Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Ekstrak Metanol Daun Binahong (Anredera cordifolia) Menekan Pertumbuhan Koloni Jamur Rhizoctonia oryzae dan Kejadian Penyakit Hawar Bibit Padi Endah Yulia; Elga Sari; Sudarjat Sudarjat; Fitri Widiantini; Ida Nurhelawati
Agrikultura Vol 31, No 3 (2020): Desember, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i3.30876

Abstract

Penyakit bercak pelepah yang disebabkan oleh Rhizoctonia oryzae merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi. Penyakit ini umumnya dikendalikan dengan menggunakan fungisida sintetik meskipun pengendalian cara ini dipercaya dapat memberikan efek negatif terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Dalam upaya pengembangan pengendalian penyakit tanaman yang lebih ramah lingkungan, pemanfaatan bahan-bahan alami seperti tumbuhan sebagai pestisida nabati telah mendapat banyak perhatian pada saat ini. Tanaman binahong (Anredera cordifolia) telah banyak digunakan sebagai obat tradisional terutama di bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan ekstrak metanol daun binahong dalam menekan pertumbuhan koloni jamur R. oryzae serta menekan perkembangan penyakit hawar bibit pada benih padi akibat infeksi R. oryzae. Percobaan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL).  Pengujian penghambatan pertumbuhan koloni jamur R. oryzae dilakukan menggunakan teknik poisoned food dengan 7 perlakuan yaitu 5 konsentrasi ekstrak 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%, serta perlakuan kontrol akuades steril dan fungisida propineb 0,3% yang diulang 4 kali. Pengujian pada benih dilakukan dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yang masing-masing terdiri atas 25 benih padi menggunakan teknik perendaman. Hasil pengujian menunjukkan ekstrak metanol daun binahong 2% mampu menghambat pertumbuhan koloni dan pembentukan sklerotia jamur R. oryzae serta mampu menekan kejadian penyakit akibat infeksi R. oryzae pada bibit padi dengan penekanan tertinggi sebesar 46,2%.
Uji In-Vitro Kemampuan Ekstrak Metanol Bunga dan Daun Tanaman Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae Tarkus Suganda; Indah Nita Chrysilla Simarmata; Yadi Supriyadi; Endah Yulia
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24031

Abstract

Penyakit moler (Fusarium oxysporum f.sp. cepae, Foc) merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman bawang merah. Jamur Foc merupakan patogen tular tanah sehingga sulit untuk dikendalikan. Pengendalian menggunakan fungisida sintetik pada tanah tidak dianjurkan untuk dilakukan karena dapat meninggalkan residu yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia serta dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan fungisida nabati. Kembang telang merupakan tanaman potensial untuk digunakan karena memiliki kandungan senyawa antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak metanol bunga dan daun tanaman kembang telang dalam menekan pertumbuhan Foc secara in vitro. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian ekstrak metanol bunga dan daun terhadap pertumbuhan koloni, produksi konidia dan perkecambahan konidia jamur. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak metanol bunga memberikan penekanan tertinggi pada konsentrasi 1,8% (35,11%), sedangkan ekstrak metanol daun pada konsentrasi 2,4% (47,11%). Semua konsentrasi ekstrak metanol bunga dan daun tanaman kembang telang menekan produksi konidia jamur Foc. Tidak ada perlakuan ekstrak metanol, baik bunga maupun daun yang dapat menghambat perkecambahan konidia jamur Foc.
Uji In Vitro Keefektifan Ekstrak Air Daun Dan Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea l.) terhadap Jamur Alternaria solani Penyebab Penyakit Bercak Coklat pada Tanaman Tomat Tarkus Suganda; Pini Komalasari; Endah Yulia; Wahyu Daradjat Natawigena
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28909

