Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Peningkatan kompetensi pengetahuan sosial-budaya bagi penulis dalam mendukung lahirnya karya sastra berbasis kearifan lokal Ahmadin Ahmadin; Darman Manda; Rifal Rifal
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2019, No 10: PROSIDING 10
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is the result of community service that intends to provide the basis of understanding in order to improvethe ability of socio-cultural knowledge for writers for the birth of literary works based on local wisdom in Sulawesi Selatan. Thisprogram is considered very important given that the literary works produced by writers in this area are still very limited to makelocal wisdom as their contents. Whereas on the other hand local wisdom is an important part of the socio-cultural identity of thepeople which requires attention and preserves it. The method used in the process of increasing competency is to conduct trainingwith the following stages: (1) identifying the socio-cultural values of local communities that require socialization andpreservation, (2) collaborating with one of the author's organizations namely Ikatan Penulis Muslim Indonesia, (3) conductstraining on the potential of local noble values that can be used as writing material, and (4) records literary works based on localwisdom in the form of short story anthology. Thus, people can learn local wisdom through reading literature.
Sosialisasi Bahaya Narkoba bagi Pelaut Melalui Kegiatan “Dari Laut Tanpa Narkoba” Di Desa Tarasu Dimas Ario Sumilih; Rifal Rifal
Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat PROSIDING EDISI 3: SEMNAS 2020
Publisher : Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.557 KB)

Abstract

Sebagai besar Pelaut belum banyak memahami bahaya narkoba. Akibatnya, Pelaut masih memandang bahwa pengguna narkoba itu sesuatu yang lazim-lazim saja. Tanpa disadari bahwa narkoba telah menyebar luas di kalangan masyarakat Kajuara, termasuk diantaranya di Desa Tarasu. Beberapa kasus yang terjadi selesai begitu saja, tanpa ketelibatan masyarakat secara penuh dalam mencegah penyebaran dan penggunaan narkoba. Tulisan ini berusaha menjelaskan kepada pelaut perihal bahaya narkoba kepada para pelaut, yang akan menimbulkan keresahan kepada masyarakat. Menghancurkan pekerjaan, keluarga, bahkan yang lebih berbahaya kepada penggunanya. Kegiatan “dari laut tanpa narkoba” merupakan sesuatu yang akan terus dilakukan di Pelabuhan Tuju-tuju. Kegiatan ini sebagai slogan dari kegiatan pencegahan narkoba dengan cara melakukan sosialisasi, menggantungkan brosur dan menonton video bahaya narkoba melalui handphone masing-masing peluat yang akan dipandu langsung. Pelaut tidak lengkap dengan melihat di televisi, berita penangkapan narkoba, atau dampak kesehatan terhadap penggunaan narkoba yang mereka dapatkan di media massa tetapi perlu diadakan sosialisasi kultural mengenai bahaya narkoba. Salah satu cara untuk merealisasikan ini semua dengan membentuk tim yang didalamnya berasal dari pelaut dengan nama ‘dari laut tanpa narkoba’. Melalui tim yang dibentuk ini, yang berasal dari peserta sosialisasi dapat memproduksi pengetahuan mengenai bahaya narkoba, harapannya pelaut memiliki perspektif yang utuh mengenai bahaya narkoba. Luaran yang diharapkan dari kegiatan “dari laut tanpa narkoba” dengan melakukan sosialisasi secara masiv, salah satunya yaitu sumber ilmu dan informasi yang mendukung kegiatan pencegahan narkoba dengan cara pembuatan brosur dan nonton video bahaya narkoba yang tentunya merawat generasi pelaut tanpa narkoba. Luaran yang diharapkan adalah barang dan jasa. Bentuk jasa berupa sosialisasi bahaya narkoba, sedangkan barang berupa brosur “dari laut tanpa narkoba”.Kegiatan akhir dari pengabdian ini adalah melaksanakan sosialisasi kepada pelaut yang berada di pelabuhan dan perahu, selain itu melakukan menanggalan brosur yang  berada perahu sebagai penanda bahaya, dan sebagai pengingat bahaya narkoba. Kegitan ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Tarasu, Ahmad Tang Suki dengan jumlah 6 orang mengingat bahwa masih dalam kondisi Covid-19 dengan mempertimbangkan protokol kesehatan. Selanjutnya kegiatan ini berlangsung selama sehari secara bertahan dan periodik selama sebulan, yang dimlai pada 7 september pukul 08.00-16.00 WITA. Kegiatan pengabdian ini menitiberatkan pada sosialisasi terkait bahaya narkoba bagi para pelaut melalui kegiatan dari laut tanpa narkoba. Substansi dari penyajian materi lebih memperkenalkan bagaimana pentingnya menghindari bahaya narkoba, karena semua akan hancur apabila barang terlarang ini menjadi bagian dalam hidup para pelaut. Kegiatan ini dilakukan dengan metode partisipatoris dengan langsung memantau setiap perkembangan pola pikir masyarakat.
Pariwisata, Masyarakat dan Kebudayaan: Studi Antropologi Pariwisata Pantai Marina di Pajukukang Bantaeng, Sulawesi Selatan Satria Wulandari; Rifal Rifal; Ahmadin Ahmadin; Abdul Rahman; Muh. Zainuddin Badollahi
Pusaka: Journal of Tourism, Hospitality, Travel and Business Event Vol 2 No 1: Februari – Juli 2020
Publisher : Politeknik Pariwisata Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.004 KB) | DOI: 10.33649/pusaka.v2i1.44

