Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Ketidakpatuhan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan Covid-19 Di Kutacane Aceh Tenggara Evarina Sembiring; Galvani Volta Simanjuntak; Amila Amila; Sabran Hadi Pagan
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 10, No 3 (2021): Volume 10 Nomor 3
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v10i3.5455

Abstract

Abstrak: Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Ketidakpatuhan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan Covid-19 Di Kutacane Aceh TenggaraPemerintah telah menetapkan bahwa penerapan protokol kesehatan 5M menjadi kewajiban dalam kehidupan masyarakat untuk memutus rantai penularan Covid-19 baik risiko tertular dan menularkan. Kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan dan belum melakukan apa yang di arahkan oleh pemerintah Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan sikap dengan ketidakpatuhan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan covid-19 di Desa Tualang Baru Kutacane Aceh Tenggara. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini masyarakat Desa Tualang Baru yang berusia 18-50 tahun  sebanyak 246 orang, sampel sebanyak  71 responden, pengambilan sampel menggunakan Random Sampling, Pengumpulan data dengan pengisian kuesioner melalui link google form dan dianalis dengan uji rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  mayoritas  pengetahuan tentang  pencegahan Covid 19  kategori kurang sebanyak 57,7% sikap kategori kurang sebanyak 64,8% dan ketidakpauhan kategori kurang sebanyak 66,2%. Ada hubungan pengetahuan dengan ketidakpatuhan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan covid-19 (nilai p = 0,000<0,05 dan nilai r=0,715). Ada hubungan sikap dengan ketidakpatuhan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan covid-19  (nilai p= 0,000<0,05 dan nilai r = 0,907). Kesimpulan : Ada hubungan pengetahuan dan sikap dengan ketidakpatuhan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan covid-19 di Desa Tualang Baru Kutacane Aceh Tenggara.
Stigma dan diskriminasi serta strategi koping pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di kota Medan, Sumatera Utara Eva Kartika Hasibuan; Novita Aryani; Galvani Volta Simanjuntak
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1824

Abstract

People living with HIV/AIDS (PLWHA), battling stigma, discrimination and coping strategies  in  Medan, IndonesiaBackground: People living with HIV/AIDS have a multiple problem, PLWHA has a decreased physical abilities effect immunodeficiency, but also having a psychological and social problems also increase their burden. The health provider should be a place for PLWHA to get the right information about HIV/AIDS, but they follow to stigmatize and discriminate against them.Purpose: To describe coping PLWHA face up to stigma and discrimination in health provider.Methods: A qualitative with a descriptive phenomenological approach with population of this research was people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan, Indonesia. The number of samples was of 10 respondent  by purposive sampling technique. The criteria of the sample were PLWHA get treatment for ≥ 6 months and able to communication in Indonesia is well. Data collected with in-depth interviews and analysis by  Nvivo version 12.0 trial.Result: Finding that four themes, the first; get stigmatize and discriminate from health workers, second; have a psychological impact, third; continue treatment to the health provider and fourth; Hoping in health services well.Conclusion: People living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan Indonesia still having a positive coping to face stigma and discrimination in health provider and they keep continue to get treatment in health provider.. Keyword: People Living With HIV/AIDS (PLWHA); Battling; Stigma; Discrimination; Coping StrategiesPendahuluan: Pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi tempat orang dengan HIV/AIDS mendapatkan pengobatan dan informasi yang benar mengenai penyakitnya, justru ikut menstigma dan mendiskriminasikan mereka.Tujuan: Untuk menggambarkan stigma, koping dan harapan ODHA di pelayanan kesehatan.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif dengan populasinya  orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Medan. Jumlah partisipan sebanyak 10 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan data dianalisis dengan menggunakan software N.Vivo versi 12 trial.Hasil: Di dapatkan  empat  tema yaitu 1) Pernah mendapatkan stigma dan diskriminasi dari petugas kesehatan, 2) Pernah mengalalami dampak secara psikologis, 3) Tetap melanjutkan pengobatan ke pelayanan kesehatan, 4) Harapan pada layanan kesehatan.Simpulan: Orang dengan HIV/AIDS ODHA di kota Medan masih memiliki koping yang positif  dalam menghadapi stigma dan diskriminasi sehingga ODHA tetap melanjutkan pengobatan di pelayanan kesehatan. 
Lama menderita diabetes mellitus tipe 2 sebagai faktor risiko neuropati perifer diabetik Galvani Volta Simanjuntak; Marthalena Simamora
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.707 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1810

