Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

GERAK SEHAT LANSIA: EDUKASI DAN IMPLEMENTASI SENAM TERSTRUKTUR DI PUSKESMAS GUNUNG TUA Friska Sinulingga, Yeni; Sihaloho, Endang; Sentani Daulay, Evlindari; Rizki, Hudeni
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 8 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i8.%p

Abstract

Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi fisik dan fisiologis, sehingga membutuhkan intervensi yang tepat untuk mempertahankan kualitas hidup. Salah satu upaya yang efektif adalah pelaksanaan senam lansia secara terstruktur yang disertai edukasi kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesehatan fisik lansia melalui edukasi dan praktik senam lansia di Puskesmas Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas Utara. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan interaktif dan demonstrasi senam yang diikuti oleh 19 orang lansia. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta mengenai manfaat senam lansia, dengan rerata skor meningkat dari 55% menjadi 85%. Selain itu, terjadi penurunan rata-rata tekanan darah sistolik dari 150 mmHg menjadi 142 mmHg dan diastolik dari 92 mmHg menjadi 88 mmHg. Lansia juga menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan, dan sebagian besar merasa lebih bugar setelah senam. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan terpadu berupa edukasi dan aktivitas fisik dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan lansia. Diharapkan program ini dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama sebagai bagian dari promosi kesehatan usia lanjut.
Contributing factors to underweight among children under five: A cross-sectional study at Belawan Primary Health Center Sihaloho, Endang; Sitanggang, Antonij Edimarta
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 10, No 3 (2025): September
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/action.v10i3.2730

Abstract

Underweight in toddlers is a significant public health concern in Indonesia, where the 2022 National Nutrition Status Survey reported a prevalence of 17,1% among children under five years of age, reflecting persistent nutritional challenges. This study aimed to analyze the incidence of underweight in toddlers in the Belawan Primary Health Center (PHC) and its contributing factors. This research applied a descriptive-analytical design with a cross-sectional approach, conducted in January 2025, in Belawan, Medan City, North Sumatra. A total of 41 toddlers were selected using a total sampling method. Data were collected using structured questionnaires and secondary records, and ethical approval was obtained from the Institutional Review Board. The sample size was determined based on the population of underweight toddlers recorded at the health center. Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression. The results indicated significant associations between exclusive breastfeeding (p=0,032), inappropriate complementary feeding (p=0,041), and maternal education (p=0,021) and underweight incidence. Logistic regression showed that low maternal education was the most dominant factor (OR=7,26). In conclusion, the role of mothers is very important in child feeding practices. Interventions to reduce underweight should prioritize maternal education and community-based nutrition programs by strengthening the roles of health workers and Integrated Health Post cadres.
Peran Suami dalam Deteksi Dini Tanda Bahaya Kehamilan sebagai Upaya Pencegahan Kegawatdaruratan pada Ibu Hamil: The Role of Husbands in the Early Detection of Pregnancy Danger Signs as an Effort to Prevent Obstetric Emergencies in Pregnant Women Sinulingga, Yeni Friska; Sihaloho, Endang; Rizki, Hudeni; Daulay, Evlindari Sentani
Jurnal Abdi Keperawatan dan Kedokteran Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Abdi Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/jakk.v4i2.79

