Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

BUDAYA BARTER DALAM PUSARAN GLOBALISASI PASAR DI SELATAN PULAU LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR Salmiyati, Mrs; Rahman, Abdul; Rifal, Mr; Ahmadin, Mr
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.267

Abstract

Artikel ini membahas tentang budaya barter dalam pusaran globalisasi pasar di Labala wilayah selatan pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di era zaman yang semakin maju dengan perputaran uang yang semakin luas dengan berdirinya Bank Pemerintah dan Swasta, bahkan pasar sudah dapat dinikmati secara online dengan berdirinya online shop. Namun masyarakat di Desa Labala masih menggunakan sistem barter, dengan masih mempertahkan warisan budaya. Yang menarik dari pasar barter ini adalah terjadinya interaksi sosial antara orang pesisir dengan orang pegunungan, desa pesisir lebih banyak datang dari daerah Wulanduro, aLeworaja, Atekere, Pantai Baru, Kehi dan Lamalera sedangkan daerah perbukitan dari daerah Puor, Uruor, Lewuka, Boto, Labala, Udak, dan Pusi Watu. Interaksi pasar yang terjadi dapat mempererat tali silaturahmi sosial, budaya, bahkan agama. Adapun tujuan penelitian ini antara lain (1) Proses transaksi barter atau tukar menukar barang produk pesisir dengan pegunungan. (2) Adapun letak perbandingan antara pasar barter dan non barter di Desa Labala yaitu pada saat proses sebelum dimulainya aktivitas jual beli dan tukar menukar barang, pada pasar barter ada petugas khusus atau mandor pasar yang ditugaskan untuk meniup peluit terlebih dahulu sebelum terjadinya proses tukar menukar barang. (3) Masyarakat Labala masih mempertahankan pasar barter sebab masyarakat Labala menganggap bahwa pasar barter merupakan warisan dari nenek moyang atau leluhur dan memiliki makna atau cerita tersendiri, disamping itu juga pasar barter di Desa Labala merupakan alat untuk mempererat tali persaudaraan antar umat beragama. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan
PELESTARIAN LINGKUNGAN MELALUI PARTISIPASI PETANI DALAM PEMBENTUKAN RUANG PUBLIK DI DESA BULUTELLUE Abdul Rahman; Muhammad Syukur; Rifal Rifal
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol 7, No 1 (2020): SOSIAL HORIZON: JURNAL PENDIDIKAN SOSIAL
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v7i1.1648

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan partisipasi masyarakat dalam melestarikan hutan dengan memanfaatkan ruang publik sebagai arena aktivitas di Desa Bulutellue, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan terlibat dan wawancara terhadap tokoh masyarakat, aparat pemerintah desa, dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk melestarikan lingkungan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat melalui pembentukan opini melalui diskusi di gardu sebagai ruang publik, pembentukan kelompok kerja yang otonom, dan ritual upacara adat. Upaya tersebut terbukti efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan berserta sumber daya di dalamnya, sehingga mereka optimis akan keberlanjutan lingkungan dan dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Cucu Nabi Muhammad Menikah dengan Orang Makassar : Studi Pernikahan Perempuan Islam Sayyid di Cikoang, Takalar Mustika Sari Wulandari; Abdul Rahman; Ahmadin Ahmadin; Rifal Rifal
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.986 KB) | DOI: 10.24235/tamaddun.v7i2.5499

Abstract

Abstract This article discusses the marriage of Muslim woman Sayyid in Cikoang, Takalar, South Sulawesi. Sayyid Islam is believed to have originated from the Prophet's grandson, Muhammad, who believed that he could only marry Sayyid's own Muslims. The study focused on women who married people outside of Sayyid. For this purpose, this article discusses (1) the background to a woman of Sayyid descent so that she chooses to marry a non-Sayyid man by reason of their own choice and for liking each other with her partner (2) the way of the descendants of Sayyid girls carry out their marriages with non-Sayyid men have differences with the processes commonly carried out by the community in general, the difference in the marriage process is not running a series of processes carried out before the wedding day which is usually done by the Makassar people (3) The marriage was also not attended and not witnessed by the family of the Sayyid woman. As for the relationship between Sayyid's daughter and her family, it can be said that she has broken up or has no family ties, even the daughter has been considered dead by her family since she chose to marry a non-Sayyid man, as well as the relationship between her husband and children towards the family the great Sayyid woman.Keywords: Sayyid Islam, Marriage, Anthropology of Religion.
Sosialisasi Pemahaman Sejarah Dan Budaya Bahari Sebagai Upaya Mencegah Pencemaran Laut Pada Remaja Bahri Bahri; Rifal Rifal; Aditia Muara Padiatra; Najamuddin Najamuddin; Ahmadin Ahmadin; Abdul Rahman
Dimasejati: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/dimasejati.v2i2.7019

