Marhaeni, Ni Komang Sekar
Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Analisis Nilai Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk Dalam Lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” Ni Ketut Dewi Yulianti; Ni Komang Sekar Marhaeni
PANGGUNG Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i2.1593

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami nilai-nilai estetika pertunjukan wayang kulit Cenk Blonk dalam lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta”, serta nilai-nilai karakter yang dikandung dalam pertunjukan tersebut. Hal ini sangat signifikan dan perlu untuk diteliti, mengingat saat ini banyak terjadi kemerosotan karakter anak bangsa dan juga permasalahan kebangsaan, seperti bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan pendekatan berdasarkan estetika pewayangan dengan menganalisis tayangan wayang kulit Cenk Blonk dengan lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” di youtube juga melakukan wawancara dengan dalang Cenk Blonk, Jro Mangku Dalang Wayan Nardayana untuk mengkaji ulang hasil analisis awal terhadap nilai karakter dalam pertunjukan wayang kulit Cenk Blonk dalam lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blong dengan lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” Dalang Nardayana telah memenuhi kriteria micara dalam konsep estetika catur. Micara artinya bahwa seorang dalang harus mempunyai kemampuan dalam menyusun kata-kata serta piawai dalam menyusun dialog wayang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lakon ini mengandung nilai estetika yang sangat tinggi dalam hal ginem atau dialog tokoh wayang yang terlihat dalam penggunaan bahasa figuratif atau gaya bahasa anadiplosis, antitesis, asonansi, metafora dan simile. Nilai-nilai karakter yang disuguhkan dalam lakon tersebut adalah nilai karakter jujur, toleransi, komunikatif, cinta damai dan tanggung jawabKata Kunci: Estetika Pertunjukan Wayang, Nilai-Nilai Karakter, Wayang Kulit Cenk Blonk
Jurnal Hasil Penciptaan Karya Teater Wayang Figuratif Pasung Jiwa Premma Adhitya, I Gede Githa; Sekar Marhaeni, Ni Komang; Darma Putra, I Gusti Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 5 No 1 (2025): Mei
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v5i1.4916

Abstract

Figurative wayang is an innovation in performing arts that combines traditional elements with modern approaches to create a unique and original art form. This work introduces a new perspective in wayang art through the exploration of three-dimensional movement techniques, individual performance systems, and visual aesthetics that blend traditional and contemporary elements. The wayang puppets are designed in a surrealistic style, depicting human figures with distortion, deformation, and stylization to create a profound aesthetic effect. The creative process in crafting figurative wayang involves the development of movement techniques using specialized rods, creating the illusion of suspended puppets moving naturally. The one-puppet-one-puppeteer system provides freedom for dynamic and expressive movement exploration. Costume and accessory designs adapted from everyday life enhance the social and cultural relevance of the work, making it not only entertaining but also a reflection of life. This work also integrates elements of theater, dance, and shadow mapping projection to create an immersive aesthetic experience. These techniques strengthen the narrative and evoke a deep dramatic atmosphere, effectively conveying moral messages and life values in an inspiring way. With its innovative approach and integration of diverse artistic elements, figurative wayang becomes a form of performing art that not only preserves tradition but also offers relevant updates in line with contemporary developments. This work is expected to inspire artists to continue evolving wayang art as a dynamic and living cultural heritage.
INNOVATION OF WAYANG PERFORMANCE THROUGH CINEMA AND THEATER TECHNIQUES AS NEW MEDIA Widnyana, I Kadek; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Sudarta, I Gusti Ngurah; Dwiyani, Ni Kadek; Widyarto, Rinto
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lekesan.v7i1.2539