Abstract

Penyakit bercak coklat (Alternaria solani) merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan pada tanaman tomat. Umumnya penyakit ini dikendalikan dengan penggunaan fungisida sintetik, tetapi selain menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan, patogen ini juga mampu berubah menjadi tidak sensitif lagi terhadap bahan aktif fungisida sintetik yang digunakan.  Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak tumbuhan dapat menekan berbagai patogen. Tanaman kembang telang diketahui memiliki sifat antimikroba terhadap berbagai mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak air daun dan bunga kembang telang dalam menekan A. solani secara in vitro. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas empat konsentrasi ekstrak daun (0, 3, 6, dan 9%) dan empat konsentrasi ekstrak bunga (0, 5, 10, 15%) yang diperoleh berdasarkan uji LC50 pendahuluan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak air daun maupun bunga memperlihatkan penekanan terhadap pertumbuhan koloni jamur A. solani.  Penekanan tertinggi ekstrak air daun maupun bunga masing-masing pada konsentrasi 9% (34,78%) dan 15% (38,97%). Ekstrak air daun mampu menurunkan produksi konidia A. solani pada konsentrasi 9% yaitu 3,0 x 103 konidia/ml, sementara pada konsentrasi 15%, ekstrak air bunga kembang telang menekan total produksi konidia A. solani. Penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia (58,33%) ditunjukkan oleh ekstrak air daun kembang telang 3% sedangkan oleh ekstrak air bunga kembang telang sebesar 75,00% oleh konsentrasi 5%.  Kemampuan antisporulasi dari ekstrak air daun dan bunga kembang telang lebih dominan dibandingkan kemampuan fungistatik maupun kemampuan fungisidalnya.
Potensi antagonisme senyawa metabolit sekunder asal bakteri endofit dengan pelarut metanol terhadap jamur G. boninense Pat. Fitri Widiantini; Endah Yulia; Ceppy Nasahi
Agrikultura Vol 29, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.661 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i1.17870

Abstract

ABSTRACTAntagonism potency of secondary metabolites produced by endophytic bacteria in methanol against pathogenic fungi Ganoderma boninense Pat.The research aimed to determine the antifungal effect of secondary metabolites produced by endophytic bacteria of healthy root oil palm tree against the growth of Ganoderma boninense, the causal agent of basal stem rot disease on oil palm tree. Endophytic bacteria isolates (BEK5, BEK6, BEK7, BEK8, BEK9, BEK10 dan BEK11) were grown on ISP2 agar media for 14 days and extracted using methanol. Following extraction, the methanol was evaporated using rotary evaporator and the filtrat was sterilized using membrane filter 0.2 μm. The effect of the secondary metabolites against G. boninense was tested using agar well diffusion method. The observation on the colony growth and morphologicy of G. boninense mycelia were done at 7 days after treatment. The result demonstrated that all of the endophytic bacteria were able to produce seconday metablites that has antifungal effect on the growth of G. boninense. The highest growth inhibition was shown by secondary metabolites produced by BEK6 with inhibition of 22.89%. Furthermore, the secondary metabolites produced by all of the endophytic bacteria were caused morphological changes on the mycelia of G. boninense.Keywords; Antifungal, Inhibition, MalformationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antijamur metabolit sekunder yang dihasilkan oleh bakteri endofit asal akar tanaman kelapa sawit untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen Ganoderma boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit. Isolat-isolat bakteri endofit (BEK5, BEK6, BEK7, BEK8, BEK9, BEK10 dan BEK11) ditumbuhkan pada media ISP2 agar selama 14 hari dan kemudain diekstraksi dengan pelarut metanol. Metanol diuapkan menggunakan rotary evaporator dan filtrat yang dihasilkan disterilkan menggunakan membran filter berukuran 0,2 μm. Pengujian pengaruh senyawa metabolit sekunder terhadap pertumbuhan jamur G. boninense dilakukan dengan metode agar well diffusion. Pengamatan terhadap pertumbuhan koloni jamur G. boninense dan morfologi miselia G. boninense dilakukan pada 7 hari setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan semua isolat bakteri endofit mengeluarkan senyawa metabolit sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan jamur G. boninense. Penghambatan pertumbuhan koloni jamur G. boninense tertinggi sebesar 22,89% ditemukan pada perlakuan metabolit sekunder asal bakteri BEK6. Pengamatan terhadap morfologi jamur G. boninense menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh isolat-isolat bakteri endofit tersebut dapat menyebabkan perubahan morfologi miselia G. boninense.Kata kunci: Antifungal, Penghambatan, Malformasi
Seleksi Ketahanan Ubi Jalar Madu Genotipe F1 terhadap Penyakit Kudis (Sphaceloma batatas Saw.) Fitri Widiantini; Endah Yulia; Aina Anna Roosda; Agung Karuniawan
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.215 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8457

