Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KALKULASI ANALISIS STRUKTUR DESAIN BEBAN GEMPA DAN PERFORMANYA TERHADAP BEBAN LEDAKAN PADA GEDUNG BRI CABANG PONTIANAK Garry Marpahiko; - Elvira; Erwin Sutandar
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 2 (2021): JeLAST Juni 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i2.49058

Abstract

Kondisi MCER Kota Pontianak tergolong wilayah gempa ringan, sebaiknya sudah mempertimbangkan kondisi seismik. Pembangunan gedung 5 lantai beton bertulang Bank BRI Cabang Pontianak menggunakan spesifikasi material berupa  fc’ = 25 MPa, fy = 4000 kg/cm2, dan fys = 2400 kg/cm2. Keberadaan gedung terletak pada persimpangan antara Jalan Ayani yang padat lalu lintas dan Jalan A.Sood, sehingga perlu adanya analisis performa struktur gedung terhadap beban ledakan, sebagai upaya awal mitigasi. Simulasi beban ledakan yang digunakan berupa skenario bom mobil (BM), direpresentasikan oleh 500kg TNT sejauh 22m. Struktur gedung dianalisis menggunakan program analisis struktur elemen hingga terhadap beban vertikal (beban hidup dan beban mati) mengacu pada SNI 1727 – 2020 dan beban horizontal (beban gempa) pada SNI 1726 – 2019, terkombinasi berdasarkan SNI 2847 – 2019 dengan LRFD. Kemudian diberikan beban ledakan sistem pyhtagoras berdasarkan TM 5 – 1300 – 1990 untuk dilihat performanya hasil analisis Pr terkombinasi pembebanan kejadian luar biasa (Ak). Konstruksi bangunan menggunakan SRPMM dianalisis terhadap beban gempa dengan sistem respon spektrum pada KDS C. Performa struktur gedung ditinjau terhadap beban ledakan terdeteksi kerusakan pada elemen struktur balok dengan label B59 unique name 636 lantai 2 dan elemen struktur kolom dengan label C55 unique name 121.Key Words:    BRI Cabang Pontianak, struktur beton bertulang, struktur tahan gempa, performa beban ledakan pada struktur gedung.
STUDI PENGGUNAAN CANGKANG KERANG SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT HALUS PADA MORTAR Michael Jhon Martin Sianturi; Asep Supriyadi; Erwin Sutandar
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 3, No 3 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2016
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.019 KB) | DOI: 10.26418/jelast.v3i3.18621

Abstract

Dalam pembuatan benda uji metode yang digunakan yaitu Metode SNI, dengan kuat tekan rencana K-175. Semen yang digunakan adalah semen PCC. Benda uji yang dibuat berbentuk kubus 5x5x5 cm. Pengujianbenda uji meliputi uji kuat tekan,uji modulus elastisitas, dan uji permeabilitas. Dari hasil penelitian cangkang kerang dapat digunakan sebagai alternatif agragat halus pada mortar. Kekuatan tekan karakteristik mortar normal sebesar 366,48 kg/cm2. Peningkatan kuat tekan karakteristik umur 28 hari terjadi pada persentase cangkang 15% (CK-15)  sebesar 426,48 kg/cm2, persentase cangkang 30% (CK-30) sebesar 405,98 kg/cm2, persentase cangkang 45% (CK-45) sebesar 388,32 kg/cm2, dan persentase cangkang 75% (CK-75) sebesar 380,19 kg/cm2. Sedangkan pada persentase cangkang 100% (CK-100) terjadi penurunan kuat tekan karakteristik sebesar 312,66 kg/cm2. Subtitusi cangkang kerang yang paling baik adalah subtitusi pasir dengan cangkang kerang sebesar 15% (CK-15). Modulus elastisitas(Ec) mortar normal sebesar 20996,396 MPa untuk CK-15 sebesar 23386,258 MPa, untuk CK-30 sebesar 22333,293 MPa, untuk CK-45 sebesar 22862,203 MPa, untuk CK-75 sebesar 22357,835 MPa dan untuk CK-100 sebesar 21378,975 MPa. Dari hasil percobaan permeabilitas diperoleh koefesien permeabilitas rata-rata mortar normal sebesar 3,05574 × 10-8. Pada percobaan koefesien permeabilitas cangkang kerang dengan subtitusi 15% (CK-15) terjadi kenaikan sebesar 1,8807 × 10-8, pada percobaan koefesien permeabilitas cangkang kerang dengan subtitusi 30% (CK-30) terjadi kenaikan sebesar 1,26127 × 10-8, pada percobaan koefesien permeabilitas cangkang kerang dengan subtitusi 45% (CK-45) terjadi kenaikan sebesar 1,4587 × 10-8, pada percobaan koefesien permeabilitas cangkang kerang dengan subtitusi 75% (CK-75) terjadi kenaikan sebesar 1,12029 × 10-8, dan pada percobaan koefesien permeabilitas cangkang kerang dengan subtitusi 100% (CK-100) terjadi kenaikan sebesar 1,944448 × 10-8. Terjadi kenaikan koefesien permeabilitas terhadap mortar normal. Dapat disimpulkan bahwa penambahan cangkang kerang ini memberikan dampak positif terhadap permeabilitas mortar.   Kata kunci: cangkang kerang, mortar, mortar subtitusi pasir dengan cangkang kerang
Pengaruh Fly Ash PLTU Bengkayang terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Bata Beton Kristian, Alex; Sutandar, Erwin; Budi, Gatot Setya
Jurnal Komposit: Jurnal Ilmu-ilmu Teknik Sipil Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/komposit.v8i1.14393