Abstract

 Artikel ini merupakan pengabdian masyarakat yang bertujuan merekonstruksi pemahaman sejarah dan budaya bahari sebagai upaya mencegah pencemaran laut pada remaja di Pesisir Sungai Tuju-tuju, Sulawesi Selatan. Program ini menjadi sangat penting untuk dilakukan, berdasarkan observasi dan wawancara di lapangan, masalah pencemaran laut menjadi persoalan utama, biota laut yang hidup di sepanjang sungai tidak dapat bertahan hidup lama atau memilih bergesar ke daerah yang jauh dari garis pantai, akibatnya mengurangi pendapatan masyarakarat yang bekerja sebagai pemancing ikan (fa’mmeng), penangkap kepiting (faddakang), dan penjala ikan (fa’jala) di sungai. Metode yang digunakan dalam sosialisasi ini adalah 1) melakukan identifikasi masalah, 2) menyiapan materi sosialisasi berupa penyediaan buku sejarah dan budaya bahari mengenai pentingnya laut sebagai sumber kehidupan, 3) memberikan penjelasan kepada remaja tentang bahaya pencemaran laut, 4) menghimpun para remaja dan aparat desa untuk menyusun dan mempraktekkan dampak pencemaran lingkungan. Dengan bermitra dengan aparat desa, produk yang dihasilkan berupa pemahaman mengenai pentingnya menjaga sungai, serta pembuatan tempat sampah yang mudah diakses oleh masyarakat. 
PENGARUSUTAMAAN MODAL SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN PERDESAAN Abdul Rahman; Nurlela Nurlela; Rifal Rifal
Madani Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan Vol 12 No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.472 KB) | DOI: 10.52166/madani.v12i1.1897

Abstract

This article discusses the importance of social capital in rural development. Social capital is deemed necessary in rural development activities because historical data shows that development carried out by the government of the Republic of Indonesia, especially during the New Order administration tended to neglect community participation, even though it was the community who would utilize the development results. Entering the era of reform, the direction of rural development underwent a paradigm shift, in which the community is no longer placed as an object, but has been positioned as the subject of development, which is more popularly known as development with the botton up approach. The paradigm is then elaborated on empirical reality by placing Tompobulu Village community as a locus of research. The results showed that the development activities in this village could run in accordance with expectations because they got the support of the community who synergized with the government, and placed social capital as the basic capital in implementing development.
Manajemen dan Sejarah Pengelolaan Taman Wisata Bantimurung di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan I Nyoman Siryayasa; Muh. Zainuddin Badollahi; Rifal Rifal
CHRONOLOGIA Vol 2 No 1 (2020): Chronologia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.893 KB) | DOI: 10.22236/jhe.v2i1.4412

Abstract

This research tries to explain the development of Bantimurung Tourism Park. So the uniqueness of the Bantimurung-Bulusaraung National Park that attracts local and foreign tourists, karst: caves with beautiful stalagmites and stalagmites, and is best known as a butterfly. The method used in this study is a research method by collecting data (heuristics) that contains both primary and secondary sources obtained from interviews and the results of the presentation of previous studies, after which an assessment of the sources obtained in order to obtain information that is acceptable and reliable. The data that has been processed are then interpreted into historical narratives, after which they are written in historiography. The results of this study describe Bantimurung which has the potential of natural charm, benefits, and educational value. This development certainly has a significant impact on the economic and socio-cultural community.
PERAN STRATEGIS NAHDLATUL ULAMA DALAM PENGUATAN NASIONALISME KEMANUSIAAN UNTUK MENANGKAL RADIKALISME Abdul Rahman; Ahmadin Ahmadin; Rifal Rifal
Jurnal Artefak Vol 8, No 2 (2021): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.366 KB) | DOI: 10.25157/ja.v8i2.5555

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam menangkal radikalisme di Indonesia melalui penguatan nasionalisme kemanusiaan. Tujuan tesebut dijabarkan dalam tiga permasalahan pokok yaitu: bagaimana konsep nasionalisme kemanusiaan yang dikembangkan oleh NU, bagaimana upaya NU dalam mewujudkan nasionalisme kemanusiaan, dan bagaimana cara NU mengimplementasikan nasionalisme kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu: pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasionalisme kemanusiaan yang dikembangkan oleh NU ialah paham kebangsaan yang memberikan pengakuan kepada seluruh elemen bangsa yang terdiri atas suku, agama, ras, dan antar golongan yang berbeda untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan hak dan kewajiban berdasarkan Pancasila. Nasionalisme kemanusiaan diwujudkan melalui kegiatan dakwah dan pendidikan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam meneguhkan dan menyebarkan pemahaman aswaja sebagai pilar penguatan adpatasi, integrasi, pencapaian tujuan dan pemeliharaan tatanan sebagai bangsa yang berdaulat. Dalam mengimplementasikan nasionalisme kemanusiaan, NU menerapakan prinsip dasar yaitu tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleran), tawasut (moderat), dan i’tidal (adil) dalam berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.This paper aims to describe the role of Nahdlatul Ulama (NU) in counteracting radicalism in Indonesia through strengthening humanitarian nationalism. These objectives are described in three main problems, namely: how is the concept of humanitarian nationalism developed by NU, how NU's efforts to realize humanitarian nationalism, and how NU implements humanitarian nationalism in the life of the nation and state. This study uses historical methods, namely: topic selection, heuristics, criticism, interpretation and historiography. The results show that the humanitarian nationalism developed by NU is a nationalism that gives recognition to all elements of the nation consisting of ethnicity, religion, race, and between different groups to actively participate in exercising rights and obligations based on Pancasila. Humanitarian nationalism is manifested through preaching and education activities to produce superior human resources in strengthening and spreading the understanding of aswaja as pillars of strengthening adaptation, integration, achieving goals and maintaining order as a sovereign nation. In implementing humanitarian nationalism, NU applies the basic principles of tawazun (balance), tasamuh (tolerant), tawasut (moderate), and i'tidal (fair) in various sectors of the life of the nation and state.
STRATEGI EKONOMI PEDAGANG ANTAR PULAU DI PESISIR PANTAI TIMUR SULAWESI Ahmad Syahrir; Rifal Rifal; Abdul Rahman; Ahmadin Ahmadin
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36424/jpsb.v8i1.214