Abstract

Sensory neuropathy in type 2 diabetes mellitus and its correlation with duration of diseaseBackground: Diabetic peripheral neuropathy is a complication of type 2 diabetes mellitus (T2DM) that results in harm to the nervous system. It is a progressive disease, and symptoms get worse over time.Purpose: To exploration the sensory neuropathy in type 2 diabetes mellitus and its correlation with duration of disease.Method: An observational analytic with cross sectional design with population was patients with T2DM without diabetic ulcers in diabetic clinic Sari Mutiara Hospital. The number of samples  was 86 respondents by  a simple random sampling. Measuring the risk of diabetic peripheral neuropathy used 10 gram monofilament.Results: Showed the majority of the duration of T2DM >5 years (53,5%) and the majority of respondents had neuropathy (54,7%). The results of the Spearman rank correlation test showed that there was a significant correlation between duration of T2DM and risk of diabetic peripheral neuropathy (p-value = 0,023 and r= -0,438). Conclusion: The majority respondents has a diabetic peripheral neuropathy and also has a risk of diabetic peripheral neuropathy who are suffering >5 years. It is recommended that they need a regularly asses and educate to prevent further complication.Keywords: Sensory neuropathy; Type 2 diabetes mellitus; Duration of diseasePendahuluan: Neuropati perifer diabetes adalah komplikasi diabetes yang mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Ini adalah penyakit progresif, dan gejalanya bertambah buruk seiring waktu.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan lama menderita dengan risiko neuropati pada pasien DM tipe 2.Metode: Desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional dan populasinya seluruh pasien DM tipe 2 yang tidak memiliki ulkus diabetik di klinik diabetes RSU Sari Mutiara. Sampelnya sebanyak 86 yang diambil dengan teknik simple random sampling. Risiko neuropati perifer diabetik diukur menggunakan monofilament 10 gram.Hasil: Analisis data menunjukkan mayoritas pasien menderita DM tipe 2  yang  >5 tahun (53,5%) dan mayoritas pasien telah mengalami neuropati (54,7%). Hasil uji statistik menggunakan korelasi spearman menunjukan adanya hubungan lama menderita DM tipe 2 dengan risiko neuropati (p-value = 0,023<0,05 dan  nilai r = -0,438).Simpulan: Mayoritas responden yang mengalami Neuropati perifer diabetes maupun resiko terjadinya Neuropati perifer diabetes pada mereka kelompok yang menderita DM tipe 2  yang  >5 tahun. Sangat dianjurkan pada pasien tersebut untuk dilakukan pengkajian secara teratur  dan pendidikan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. 
Self-Efficacy, Self-Compassion, and Dietary Compliance Of Diabetes Mellitus Patients Jek Amidos Pardede; Galvani Volta Simanjuntak; Marthalena Simamora; Melda Parapat
TOUR HEALTH JOURNAL Vol. 1 No. 1 (2022): TOUR HEALTH JOURNAL
Publisher : Akupun Tour Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes   Mellitus   is   a   disease   that   cannot   be cured, but it can be controlled so that patients can live their lives well. One of the ways to control this is by adjusting the diet. Purpose: The purpose of this study was to determine the relationship   between   self-efficacy and self-compassion with dietary compliance of diabetes mellitus patients. Method: The research method used  was  correlation  analytic with  a  cross  sectional  approach. The  population  of  this  study  is diabetes mellitus outpatients  at RSUD  Dolok Sanggul. Sample was  taken  by  accidental  technique  of  50  people. Data  collection using a   questionnaire and   data   analysis using spearman correlation test with a significance level of 0.05. Result: The  results showed  that  the  majority  of  respondents had  low  self-efficacy as many  as 33  people (66%),  the majority of respondents had low self-compassion as many as 38 people(76%) and the majority of respondents diet  compliance  was low  as  many  as  35  people  (70%).  The  results  of the  Spearman correlation test between self-efficacy (p0,001; r 0,625) and self-compassion (p0.001   ;   r   0,734)   with dietary   compliance   of diabetes mellitus patients. Conclusion: There is a strong relationship between self-efficacy and self-compassion witt dietary compliance of diabetes mellitus patients. The better the self-efficacy and self-compassion,  the  more  obedient  the  diabetic  patient  will  be  in implementing the diet program.
GLUKOSA DAN MORTALITAS PASIEN CEDERA KEPALA Simanjuntak, Galvani Volta; Amila, Amila; Sinaga, Janno
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i2.308