Abstract

Fly Ash merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. Jumlah limbah abu batu bara yang sangat besar apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan benar dapat menimbulkan masalah lingkungan yang serius selain memerlukan tempat penampungan yang sangat luas. Penggunaan material Fly Ash sebagai material pembentuk bata beton didasari pada sifat material ini yang memiliki kemiripan dengan sifat semen. Adapun tujuan dari skirpsi ini adalah untuk mempelajari sifat fisis dan mekanis dari bata beton yang dihasilkan. Benda uji yang digunakan adalah bata beton persegi panjang dengan ukuran 39 x 19 x 10 cm sebanyak 130 buah. Pembuatan bata beton dibuat dengan pasir sedang, Semen singa merah dan limbah Fly Ash yang diperoleh dari PLTU Bengkayang. Benda uji dibuat dengan substitusi Fly Ash yaitu 0%,5%,15%, 25%,dan 35% dari volume semen. Pengujian yang dilakukan adalah visual, berat isi, absorpsi, densitas dan kuat tekan. Bedasarkan pengujian yang dilakukan, Secara visual bata beton telah memenuhi syarat tampak luar dan ketentuan toleransi ukuran Sesuai SNI 03-0349-1989. Berat volume rata-rata bata beton umur 28 hari dengan variasi 0%, 5%, 15%, 25%, dan 35% adalah 1125,506 kg/m3;1078,273 kg/m3; 1059,109 kg/m3;1049,933 kg/m3;dan1042,645 kg/m3. Densitas rata-rata bata beton umur 28 hari dengan variasi 0%, 5%, 15%, 25%, dan 35% adalah 2,028 gr/cm3;1,885 gr/cm3;1,839 gr/cm3;1,811 gr/cm3; dan 1,791 gr/cm3. Absorbsi rata-rata bata beton umur 28 hari dengan variasi 0%, 5%, 15%, 25%, dan 35% adalah 20,06 %;16,56 %;14,95 %;14,33 %; dan 13,56 %. Kuat tekan rata-rata bata beton umur 28 hari dengan variasi 0%, 5%, 15%, 25%, dan 35% adalah 1,200 MPa;0,790 MPa;0,657 MPa;0,580 MPa; dan 0,518 MPa.
PERENCANAAN JEMBATAN BAJA TYPE TRUSS DI JEMBATAN MELAWI II, KECAMATAN NANGA PINOH, KABUPATEN MELAWI Silaban, Pedro Agus Radot; Faisal, Faisal; Sutandar, Erwin
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 10, No 3 (2023): JeLAST Edisi Agustus 2023
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v10i3.68773

