Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kegagalan komunikasi (miss communication) berperan sebagai pemicu konflik operasional antara atasan dan bawahan dalam aktivitas pergudangan di PT Shan San yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur. Secara konseptual, penelitian ini menempatkan komunikasi sebagai faktor awal yang memengaruhi munculnya konflik interpersonal, yang selanjutnya berdampak pada efektivitas kinerja operasional dan keharmonisan lingkungan kerja. Ketidakjelasan instruksi, ambiguitas pesan, serta keterbatasan komunikasi dua arah diidentifikasi sebagai sumber utama kesalahpahaman dalam proses kerja sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif para pelaku organisasi. Data dikumpulkan selama tiga minggu melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta pencatatan reflektif terhadap tiga informan dari generasi Milenial dan Generasi Z, termasuk satu orang supervisor. Teknik purposive dan snowball sampling digunakan untuk memastikan relevansi pengalaman informan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan secara tematik-induktif guna mengidentifikasi pola komunikasi, bentuk konflik yang muncul, serta dampaknya terhadap alur kerja gudang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang tidak terstruktur dan bersifat satu arah memicu konflik laten maupun terbuka, seperti kesalahan pelaksanaan tugas, keterlambatan pekerjaan, dan ketegangan hubungan kerja. Konflik tersebut tidak hanya bersumber dari perbedaan persepsi, tetapi juga dari hambatan psikologis bawahan yang enggan melakukan klarifikasi. Penelitian ini menegaskan bahwa perbaikan kualitas komunikasi manajerial berperan penting dalam menekan konflik dan meningkatkan kinerja operasional organisasi.