Abstract

Latar Belakang: Cedera kepala merupakan jenis trauma yang paling sering menyebabkan kematian dan kecacatan sehingga pengenalan indikator prognostik sangat penting untuk meningkatkan hasil.  Namun masih terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai kadar glukosa dan peningkatan risiko mortalitas pada pasien cedera kepala.  Tujuan: studi pendahuluan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kadar gula darah dengan kematian pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case-control dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah rekam medis pasien dewasa yang mengalami cedera kepala pada Januari-Desember 2018 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.  Sampel penelitian sebanyak 88 rekam medis. Uji statistik yang digunakan adalah chi square test. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 68,2% berjenis kelamin laki-laki, 79,5% berusia <45 tahun, mortalitas pasien dengan kadar gula darah >200 mg/dL sebesar 70%, sedangkan mortalitas pasien dengan kadar gula darah ≤200 mg/dL sebesar 33,3%. Ada hubungan kadar gula terhadap mortalitas pasien cedera kepala (p=0,001, OR=1,654). Diskusi: Peningkatan kadar gula darah dapat menyebabkan kerusakan otak yang luas dan berkaitan dengan prognosis buruk.  Simpulan. Kadar gula darah tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian pasien cedera kepala. Disarankan untuk melakukan penelitian dengan kelompok pasien yang lebih besar sehingga manfaat potensial dari kontrol glukosa pada cedera kepala dapat diketahui dengan benar.Kata Kunci: Cedera Kepala, Glukosa, MortalitasGlucose and Mortality in Patients with Head InjuryABSTRACTBackground: Head injury is a type of trauma that most frequently causes mortality and disability, so it is essential to introduce prognostic indicators to improve outcomes. However, there are still differences in studies regarding glucose levels and increased risk of mortality in patients with head injury. Objective: This preliminary study aims to identify the correlation between blood sugar levels and mortality in patients with head injury. Methods: This study is a case-control study using a retrospective approach. The population was medical records of adult patients who suffered head injuries in January-December 2018 at the H. Adam Malik Central General Hospital of Medan. The research samples were 88 medical records. Data were analyzed using the chi-square test. Results: The study results indicated that 68.2% were male, 79.5% were aged <45 years, mortality of patients with blood sugar levels of >200 mg/dL was 70%, while mortality of patients with blood sugar levels ≤200 mg/dL was 33.3%. There was a correlation between blood sugar levels and mortality in patients with head injury (p=0.001, OR=1.654). Discussion: Elevated blood sugar levels may cause extensive brain damage and are associated with a poor prognosis. Conclusion: High blood sugar levels are correlated with an increased risk of mortality in patients with head injury. It is recommended to conduct further studies with a larger group of patients to properly identify the potential benefits of glucose control in head injury.Keywords: Head Injury, Glucose, Mortality
PENANGANAN PERTAMA PADA CEDERA KEPALA RINGAN Silvina Marbun, Agnes; Amila, Amila; Simanjuntak, Galvani Volta; Mislika, Mutia; Santri, Trisna Widya; Sahputra, Andi
