Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Hukum Pidana Mati Bersyarat Dalam KUHP Baru di Hubungkan dengan Asas Kepastian Hukum Parhan Muntafa; Ade Mahmud
Jurnal Preferensi Hukum Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Preferensi Hukum
Publisher : Warmadewa Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanksi pidana telah diatur pada Pasal 10 KUHP, salah satunya pidana pokok hukuman mati. Namun pada pelaksanaanya terhadap penerapan sanksi pidana mati terhadap pelaku tindak pidana masih menjadi perdebatan yang cukup serius terhadap eksekusi mati yang masih relatif tidak memberikan kepastian hukum, terlebih setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ada sebuah terobosan baru bahwa hukuman pidana mati bukan lagi pidana pokok melainkan pidana khusus yang diancamkan secara alternatif atau menjadi pidana mati bersyarat dengan diberikan masa percobaan selama 10 (sepuluh) tahun. Tujuan dari penelitian yaitu: menganalisis urgensi penjatuhan pidana mati bersyarat di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dengan menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dengan mengkaji beberapa norma, spesifikasi penelitian yang digunakan bersifat deskriptif da teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah: Urgensi Pidana mati dapat dilaksanakan menurut undang-undang republik indonesia nomor 1 tahun 2023 tentang kitab undang-undang hukum pidana, setelah berkelakuan baik dengan masa percobaan selama 10 (sepuluh), mendapatkan persetujuan dari Presiden setelah mendapatkan pertimbangan Mahkamah Agung, kemudoan hukumannya dapat berubah menjadi pidana penjara seumur hidup. Pemberian pidana mati besyarat sebagaimana di dalam Pasal 100 ayat (4), ada sebuah kata frasa “dapat”, hal ini justru akan memberikan sebuah ketidakpastian ketika dapat di ganti atau tidaknya pidana mati menjadi pidana seumur hidup. Hal ini batas waktu masa percobaan pidananya terlalu lama, kemudian proses peradilan tidak memiliki kepastian akan putusan yang didapatkannya serta belum diatur jelas mengenai batas waktu terbitnya keputusan presiden tersebut.
Pelatihan Penulisan Berita Berbahasa Inggris Berbasis Blog dan Genre Pedagogy untuk Meningkatkan Literasi Digital Santri Al-Mansyuriyah Dwi Sloria Suharti; Gufron Gufron; Tatu Zakiyatun Nufus; Ade Mahmud; Hatami Hatami
Jurnal Nusantara Berbakti Vol. 4 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Nusantara Berbakti
Publisher : Universitas Kristen Indonesia Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jnb.v4i1.704

Abstract

This community service program was conducted at Madrasah Aliyah/Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah, Tangerang, to provide students with structured experience in English news writing and digital publication through blogs. The program responded to three main partner needs: limited experience in structured English news writing, limited use of blogs for publication, and the need to strengthen students’ digital literacy and writer identity. The activity was designed as a participatory and practice-based training program through three workshops: EFL News Writing, Blogging for EFL News Writing, and English Journal Writing. The evaluation used a pre-survey, a post-survey, observation, and documentation of student blog posts. The pre-survey involved 46 students; 31 students (67.4%) had written English news articles, but 42 students (91.3%) had never used blogs or written blog posts. The post-survey involved 45 students; all respondents (100%) reported that they understood ethical blog publication, and 42 students (93.3%) reported that they could use blogs, images, links, and videos to support their writing. The program produced six student blog posts on pesantren activities, National Santri Day, Teacher’s Day, new student admission, and literacy events. These findings indicate that blog-based genre pedagogy can provide an authentic medium for introducing EFL news writing, digital publication, ethical awareness, and students’ emerging writer identity. Further mentoring is needed to evaluate and improve the linguistic accuracy, news structure, and multimodal quality of students’ writing.