Abstract

Prasarana transportasi darat tidak lepas dari peranan jalan dan jembatan. Keduanya memiliki hubungan penting sebagai sarana untuk menghubungkan jalan yang dipisahkan oleh jurang, sungai, rel kereta api, dan median lainnya. Adanya bangunan jembatan akan menghasilkan jarak atau arah tujuan yang lebih pendek dan hemat biaya ke tempat tujuan daripada mengambil jalan memutar lebih jauh untuk menghindari hambatan tersebut. Khususnya di Kalimantan Barat, banyak ruas jalan yang harus melintasi sungai "“ sungai besar dan kecil. Untuk mencapai tujuan iniPemerintah Kabupaten Melawi membangun jembatan yaitu jembatan rangka baja. Pada kesempatan kali ini penulis akan merancang ulang struktur bangunan atas pada jembatan rangka baja dengan tipe truss. Jembatan ini merupakan alternatif baru yang akan berfungsi sebagai sarana penghubung antar Kota Nanga Pinoh "“ Kecamatan Nanga Pinoh Utara, Kabupaten Melawi. Secara struktural, pemilihan jembatan rangka baja dikarenakan lebar sungai mencapai kurang lebih 240 m yang akan terbagi menjadi 3 bentang.Peraturan pembebanan yang digunakan untuk merancang ulang jembatan rangka baja ini menggunakan peraturan Standar Nasional Indonesia (SNI) T-03-2005, SNI 1725:2016, SNI 2833:2016 merupakan pedoman peraturan untuk merancang sebuah jembatan. Tahap awal perancangan jembatan rangka adalah analisis lantai kendaraan, analisis gelagar memanjang, analisis gelagar melintang, analisis struktur rangka utama, sambungan dan perletakan jembatan. Dari hasil analisis perancangan struktur atas jembatan rangka tipe truss diperoleh tebal dari pelat lantai kendaraan 20 cm. Dimensi profil yang digunakan pada gelagar memanjang WF 450.200.9.12, profil gelagar melintang WF 900.300.16.28 dan profil rangka utama WF 496.432.45.70.
PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH BOTTOM ASH PLTU KABUPATEN SANGGAU TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS BETON REACTIVE POWDER CONCRETE (RPC) Widodo, Tandiono; Budi, Gatot Setya; Sutandar, Erwin
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 10, No 3 (2023): JeLAST Edisi Agustus 2023
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v10i3.68722

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengetahui pengaruh dari substitusi pasir kuarsa dengan limbah bottom ash dalam pembuatan beton RPC terdahap sifat fisis dan sifat mekanis dari campuran beton RPC. Benda uji dibuat dengan menggunakan cetakan silinder berdimensi 15 cm x 30 cm dan ukuran 10 x 20 cm dengan total 60 buah. Bahan campuran dalam beton RPC adalah agregat halus, bottom ash, semen, silica fume, superplasticizer, dan air. Dalam penelitian yang dilakukan ini menggunakan jenis pasir yaitu pasir kuarsa. Bottom Ash yang digunakan berasal dari PLTU Sanggau. Semen yang digunakan adalah semen conch. Benda uji dibuat dengan substitusi  bottom ash sebesar 0%, 15%, 30%, dan 50% dari berat volume pasir. Sifat fisis yang diuji adalah berat volume beton. Sifat mekanis yang diuji adalah kuat tekan beton, kuat tarik belah beton, dan modulus elastisitas beton. Berat volume beton RPC rata - rata umur 28 hari pada variasi 0%, 15%, 30%, dan 50% adalah 2242,12 kg/m3, 2127,58 kg/m3, 2000,30 kg/m3, dan 1955,76 kg/m3. Kuat tekan beton RPC rata - rata umur 28 hari pada variasi 0%, 15%, 30%, dan 50% adalah 62,450 MPa, 46,540 MPa, 45,180 MPa, dan 1955,76 MPa. Kuat tarik belah beton RPC rata "“ rata umur 28 hari pada variasi 0%, 15%, 30%, dan 50% adalah 13,690 MPa, 10,890 MPa, 10,300 MPa, dan 7,75 MPa. Modulus elastisitas beton RPC rata "“ rata umur 28 hari pada variasi 0%, 15%, 30%, dan 50% adalah 33873 MPa, 27417,67 MPa, 24361,67 MPa, dan 22658 MPa.  Kata Kunci : Berat Volume, Beton RPC, Bottom Ash, Kuat Tarik Belah, Kuat Tekan, Modulus Elastisitas
PERANCANGAN STRUKTUR BETON BERTULANG GEDUNG PERKANTORAN DI PONTIANAK Dwiyono, Dhio Asril; Faisal, Faisal; Sutandar, Erwin
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 10, No 3 (2023): JeLAST Edisi Agustus 2023
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v10i3.67320