Abstract

Obstetric emergencies remain a leading cause of maternal mortality in Indonesia, most of which are preventable through early detection of pregnancy danger signs. One of the key factors in the success of early detection is the involvement of family members, particularly the husband as the primary support for pregnant women. However, the involvement of husbands in this aspect remains limited and suboptimal. This study aims to explore the role of husbands in the early detection of pregnancy danger signs as a preventive effort against obstetric emergencies in pregnant women. This research employed a descriptive qualitative approach through in-depth interviews with six husbands of pregnant women undergoing antenatal care at Sunggal Public Health Center, Medan, in January 2025. The study population consisted of husbands of pregnant women who met the inclusion criteria. Data were collected using a semi-structured interview guide, recorded, transcribed, and analyzed using thematic analysis. The main variable in this study was the role of husbands in identifying danger signs during pregnancy, with interviews serving as the primary instrument. Data validity was ensured through source triangulation and member checking. The results revealed three main themes: husbands' knowledge and awareness of danger signs, forms of involvement in preventing emergencies, and barriers to participation. Most informants recognized prominent danger signs such as bleeding and severe pain but were unaware of symptoms like preeclampsia or premature rupture of membranes. Forms of support included accompanying their wives to health facilities, assisting with household chores, and paying attention to complaints. The main obstacles included limited time, lack of direct information from healthcare providers, and cultural influences that consider pregnancy a woman's domain. In conclusion, although some husbands demonstrated concern, their involvement in early detection of pregnancy danger signs needs to be strengthened. Recommendations are directed at communities and healthcare providers to actively engage husbands in pregnancy education programs, including through interactive media, father classes, and community-based approaches, in order to significantly reduce the incidence of obstetric emergencies in pregnant women.
Efektivitas Pelvic Rocking Terhadap Lama Kala I Fase Aktif, Kala II Dan Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif Ibu Bersalin Multi Gravida Di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Denai Tahun 2023 Sinulingga, Yeni Friska; Dalimunthe, Selvia Yolanda; Sihaloho, Endang; Simamora, Mery Krista; Lubis, Rida Rumondang
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 6, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v6i2.9781

Abstract

Untuk memperlancar persalinan, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan, baik secara farmakologis maupun nonfarmakologis. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah latihan Pelvic Rocking. Latihan ini dilakukan dengan cara ibu melakukan latihan mobilitas untuk menjaga kekencangan dan kelenturan ligamen sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi bayi untuk turun ke panggul. Dengan memasukkan senam atau latihan ke dalam rutinitas, durasi kala I dan kala II persalinan dapat dipersingkat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimen, yang terkadang disebut quasi-experiment. Penelitian ini menggunakan Posttest Only Case Control Group Design. Populasi penelitian ini adalah Ibu Bersalin Multi Gravida yang berdomisili di Wilayah Kerja Puskesmas Medan Denai sebanyak 40 orang. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang terdiri dari 20 ibu yang telah menjalani terapi Pelvic Rocking selama 3 minggu sebelum persalinan dan kelompok kontrol yang terdiri dari 20 orang yang tidak menjalani terapi apa pun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelvic Rocking Treatment secara signifikan dapat memperpendek durasi fase aktif pada ibu multigravida pertama kali dengan nilai p sebesar 0,002. Selain itu, Pelvic Rocking Treatment terbukti efektif memperpendek fase aktif pada ibu multigravida di wilayah kerja dengan nilai p sebesar 0,001. Selanjutnya, Pelvic Rocking Treatment terbukti efektif pada 20 kasus dengan nilai p sebesar 0,001. Puskesmas Medan Denai bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya penggunaan Pelvic Rocking sebagai metode nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri pada kala I aktif persalinan
Pengauh Teknik Hypnobreasfeeding Terhadap Pengeluaran ASI Pada Ibu Nifas Di Wilayah Kerja Puskesmas Darussalam Kota Medan Tahun 2022 Sinulingga, Yeni Friska; Dalimunthe, Selvia Yolanda; Sihaloho, Endang; Simamora, Mery Krista; Lubis, Rida Rumondang
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v5i1.9783