Abstract

ABSTRACTResistant Selection of Sweet Potato Genotypes F1 against Scab Disease (Sphaceloma batatas)Variety of sweet potato in Indonesia is very diversed which is an advantage to develop sweet potatovarieties. However, local sweet potato often replaced with higher economic value varieties. The aim of thisresearch was to determine the resistant ability of genotype F1 from open pollination of local sweet potatolandraces against scab disease (Sphaceloma batatas ). As much as 661 genotypes F1 were grown on researchplantation centre at Ciparanje, Faculty of Agriculture Universitas Padjadjaran. The experiment was doneusing randomized blocked augmented design. The result demonstrated that genotypes F1 as results ofcrossing over between local varieties of sweet potatoes had high resistance against scab. This wasdemonstrated by more than 50% of the assessed population were resistant to scab as showed by low value ofdiseases severity. However, growing those genotypes at different seasons and locations need to be done todetermine the resistance stability.Keywords: sweet potato, scab, Sphaceloma batatasABSTRAKVarietas lokal ubi jalar di Indonesia sangat beragam. Keragaman yang ada tersebut sangat bermanfaat dalampengembangan ubi jalar. Namun, varietas lokal semakin tergeser seiring dengan nilai ekonomi yang lebihmenguntungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mngetahui ketahanan genotipe-genotipe F1 ubijalar madu hasil dari open pollination dari aksesi-aksesi ubi jalar lokal terhadap penyakit kudis (Sphacelomabatatas). Sebanyak 661 genotpe F1 beserta aksesinya digunakan dalam penelitian ini. Percobaan dilaksanakandi kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Januari 2013-Juni2013. Percobaan disusun dengan menggunakan rancanga acak dengan perluasan (augmented design).Pengamatan dilakukan dengan menghitung intesitas serangan penyakit kudis dengan interval 30 hari. Hasilpercobaan menunjukkan bahwa genotipe-genotipe F1 yang diuji menunjukkan potensi ketahanan terhadapserangan penyakit kudis. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya genotipe ubi jalar yang relatif tahanterhadap serangan penyakit kudis. Lebih dari 50% dari genotipe F1 ubi jalar yang diuji tahan terhadapserangan penyakit kudis yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai assessment serangan penyakit. Pengujiandi berbagai musim tanam dan lokasi perlu dilakukan untuk mengetahui kestabilan ketahanan yang dimilikoleh genotipe-genotipe F1 tersebut.Kata kunci: ubi jalar madu, kudis, Sphaceloma batatas
PerkecambahanPeronosclerospora spp. Asal Beberapa Daerah di Jawa Barat pada Fungisida Berbahan Aktif Metalaksil, Dimetomorf dan Fenamidon Fitri Widiantini; Dwisari Januarily Pitaloka; Ceppy Nasahi; Endah Yulia
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.947 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.15753

