Partisipan penelitian ini sebanyak 352 orang partisipan dengan rentang usia 17 - 27 tahun (M = 19.62) merupakan pengguna media sosial yang aktif dengan minimal pendidikan SMP. Penelitian ini menggunakan alat ukur, yaitu The Short Dark Triad (SD3) untuk mengukur machiavellianisme dan Cyberbullying Questionnaire (CBQ) untuk mengukur cyberbullying. Hasil penelitian menyatakan bahwa kepribadian machiavellianisme tidak memiliki hubungan signifikan dengan perilaku cyberbullying pada generasi Z dalam penelitian ini (r = 0.059, p > 0.05). Hal ini menunjukkan bahwa individu dengan kepribadian machiavellianisme tinggi belum tentu melakukan perilaku cyberbullying.
Peran Grit terhadap Future Anxiety pada Atlet Esports Ivana Tjahjono; Rostiana
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 1 No. 12 (2024): NJMS - Juli 2024
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran kecemasan masa depan (future anxiety) berdasarkan aspek demografi yang meliputi jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir. Variabel future anxiety diukur menggunakan skala dengan nilai titik tengah 3.5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mean empirik future anxiety sebesar 3.4824 dengan standar deviasi 1.9235, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 6. Analisis reliabilitas menunjukkan bahwa variabel grit tidak digunakan dalam analisis ini karena dinilai tidak reliable. Hasil ini menunjukkan bahwa partisipan secara umum tidak memiliki tingkat kecemasan masa depan yang tinggi. Analisis deskriptif berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa mean future anxiety perempuan (3.7309) dan laki-laki (3.2436), tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara keduanya (p > 0.05). Analisis berdasarkan usia menunjukkan perbedaan signifikan dengan kelompok usia 29-34 tahun memiliki mean future anxiety tertinggi (4.2632) (p < 0.05). Berdasarkan pendidikan terakhir, partisipan dengan pendidikan D3 memiliki mean future anxiety tertinggi (3.9942) dan hasil t-test menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0.05). Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa kecemasan masa depan dapat dipengaruhi oleh faktor demografi tertentu seperti usia dan pendidikan terakhir.
PENERAPAN METODE (STRUKTURAL ANALITIK SINTETIK) SAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS II MI NW AIK BUKAQ TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Saharudin; Muh. Thala'at; Rostiana
Al-mujahidah Vol 3 No 2 (2022): Oktober
Publisher : Institut Agma Islam Hamzanwadi NW Lombok TImur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51806/al-mujahidah.v3i2.196

Abstract

Application of the SAS Method to Improve Reading Ability in Indonesian Language Learning in Class II MI NW Aik Bukaq Academic Year 2022/2023. Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Study Program, Tarbiyah Faculty, Hamzanwadi Islamic Institute, NW, East Lombok, 2023. Reading is one of the aspects studied in key Indonesian language lessons or a source of knowledge possessed by a person is obtained through reading. This research aims to find out whether the SAS (Synthetic Structural Analytical) method can improve the reading ability of Class 2 MI NW AIK BUKAQ, and to determine the improvement in reading through the application of the SAS (Synthetic Structural Analytical) method for Class 2 MI NW AIK BUKAQ students. The method used in this research is the PTK method. The method used by PTK refers to the planning, implementation, observation and reflection model. The data from this research were obtained using observation sheets, and initial reading assessment rubrics, then this data was analyzed using a percentage formula. The results of the research obtained were that the increase in students' reading ability was obtained in cycle 1 which was 83% and in cycle II the increase in students' reading ability was 94%. Based on the research results, it can be concluded that applying the SAS method can improve students' reading abilities.