Abstract

This article discusses the development of tourism with an anthropological approach to tourism in the Marina Pajujukang Bantaeng Beach, South Sulawesi. The results of this study indicate that: (1) Government efforts in developing marina beach tourism are trying to improve the human resources of the village of Baruga by conducting socialization and trying to complete facilities incomplete such as clean water filter (2) Community involvement in tourism development by supporting government programs for the advancement of marina beach tourism objects and participating directly in the development of Marina beach such as being a builder at the beginning of Marina beach construction until the Marina beach is like being security officer, janitor and waitress at a hotel in the Marina beach area. (3) The impacts felt by the community in developing the Marina beach are two, namely in the economic field for example increasing community income, opening new jobs and opening business opportunities for the Baruga village community while in the socio-cultural field there are two impacts namely positive and negative impacts. An example of the positive impact is the increasing public insight about tourist culture through the temporary negative impact that is starting to affect the local community on the culture of tourists who come to visit the Marina beach. This research is a qualitative descriptive study. Data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. The data obtained is then processed using data analysis techniques such as data reduction, data presentation and conclusion making. And also the data validation using Member Check. From the results of research that has been found it seems that every development of tourism needs to be involved by all groups, especially the community, not just prioritizing investors. Because the essence of the success of the trip tour if the surrounding community enjoys economic results.
Pendidikan Inkulturasi Nilai Budaya Keluarga pada Santri Pondok Pesantren Darul Huffadh Kabupaten Bone Amiruddin Amiruddin; Rifal Rifal
Seminar Nasional LP2M UNM SEMNAS 2019 : PROSIDING EDISI 2
Publisher : Seminar Nasional LP2M UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.82 KB)

Abstract

This article discusses the enculturation education of family cultural values in students of Darul Huffadh Islamic Boarding School in Bone Regency. Enculturation is a process that takes place from childhood from a small environment (family) to a large environment (community). This research uses a qualitative method with descriptive type. Data collection techniques were obtained by field research which included observation, documentation and interviews. The data analysis techniques through data reduction, data presentation and drawing conclusions. Facts in the community show that not a few pesantren children are 'damaged' when outside the pesantren or immediately after graduating from pesantren which may be the cause is due to lack of optimal enculturation that he gets in the family. Islamic boarding school students Darul Huffadh began entering boarding schools aged 13 years where the period was still a time of needing education from parents in order to be able to accept family cultures perfectly. However, at that age they are far from potential parents who are unable to accept family culture so that they can eventually deviate. There is a growing striotype in the Kajuara community, that only thugs enter pesantren. It was during the pesantren that they learned ahklak and religious understanding. Where enculturation is associated with transmitting a culture that has been considered good by the family for a long time to be cared for. As happened in the Darul Huffadh Islamic Boarding School, most of the returnees included their families from those who had been students in the place.
Penguatan Gerakan Sosiokultural Sebagai Upaya Pencegahan Destruktif Kebangsaan Abdul Rahman; Nurlela Nurlela; Rifal Rifal
Seminar Nasional LP2M UNM SEMNAS 2019 : PROSIDING EDISI 3
Publisher : Seminar Nasional LP2M UNM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.349 KB)

