Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Progressive Muscle Relaxation Effectively Reduces Nausea and Vomiting Postoperative Laparotomic Surgery Rosidah, Istiqomah; Ta’adi; Dyah, Dina Indarti
Jurnal Kebidanan dan Keperawatan Aisyiyah Vol. 19 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jkk.3205

Abstract

Nausea and vomiting are unpleasant effects that often occur after surgery. Some efforts to reduce the incidence of postoperative nausea and vomiting can be done with several strategies. Progressive muscle relaxation is a complementary approach to minimize physical and psychological stress. Peppermint aromatherapy by inhalation or inhalation in postoperative patients with general anesthesia can reduce the average frequency of nausea and vomiting. The method used in this research was quasi-experimental with a pre-post-test control group design. The population in this study was 60 postoperative laparotomy patients. The technique used in taking this research sample is a consecutive sampling technique. Data analysis used Wilcoxon and Kruskal-Wallis at α < 5%. In the treatment group, according to the hospital's SPO, there was a difference in the score of nausea and vomiting before or after treatment, but it was not significant, with a p-value of 0.090. Progressive muscle relaxation therapy for 15 minutes can reduce nausea and vomiting scores but not significantly in the intervention group, with a p-value of 0.003. Combination therapy of progressive muscle relaxation and peppermint aromatherapy for 15 minutes is effective and significantly reduces nausea and vomiting scores in the combination group with a p-value of 0.000. There was a significant difference in the nausea and vomiting scores of the three groups. The combination of progressive muscle relaxation and peppermint aromatherapy was effective in reducing postoperative nausea and vomiting compared to other groups with a score of p-value of 0.000.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP PENCEGAHAN KOMPLIKASI PASCA GENERAL ANESTESI PADA MAHASISWA KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA Puspita, Dira; Rosidah, Istiqomah
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pemberian general anestesi berpotensi menimbulkan komplikasi pada pasien, pada fase pasca general anestesi umumnya fungsi vital pasien masih belum stabil dimana kondisi pasien dapat dengan cepat memburuk, maka dari itu diperlukannya tindakan pencegahan supaya komplikasi tidak terjadi. Disinilah peran seorang penata anestesi diperlukan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap pencegahan komplikasi pasca general anestesi pada mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Metode Penelitian: Metode penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling yang berjumlah 66 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasional analitik dan pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil: Hasil uji korelasi Spearman Rank untuk mengetahui adanya hubungan pengetahuan dengan sikap pencegahan komplikasi pasca general anestesi didapatkan nilai p-value 0,000 < 0,005 dengan nilai koefisien korelasi 0,675 (kuat). Mayoritas responden memiliki pengetahuan baik sebanyak 36 responden (54,5%) dan mayoritas responden memiliki sikap dengan kategori baik sebanyak 48 responden (72,7%). Simpulan: Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap pencegahan komplikasi pasca general anestesi pada mahasiswa keperawatan anestesiologi. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan modifikasi untuk pengambilan data kepada mahasiswa dan meneliti lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan sikap pada mahasiswa.
PENGARUH PEMBERIAN PRELOADING CAIRAN TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN SPINAL ANESTESI DI RSUD WONOSARI YOGYAKARTA Trisandi, Muhammad Megi; Rohmah, Astika Nur; Rosidah, Istiqomah
Jurnal Borneo Cendekia Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Borneo Cendekia
Publisher : STIKES Borneo Cendekia Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54411/jbc.v8i1.520

