Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH EKSTRAK ETANOL 70% V/V DAGING BUAH PISANG RAJASERE (Musa paradisiaca var. sapientum (L.) kuntze) UNTUK MENURUNKAN ASAM URAT PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus) Aisyah, Rizka; Putra, Ari Permana; Aldianysah, Aldianysah; Jerry, Jerry; Hidayat, Arif; Dewi, Luh Yesi Angga Natalia
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 3 No 1 (2024): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59969/jfk.v3i1.90

Abstract

Asam urat adalah asam yang dihasilkan dari proses metabolisme berupa kristal purin di dalam tubuh manusia. Kadar asam urat normal dalam darah pria dewasa 3,5-7,2 mg/dl. Dan wanita 2,6-6,0 mg/dl. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol 70 % V/V daging buah pisang raja sere (musa paradisiaca var. sapientum (L.) kuntze) yang berpengaruh untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah mencit putih jantan (mus musculus). Dengan menggunakan desain penelitian eksperimental. Metode induksi hiperirusemia yang digunakan adalah induksi kafein pada dosis 3,78 mg/20 g BB. Setelah hewan uji hiperurisemia lalu dilakukan induksi menggunakan sampel ekstrak etanol 70 % daging buah pisang raja sere dan allopurinol sebagai sampel pembanding. Penelitian dilakukan dilaboratorium Farmakologi Institut Sains dan Teknologi Al-kamal Jakarta. Determinasi tumbuhan pisang raja sere berasal dari suku musaceae dan hewan uji menggunakan mencit putih jantan galur DDY (Deutche Denken Yoken) yang telah dipastikan identitasnya dan dinyatakan sehat. Pengujian ekstrak etanol 70 % V/V daging buah pisang raja sere meliputi uji fitokimia dan uji non spesifik. Senyawa kimia yang terkandung pada ekstrak etanol 70 % V/V daging buah pisang raja sere (musa paradisiaca var. sapientum (L.) kuntze) yang dapat menurunkan asam urat dalam darah mencit putih jantan (mus musculus) adalah flavonoid dan tanin. Dosis yang efektif untuk menurunkan asam urat dalam darah mencit putih jantan adalah dosis ke-3 dari ekstrak etanol 70 % daging buah pisang raja sere (musa paradisiaca var. sapientum (L.)kuntze) yaitu 5,2 mg/20 g BB sebesar 44 %.
UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL MADU BADUY SEBAGAI OBAT LUKA BAKAR Hardiana, Iyan; Renaldi, Fransiskus Samuel; Baniu, Ahmad Sahlan; Afrizal, Wahyu Nur; Jerry, Jerry; Dewi, Luh Yesi Angga Natalia
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 3 No 1 (2024): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59969/jfk.v3i1.91

Abstract

Madu adalah cairan manis berasal dari nektar tanaman diproses oleh lebah menjadi madu tersimpan dalam sel-sel sarang lebah. Madu merupakan obat tradisional tertua dianggap penting untuk pengobatan penyakit pernafasan, infeksi saluran pencernaan dan bermacam-macam penyakit. Madu juga digunakan secara rutin untuk membalut luka, mengurangi rasa sakit dan bau pada luka bakar atau borok dengan cepat. Penggunaan madu pada luka dapat meningkatkan epitalisasi jaringan nekrotik dengan beberapa makanisme. Salah satunya dengan merangsang pertumbuhan kapiler darah baru dan produksi sitokin yang merangsang regenerasi jaringan. Osmolaritas tinggi dan sifat higroskopis dari madu dapat membentuk barier fisik, menciptakan lingkungan lembab dan mengurangi udema lokal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas penyembuhan luka bakar dengan madu baduy serta mengembangkan teknologi farmasi menjadikan madu bentuk gel. Jenis penelitian ini penelitian eksperimental, membuat sediaan gel dari madu yang berasal dari Baduy, dengan 3 perbandingan konsentrasi madu 10%, 15% dan 20%. Kemudian uji efektivitasnya sebagai obat luka bakar. Tempat dan waktu pelaksanaan penelitian dilakukan di Laboratorium Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal Jakarta Barat, Fakultas Sains dan Teknologi pada bulan Juni-November 2018. Hasil pengujian disimpulkan sediaan gel madu Baduy memiliki efektivitas sebagai obat luka bakar. Dosis sediaan gel paling efektif untuk penyembuhan luka dosis uji III yaitu konsentrasi madu 20% (waktu penutupan luka rata-rata 7 hari).
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SIRSAK (Anonna muricata L.) DALAM MEMBUNUH JENTIK NYAMUK Aedes aegypti Made Raningsih; Puspaningrat, Luh Putu Desy; Dewi, Luh Yesi Angga Natalia
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 1 No 2 (2022): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.93 KB) | DOI: 10.59969/jfk.v1i2.11