Abstract

This article describes the importance of the socio-cultural movement in an effort to strengthen the Indonesian spirit in the midst of increasingly globalized relations between nations. Admittedly, there is a kind of anxiety over Indonesia that is plural and multicultural in the verge of fighting among fellow children of the nation because of disagreements in the management of national and state life. The founders of this nation have taken pains to frame Indonesia in one knit together by setting aside differences. Therefore, when the ideals of the founders of this nation must be buried with ideas that negate the Unitary State of the Republic of Indonesia based on Pancasila, all efforts and efforts must be mobilized to contain it. The majority Muslim community in this country must take the role of maintaining the sovereignty of the Indonesian state while still striving to advance the nuances of humanity and avoid the path of violence so that Islam can show its existence as a blessing for all life.
Kehidupan Sosial Ekonomi Pedagang Angkringan di Pantai Padongko Kabupaten Barru, 2010-2021. Putri, Jovita Oktaviani; Ahmadin, Ahmadin; Rifal, Rifal
Attoriolong Vol 22, No 1 (2024): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang adanya Angkringan di Pantai Padongko Kabupaten Barru, Dinamika Perkembangan Kehidupan Sosial Ekonomi Pedagang Angkringan di Kabupaten Barru 2010-2021, serta Dampak Kehidupan Sosial Ekonomi Pedagang Angkringan di Pantai Padongko Kabupaten Barru. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik (kritik intern dan ekstern), interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awalnya lokasi Angkringan tersebut berada di pinggir Pantai Sumpang Binangae, kemudian karena lokasinya yang berada sangat dekat dengan pantai dan menghalangi, akhirnya Pemerintah Kabupaten Barru memindahkan lokasi ke dekat Pantai Padongko karena di anggap lokasi tersebut sudah strategis untuk ditempati berdagang. Dalam perkembanganya Pedagang Angkringan mengalami banyak perubahan, di mulai pada masa awal tahun 2010, kemudian masa kejayaan, hingga masa suram. Adapun dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan oleh para pedagang Angkringan itu sendiri, serta pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disumpulkan bahwa Angkringan di Kabupaten Barru ini sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun lamanya, dan para Pedagang Angkringan tersebut mengalami perekmbangan sosial ekonomi yang cukup baik serta dapat menghidupi kehidupan mereka sehari-harinya dengan berdangang Angkringan.
Objek Wisata Gunung Bulusaraung pada Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) Rahmania, St.; Najamuddin, Najamuddin; Rifal, Rifal
Attoriolong Vol 22, No 1 (2024): Attoriolong Jurnal Pemikiran Kesejarahan dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Objek wisata Gunung Bulusaraung Pada Masa Pandemi Covid-19. Gunung Bulusaraung merupakan sebuah objek wisata yang terletak di Desa Tompo Bulu Kecamatan Balocci Kabupaten Pangkep. Dengan memaparkan latar belakang terbentuknya Bulusaraung sebagai objek wisata, sistem pengelolaan Bulusaraung sebelum dan masa pandemi Covid-19, dan dampak Covid-19 terhadap Objek Wisata Gunung Bulusaraung. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik atau pengumpulan data yang diperoleh melalui studi kepustakaan, studi kearsipan, wawancara, dan observasi. Selanjutnya dilakukan kritik sumber terhadap sumber yang telah dikumpulkan, kemudian diinterpretasi atau diberikan penafsiran terhadap sumber tersebut. Langkah terakhir yaitu historiografi atau penulisan sejarah yang pada akhirnya melahirkan tulisan tentang Objek Wisata Gunung Bulusaraung Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang Gunung Bulusaraung menjadi bagian dari Taman Nasonal Bantimurung pada tahun 2004, akan tetapi baru dikelola pada tahun 2010. Sejak pemerintah Indonesia mendeklarasikan Covid-19 sebagai bencana nasional pada tanggal 02 maret 2020, Salah satu objek wisata yang terkena dampak Covid-19 adalah Gunung Bulusaraung. Objek Wisata Gunung Bulusaraung sebagai bentuk pariwisata berbasis pelestarian lingkungan, memiliki urgensi untuk tetap melakukan operasional. Dengan diterapkannya protokol kesehatan yang sangat ketat diharapkan selain dapat menekan penyebaran Virus Corona juga dapat memulihkan pariwisata di Kawasan Objek Wisata Gunung Bulusaraung. Covid-19 menimbulkan kerugian terhadap objek wisata Gunung Bulusaraung yang mana semua pemangku kepentingan mulai dari Pemerintah Daerah, pelaku usaha sampai dengan pekerja disektor objek wisata merasakan kerugian tersebut.
Kisah Bung Kecil : Rekam Jejak Sutan Sjahrir 1909 – 1966 Padiatra, Aditia Muara; Rifal, Rifal; Sanusi, Anwar; Hamidah, Dedeh Nur
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v11i2.14953