Abstract

ABSTRACTGermination of Peronosclerospora spp. isolated from several maize plantation areas in West Java on fungicides containing active ingredient of metalaxyl, dimetomorph and fenamidoneDowny mildew is a major disease in corn plants that affect the world corn production, include in Indonesia. The control of downy mildew that caused by pathogen Peronosclerospora spp. are relying on the use of synthetic fungicides. However, the emergence of the Peronosclerospora spp. resistant against fungicides rise awareness for the need of constant surveillance. The aim of this study was to know the effectiveness of three commonly used active ingredients fungicide (Metalaxyl, Dimetomorph, and Fenamidone) in controlling Peronosclerospora spp. from five regions in Wes Java (Sumedang District,Bandung District, Majalengka District, Garut District and West Bandung District). Experiment was conducted using conidia germination method. The results of this study demonstrated that fungicide with active ingredient of Dimethomorph was able to suppress the germination of conidia Peronosclerospora spp. with 0% of conidia germination in 4 districts (Sumedang, Bandung, Majalengka and Garut) and only 0.47% conidia germinated in isolate collected from West Bandung District. Meanwhile, fenamidon experienced a decrease in effectiveness at West Bandung District. In this study, it was also found that the number of conidia germinated on isolates treated with Metalaxyl did not show any significant difference compared to control. This suggested that Peronosclerospora spp. might resistant to Metalaxyl.Keywords: Downy mildew, Peronosclerospora spp., metalaxyl, dimetomorph, fenamidoneABSTRAKPenyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang berpengaruh terhadap produksi jagung dunia, termasuk di Indonesia. Pengendalian penyakit bulai yang disebabkan oleh patogen Peronosclerospora spp. masih bertumpu pada penggunaan fungisida sintetik. Akan tetapi, terjadinya penurunan keefektifan fungisida terhadap Peronosclerospora spp. menyebbkan diperlukannya monitoring secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan tiga jenis bahan aktif fungisida yang umum digunakan (Metalaksil, Dimetomorf, dan Fenamidon) dalam mengendalikan penyakit bulai terhadap patogen Peronosclerospora spp.asal lima daerah di Jawa Barat (Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kab. Majalengka, Kab. Garut dan Kab. Bandung Barat). Pengujian keefektifan fungisida dilakukan dengan menggunakan metode perkecambahan konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fungsida dimetomorf terhadap isolat Peronosclerospora spp. asal semua daerah dapat menekan perkecambahan konidia dengan persentase perkecambahannya 0% pada 4 daerah dan 0,47% pada isolat asal daerah Kab. Bandung Barat. Sementara Fenamidon menujukkan indikasi penurunan keefektifan di daerah Bandung Barat. Pada penelitian ini, ditemukan pula adanya indikasi resistensi patogen Peronosclerospora spp. terhadap fungisida Metalaksil. Hal ini terlihat dari perkecambahan konidia yang diperlakukan dengan Metalaksil yang hasilnya tidak berbeda nyata dengan kontrol yang tidak diperlakukan dengan fungisida.Kata Kunci: Penyakit bulai jagung, Peronosclerospora spp., Metalaksil, Dimetomorf, Fenamidon
Pengujian Air Sulingan Kulit Buah Kopi dengan Metode Destilasi Air dan Efeknya sebagai Atraktan Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) (Curculionidae:Scolytiidae) Siska Rasiska Suwantapura; Jemia Afdhila Darmawan; Endah Yulia
Agrikultura Vol 32, No 1 (2021): April, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i1.29960

Abstract

Penggerek buah kopi/PBKo (Hypothenemus hampei Ferr.) adalah hama utama pada tanaman kopi Arabika yang dapat menyebabkan kerusakan hingga mencapai 40%. Pemanfaatan kulit buah kopi sebagai atraktan PBKo diduga dapat menjadi salah satu cara pengendalian PBKo dengan cara memengaruhi perilakunya. Salah satu metode isolasi senyawa sumber atraktan dari bahan tanaman adalah metode destilasi baik itu destilasi air maupun destilasi air dan uap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi fitokimia kulit buah kopi dengan metode isolasi destilasi air dan efeknya terhadap ketertarikan hama betina PBKo. Percobaan dilaksanakan pada bulan November 2019 hingga Maret 2020 di Laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Lengkap digunakan dengan tujuh perlakuan yang terdiri dari kontrol air sulingan kulit buah kopi sehat 4 ml, 8 ml dan 12 ml, serta air sulingan kulit buah kopi sakit 4 ml, 8 ml dan 12 ml. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air sulingan kulit buah kopi sehat mengandung alkaloid dan saponin, sedangkan air sulingan kulit buah kopi terinfestasi PBKo mengandung alkaloid, triterpenoid dan steroid. Efeknya, hama betina PBKo tidak memiliki ketertarikan terhadap air sulingan kulit buah kopi dengan metode destilasi air.
Intensitas Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav.) pada Padi Varietas Ciherang di Lokasi Endemik dan Pengaruhnya terhadap Kehilangan Hasil Tarkus Suganda; Endah Yulia; Fitri Widiantini; Hersanti Hersanti
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.457 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10878