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 1 No. 2 (2020): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera kepala bisa menyebabkan otak mengalami benturan dengan tulang kepala bagian dalam yang memicu terjadinya perdarahan, memar jaringan, hingga terjadinya kerusakan pada serabut saraf. Pada beberapa kondisi trauma kepala ringan, darah bisa saja keluar dalam volume yang cukup banyak. Tulang tengkorak memiliki fungsi utama untuk melindungi otak dari kerusakan akibat cedera. Saat terjadi benturan yang menyebabkan cedera, fungsi otak akan mengalami gangguan tanpa diikuti dengan gejala yang bisa dilihat dari luar. Memberikan penanganan pertama untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin terjadi pada korban cedera kepala ringan, maka langkah pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi jantung dan langkah kedua apabila masih bernapas dan detak jantungnya masih berada pada kondisi normal, tetapi kehilangan kesadaran, kamu bisa menstabilkan posisi kepala dan leher menggunakan tangan sebagai alas. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, dilakukan penjelasan dan cara penanganan pertama pada cedera kepala ringan pada 15 orang dengan langkah pertama pemeriksaan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi jantung. Tehnik ini sering disingkat menjadi teknik ABC, yaitu airways, breathing, dan circulation. Berdasarkan dari penjelasan dan beberapa kali dipandu melakukan tehnik tersebut, maka peserta mampu menjelaskan dan melakukan tehnik penanganan pertama pada cedera kepala ringan.
SOSIALISASI TENTANG PENYAKIT MENULAR PADA KADER POSYANDU REMAJA LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS KELAS 1 MEDAN Sitorus, Mido Ester. J.; Simanjuntak, Galvani Volta; Tarigan, Frida Lina
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 3 No. 1 (2022): JURNAL ABDIMAS MUTIARA (In Press)
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut WHO (2018), remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) tentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah (Kemenkes RI, 2012). Hasil survei penduduk antar sensus 2015 menunjukkan bahwa pendudukusia 15-24 tahun mencapai 42.061,2 juta atau sebesar 16,5 persen dari total penduduk Indonesia. Hasil proyeksi penduduk menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia remaja ini akan mengalami peningkatan hingga tahun 2030 (World Population Prospects, UN Population 2015 dalam Lembaga Demografi FEB UI, 2017). Berdasarkan hasil pra survey di Lembaga Pembinaan Khusus Kelas 1 Medan ternyata belum pernah di adakan Posyandu Remaja tentang Penyakit Menular, pada hal saat ini banyak sekali remaja yang bisa mendapatkan informasi mengenai penyakit menular baik melalui media social misalnya facebook, youtube, Instagram, whatsapp, twitter, line. Maka dari itu kami tim pelaksana pengabdian masyarakat datang menjelaskan kepada kader posyandu bahwa apa saja penyakit menular itu. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Okober tahun 2021, Tempat kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah di Ruang Aula Lembaga Pembinaan Khusus Kelas 1 Medan. Bagian I. Sosialisasi tentang Penyakit Menular Pada Kader Posyandu Remaja Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Medan. Bagian II. CBIA (Cara Belajar Insan Aktif). Luaran Yang diharapkan melalui Pengabdian Masyarakat yang didanai oleh Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan ini adalah Jurnal lokal yang mempunyai ISSN. Dengan dilaksanakannya kegiatan Sosialisasi tentang Penyakit Menular Pada Kader Posyandu Remaja Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Medan dengan Metode CBIA ini, maka seluruh remaja mengetahui tentang penjelasan pengertian dari penyakit menular, jenis-jenis penyakit menular dan penyebabnya, cara penyebaran penyakit menular secara umum,.
ANKLE BRACHIAL INDEX DAN SENSITIFITAS KAKI PADA PASIEN DM TIPE II Simanjuntak, Galvani Volta; Sinaga, Janno; Simamora, Marthalena
Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 3 No 2 (2020): JURNAL MUTIARA NERS