Abstract

As an intellectual as well as an activist for the independence movement, talking about one of the founding fathers of the Republic of Indonesia would certainly be incomplete without discussing the figure of Sutan Sjahrir. The man who was born in Padang Panjang, West Sumatra is known as an accomplished diplomat and was one of the prime ministers during the early period of Indonesian independence. Tracing this matter, it becomes interesting then to be able to see how the side of his life was from time to time, such as childhood and youth, his actions as an independence figure, until the end of his life, this was an effort to then perpetuate the works that what he did, and how then the values that he upheld to become an inspiration for later generations to emulate the figures and figures of Bung Kecil, Sutan Sjahrir's nickname. 
Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Religius Bagi Masyarakat Bahari di Pangkajene dan Kepulauan Rifal
JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN Vol. 6 No. 3 (2024): JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN (JP-3)
Publisher : RAYHAN INTERMEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31970/pendidikan.v6i3.1455

Abstract

Artikel ini membahas pendidikan berbasis nilai-nilai religius bagi masyarakat bahari di Pangkajene dan Kepulauan. Pendidikan nilai religius tidak hanya berfungsi untuk memperdalam keimanan individu, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk mempertahankan kearifan lokal dan solidaritas sosial. Di Pangkep, nilai-nilai ini dapat diwujudkan melalui praktik seperti ritual keagamaan, kegiatan pendidikan formal maupun informal, serta aktivitas sosial yang terhubung dengan kehidupan pesisir. Melalui penguatan pendidikan berbasis nilai religius, masyarakat diharapkan dapat membangun kesadaran yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan Tuhan. Hal ini tidak hanya akan melestarikan nilai-nilai luhur masyarakat bahari, tetapi juga membangun karakter komunitas yang lebih tangguh menghadapi tantangan global. Artikel ini berupaya mengeksplorasi peran pendidikan nilai-nilai religius dalam membentuk kehidupan masyarakat bahari di Pangkep, serta bagaimana implementasinya dapat mendukung keberlanjutan budaya dan identitas komunitas maritim. Menggunakan metode sejarah yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis kontribusi pendidikan berbasis nilai-nilai religius terhadap kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat Pangkajene dan Kepulauan, khususnya dalam konteks tradisi bahari. Melalui langkah-langkah penelitian yang sistematis ini, peneliti diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai peran agama dalam membentuk pola pendidikan dan cara pandang masyarakat terhadap alam, terutama laut, sebagai sumber kehidupan mereka.