Abstract

Terdapat beberapa metode untuk meningkatkan sekresi oksitosin, hormon yang membantu meningkatkan produksi ASI. Metode-metode ini meliputi teknik relaksasi, melihat gambar bayi, memanfaatkan Hypnobreastfeeding, mengonsumsi minuman hangat, menstimulasi puting susu, dan melakukan pijat oksitosin. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Penelitian Kuantitatif dengan strategi Cross-Sectional, dengan tujuan untuk menjelaskan dampak teknik Hypnobreastfeeding terhadap pemberian ASI pada Ibu Pasca Persalinan di wilayah kerja Puskesmas Darussalam Kota Medan pada tahun 2022. Populasi penelitian terdiri dari 40 ibu pascapersalinan di wilayah kerja Puskesmas Darussalam pada bulan Januari 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada ibu yang merasakan penurunan produksi ASI setelah pemberian terapi Hypnobreastfeeding. Dari semua respons, 40 ibu melaporkan peningkatan pengeluaran ASI mereka setelah menggunakan teknik Hypnobreastfeeding. Tidak ada ibu yang mengalami tingkat pengeluaran ASI yang sama sebelum dan sesudah menerima teknik Hypnobreastfeeding. Lokasi adalah wilayah kerja Puskesmas Darussalam, pada tahun 2022. Manajemen Puskesmas Darussalam bertanggung jawab untuk mendidik dan mendukung ibu nifas tentang penerapan Teknik Hypnobreastfeeding dan manfaatnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu nifas tentang metode nonfarmakologis, khususnya penerapan Teknik Hypnobreastfeeding, untuk meningkatkan produksi ASI
Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran ASI Lactogenesis II Pada Ibu Post Partum Multipara Di Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Merah Kota Medan Tahun 2023 Sinulingga, Yeni Friska; Dalimunthe, Selvia Yolanda; Sihaloho, Endang; Simamora, Mery Krista; Lubis, Rida Rumondang
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v6i1.9788

Abstract

Upaya untuk meningkatkan produksi ASI dilakukan dengan melakukan pijat oksitosin pada ibu. Pijat oksitosin adalah stimulasi atau manipulasi tulang belakang yang memicu pelepasan neurotransmitter di medula oblongata. Neurotransmitter ini kemudian segera mengirimkan sinyal ke hipotalamus di hipofisis posterior, yang memicu pelepasan oksitosin. Akibatnya, payudara terstimulasi untuk mengeluarkan ASI. Penelitian ini menggunakan metode quasi-eksperimental yang dikenal dengan pretest and posttest without control group design. Desain penelitian ini melibatkan pengamatan subjek sebelum dan sesudah percobaan. Ibu menyusui bayinya terlebih dahulu, diikuti dengan mengosongkan payudara selama 2 jam dengan kompresi manual dan pengukuran menggunakan gelas ukur (pretest). Selanjutnya, dilakukan pijat selama 15-20 menit. Setelah 2 jam, payudara dipersiapkan kembali untuk akomodasi lebih lanjut (posttest). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI Laktogenesis II pada ibu nifas multipara di wilayah kerja Puskesmas Pasar Merah Kota Medan tahun 2023. Penelitian difokuskan pada ibu nifas multipara yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Pasar Merah Kota Medan. Berdasarkan data bidan desa, terdapat 20 ibu hamil trimester III yang memenuhi kriteria multipara. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI Laktogenesis II pada ibu nifas multipara di wilayah kerja Puskesmas Pasar Merah Kota Medan tahun 2023. Nilai p yang diperoleh dari uji t berpasangan adalah 0,000, yang menunjukkan hasil sangat signifikan.
Hubungan penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE Rizki, Hudeni; Sihaloho, Endang; Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Ristiani, Ristiani
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 1 (2026): January Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i1.2286

