Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Hubungan Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Kepuasan Pasien Di Poli Gigi Puskesmas Suka Mulia Kabupaten Nagan Raya Tahun 2025 Roni Azmal; Linda Suryani; Nasri; Arnela Nur
Jurnal Kesehatan Republik Indonesia Vol 2 No 9 (2025): JKRI - Agustus 2025
Publisher : PT. INOVASI TEKNOLOGI KOMPUTER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan kesehatan merujuk pada serangkaian kegiatan yang diberikan secara langsung kepada individu maupun komunitas dengan tujuan menjaga serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif. Kepuasan pasien dapat dipahami sebagai suatu evaluasi perbandingan antara persepsi pasien terhadap layanan yang diterima dengan ekspektasi mereka sebelum memperoleh pelayanan tersebut. Berdasarkan investigasi awal yang dilakukan melalui wawancara dengan 10 pasien yang berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Suka Mulia, sebanyak 7 (70%) pasien menyatakan ketidakpuasan terhadap layanan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Suka Mulia, Kabupaten Nagan Raya pada tahun 2025. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat analitik dengan desain cross-sectional, dan uji chi-square diterapkan pada periode 10 April – 17 Mei 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 33 responden. Proses penelitian melibatkan observasi langsung serta wawancara dengan pasien untuk memperoleh data terkait pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta kepuasan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut termasuk dalam kategori kurang baik pada 18 (54,5%) responden, sementara tingkat kepuasan pasien tergolong kurang puas pada 13 (39,4%) responden. Analisis lebih lanjut mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan kepuasan pasien di Poli Gigi Puskesmas Suka Mulia, Kabupaten Nagan Raya, dengan nilai ρ = 0,000 < α 0,05. Sebagai implikasi praktis, petugas Poli Gigi disarankan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta secara berkala melaksanakan survei kepuasan pasien sebagai upaya kontinu dalam peningkatan mutu layanan kesehatan.
The Relationship between Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) Consumption Patterns and the Risk of Type 2 Diabetes in the Lam Bheu Village Community, Darul Imarah, Aceh Besar Arbi, Anwar; Liana, Intan; Nur, Arnela; A’yun, Quratta
Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 3 No. 8 (2025): Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/enrichment.v3i8.552

Abstract

The increase in consumption of Packaged Sweetened Beverages (SSBs) in adolescents is a major contributor to obesity and a metabolic risk factor leading to Type 2 Diabetes. The number of DMT2 sufferers in Aceh Besar in 2018 based on doctor's diagnosis was 1.7% compared to cases throughout Indonesia which was only 1.5%. And the prevalence data of DM based on doctor's diagnosis in the population above the age of 15 years reached 2.4% compared to Indonesia which was only 2.0% according to the profile data of the Aceh Besar Regency Health Office, Darul Imarah District, there were patients with DM reaching 1,153 people. This study aims to determine the relationship between consumption patterns of packaged sweetened beverages (sugar-sweetened beverages-SSBs) with the risk of type 2 diabetes in the Lambheu Darul Imarah Aceh Besar village community. This research method uses a cross-sectional design. The population was 1,438 people aged 18-30 years, with a sample size of 222 using a proportional random sampling technique. Data were collected through SSBs questionnaires and BMI measurements. Analysis was performed using the Chi-Square test to determine associations. Bivariate analysis showed a significant association between high SSBs consumption and an increased risk of T2DM, with an Odds Ratio of 3.12 (p<0.05). Conclusion: SSBs consumption is a behavioral risk factor strongly associated with an increased risk of T2DM in the community. The community needs to be provided with routine education, and education and training involving multiple sectors, to control community behavior.