Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Kualitas Air Dan Kepekatan Bioflok Pada Budidaya Polikultur Ikan Lele (Clarias sp.) dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Sistem Bioflok Andik Sudirman; Sinung Rahadjo; Djumbuh Rukmono; Izzul Islam; Adi Suriyadin
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 18 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v18i2.13061

Abstract

Budidaya secara umum terbagi menjadi dua yaitu monokultur dan polikultur. Monokultur merupakan sistem pemeliharaan ikan secara sendiri atau tunggal pada suatu wadah, sedangkan polikultur merupakan kegiatan budidaya ikan dari berbagai jenis pada tingkat trofik yang sama. Kegiatan budidaya yang bersifat intensif sangat penting dilakukan untuk meningkatkan produksi, namun dalam budidaya secara intensif permasalahan utama yang sering dihadapi adalah meningkatnya kandungan bahan organik dan menurunnya kualitas air. Oleh karena itu perlu adanya upaya menjaga kestabilan kualitas air pada wadah pemeliharaan dan perlu kiranya melakukan penelitian menganalisis kualitas air dan kepekatan bioflok pada budidaya polikultur ikan lele (Clarias sp.) dan ikan nila (Oreochoromis niloticus) sistem bioflok. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL), yaitu 4 perlakuan dengan 3 ulangan. Skema perbandingan dari masing masing perlakuan adalah (A) 200 ekor ikan lele dengan 10 ekor ikan nila, (B) 175 ekor ikan lele dengan 15 ekor ikan nila, (C) 150 ekor ikan lele dengan 20 ekor ikan nila dan (D) 250 ekor ikan lele (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepekatan bioflok yang berbeda tidak mempengaruhi parameter kualitas air yang terdiri dari suhu, pH dan oksigen terlarut karena ketiga parameter tersebut tetap berada pada rentang optimal. Sedangkan konsentrasi Total Organic Matter (TOM), Total Amonia Nitrogen (TAN), dan Nitrit (NO2) sangat berkaitan erat atau berkorelasi dengan Kepekatan Bioflok, namun dengan kondisi tersebut biota yang dibudidaya masih dalam kondisi yang baik. Hal tersebut disebabkan oleh biota uji yang digunakan memiliki sistem imun lebih baik akibat penambahan probiotik serta sistem bioflok yang diterapkan. Cultivation is generally divided into two, namely monoculture and polyculture. Monoculture is a system of raising fish alone or singly in a container, while polyculture is the activity of cultivating fish of various types at the same trophic level. Intensive cultivation systems are very important for increasing production, time efficiency and production quantity, but they cause other problems such as decreasing water quality and increasing organic matter content. Therefore, it is very important to carry out research aimed at analyzing water quality and biofloc concentration in a biofloc-based breeding system from polyculture consisting of catfish (Clarias sp.) and Tilapia. (Oreochromis niloticus). This effort is very important to ensure the stability of water quality in the rearing tank. The design used was Completely Randomized Design (CRD), which consisted of 4 treatments with 3 replications. The comparison scheme for each treatment is (A) 200 catfish with 10 tilapia, (B) 175 catfish with 15 tilapia, (C) 150 catfish with 20 tilapia and (D) 250 catfish tail (control). The results of the research show that different biofloc concentrations do not affect the water quality parameters consisting of temperature, pH and dissolved oxygen because these three parameters remain at standard cultivation water quality. Meanwhile, the concentration of Total Organic Matter (TOM), Total Ammonia Nitrogen (TAN), and Nitrite (NO2) is very closely related or correlated with the density of biofloc.
Potensi Agen Imunostimulan Rumput Laut Dalam Modulasi Hemosit Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Lili Suharli; Mardiana Hamjah; Adi Suriyadin; Milis
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v19i1.13257

