Eddy Triharyanto
Universitas Sebelas Maret

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Morfologi dan kandungan flavonoid total bunga telang di berbagai ketinggian tempat tumbuh berbeda Hawari Hawari; Bambang Pujiasmanto; Eddy Triharyanto
Kultivasi Vol 21, No 1 (2022): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v21i1.36327

Abstract

AbstrakBunga telang (Clitoria ternatea L) merupakan salah satu tanaman leguminoceae yang memiliki manfaat farmakologis, namun sebagian besar pemanenannya berasal dari alam dan belum dibudidayakan secara luas. Oleh karena itu, perlu diadakan suatu penelitian spesifik terkait morfologi dan kandungan flavonoid bunga telang untuk dijadikan tanaman budidaya serta mengkaji kesesuaian lingkungan untuk budidayanya. Tujuan riset ini untuk mengkaji karakter morfologi dan kandungan flavonoid bunga telang di berbagai ketinggian. Survei dilaksanakan di lokasi berbeda, yaitu dataran rendah (Karangasem, Jeyengan, dan Purwosari) dan dataran tinggi Ngargoyoso, mulai bulan Februari sampai April 2021.  Lokasi survei dipilih dengan metode acak memihak (purpose random sampling) melalui pendekatan pra-survei dimana tumbuhan tersebut bisa ditemukan. Pengujian kadar flavonoid dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan morfologi bunga telang di dataran rendah dan dataran tinggi. Karakteristik morfologi yang berbeda terletak pada panjang dan lebar daun, bentuk daun, panjang polong, dan jumlah biji per polong.  Kandungan flavonoid tertinggi adalah di dataran rendah Karangasem sebesar 0,493%, diikuti oleh dataran tinggi Ngargoyoso sebesar 0,458%, Purwosari 0,351%, dan Jeyengan 0,297%. Pertumbuhan dan kandungan flavonoid bunga telang dipengaruhi oleh jenis tanah, kesuburan tanah, serta iklim di habitatnya. Jenis tanah di dataran rendah adalah alluvial dengan pH 6,59, suhu udara berkisar 26,89 – 28,22 °C, kelembaban udara 61,33 – 72,22%, dan intensitas cahaya berkisar 1537,63 – 1773,50 lux, sedangkan jenis tanah di dataran tinggi adalah andosol dengan pH 7,99, suhu udara 24,88 °C, kelembaban udara 80,38% dan intensitas cahaya 591,63 lux.Kata kunci: Clitoria ternatea ∙ Flavonoid ∙ Ketinggian tempat ∙ Morfologi AbstractButterfly pea (Clitoria ternatea L) is one of the leguminous plants that have pharmacological benefits, but most of its harvest comes from nature and has not been widely cultivated. Therefore, it is necessary to conduct a specific study related to the morphology and flavonoid content of butterfly pea to be used as a cultivated plant and assessing the suitability of the environment for its cultivation. The purpose of this research was to study the morphological character and the content of flavonoids of butterfly pea at various altitudes. The survey was carried out in different altitude of growing location, i.e., the lowlands (Karangasem, Jeyengan, and Purwosari) and the highland (Ngargoyoso), from February to April 2021. Survey locations were selected using a purpose random sampling method through a pre-survey approach where the plants could be found. Tests for flavonoid levels were carried out at the Tawangmangu Center for Research and Development of Medicinal Plants and Traditional Medicines. The results showed that there were differences in the morphology of the butterfly pea in the lowlands and highlands. Different morphological characteristics were observed in term of the length and width of the leaves, leaf shape, pod length, and the number of seeds per pod. The highest flavonoid content was found in the Karangasem for about 0.493% followed by the Ngargoyoso, Purwosari, and Jeyengan for about 0.458%, 0.351%, and 0.297%, respectively. The growth and flavonoid content of butterfly pea is influenced by soil type, soil fertility, and climate in their habitat. The lowlands had an alluvial soil type with a pH of 6.59, air temperature ranging from 26.89-28.22 °C, air humidity 61.33-72.22% and light intensity ranging from 1537.63-1773.50 lux. Meanwhile, the highland had an andosol soil type with a pH of 7.99, air temperature of 24.88 °C, humidity of 80.38% and light intensity of 591.63 lux.Keywords: Clitoria ternatea ∙ Flavonoid ∙ Altitude ∙ Morphology
SOSIALISASI PETAI (PARKIA SPECIOSA HASSK) DI DESA KENAYAN, NGEMPLAK, KABUPATEN SLEMAN : SOSIALISASI PETAI (PARKIA SPECIOSA HASSK) DI DESA KENAYAN, NGEMPLAK, KABUPATEN SLEMAN Bambang Pujiasmanto; Sulandjari Sulandjari; Pardono Pardono; Eddy Triharyanto
Adi Widya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022): Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/awpm.v6i2.7420

Abstract

Petai (Parkia speciosa Hassk) is a horticultural plant as a vegetable that is beneficial for health. Petai can help treat digestion to help neutralize stomach acid. Petai has a fairly high nutritional content, namely vitamin A, vitamin C, calcium, and iron so it is necessary to make efforts to cultivate petai plants as a business opportunity. Petai trees grow and develop in Kenayan village, namely on vacant village treasury land, cliff land and yard. This service aims to increase the knowledge of farmers in the cultivation of petai. Service activities are carried out using a participatory method. The service activities were carried out 4 times, namely counseling on petai cultivation related to the provision of plant materials, care, harvesting and post-harvest, socialization about the propagation of petai plants by grafting, handing over assistance of a number of grafted petai seeds in the hope of fruiting more quickly and assistance in socialization about petai cultivation. Public knowledge about petai cultivation and how to propagate petai by grafting has increased. Grafting is one way to improve the quality of plants by attaching a piece of tree bark with buds from the scion to a slice of the bark of another tree from the rootstock so that it grows together to form a new plant. Planting petai in the yard of the house is an alternative as an herbal treatment to improve health and increase family income.
Analisis pertumbuhan dan hasil varietas bawang merah dengan pupuk hayati di luar musim tanam Hasna Marhama; Eddy Triharyanto; Maria Theresia Sri Budiastuti
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/30313