Abstract

Fungsi wayang kulit sangatlah komplek dan selalu eksis dalam situasi dan pada zaman apapun. Setidaknya ada 7 fungsi pertunjukan wayang kulit: 1. Sebagai penggugah rasa indah dan kesenangan, 2. Sebagai pemberi hiburan sehat, 3. Sebagai media komonikasi, 4. Sebagai persembahan simbolis. 5. Sebagai penyelenggaraan keserasian norma-norma masyarakat, 6. Sebagai pengukuhan institusi sosial dan upacara keagamaan, 7. Sebagai kontribusi terhadap kelangsungan dan stabilitas kebudayaan. Sebagai sebuah keniscayaan, bahwa pertunjukan wayang dalam bentuk, jenis dan model apapun, tetap harus kontektual dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. akselerasi teknologi yang sedemikian berkembang pesat memberikan peluang positif terhadap eksistensi kesenian wayang itu sendiri jika kita mampu memberdayakan teknologi dan budaya modern sesuai porsinya. Namun demikian marwah seni pewayangan hendaknya tetap bisa dipertahankan agar nilai tuntunan, tontonan, tatanan tetap bisa dipertahankan. Terlebih lagi dalam karya inovasi ini penggarap diharapkan mampu juga menjawab nilai tantangan, tuntutan dan tanggung jawab terhadap karya yang dibuat. Aktivitas penciptaan diterapkan melalui proses, dengan meminjam pendapatnya Dr. I Kt Suteja, yang menggunakan lima tahapan atau metode yaitu: ngerencana, noasen, makalin, nelesin, ngebah. Metode suteja akan dipadukan dengan metode penciptaan Alma M. Hawkins yang menggunakan tiga tahapan yaitu: eksplorasi, improvisasi, dan formin. Luaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya sebuah karya seni inovasi baru yang bertajuk Wayang Cinema, yaitu sebuah karya yang menggabungkan seni Pewayangan dan teknik Cinema dan teater ke dalam sebuah pola pertunjukan baru. Kata kunci: Wayang Cinema, Inovatif, Kresna, Duta Perdamaian.
MAKNA PERTUNJUKAN WAYANG WONG RAMAYANA LAKON MAYA SANDI DI BANJAR PESALAKAN GIANYAR Ni Komang Sekar , Marhaeni; Marajaya, I Made
Segara Widya : Jurnal Penelitian Seni Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/sw.v13i2.3421

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji makna pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar Bali. Wayang Wong yang lakonnya bersumber dari cerita pewayangan ini termasuk kesenian langka dan hanya terdapat di beberapa daerah di Bali. Wayang Wong Ramayana ini dipentaskan pada tanggal, 19 September 2024 saat upacara pujawali atau odalan di Pura Dalem Prajurit. Kehadiran Wayang Wong dalam upacara ini mengandung makna yang diyakini dapat membawa berkah dan keselamatan bagi para pendukungnya. Permasalahannya adalah: (1) Bagaimana bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar?; (2) Makna apa yang terkandung dalam pertunjukan Wayang Wong Lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan Kabupaten Gianyar?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literature. Data yang telah terkumpul diolah secara deskriptif kualitatif didukung oleh teori estetika dan teori semiotika. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa bentuk estetika pertunjukan Wayang Wong lakon Maya Sandi di Banjar Pesalakan di Kabupaten Gianyar dapat dilihat pada; lakon, penokohan, retorika, gerak, antawacana, dan dialog antar tokoh. Makna pertunjukan Wayang Wong Ramayana lakon Maya Sandi antara lain; makna religius, makna estetika, makna hiburan, makna pelestarian, dan makna sosial.
Penciptaan Karya Mannequin Puppet "Asmara Samara" Asmara Nata, I Wayan Candra; Marajaya, I Made; Sekar Marhaeni, Ni Komang; Darma Putra, I Gusti Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 5 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v5i2.4986

Abstract

The creation of the Mannequin Puppet performance entitled Asmara Samara is driven by the need for innovation in Balinese puppetry to bridge traditional values with contemporary artistic expression. This work presents a tragic romance between Prince Semara Yana of the Nila Kingdom and Princess Asmara Gantari of the Seta Kingdom, whose love is challenged by an enduring conflict between their parents. The purpose of this artistic project is to introduce a new format of puppetry that is communicative, philosophically grounded, and appealing to younger generations. The creative process employed the Dalang Anumana method formulated by I Gusti Made Darma Putra, consisting of five stages: Ngawit (starting), Ngepah (conception), Ngastawa (spirituality), Ngripta (making), and Ngebah (performing). Through visual exploration, media experimentation, and integration of theater, dance, and video mapping, the performance successfully embodies Balinese aesthetics within a naturalistic and symbolic style. The result demonstrates how Balinese philosophical concepts such as swasraya, karmaphala, and tri hita karana can be recontextualized through innovative performance media. In conclusion, Asmara Samara not only represents an artistic innovation but also serves as a medium for the preservation and transformation of Balinese puppetry in the global cultural landscape.
Pakeliran Inovatif “Satya Hredaya” (Kesetiaan Dewi Sawitri Mengubah Takdir) Dewi, Kadek Candy Cintya; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 2 No 1 (2022): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i1.1521