Abstract

Pertahanan pertama terhadap penyakit pada udang vaname dilakukan oleh hemosit. Hemosit merupakan salah satu sel imun utama pada udang. Salah satu upaya dalam penanggulangan dan pencegahan penyakit udang adalah melalui peningkatan sistem pertahanan tubuh udang, yaitu dengan menggunakan imunostimulan. Rumput laut Sargasum sp., Eucheuma sp. dan Ulva sp. merupakan sumberdaya laut yang potensial sebagai sumber fitokimia yang mempunyai aktifitas biologi yang bermanfaat bagi kesehatan. Rumput laut ini memiliki kandungan seperti tannin, flavonoid, dan polisakarida sulfat yang mampu meningkatkan jumlah hemosit dan pertahanan tubuh pada udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas modulasi hemosit dan pertumbuan udang vaname. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Dosis masing-masing perlakuan yaitu 0,5 gram, 1 gram, 2 gram dan kontrol. Parameter pengamatan terdiri dari Total Haemocite Count (THC), Differensial Haemosite Count (DHC) dan Pertumbuhan pada udang vaname. Hasil penelitian menunjukkan bahwa THC dan DHC tertinggi didapat pada perlakuan pemberian ekstrak Euchema sp. dosis 2 gram dengan nilai THC sebesar 12.75x104  cell/ml dan DHC sebesar 0.51%, serta pertumbuhan udang vaname dengan bobot 29.87 gram dan panjang 19.66 cm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak rumput laut memberikan pengaruh dalam sistem pertahanan udang melalui parameter THC dan DHC serta peningkatan pertumbuhan panjang dan berat udang. Penggunaan ekstrak rumput laut Sargasum sp., Eucheuma sp. dan Ulva sp. sebagai immunostimulan dengan konsentrasi 2 gram memberikan pengaruh positif dalam modulasi hemosi serta pertumbuhan udang vaname.   The first defense against disease in white shrimp is carried out by hemocytes. Hemocytes are one of the main immune cells in shrimp. One of the efforts to overcome and prevent shrimp diseases is by increasing the shrimp's body defense system, namely by using immunostimulants. Seaweed Sargasum sp., Eucheuma sp. and Ulva sp. is a marine resource that has potential as a source of phytochemicals that have biological activities that are beneficial for health. This seaweed contains ingredients such as tannins, flavonoids and sulfate polysaccharides which can increase the number of hemocytes and body defenses in shrimp. This study aims to determine the effectiveness of hemocyte modulation and growth of vaname shrimp. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The doses for each treatment were 0.5 grams, 1 gram, 2 grams and control. The observation parameters consist of Total Haemocite Count (THC), Differential Haemosite Count (DHC) and Growth in vaname shrimp. The research results showed that the highest THC and DHC were obtained in the treatment of Euchema sp extract. a dose of 2 grams with a THC value of 12.75x104 cells/ml and a DHC of 0.51%, as well as the growth of vaname shrimp with a weight of 29.87 grams and a length of 19.66 cm. So it can be concluded that the administration of seaweed extract has an influence on the shrimp defense system through the parameters THC and DHC as well as increasing the growth in length and weight of shrimp. Use of seaweed extract Sargasum sp., Eucheuma sp. and Ulva sp. as an immunostimulant with a concentration of 2 grams, it has a positive influence in modulating hemorrhage and growth of vaname shrimp.
Pengaruh Pemuasaan Secara Periodik Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Pada Benih Ikan Jurung (Tor Soro) Mhd Aidil Huda. J; Tika Nisari; Anne Rumondang; Muhammad Latiful Khobir; Toga Mahaji; Adi Suriyadin
Jurnal Perikanan Unram Vol 14 No 4 (2024): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v14i4.1264

Abstract

Ikan jurung merupakan salah satu ikan endemik air tawar di sungai Tapanuli Tengah yang sering disebut dengan ikan batak (Neolossochilus thienemanni). Pemuasaan secara periodik dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan ikan yang setara bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang tidak dipuasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengulangan siklus pemberian pakan yang diikuti dengan pemberian pakan tetap terhadap konsumsi pakan dan performa pakan, serta mengetahui tingkat kebutuhan pakan benih ikan jurung (Tor soro) setelah periode 2-3 hari. Informasi yang diperoleh meliputi bobot mutlak, panjang mutlak dan kelangsungan hidup (SR) serta kualitas air. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Produksi Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli pada bulan Juli-September 2024. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan yang diuji adalah benih ikan jurung berukuran 3-5 cm. dengan durasi rata-rata 1,60±0,00 cm dan rata-rata berat 2,16±0,23g. Pemberian pakan diberikan pada pukul 08.00-08.10, 12.00-12.10, dan pukul 16.00-16.10. Ikan tersebut dipelihara dengan padat tebar 15 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pemberian pakan memberikan pengaruh yang besar (P<0,05) terhadap panjang mutlak, bobot mutlak, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05)  terhadap kelangsungan hidup. Perlakuan P1 memberikan hasil bobot mutlak sebesar 2.16 ± 0.23c, panjang mutlak 1.60 ± 0.00c dan kelangsungan hidup hingga 93.33 % yang merupakan perlakuan tertinggi dari perlakuan yang dilakukan
Identification of Vibrio spp. in Spiny Lobster (Panulirus homarus) from Natural Catch and Culture In Batu Bangka Village, Sumbawa Elviantari, Adelia; Adi Suriyadin; Abdurachman, Muhammad Haikal
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 13 No. 1 (2024): JAFH Vol. 13 No. 1 February 2024
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v13i1.42197

Abstract

Spiny lobster (Panulirus homarus) is a fishery commodity with high economic value. The classic problem that has not been resolved so far is the low survival rate of around 20-30% and an average growth rate of 180-230 grams. This can be influenced by nutritional factors, environment, stress and pathogen infection. This study aimed to identify pathogenic bacteria found in wild caught lobsters (Labangka) and cultivated lobsters (Bungin Island). The stages of this research began with taking samples in the field, followed by isolation and purification of bacteria (tail organs, gills, and hepatopancreas), morphological characteristics, and physiological tests of bacterial isolates. From the results of the study, it was found that the isolates grown on TSA media, showed a higher diversity of bacteria in natural lobsters compared to cultivated lobsters, this is what makes natural lobsters have a high survival rate because the diversity of microflora forms a symbiotic mutualism. Meanwhile, if we look at the diversity of pathogenic bacteria (Vibrio spp.), namely isolates grown on TCBS media, it shows that cultivated lobsters have more diverse pathogenic bacteria, namely three types of Vibrio (V. alginilyticus, V. Harvey and V. Parahemolyticus) are indicated, only natural lobsters identified V. alginilyticus.