Abstract

Gedung perkantoran di Pontianak, merupakan bangunan yang melengkapi perkantoran dan yayasan untuk menuntaskan kegiatan keuangan. On-the-job training , Tempat usaha ini dibangun dengan total enam lantai untuk membantu perluasan kegiatan kantor dan ekonomi yang lebih nyata dengan penambahan kantor yang lengkap dan struktur yang memuaskan. Dalam penataan bangunan, baik gedung pencakar langit maupun bangunan tidak bertingkat, perlu diperhatikan kekuatan, kenyamanan dan pengaruh iklim. Dalam membangun Gedung Perkantoran Pontianak ini, aspek-aspek tersebut harus direncanakan dan diperhitungkan dengan matang. Ada juga beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan konstruksi diantaranya tiang pancang yang akan diangkut, misalnya beban mati, beban hidup, beban angin, dan beban getaran. Fondasi, sloof, kolom, balok, pelat lantai, dan pelat atap merupakan komponen internal bangunan. Masing-masing bagian tersebut harus ditentukan secara mendalam, sehingga dapat dibedakan jumlah dan jenis material yang akan digunakan. Diharapkan bahan yang digunakan akan efektif di masa depan dan mampu menahan beban maksimum. Tercatat sebagai hard copy tugas akhir ini, penulis berencana membuat rencana desain aman gempa elektif dengan Second Opposing Edge Framework sesuai SNI gempa dan desain terbaru yaitu masing-masing SNI 1726-2019 dan SNI 2847-2019. struktur di Pontianak, khususnya Pengembangan Tempat Usaha. Para pencipta memilih Rangka Tepi Berlawanan Kedua karena beberapa keunggulan antara lain pemasangan yang mudah, biaya yang relatif lebih murah, dan hampir tidak mengurangi kemampuan tata letak bangunan sehingga dianggap layak untuk bangunan yang ada di Kota Pontianak.
PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK SEBAGAI BAHAN PENGISI DALAM PEMBUATAN BATAKO Pratama, Alfin Rizki; Sutandar, Erwin; Budi, Gatot Setya
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 11, No 3 (2024): JeLAST Edisi Agustus 2024
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v11i3.84820

Abstract

Sampah plastik Low Density Polyethylene (LPDE) merupakan limbah yang sulit terurai oleh tanah yang apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan dapat mencemari lingkungan. Penggunaan limbah Sampah plastik Low Density Polyethylene (LPDE) sebagai bahan pengisi dalam pembuatan batako diharapkan menjadi upaya dalam mendaur ulang limbah serta menjadi material alternatif untuk menghemat penggunaan material dari alam. Benda uji yang digunakan berupa batako dengan ukuran 39 × 19 × 10 cm dibuat sebanyak 130 buah. pembuatan batako dibuat dengan penambahan cacahan limbah sampah plastik Low Density Polyethylene (LPDE). Benda uji dibuat berdasarkan volume batako dengan komposisi campuran semen dan agregat halus 1:3 dan 1:6 dan variasi 0%, 10%, 20% dan 30%. Pengujian dilakukan adalah visual, berat volume, penyerapan air dan kuat tekan. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, secara visual batako telah memenuhi syarat tampak luar dan ketentuan toleransi ukuran sesuai dengan SNI 03-0349-1989. Berat volume rata-rata batako umur 28 hari untuk komposisi campuran 1:3 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 1045,61 kg/cm3, 1011,34 kg/cm3, 962,21 kg/cm3 dan 898,79 kg/cm3, untuk komposisi campuran 1:6 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 1027,26 kg/cm3, 998,38 kg/cm3, 982,19 kg/cm3 dan 977,06 kg/cm3. Penyerapan air rata-rata batako umur 28 hari untuk komposisi campuran 1:3 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 11,441 %, 12,991 %, 14,780 % dan 15,064 %, untuk komposisi campuran 1:6 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 11,215 %, 14,158 %, 15,537 % dan 16,457 %. Kuat tekan rata-rata batako umur 28 hari untuk komposisi campuran 1:3 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 15,43 kg/cm2, 14,01 kg/cm2, 11,61 kg/cm2 dan 10,56 kg/cm2, untuk komposisi campuran 1:6 dengan variasi 0%, 10%, 20% dan 30% adalah 15,01 kg/cm2, 12,65 kg/cm2, 10,51 kg/cm2 dan 8,26 kg/cm2.Kata Kunci: Batako, Berat Volume, Kuat Tekan, LPDE, Penyerapan Air, Sampah Plastik
Pengaruh Berat Volume terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Bata Ringan CLC Sutandar, Erwin
Jurnal Komposit: Jurnal Ilmu-ilmu Teknik Sipil Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/komposit.v9i1.16393