Abstract

Dewi Sawitri adalah seorang perempuan yang memiliki kesetiaan abadi terhadap suaminya, mampu mengalahkan waktu kematian sehingga suaminya dapat hidup kembali. Mengambil cerita Dewi Sawitri yang menonjolkan karakter tokoh seorang perempuan, mengingat penggarap sendiri juga seorang perempuan dapat memudahkan untuk mengekspresikan cerita yang mengisahkan kesetiaan Dewi Sawitri. Cerita ini bersumber dari kitab Mahabharata dikarang oleh Bhagawan Byasa yang terdiri dari delapan belas parwa disebut Astadasaparwa. Salah satu cerita yang terdapat dalam Wana Parwa adalah kisah Dewi Sawitri yang bertemakan Kesetiaan. Kisah Dewi Sawitri yang memberikan inspirasi kepada penggarap untuk mengangkat cerita ini ke dalam sebuah pertunjukan pakeliran inovatif. Inovatif artinya melakukan sebuah inovasi dengan menambahkan ide-ide baru yang belum pernah ada. Pada hakekatnya gagasan membuat pakeliran inovatif ini bertujuan untuk membuat sebuah kreatifitas baru yang dituangkan dalam pertunjukan wayang kulit Bali melalui sebuah proses kreatif yang berkelanjutan. Pada garapan pakeliran ini penggarap memakai kelir layar lebar dengan berukuran panjang 5 meter dan lebar 4 meter serta pemakaian scenery untuk pencahayaan yang dioprasikan melalui laptop. Scenery yang penggarap buat sebelumnya belum pernah digunakan dalam garapan pakeliran. Dalam garapan ini, penggarap menggunakan gamelan selonding sebagai pengiring garapan yang dikombinasikan dengan gamelan batel. Menciptakan sebuah karya seni tentu memerlukan proses dan metode penciptaan yang panjang. Dalam pembuatan garapan ini, ada 3 tahapan yang penggarap gunakan yaitu: Penjajagan (eksplorasi), Percobaan (improvisasi) dan Pembentukan (forming) meskipuan dalam pembuatan garapan penggarap tidak memakai tahapan secara berurutan. Penggarap mempunyai harapan dengan menonton kisah Dewi Sawitri ini mampu menginspirasi masyarakat umum bagaimana pentingnya kesetiaaan dalam sebuah hubungan.
Potensi Pertunjukan Wayang Kulit Rakyat Pakeliran Karikatur: Muktapala (Pan Balang Tamak) Sebagai Katarsis Di Era Pandemi Dwitiya, I Kadek Bhaswara; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Kodi, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 2 No 2 (2022): Oktober
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1866

Abstract

Pertunjukan Wayang Kulit Rakyat Pakeliran Karikatur: Muktapala (Pan Balang Tamak) Oleh Dalang I Nyoman Sutama., S.Sn Dari Desa Payangan merupakan pertunjukan wayang yang atraktif dalam ranah pertunjukan wayang Bali. Penelitian ini dianalisis menggunakan konsep kuasa simbolik dan disandingkan dengan keterkaitan emosional masyarakat di era pandemic. Penelitian ini menghasilkan pandangan baru tentang strategi alternalif dalam menentukan dan memilih sesuatu yang digunakan dalam pertunjukan wayang, sehingga dalam perkembangannya mampu diterima sebagai bentuk legalitas dalang dan pertunjukannya di tengah masyarakat. Dalang Sutama sebagai creator wayang karikatur tanpa sadar menjadi disposisi dalam dunia wayang melalui bentuk pertunjukan dan wacana di tengah pandemic.
Teater Wayang Silsilah “Kuru Wangsa” Ariadnyana, Made Alit Widi; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Hendro, Dru
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 3 No 1 (2023): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i1.2289