Abstract

Latar Belakang: Spinal anestesi adalah teknik pemberian obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Masalah umum yang sering muncul adalah hipotensi, yang disebabkan oleh pemblokiran saraf simpatis yang mengatur tonus otot resistensi terhadap gerakan pada pembuluh darah. Untuk mencegah terjadinya hipotensi, volume darah sentral dapat ditingkatkan dengan cairan preloading. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menentukan pengaruh cairan preloading pada tekanan darah pasien anestesi spinal di RSUD Wonosari Yogyakarta. Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan One Group Pretest-Posttest. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 30 responden sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi dan dianalisis dengan uji paired sample t-test. Hasil: Berdasarkan tekanan darah pada pasien spinal anestesi setelah dilakukan intervensi dalam rentang normal dengan rata-rata tekanan darah sistole 106,53 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastole 66,73 mmHg sedangkan tekanan darah pada pasien spinal anestesi sebelum dilakukan intervensi dalam rentang normal dengan rata-rata tekanan darah sistole 115,57 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastole 73,87 mmHg. Hasil uji paired sample t-test p value 0,00 < ? (0,05) sehingga Ho ditolak Ha diterima. Simpulan: Tekanan darah pasien yang menjalani anestesi spinal di RSUD Wonosari Yogyakarta dipengaruhi oleh cairan preloading. Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan lebih mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan pemberian preloading pada pasien spinal anestesi dengan mengunakan kelompok kontrol dan memperluas dalam pengambilan sampel.
Relationship of Knowledge to SBAR Communication Attitude During Patient Handover in Recovery Room in Anesthesiology Nursing Students of Aisyiyah University Yogyakarta Azva, Zahara Febria; Murdiyanto, Joko; Rosidah, Istiqomah
Jurnal Kesmas Prima Indonesia Vol. 9 No. 2 (2025): July Edition
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jkpi.v9i2.7064

Abstract

Communication failure can lead to malpractice, misunderstanding, delayed diagnosis, service, additional costs, incomplete information, patient and family dissatisfaction and can even cause death, so effective communication with the SBAR method is needed during patient handover in the recovery room. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and the attitude of SBAR communication during patient handover in the recovery room in Anesthesiology Nursing students at 'Aisyiyah University of Yogyakarta. This research method uses quantitative correlation with a cross-sectional design. Sampling with random sampling totaling 67 respondents. Data were collected using a questionnaire with Spearman rank analysis. The results of the Spearman Rank correlation test obtained a p-value of 0.000 <0.005 and a correlation value of 0.758 (strong), meaning that there is a relationship between knowledge and the attitude of SBAR communication during patient handover in the recovery room in Anesthesiology Nursing students at 'Aisyiyah University of Yogyakarta. The majority of respondents had good knowledge of 35 respondents (52.5%) and good attitudes of 37 respondents (55.2%).
Effect of Passive Leg Raising on Blood Pressure in Post-Spinal Anesthesia Caesarean Section Patients: A Study at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital Rasidin, Muhammad Sobari; Rosidah, Istiqomah; Azizah, Aisyah Nur
Adult Health Nursing Journal Vol 2, No 1 (2025): Adult Health Nursing Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan, Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/ahnj.v2i1.11538

Abstract

Introduction:  Sectio Caesarea mostly uses spinal anesthesia and is most commonly used. The effect of spinal anesthesia is hypotension. In a study of sectio caesarea more than 40% experienced hypotension. Passive Leg Raising (PLR) can be an alternative for the incidence of hypotension in sectio caesarea spinal anesthesia patients.Objectives:  This study aims to determine the effect of passive leg raising on the increase in blood pressure of post spinal anesthesia sectio caesarea patients in the intervention and control groups at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital. Methods:  This type of research is quantitative experiment with quassy experimental design pre-test post-test with control group. The sampling technique used simple random sampling technique with a total of 30 respondents. Results:  The results of the Wilcoxon test on systolic blood pressure with a p-value in the intervention group of 0.001 <0.05 and the control group of 0.007 <0.05, while in diastolic blood pressure, the p-value of the intervention group was 0.001 <0.05 and the control group was 0.001 <0.05. In the results of the mann-whitney test, the p-value on systolic blood pressure was 0.008<0.05 and diastolic blood pressure was 0.005<0.05. Conclusions: There is a significant effect between Passive Leg Raising (PLR) on blood pressure of post spinal anesthesia sectio caesarea patients at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital.Introduction:  Sectio Caesarea mostly uses spinal anesthesia and is most commonly used. The effect of spinal anesthesia is hypotension. In a study of sectio caesarea more than 40% experienced hypotension. Passive Leg Raising (PLR) can be an alternative for the incidence of hypotension in sectio caesarea spinal anesthesia patients. Objectives:  This study aims to determine the effect of passive leg raising on the increase in blood pressure of post spinal anesthesia sectio caesarea patients in the intervention and control groups at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital. Methods:  This type of research is quantitative experiment with quassy experimental design pre-test post-test with control group. The sampling technique used simple random sampling technique with a total of 30 respondents. Results:  The results of the Wilcoxon test on systolic blood pressure with a p-value in the intervention group of 0.001 <0.05 and the control group of 0.007 <0.05, while in diastolic blood pressure, the p-value of the intervention group was 0.001 <0.05 and the control group was 0.001 <0.05. In the results of the mann-whitney test, the p-value on systolic blood pressure was 0.008<0.05 and diastolic blood pressure was 0.005<0.05. Conclusions: There is a significant effect between Passive Leg Raising (PLR) on blood pressure of post spinal anesthesia sectio caesarea patients at PKU Muhammadiyah Bantul Hospital.
Kesiapsiagaan Sekolah Dasar Negeri Kaliurang 1 dalam Menghadapi Erupsi Gunung Merapi (Sudi Kualitatif)” Humaidie, Muhammad Firhat; Wulandari, Endah Tri; Rosidah, Istiqomah
Journal of Language and Health Vol 6 No 2 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i2.6554