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) diperkirakan memiliki kemampuan sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak daun sirsak yaitu saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloid yang mempunyai kemmapuan untuk membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ekstrak daun sirsak dalam berbagai konsentrasi yaitu 0%, 20%, 40%, dan 60%. Penelitian ini merupakan jenis eksperimen dengan menggunakan desain rancangan acak lengakap (RAL). Hasil penelitian dianalisa dengan uji Anava satu arah. Hasil peneilitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh esktrak daun sirsak terhadap jentik nyamuk Aedes aegypti dengan nilai kurang dari 0,05 (p<0,05). Analisis perbandingan (p=0,0001). Penggunaan larvasida ekstrak daun sirsak lebih efektif dalam menekan jumlah jentik nyamuk dengan konsentrasi 60%. Kata kunci: Efektivitas,daun sirsak, Aedes aegypti.
FORMULASI OBAT KUMUR MINYAK ATSIRI DAUN CENGKIH (Syzygium aromaticum) Dewi, Luh Yesi Angga Natalia; Aisyah, Rizka; Puspaningrat, Luh Putu Desy
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 2 No 2 (2023): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59969/jfk.v2i2.59

Abstract

Minyak atsiri daun Cengkih mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, tanin dan eugenol 75,50% berfungsi sebagai antiseptik dan antibakteri, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan mulut dan gigi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui formulasi obat kumur minyak atsiri daun Cengkih, kemudian untuk mengetahui sifat fisik dan stabilitas sediaan obat kumur minyak atsiri daun Cengkih. Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan distilasi uap untuk memperoleh minyak atsiri kemudian dibuat empat formulasi dengan konsentrasi minyak atsiri yang berbeda, mulai dari kontrol negatif yaitu sediaan tanpa minyak atsiri daun Cengkih, F1 0,5%, F2 1% dan F3 2%, kemudian sediaan diuji melalui uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas dan stabilitas dipercepat selama 4 minggu disuhu 40 C, 280 C dan di bawah sinar matahari. Hasil penelitian menunjukkan sediaan terbaik F1 dengan memenuhi uji sifat fisik dan stabil pada suhu 280 C, sedangkan F2 dan F3 tidak memenuhi uji sifat fisik serta formulasi tidak stabil disuhu 40 C dan di bawah sinar matahari, kecuali kontrol negatif yang tidak mengalami perubahan signifikan. Dapat disimpulkan minyak atsiri daun Cengkih dapat dijadikan sebagai obat kumur dengan formulasi terbaik yaitu F1 suhu 280 C.
NILAI SPF KOMBINASI EKSTRAK KULIT BUAH DELIMA (Punica granatum L.) DAN NIASINAMIDA SECARA IN VITRO Dewi, Luh Yesi Angga Natalia; Ratna Djamil; Kartiningsih, Kartiningsih
Jurnal Farmasi Kryonaut Vol 4 No 2 (2025): JFK
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59969/jfk.v4i2.161

Abstract

Kulit buah delima (Punica granatum L.) memiliki kandungan polifenol yaitu flavonoid dan tanin terhidrolisis yang memiliki nilai SPF 16,09 termasuk kategori ultra pada konsentrasi 0,011% dan nilai IC50 12,51 dalam uji DPPH dengan metode ekstraksi maserasi. Selain itu, berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui juga bahwa niasinamida dengan konsentrasi 5% memiliki nilai SPF 10,01±0,3 yang termasuk kategori maksimal. Tujuan dari kombinasi ekstrak kulit buah delima (Punica granatum L.) dan niasinamida untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan nilai SPF, sehingga memiliki kemampuan fotoprotektor yang lebih optimal pada kulit manusia dari paparan sinar ultraviolet khusunya sinar UV-B. Hasil penelitian menujukkan nilai SPF kulit buah delima pada konsentrasi 0,011% sudah termasuk kategori ultra dengan nilai sebesar 16,5061, sedangkan niasinamida pada konsentrasi 0,5% sudah termasuk kategori ekstra dengan nilai sebesar 6,4355. Kemudian dilakukan pengukuran nilai SPF kombinasi ekstrak kulit buah delima dan niasinamida diperoleh hasil adanya peningkatan nilai SPF hal ini dikarenakan kedua zat aktif ini bersinergis menghasilkan nilai SPF sebesar 30,8337 pada perbandingan E:N (2:1).