Abstract

ABSTRACTDisease intensity of blast disease (Pyricularia oryzae Cav.) of Ciherang rice variety at the endemic location and its effect on yield lossBlast is one of the most important diseases of rice worldwide. Many countries have developed data on the intensity and yield loss due to blast disease, whereas Indonesia has no such data resulted from trial specifically designed to estimate blast intensity at the endemic location and its potential yield loss. Such data are needed for various purposes, such as for disease management policy and research background. A trial has been carried out at Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, a location where blast was endemic for years, using var. Ciherang that is known as susceptible and widely grown by farmers. Eight concentrations of fungicide of single as well as mix active ingredients were used to see the effects in suppressing blast diseases compared with of control. Trial used a Randomized Block Design with 5 replicates. The parameters observed were the intensity of leaf blast, neck blast and yield. The results showed that the disease intensity of var. Ciherang at the endemic location was 55.60% of leaf blast and 37.75% of neck blast. The potency of yield loss calculated was 3.65 ton/ha or equal with 61% of the average yield of var. Ciherang as described in its variety description. This number justifies the important of control measures of rice blast diseases.Keywords: Blast disease intensity, var. Ciherang, Potency of yield lossABSTRAKPenyakit blas merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman padi di seluruh dunia. Berbagai negara sudah memiliki data tentang intensitas dan kehilangan hasil padi oleh penyakit blas, sementara di Indonesia belum ada hasil pengujian yang khusus dirancang untuk melihat tingkat intensitas penyakit blas di daerah endemik dan potensi kehilangan hasil yang diakibatkannya. Data sejenis ini penting untuk berbagai keperluan antara lain untuk kebijakan pengendalian dan dasar pentingnya penelitian. Suatu percobaan telah dilakukan di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi yang merupakan daerah endemik penyakit blas selama bertahun-tahun, menggunakan var Ciherang yang merupakan varietas rentan namun populer ditanam petani. Delapan bahan aktif fungisida berbahan aktif tunggal dan majemuk digunakan untuk melihat pengaruh penekanannya dibandingkan kontrol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima ulangan. Parameter yang diamati adalah intensitas penyakit blas daun dan blas leher malai serta hasil padi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa intensitas penyakit blas pada tanaman padi var. Ciherang di daerah endemik adalah 55,60% untuk blas daun, dan 37,75% untuk blas leher malai. Potensi kehilangan hasil oleh gabungan penyakit blas pada var. Ciherang adalah 3,65 ton/ha atau setara dengan 61% kehilangan hasil jika dibandingkan terhadap rata-rata produksi var. Ciherang menurut spesifikasi varietas. Data ini menjustifikasi perlunya pengambilan tindakan pengendalian penyakit blas pada tanaman padi.Kata Kunci: Intensitas penyakit blas, var. Ciherang, Potensi kehilangan hasil
Keefektifan Ekstrak Air Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dalam Menekan Pertumbuhan Koloni dan Perkecambahan Konidia Jamur Colletotrichum capsici Penyebab Penyakit Antraknos pada Cabai Endah Yulia; Fitri Widiantini; Andang Purnama; Ida Nurhelawati
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.438 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8472

