Abstrak Meskipun kepemimpinan inklusif telah banyak dikaji dalam konteks organisasi dan perusahaan besar, penelitian yang mengkaji praktik kepemimpinan inklusif pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mempekerjakan karyawan difabel intelektual, khususnya penyandang down syndrome, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik kepemimpinan inklusif yang diterapkan manager dalam mengelola dan mengembangkan kinerja karyawan difabel intelektual di UMKM Kopi Kamu, Jakarta Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap pendiri, manager, pendamping, dan karyawan, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, manager menerapkan kepemimpinan inklusif dengan menyeimbangkan rasa memiliki (belongingness) dan penghargaan terhadap keunikan individu (uniqueness) melalui komunikasi partisipatif, pemberian kepercayaan, dan pendampingan berkelanjutan. Kedua, akomodasi wajar diimplementasikan secara sistematis melalui standardisasi tata ruang, penyesuaian alat kerja, media komunikasi visual, pembagian tugas sesuai kemampuan, serta sistem pendampingan yang memungkinkan karyawan difabel bekerja secara mandiri dan produktif. Ketiga, nilai kemanusiaan yang ditanamkan pendiri terinternalisasi menjadi budaya organisasi yang mendorong kolaborasi, saling menghargai, dan penerimaan terhadap keberagaman sebagai bagian dari identitas oeganisasi. Kebaruan penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan inklusif pada UMKM tidak hanya ditentukan oleh perilaku pemimpin, tetapi juga oleh integrasi antara akomodasi wajar dan budaya organisasi berbasis nilai kemanusiaan yang membentuk ekosistem kerja inklusif. Secara teoritis, penelitian ini memperluas kajian kepemimpinan inklusif dengan menawarkan perspektif. Kata Kunci: Kepemimpinan Inklusif, Karyawan Difabel Intelektual, Akomodasi Wajar, Budaya Organisasi, UMKM Coffee Shop Â