Publisher : Program Studi Ners UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ankle brachial Index (ABI) is an examination to determine of vascularization in the lower leg in T2DM patients. Vascular disorders in the lower legcan predicted nerve function problem in the legs (peripheral diabetic neuropathy). The purpose study was to exploration the ankle brachial index in T2DM patiens and its correlation with foot sensory. This study was an observational analytic with cross sectional design with population was type II DM patients in diabetic clinic Sari Mutiara Hospital. The number of samples was 65 respondents taken by accidental sampling with inclusion criteria did not have diabetic ulcers, heart or kidney disease and exclusion criteria were ABI values> 1.3. Conclusion: The lower of ABI values indicate a problem of foot sensory in T2DM patients.It is recommended for T2DM patients to routinely to assest of ABI and leg sensitivity and control glikemic levels.
Pengabdian Masyarakat Tentang Pertolongan Pertama Kasus Kegawatdaruratan Tersedak Di Kelurahan Gaharu Dengan Metode Simulasi Galvani Volta Simanjuntak; Marthalena Simamora; Lasma Rina Efrina Sinurat
Jurnal Abdimas Mutiara Vol. 5 No. 1 (2024): JURNAL ABDIMAS MUTIARA
Publisher : Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus gawat darurat akibat tersedak merupakan salah satu kondisi medis yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius, termasuk risiko henti napas atau kematian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan panduan praktis mengenai pelaksanaan pertolongan pertama pada kasus tersedak di wilayah Kelurahan Gaharu. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi dan simulasi teknik pertolongan pertama, seperti manuver Heimlich dan tindakan penanganan lainnya yang sesuai dengan usia korban, baik pada dewasa maupun anak-anak. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Gaharu memiliki pemahaman yang meningkat terkait identifikasi gejala tersedak dan keterampilan memberikan pertolongan pertama secara efektif. Kesimpulannya, pelatihan dan edukasi mengenai pertolongan pertama pada kasus tersedak berperan penting dalam meningkatkan kesiapan masyarakat untuk menghadapi situasi gawat darurat, sehingga dapat meminimalkan dampak negatif dan menyelamatkan nyawa korban.
Glasgow Coma Scale (GCS) dan Tekanan Darah Sistolik Sebagai Prediktor Outcome Pasien Cedera Kepala: Glasgow Coma Scale and Systolic Blood Pressure As Outcome Predictors For Head Injury Patients Marbun, Agnes Silvina; Sinuraya, Elida; Amila, Amila; Simanjuntak, Galvani Volta
Bali Medika Jurnal Vol 7 No 2 (2020): Bali Medika Jurnal Vol 7 No 2 Desember 2020
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v7i2.140

Abstract

Because of the relatively high mortality rate in head injury patients requires an accurate initial assessment to predict the outcome and appropriate nursing interventions in accordance with patient’s condition. This study examined Glasgow Coma Scale (GCS), systolic blood pressure, and respiratory rate as mortality predictors in patients with head injury at Haji Adam Malik Central Hospital in Medan. It was an analytical observational study with retrospective approach. The research population was medical record of head injury patients in the period of January – December 2018 in Haji Adam Malik Central Hospital. The sampling was taken by purposive sampling technique with several criteria including: having a GCS score, systolic blood pressure, respiratory rate at the time the patients admitted to the emergency room and was not a transferred patient. The results of logistic regression analysis showed that there was a correlation between GCS score (p 0.000; OR 3.299) and systolic blood pressure (p 0.024; OR 1,044) toward mortality of head injury patients. It is concluded that GCS and systolic blood pressure statistically increase the prediction of mortality in patients with head injury.