Abstract

Pekerjaan menjadi pedagang antar pulau sulit dilakukan oleh banyak orang, selain menggunakan modal yang besar, memiliki pula resiko yang besar. Berbeda halnya dengan pedagang tuju-tuju yang terletak di wilayah Pantai Timur Sulawesi, menjadikan pekerjaan ini menjadi tradisi dari sanak keluarga mereka. Demi mempertahankan penetrasi ekonomi maka diperlukan strategi dalam menjalin hubungan dengan para pedagang yang tidak pernah bertemu secara langsung, adapun strateginya yaitu, lempu (jujur), getteng (nilai keteguhan dan keyakinan) dan materru’ (berani). Inilah yang dipegang teguh para pedagang Tuju-tuju saat bertransaksi dengan pedagang dari Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya. Artikel ini bertujuan mengungkap strategi ekonomi pedagang dari tradisi keluarga yang dimiliki, dengan metode kualitatif dengan tipe deskriptif.Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara.Bahwa strategi ekonomi yang berasal dari tradisi keluarga berupa jujur, keyakinan, dan keberanian, mampu membuat masyarakat yang bekerja sebagai pedagang menjadi sukses. Hal tersebut dapat diukur dari akumulasi modal, kepemilikan barang dan jasa, dan investasi kerja yang terus menaik.
INTEGRASI ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DALAM PENDIDIKAN (Studi Pada Keluarga Petani di Desa Bulutellue) Abdul Rahman; Mrs Nurlela; Mr Rifal
AL-HIKMAH (Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam) Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LPPM) UNIKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/al-hikmah.v2i1.414

Abstract

Artikel ini membahas tentang sistem pendidikan di luar sekolah atau pendidikan informal yang dilaksanakan oleh masyarakat petani di Desa Bulutellue dalam mendidik anak-anak mereka. Adapun metode yang digunakan dalam menyusun artikel ini ialah melakukan pengamatan terhadap aktivitas keseharian masyarakat di lokasi penelitian, melakukan wawancara untuk memperkuat dan memperjelas hasil pengamatan, kemudian hasil temuan itu dianalisis dan dipertajam melalui komprasi dengan hasil-hasil penelitian yang terkait. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bulutellue, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan pendidikan terhadap anak, masyarakat petani di Desa Bulutellue mengintegrasikan antara ajaran Islam dengan budaya lokal yang terdapat dalam sistem pangngadereng sebagai basis sosiokultural masyarakat. Pendidikan yang mengintegrasikan antara Islam dengan budaya lokal membuat anak-anak mereka memiliki kepatuhan terhadap adat dan ketaatan terhadap ajaran Islam.
PRANATA BUDAYA DALAM PERKAWINAN SUKU PAMONA DI LUWU TIMUR Mrs Musdalifah; Abdul Rahman; Mr Rifal; Mr Ahmadin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.262 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v5i2.33

Abstract

Pranata budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sosial masyarakat. Fungsi pranata budaya memberi pedomaan pada masyarakat dalam bertingkah laku, menjaga keutuhan masyarakat, dan sebagai sistem pengendali sosial (social control). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan fungsi pranata budaya baik secara laten maupun manifes, demi terciptanya keteraturan sosial (social order). Ketentuan pranata budaya ketika melakukan pelanggaran berupa hamil di luar nikah akan dikenakan denda sebesar 1,5 juta rupiah. Pranata budaya pada masyarakat Suku Pamona masih bertahan hingga kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Masyarakat suku Pamona tidak dapat serta merta menghilangkan aturan-aturan adat yang telah ada dan dijalankan sejak dahulu serta masyarakat menganggap bahwa hukum adat lebih kuat dari peraturan negara serta mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh masyarkat.