Abstract

Indonesia memiliki 129 gunung berapi aktif, contohnya adalah Gunung Merapi. Dampak yang ditimbulkan oleh erupsi gunung berapi memberikan berbagai dampak negatif. Kesiapsiagaan bencana adalah salah satu langkah yang dapat dipersiapkan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesiapsiagaan Sekolah Dasar Negeri Kaliurang 1 dalam menghadapi erupsi Gunung Merapi. Penelitian ini berjenis kualitatif fenomenologi dengan metode wawancara. Pemilihan subjek menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur. Penelitian ini menghasilkan tiga tema, yaitu tema 1: konsep bencana alam, tema 2: konsep erupsi, tema 3: Mitigasi dan kesiapsiagaan bencana erupsi, tema 4: Tanggap darurat bencana erupsi. Kesimpulan dalam penelitian ini didapatkan bahwa Informan menggambarkan kerugian yang diakibatkan erupsi dapat berupa material maupun immaterial. Pada tahap pre bencana narasumber menjelaskan bahwa persiapan yang telah dilakukan meliputi sosialisasi dan simulasi agar tahu dan siap jika suatu saat terjadi erupsi. Dalam fase tanggap darurat, langkah pertama yang harus dilakukan adalah untuk jangan panik dan menenangkan anak. Setelah itu menunggu instruksi untuk mengungsi dan mencari tempat aman. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk meneliti lebih dalam seperti mengembangkan pedoman wawancara terkait kesiapsiagaan erupsi dan melibatkan semua umur ataupun golongan masyarakat agar dapat memberikan gambaran dengan lebih spesifik.
Efektivitas Simulasi Bencana Gempa Bumi terhadap Kesiapsiagaan Menghadapi Risiko Gempa Megathrust pada Kalurahan Depok Kulon Progo Nugroho, Setyawan; Wulandari, Endah Tri; Rosidah, Istiqomah
Journal of Language and Health Vol 6 No 2 (2025): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i2.6573

Abstract

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam, salah satunya adalah gempa bumi megathrust yang memiliki potensi besar memicu tsunami. Kalurahan Depok merupakan salah satu wilayah yang berada dekat dengan zona subduksi selatan Pulau Jawa, sehingga memiliki risiko tinggi terhadap gempa megathrust. Upaya peningkatan kesiapsiagaan menjadi hal penting untuk meminimalkan dampak bencana. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui efektivitas simulasi gempa bumi terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko gempa megathrust. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan two-group pre-test post-test. Sampel berjumlah 130 responden terbagi ke dalam dua kelompok (eksperimen dan kontrol) menggunakan purposive sampling. Kelompok eksperimen menerima edukasi dan simulasi, sedangkan kelompok kontrol hanya mendapat edukasi. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner kesiapsiagaan dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada kesiapsiagaan setelah simulasi (p = 0,000) kemudian perbandingan antara kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan perbedaan signifikan pada hasil post-test (p = 0,000) sehingga dapat disimpulkan bahwa simulasi bencana terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Kalurahan Depok terhadap risiko gempa megathrust.
Edukasi “SiGap-Siaga Dan Tanggap” Menghadapi Resiko Bencana Gempa Bumi Megathrust Pada Remaja Di Nasyiatul Aisyiyah Kelurahan Pleret, Kulon Progo Rosidah, Istiqomah; Setyowati, Anita
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 7 : Agustus (2025): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Earthquakes are natural disasters that can occur suddenly. Although various early indicators or precursors have been studied extensively, there is still no technology capable of accurately predicting the exact time of an earthquake. Therefore, it is crucial for communities to gain knowledge and understanding about how to be prepared and responsive to the risks of earthquakes—particularly megathrust earthquakes, which pose a significant threat in high-risk areas such as the southern part of Java Island. Unfortunately, the role of the community—despite being the largest and most important group in disaster mitigation efforts—is often overlooked in disaster preparedness planning. Yet, preparedness is a critical component, as it can significantly reduce mortality rates caused by earthquakes. One effective way to improve preparedness is through educational programs such as “SiGap – Ready and Responsive,” aimed at adolescents. Adolescents, aged between 10 and 19, are in a unique developmental stage that is essential for building a strong foundation of health knowledge. Educating this age group is expected not only to foster proactive attitudes in disaster response but also to encourage sustained community involvement in preparedness activities. Choosing the right educational media also plays an important role in enhancing understanding, and digital media is one of the most effective tools. Utilizing engaging technology can help deliver information in a way that is easier to absorb and remember. Therefore, innovation is needed in delivering education to adolescents so that the intended messages are effectively communicated. To build a society that is well-prepared and responsive to the risks of megathrust earthquakes, an advanced and modern learning model tailored to the younger generation is essential. This study aims to assess the impact of the “SiGap – Ready and Responsive” educational program on adolescent preparedness in facing the threat of megathrust earthquakes, specifically among the youth of Nasyiatul Aisyiyah in Pleret, Kulon Progo.
Efektivitas Aromaterapi Peppermint pada Post Operative Nausea and Vomite Spinal Anestesi Rosidah, Istiqomah; Darma, Dimas Dewa
International Journal of Health Science and Technology Vol. 7 No. 1 (2025): Juli
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/ijhst.v7i1.4279