Abstract

ABSTRACTEffectiveness of Aqueous Extract of Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Leaves in Suppressing Colony Growth and Conidia Germination of Colletotrichum capsici the Causal Agents of Anthracnose Disease on ChiliAnthracnose disease caused by the fungus Colletotrichum spp. is a major disease in chili. Several studies have reported the effectiveness of some plant extracts in suppressing the growth of this pathogen and in controlling the disease. Binahong (Anredera cordifolia) plant has been widely studied and used in traditional medicine in the field of human health as well as antimicrobial on plant pathogens. This study was aimed to test the effectiveness of the aqueous extract of binahong leaves to suppress the colony growth and conidia germination of the fungus C. capsici. The concentration of binahong aqueous extract tested were 6.25%, 8.84%, 12.5%, 17.7% and 25%. Results showed binahong aqueous extract at low concentration of 6.25% was able to suppress the growth of fungal mycelium of C. capsici up to 66.88% compared to the lower effectiveness of higher tested concentrations. The aqueous extract of binahong leaves at this low concentration also tended to suppress the germination of conidia of the fungus C. capsici in in higher tested concentrations.Keywords: Colletotrichum capsici, Aqueous extract, Anredera cordifoliaABSTRAKPenyakit Antraknos yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. merupakan penyakit utama pada tanaman cabai. Beberapa penelitian melaporkan keefektifan beberapa ekstrak tanaman dalam menekan pertumbuhan patogen Colletotrichum spp. dan dalam mengendalikan penyakit Antraknos ini. Tanaman binahong sudah banyak diteliti dan digunakan dalam pengobatan tradisional di bidang kesehatan manusia maupun sebagai antimikroba patogen tanaman. Penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengujian keefektifan ekstrak air daun binahong terhadap pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia jamur C. capsici. Konsentrasi ekstrak air binahong yang diuji adalah 6,25%, 8,84%, 12,5%, 17,7% dan 25%. Hasil menunjukkan ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah 6,25% mampu menekan pertumbuhan miselium jamur C. capsici sampai 66,88% dibandingkan keefektifan yang lebih rendah pada konsentrasi yang lebih tinggi. Ekstrak air binahong pada konsentrasi rendah tersebut juga cenderung menekan perkecambahan konidia jamur C. capsici.Kata Kunci: Colletotrichum capsici, Ekstrak air, Anredera cordifolia
Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. (CK U3) dalam Serat Karbon dan Silika Nano Menekan Pertumbuhan Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici dan Perkembangan Penyakit Hawar Kecambah Tomat Hersanti Wartono; Nurul Hidayati Emilia; Luciana Djaya; Endah Yulia
Agrikultura Vol 32, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i2.33387

Abstract

Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (Fol) merupakan patogen yang dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman tomat, mulai dari semai sampai fase generatif. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengendalikan patogen ini yaitu dengan memanfaatkan agen pengendali hayati, diantaranya Bacillus subtilis dari kelompok Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan bakteri endofit Lysinibacillus sp. Kedua bakteri diformulasikan dalam serat karbon sebagai bahan pembawa dan diperkaya dengan unsur hara silika yang berukuran nano. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan B. subtilis dan Lysinibacillus sp. (CK U3) dalam serat karbon dan silika nano untuk menghambat pertumbuhan koloni Fol dan menekan perkembangan penyakit yang disebabkan oleh Fol pada benih tomat. Suspensi B. subtilis dan Lysinibacillus sp. (CK U3) diformulasikan secara tunggal dan campuran dalam serat karbon 80 mesh dan silika nano 1%. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan dilakukan dalam dua tahap. Pertama, pengujian terhadap penghambatan pertumbuhan koloni Fol yang terdiri atas delapan perlakuan dan tiga ulangan. Kedua, pengujian terhadap penekanan perkembangan penyakit yang disebabkan oleh Fol pada benih tomat yang terdiri atas delapan perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan B. subtilis dalam serat karbon dan silika nano mampu menghambat pertumbuhan koloni Fol sebesar 59,49% dan menekan perkembangan penyakit hawar kecambah benih tomat sebesar 66,7%.