Abstract

To reduce the weight of a structure for the purposes of lightweight construction on clay (soft) and peat, an innovation is required. Priority one is the self-weight of the structure. A method for reducing the weight of construction is to reduce the weight of the wall, particularly the wall made of red brick, which weighs 1500 kg/m3 s/d 2000 kg/m3, and cement brick, which weighs 950 kg/m3 s/d 1000 kg/m3. Then came the innovation of CLC lightweight concrete bricks, as the technology is so simple that small to medium-sized businesses can produce them. In addition to comparatively accessible raw materials, this technology is also more environmentally benign (green technology). CLC (Cellular Lightweight Concrete) is produced by combining cement, sediment, water, chemical admixture, and infill material consisting of air-produced foam such as micro-sized detergent foam (micro bubbles) or foam agent. Based on the research conducted with varying amounts of foam, the lightweight concrete brick weighs only 400 kg/m3 s/d 1200 kg / m3. When compared to red bricks and cement bricks, the weight of lightweight concrete bricks is nearly half that of red bricks and cement bricks. As a consequence of a decrease in the volume of the bataringan's weight, the pressure has diminished. And the batringan's physical and mechanical properties will also change
Influence of Fly Ash Variation on the Compressive Strength of Solid Lightweight Bricks for Non-Structural Wall Selvialesti, Jessy; Supriyadi, Asep; Sutandar, Erwin
Jurnal Teknik Sipil Vol 25, No 2 (2025): Vol 25, No 2 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI MEI 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jts.v25i2.90169

Abstract

Kalimantan Barat is characterized by peat and soft soils with low bearing capacity. Excessive loads on these soil types can cause significant soil subsidence, increasing the cracks risk in building structures. Alongside advancements in science and technology in the construction sector, sustainable building material innovations continue to be developed, one of which is using lightweight bricks as an alternative wall material. This study aims to evaluate the manufacturing method of lightweight bricks based on rice husk fibre and to analyze the effect of varying fly ash content on their physical and mechanical properties, referring to the SNI 8640:2018 standard. The fly ash compositions used were 0%, 35%, 40%, 45%, and 50%. Tests included visual inspection, bulk density, water absorption, sound and heat resistance, drying shrinkage, fire resistance, compressive strength, and tensile strength. The results show that adding fly ash significantly influences the brick"™s performance. The variation with 35% fly ash addition (Variation 2) demonstrated the most optimal performance, achieving the best balance between mechanical strength, thermal resistance, and physical characteristics by the SNI 8640:2018 standard. This study confirms that rice husk fibre lightweight bricks have the potential as an environmentally friendly alternative building material that meets technical standards.
Effect of Gypsum Content Variation on The Compressive Strength of Lightweight Non-Structural Bricks Made from Rice Husk and Cement Indrayuni, Putri; Supriyadi, Asep; Sutandar, Erwin
Jurnal Teknik Sipil Vol 25, No 3 (2025): Vol 25, No 3 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jts.v25i3.90321

Abstract

Rapid urbanization and population growth have led to a significant rise in the demand for building materials, thereby contributing to increased environmental impacts due to the widespread use of conventional materials such as concrete blocks and red bricks. These materials are known for their heavy weight and energy-intensive manufacturing processes, resulting in high carbon emissions and environmental degradation. In response to these concerns, this study explores an alternative in the form of rice husk lightweight bricks enhanced with gypsum casting as a partial cement substitute. The objective is to investigate the effects of gypsum casting on the physical and mechanical properties of the bricks and to evaluate their compliance with the Indonesian National Standard SNI 8640:2018 for lightweight wall bricks. Five variations of gypsum casting"”0%, 15%, 35%, 40%, and 45%"”were analyzed. Results show that bricks with 15% gypsum exhibited the best performance in terms of volume weight (998.438"“1.054.063 kg/m ³), compressive strength (4.326"“6.192 MPa), and fire resistance (up to 489.13 °C). All specimens displayed 0% drying shrinkage and acceptable levels of water absorption, sound resistance, and heat insulation, demonstrating the feasibility of using gypsum-modified rice husk bricks as sustainable building materials.