Abstract

Abstract: Spinal anestesi atau regional anestesi merupakan suatu tindakan yang dilakukan sebelum operasi yang berguna agar pasien merasa aman dan nyaman selama pembedahan berlangsung serta terhindar dari nyeri pada saat operasi. Efek dari spinal anestesi salah satunya yaitu mual muntah post operasi. Aromaterapi peppermint digunakan untuk menurunkan skor mual muntah post operasi dengan spial anestesi. Methode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen dengan desain quassy eksperimental pre-test post-test with control group. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah 30 responden. Hasil: Pemberian aromaterapi selama 15 menit pada kelompok intervensi dengan hasil uji wilcoxon 0.003<0.05, sedangkan pada kelompok kontrol 0.090<0.05, Pada hasil uji mann-whitney, p-value 0.015<0.05. Kesimpulan: Terdapat hasil yang signifikan penurunan mual muntah antara kelompok yang diberikan aromterapi dengan kelompok yang tidak diberikan aromaterapi pada pasien post operasi spinal anestesi. Saran: Hasil penelitian diharapkan bisa menjadikan pemberian aromaterapi peppermint sebagai alternatif menurunkan skor mual muntah pada pasien post operasi dengan spinal anestesi
ANALISIS KEBIJAKAN K3 RUMAH SAKIT TERHADAP PENERAPAN PROTOKOL KESELAMATAN DIRUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL : STUDI KUALITATIF Nurmalia, Makhvira Ferli; Puspito, Heri; Rosidah, Istiqomah
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v2i2.1262

Abstract

Rumah sakit sebagai lembaga pelayanan kesehatan memiliki tantangan besar dalam menerapkan kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di ruang Instalasi Bedah Sentral (IBS). Protokol keselamatan yang efektif di ruang ini sangat penting untuk mengurangi risiko bahaya yang dapat membahayakan pasien maupun tenaga medis, mengingat tingginya risiko yang terkait dengan prosedur medis yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan terdiri dari tenaga medis dan petugas terkait di ruang IBS. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling untuk menggali informasi tentang penerapan kebijakan K3 dan efektivitas protokol keselamatan. Penelitian ini menemukan bahwa kebijakan K3 di rumah sakit sudah diterapkan sesuai regulasi yang berlaku. Namun, masih terdapat tantangan dalam implementasinya, termasuk kurangnya pemahaman mengenai protokol keselamatan dan ketidakkonsistenan dalam pengawasan. Beberapa insiden yang terjadi mengindikasikan perlunya pemeliharaan dan peningkatan pelatihan bagi tenaga medis. Meskipun kebijakan K3 telah diterapkan, evaluasi dan perbaikan yang lebih mendalam sangat diperlukan, khususnya dalam pemeliharaan alat medis dan pelatihan rutin bagi tenaga medis.