Abstract

Perkembangan kehidupan masyarakat, sangat berpengaruh dengan perkembangan Teater Indonesia. Karena Teater di Indonesia hadir tidak langsung sama dengan bentuknya seperti sekarang. Seperti Teater Wayang Silsilah dengan judul Kuru Wangsa yang berlandaskan dan berpegang teguh dengan keberadaan leluhur yang tentunya dalam kalangan masyarakat Indonesia tidak lepas dari leluhur yang mengukir sejarah dalam peradabannya. Pertunjukan ini di pentaskan secara Live dengan kemasan Tradisi, Inovasi dan modern. Dalam garapan ini menggunakan metode untuk proses penggarapan yang lebih sistematis, metode yang penggarap gunakan adalah metode creative thinking into art creativity oleh Prof. Nyoman Sedana, yaitu: a. Tahapan Research and Discovery (Penelitian dan penemuan) b. Analysis and Intepretation (Analisis dan tafsir} c. Idea Formulation (Perumusan ide) d. Experimentation and Refinement (Percobaan dan perbaikan/penghalusan) e. Action Plan and Implementation (Rencana aksi dan pelaksanaan). Penggarap berharap tulisan ini dapat membangkitkan eksitensi di kalangan masyarakat luas.
Produksi Penciptaan Karya Wayang Sinema “Ambassador The Peace” Astika, I Made Rival Raynata; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Widnyana, I Kadek
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 3 No 1 (2023): April
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i1.2293

Abstract

Eksistensi pertunjukan wayang kulit khususnya di Bali sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat dari tahun ketahun, sehingga banyak model pertunjukan wayang yang bernuansa inovatif. Akan tetapi seiring berjalannya waktu pertunjukan wayang sudah minim penonton, sehingga penata berinisiatif untuk mengajak masyarakat kembali gemar menonton pertunjukan wayang. Melalui pertunjukan Wayang Sinema “Ambassador The Peace” ini penata berharap mengundang masyarakat dari kalangan anak-anak hingga dewasa kembali gemar menonton pertunjukan wayang inovatif lainnya. Proses penciptaan dalam garapan Wayang Sinema “Ambassador The Peace” menggunakan metode Sumber Kawi Dalang yang diajukan oleh Prof. I Nyoman Sedana, dengan tahapan sebagai berikut ; a. Alam imajinasi keindahan, sebelum penata berkeinginan mengangkat cerita ini penata pernah mengalami kejadian nyata. Penata memulai mengandalkan imajinasinya untuk mengkaitkan cerita yang sama persisnya dengan kejadian tersebut, b. Ide dan Rasa, setelah penata berimajinasi, penata segera menuangkan ide konsep garapan sampai pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat konsep Cinemathographie, c. Media atau Sarana, pada pembentukan karya sangat dibutuhkan. Media yang dipakai sudah pastinya yaitu wayang, d. Skill dan Bakat keterampilan khusus, penata menunjukan skill membuat beberapa wayang seperti salah satunya wayang pemurtian yang bisa digerakan dengan teknik tali. Hasilnya adalah sebuah karya seni pertujukan wayang sinema “Ambassador The Peace”. Dengan mengadopsi gaya visual modern yang menghandalkan permaian screen modern yang dipadukan dengan efek musik yang ditata sedemikan rupa, menjadi elemen penunjang objek utama yaitu pertunjukan wayang Bali yang diproduksi dan dikemas secara sinematik.
Peran Sastra Bali Dalam Perwujudan Nilai Budaya Pada Cerita Pewayangan Suryanata, I Putu Gede; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol 3 No 2 (2023): Oktober
Publisher : Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i2.2848

Abstract

Karya sastra merupakan komponen penting dalam suatu pertunjukan karena dua hal tersebut memanglah saling terkait antara satu dan yang lainnya. Seorang seniman seni pertunjukan alangkah baiknya mengetahui karya sastra yang ada. Untuk memperkaya diri sebagai seniman khususnya Dalang, karena dalang dalam pertunjukannya terdapat ajaran-ajaran kebaikan yang dimana terdapat dalam berbagai sastra, yang bisa dimasukkan dalam kanda atau digunakan sebagai lelucon bagi dalang agar tidak kekurangan bahan dalam pentas, seorang seniman khususnya dalang wajib mengetahui seluk beluk karya sastra yang akan dibawakan. Untuk mendapatkan taksu yang menggugah hati penonton, penyatuan jiwa seniman terhadap sastra juga penting, untuk menimbulkan ikatan batin dalang dalam pementasan yang dituangkan dalam gerak ,bahasa dan suara seorang dalang untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pertunjukan.