Abstract

Background: Uterine atony is a major cause of postpartum hemorrhage, contributing significantly to maternal morbidity and mortality. Prompt and appropriate management of uterine atony, including the use of manual interventions such as Internal Bimanual Compression (IBC) and External Bimanual Compression (EBCC), is crucial for successful hemorrhage control and the prevention of further complications. However, clinical practice still finds variation in the quality of uterine atony management and the implementation of IBC and ECCC procedures. Purpose: To determine the relationship between uterine atony management and IBC and ECCC procedures. Method: This was an observational analytical study using a cross-sectional approach conducted at the Helen Tarigan Clinic, with data collected from July to November 2025. A sample of 34 women giving birth with uterine atony was selected using a total sampling technique. Data were obtained through a review of medical records and analyzed univariately and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: There was a significant association between uterine atony management and IBC and IBC procedures, with a p-value of 0.032. Good uterine atony management was more frequently followed by IBC and IBC procedures than suboptimal management. Conclusion: Uterine atony management was significantly associated with IBC and IBC procedures, thus optimizing initial management plays a crucial role in controlling postpartum hemorrhage.   Keywords: Bimanual Compression; Postpartum Hemorrhage; Uterine Atony.   Pendahuluan: Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum yang berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Penanganan atonia uteri yang cepat dan tepat, termasuk penggunaan intervensi manual seperti Kompresi Bimanual Internal (KBI) dan Kompresi Bimanual Eksternal (KBE), sangat menentukan keberhasilan pengendalian perdarahan serta pencegahan komplikasi lanjutan. Namun, dalam praktik klinis masih ditemukan variasi dalam kualitas penanganan atonia uteri dan penerapan tindakan KBI serta KBE. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penanganan atonia uteri terhadap tindakan KBI dan KBE. Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan di Klinik Helen Tarigan dengan pengumpulan data pada periode Juli hingga November 2025. Sampel berjumlah 34 ibu bersalin dengan atonia uteri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui telaah rekam medis dan dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0.05. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara penanganan atonia uteri dengan tindakan KBI dan KBE, dengan nilai p-value sebesar 0.032. Penanganan atonia uteri yang baik lebih banyak diikuti dengan pelaksanaan tindakan KBI dan KBE dibandingkan penanganan yang kurang optimal. Simpulan: Penanganan atonia uteri berhubungan secara signifikan dengan tindakan KBI dan KBE, sehingga optimalisasi penanganan awal berperan penting dalam pengendalian perdarahan postpartum.   Kata Kunci: Atonia Uteri; Kompresi Bimanual; Perdarahan Postpartum.
Optimalisasi pengetahuan status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil Sinulingga, Yeni Friska; Daulay, Evlindari Sentani; Sihaloho, Endang; Rizki, Hudeni; Ristiani, Ristiani; Dewi, Nurfatmawati; Nazara, Titin Sundari
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2605

