Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Agriculture and Biological Technology

Pemanfaatan Rumput-Rumputan dalam Pencegahan Penyakit pada Ikan: Review Kurniawan, Ronal; Putri, Mega Novia; Karsih, Okta Rizal; Gusriansyah, Dimas
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 1 (2024): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.1.1-5

Abstract

Kajian ini mengeksplorasi potensi rumput-rumputan sebagai alternatif antibiotik dalam pengendalian infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan. Intensifikasi budidaya ikan telah meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, sementara penggunaan antibiotik sintetis menimbulkan masalah resistensi dan dampak lingkungan. Analisis literatur dari jurnal-jurnal (2016-2024) menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam rumput-rumputan, termasuk flavonoid, saponin, dan tanin, memiliki aktivitas antibakteri melalui berbagai mekanisme seperti penghambatan sintesis peptidoglikan dan perusakan membran sel bakteri. Studi molekuler mengungkapkan efek positif ekstrak rumput-rumputan terhadap sistem imun ikan dan penghambatan gen virulensi bakteri. Standardisasi ekstrak, kontrol kualitas, dan evaluasi keamanan menjadi aspek kritis dalam pengembangan produk. Dari segi ekonomi, pemanfaatan rumput-rumputan menawarkan keunggulan biaya dan potensi pemberdayaan masyarakat melalui budidaya. Pengembangan teknologi ekstraksi yang efisien dan ekonomis diperlukan untuk optimalisasi pemanfaatan. Kajian ini menyimpulkan bahwa rumput-rumputan memiliki potensi signifikan sebagai agen antibakteri alami dalam akuakultur, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk aspek keamanan dan efektivitasnya
Potensi Tanaman Sagu (Metroxylon sagu) di Kabupaten Kepulauan Meranti : Tinjuan Literatur Putri, Mega Novia; Kurniawan, Ronal; Karsih, Okta Rizal; Apriliani, Elisa; riswan, M.
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.2.34-39

Abstract

Kabupaten Kepulauan Meranti di Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah penghasil sagu terbesar di Indonesia, dengan potensi produksi yang diperkirakan mencapai hampir 3,92 juta ton beras sagu pada tahun 2040. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk bernilai seperti pakan ternak, pupuk organik, dan bioenergi, yang mendukung keberlanjutan dan pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan. Namun, pemanfaatan sagu masih dihadapkan pada kendala rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan teknologi pengolahan, serta akses pasar yang terbatas. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi agronomis, sosial-ekonomi, dan lingkungan dari sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pengembangannya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur relevan antara tahun 2010 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sagu memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan dengan dampak positif terhadap ketahanan pangan dan perekonomian lokal. Namun, pengembangannya memerlukan peningkatan teknologi pengolahan, dukungan infrastruktur, dan penguatan akses pasar. Sagu juga memiliki peluang sebagai bahan baku bioenergi yang ramah lingkungan, khususnya bioetanol. Untuk memaksimalkan potensi ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan masyarakat lokal dalam meningkatkan nilai tambah produk dan pengembangan industri berbasis sagu.
Madu Kelulut dan Kesejahteraan Masyarakat: Analisis Potensi Pengembangan di Kepulauan Meranti Kurniawan, Ronal; Putri, Mega Novia; Karsih, Okta Rizal; Riswan, M.
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.2.40-45

Abstract

Literatur review ini mengkaji potensi madu kelulut (Trigona spp.) yang dihasilkan di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Indonesia, sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi dengan manfaat kesehatan yang beragam. Melalui pendekatan literatur review komprehensif, penelitian ini menganalisis karakteristik biologis lebah kelulut, sifat fisikokimia madu yang dihasilkan, serta konteks ekologis yang mendukung budidaya lebah ini di kawasan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa madu kelulut memiliki kandungan antioksidan tinggi, serta aktivitas antibakteri dan anti diabetes yang signifikan. Karakteristik madu kelulut dipengaruhi oleh faktor ekologis setempat, terutama keberadaan tanaman kelapa sebagai sumber nektar dan polen yang berlimpah. Budidaya lebah kelulut telah terbukti memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian masyarakat lokal melalui pengembangan produk bernilai tambah dan pemberdayaan kelompok tani. Simpulan, madu kelulut dapat menjadi tidak hanya sumber peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal tetapi juga kontributor penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan produk kesehatan alami Indonesia
Potensi Bioremediasi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) pada Ekosistem Perairan: A Review Karsih, Okta Rizal; Kurniawan, Ronal; Putri, Mega Novia; Riswan, M; Gusriansyah, Dimas
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.2.46-51

Abstract

Pencemaran perairan global membutuhkan solusi remediasi efektif dan berkelanjutan. Eceng gondok (Eichhornia crassipes), meski dikenal sebagai gulma invasif, memiliki potensi signifikan sebagai agen fitoremediasi berkat karakteristik pertumbuhan cepat, biomassa tinggi, sistem perakaran ekstensif, dan toleransi besar terhadap berbagai polutan. Kemampuan fitoremediasi eceng gondok mencakup akumulasi logam berat hingga 6.000 mg/kg berat kering, pengurangan hidrokarbon minyak bumi hingga 79%, dan penyerapan nutrisi berlebih dari perairan eutrofik. Mekanisme utama meliputi fitoekstraksi, fitostabilisasi, rizofiltrasi, dan fitodegradasi, dengan efisiensi yang dipengaruhi oleh pH, suhu, dan konsentrasi polutan. Tantangan penerapan skala besar meliputi sifat invasif yang dapat mengganggu ekosistem akuatik dan kebutuhan manajemen intensif. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan efisiensi dan keberlanjutan eceng gondok sebagai teknologi hijau dalam pemulihan perairan tercemar
Manfaat Tanaman Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus): Studi Literatur Rizvi, Fharisa Nabila; Putri, Mega Novia; Kurniawan, Ronal; Karsih, Okta Rizal
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.2.52-55

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah, termasuk tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan secara empiris oleh masyarakat. Salah satu tanaman potensial adalah kumis kucing (Orthosiphon aristatus), yang dikenal memiliki efek diuretik dan berbagai manfaat farmakologis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan senyawa aktif dalam daun kumis kucing dan potensinya sebagai alternatif pengobatan alami, khususnya sebagai agen diuretik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur ilmiah terbitan 2018–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa senyawa seperti asam litospermat I, dikafeoil tartarat, dan ortositonon C dalam kumis kucing memiliki energi ikatan lebih rendah dibandingkan obat sintetik seperti furosemide dan acetazolamide, yang menandakan afinitas yang lebih tinggi terhadap reseptor diuretik. Selain itu, kumis kucing juga bermanfaat dalam mengatasi gangguan ginjal, hipertensi, rematik, dan asam urat melalui aktivitas flavonoid dan glikosida. Dari sisi ekonomi, tanaman ini mudah dikembangkan dan memiliki prospek pemasaran yang baik melalui sistem distribusi lokal. Dengan demikian, kumis kucing berpotensi dikembangkan sebagai fitofarmaka diuretik berbasis herbal yang aman dan terjangkau