Abstract

The phenomenon of climate change has an impact on agricultural sector, including the cultivation of shallots. To meet the needs of the community, an approach is taken through the application of biofertilizers and the use of shallot varieties that are resistant to off-season cultivation. The research aimed to determine the optimal concentration of biofertilizer and the resilient shallot varieties for the off-season cultivation. This research was conducted in February–May 2023 in Ngringo Village, Jaten District, Karanganyar, Central Java, with an altitude of 189 masl. This study used a Split Plot Design method. Shallot Variety was the main plot, namely: Bima Brebes, Maja Cipanas, and Bali Karet. Biofertilizer concentration was the subplots, i.e : 0, 3, 6, 9, 12 ml l-1 per plot, resulting in 15 treatment combinations with three replications. Observation parameters included leaf area index, net assimilation rate, plant growth rate, bulb diameter, and bulb fresh weight. The results indicated that biofertilizers did not affect the growth of shallots. Regarding yield quality, a concentration of 12 ml l-1 per plot could increase bulb diameter and bulb fresh weight. The Bali Karet variety generated better bulb diameter and bulb fresh weight, and it is capable of adapting when planted off-season.ABSTRAKFenomena perubahan iklim berpengaruh pada sektor pertanian, termasuk budidaya bawang merah. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dilakukan pendekatan dengan pemberian pupuk hayati dan penggunaan varietas bawang merah yang tahan ditanam di luar musim. Tujuan penelitian yaitu mengetahui konsentrasi optimal dari pupuk hayati dan varietas bawang merah yang tahan ditanam di luar musim. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari-Mei 2023 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah dengan ketinggian wilayah 189 mdpl. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Petak Terbagi (Split Plot Design). Varietas bawang merah menjadi petak utama yaitu: Bima Brebes, Maja Cipanas, dan Bali Karet. Konsentrasi pupuk hayati sebagai anak petak, yaitu: 0, 3, 6, 9, dan 12 ml l-1 per petak, sehingga terdapat 15 petak kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Parameter pengamatan meliputi indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, diameter umbi, dan bobot segar umbi. Hasil penelitian menunjukan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah. Pada kualitas hasil, konsentrasi 12 ml l-1 per petak dapat meningkatkan diameter umbi dan bobot segar umbi. Varietas Bali Karet memiliki diameter umbi dan bobot segar umbi terbesar, serta mampu beradaptasi ketika ditanam di luar musim tanam.
Efektivitas Penggunaan Giberelin dan Kombinasi Dosis Pemupukan untuk Meningkatkan Hasil Beberapa Varietas Bawang Merah: Effectiveness of Gibberellin and Combined Fertilization Doses on Shallot Yield Enhancement in Several Varieties Hantari, Dimar; Anditya Gilang Rizky P; Febry Nurhidayati; Desy Setyaningrum; Dewi Nawang Suprihatin; Didik Suryadi; Hardian Ningsih; Edi Paryanto; Cahyaningtyas Putri Suhita; Zainal Abidin; Eddy Triharyanto; Djoko Purnomo
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 13 No. 3 (2025): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v13i3.7026

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditas hortikultura yang konsumsi dan permintaannya sangat tinggi di masyarakat. Namun, data menunjukkan bahwa produksi bawang merah dari tahun ke tahun terus mengalami perubahan, yang seringkali memicu fluktuasi harga dan ketergantungan pada impor di beberapa periode. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dosis pupuk serta penggunaan giberelin (GA3) pada tiga varietas bawang merah untuk mengoptimalkan produktivitas bawang merah secara berkelanjutan dan efisien. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2025 di Desa Pancot, Tawangmangu, Karanganyar dengan ketinggian tempat 1200 mdpl. Rancangan  penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) dan diulang sebanyak 3 (tiga) kali. Petak utama merupakan varietas bawang merah, sedangkan anak petak merupakan dosis pupuk + giberelin. Data dianalisis dengan ANOVA menggunakan uji F pada taraf signifikansi 5%. Jika ditemukan perbedaan yang signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, substitusi 50% pupuk  anorganik ke pupuk organik yang dikombinasikan dengan giberelin 50ppm mampu meningkatkan jumlah anakan per rumpun (7,22), jumlah umbi per rumpun (8,33) dan berat kering umbi per rumpun (58,96 g). Shallots (Allium ascalonicum L.) are a horticultural commodity with consistently high consumption and demand. However, production data reveal frequent fluctuations, often leading to price instability and reliance on imports during certain periods. This research aimed to determine fertilizer dosages and gibberellic acid (GA3) application for three shallot varieties to optimize their productivity sustainably and efficiently. The study was conducted from May to August 2025 at the Pancot Village, Tawangmangu, Karanganyar, located at an elevation of 1200 meters above sea level. A Split-Plot Design was employed with three replications. Shallot varieties constituted the main plots, while combinations of fertilizer dosage and GA3 formed the sub-plots. Quantitative data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at a 5% significance level (F-test). When significant differences were detected, Duncan's Multiple Range Test (DMRT) was used for post-hoc comparisons. The results demonstrated that the application of 50 ppm gibberellic acid, combined with a fertilizer dosage of 50% inorganic + 150% organic, significantly increased the number of shoots per clump (7,21), number of bulbs per clump (8,33), and productivity per clump (58,96).