Abstract

Background: Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women remains a public health problem with serious impacts on maternal and fetal health, such as increased risk of anemia, preterm labor, and low birth weight. One of the main factors contributing to CED is pregnant women's lack of knowledge about balanced nutrition and meeting nutritional needs during pregnancy. Therefore, ongoing educational efforts are needed to improve maternal nutritional understanding. Purpose: Optimize knowledge about nutritional status and the risk of chronic energy deficiency in pregnant women. Method: This community service activity was conducted at the Soposurung Community Health Center in December 2025. Twenty pregnant women were selected as respondents based on their Upper Arm Circumference (MUAC) screening results of <23.5 cm and their willingness to participate in all activities. The objective of this activity was to provide counseling on meeting nutritional needs for the risk of chronic energy deficiency (CED) in pregnant women. The activity was implemented using an educational and participatory approach. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Evaluation of knowledge improvement was assessed descriptively based on changes in nutritional knowledge and improvements in respondents' nutritional status indicators after the educational activity. Results: The level of knowledge of respondents regarding nutritional optimization for the risk of chronic energy deficiency before the educational activity was 5 (25.0%) in the good category, 8 (40.0%) in the sufficient category, and 7 (35.0%) in the poor category. There was a proportional change after the educational activities with 15 people (75.0%) in the good category, 4 people (20.0%) in the sufficient category, and 1 person (5.0%) in the less category. Conclusion: Community service activities through the optimization of nutrition education have proven effective in increasing nutritional knowledge and improving the weight status of pregnant women at risk of chronic energy deficiency (CED). Increased understanding of energy needs and balanced nutrition during pregnancy encourages changes in healthier eating behaviors and positively impacts improvements in nutritional status indicators. Suggestion: Nutrition education needs to be implemented routinely and integrated into antenatal care services, involving health workers, families, and health cadres to ensure the sustainability of behavior changes. Furthermore, regular monitoring of nutritional status and the development of more innovative and contextual educational media based on local foods are needed to increase the effectiveness of CED prevention programs for pregnant women. Keywords: Chronic energy deficiency; Balanced nutrition; Nutrition education; Pregnant women Pendahuluan: Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin, seperti meningkatnya risiko anemia, persalinan prematur, dan bayi berat lahir rendah. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian KEK adalah rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman gizi ibu hamil. Tujuan: Optimalisasi pengetahuan tentang status gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis pada ibu hamil. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Puskesmas Soposurung pada bulan Desember 2025. Melibatkan 20 orang ibu hamil untuk menjadi responden, yang dipilih berdasarkan hasil skrining Lingkar Lengan Atas (LILA) <23.5 cm dan kesediaan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penyuluhan tentang pemenuhan kebutuhan gizi terhadap risiko mengalami kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil. Pelaksanaan kegiatan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Pengukuran tingkat pengetahuan responden menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi peningkatan pengetahuan dinilai secara deskriptif berdasarkan perubahan pengetahuan tentang gizi dan perbaikan indikator status gizi responden setelah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai optimalisasi gizi terhadap risiko kekurangan energi kronis sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 5 orang (25.0%) dalam kategori baik, sebanyak 8 orang (40.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 7 orang (35.0%) dalam kategori kurang. Terdapat perubahan secara proporsional setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 15 orang (75.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 1 orang (5.0%) dalam kategori kurang. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui optimalisasi edukasi gizi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan gizi serta memperbaiki status berat badan ibu hamil yang berisiko kekurangan energi kronis (KEK). Peningkatan pemahaman mengenai kebutuhan energi dan gizi seimbang selama kehamilan mendorong perubahan perilaku makan yang lebih sehat dan berdampak positif terhadap perbaikan indikator status gizi. Saran: Edukasi gizi perlu dilaksanakan secara rutin dan terintegrasi dalam pelayanan antenatal care dengan melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, dan kader kesehatan agar keberlanjutan perubahan perilaku dapat terjaga. Selain itu, diperlukan pemantauan status gizi secara berkala serta pengembangan media edukasi yang lebih inovatif dan kontekstual berbasis pangan lokal untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan KEK pada ibu hamil.
EDUKASI IBU NIFAS TENTANG DETEKSI DINI ATONIA UTERI DAN PENTINGNYA TINDAKAN KBI DAN KBE Rizki, Hudeni; Sihaloho, Endang; Friska Sinulingga, Yeni; Sentani Daulay, Evlindari; Ristiani, Ristiani
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 12 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i12.4913-4920

Abstract

Perdarahan postpartum masih menjadi penyebab utama kematian ibu, dengan atonia uteri sebagai faktor dominan terutama pada masa nifas awal. Rendahnya pengetahuan ibu nifas mengenai tanda bahaya perdarahan postpartum serta keterbatasan edukasi tentang penanganan awal menjadi salah satu hambatan dalam upaya pencegahan komplikasi serius. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu nifas tentang deteksi dini atonia uteri serta pentingnya tindakan kompresi bimanual internal (KBI) dan kompresi bimanual eksternal (KBE). Kegiatan dilaksanakan di Puskesmas Medan Sunggal pada bulan November 2025 dengan melibatkan 22 ibu nifas sebagai peserta. Metode yang digunakan berupa edukasi kesehatan melalui penyuluhan interaktif, diskusi, dan tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang bermakna, di mana sebelum edukasi sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang (45,5%) dan hanya 22,7% berada pada kategori baik. Setelah edukasi, proporsi pengetahuan baik meningkat menjadi 72,7%, sementara pengetahuan kurang menurun menjadi 4,6%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang terstruktur dan interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu nifas mengenai deteksi dini atonia uteri dan pentingnya penanganan awal perdarahan postpartum. Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya promotif dan preventif untuk menurunkan risiko komplikasi masa nifas serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu di tingkat primer.