Marhaeni, Ni Komang Sekar
Institut Seni Indonesia Denpasar

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Teater Wayang Inovatif Stri Wiweka Marhaeni, Ni Komang Sekar
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.656 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i1.450

Abstract

Penciptaan Teater Wayang Inovatif dengan judul Stri Wiweka mengeksplorasi semua potensi yang ada dalam bidang seni pedalangan/pewayangan. Suasana dan karakter yang ditampilkan dalam setiap adegan digarap sedemikian rupa sesuai dengan konsep garap dan kaidah-kaidah penciptaan dalam pewayangan Bali serta lebih mementingkan keindahan struktur lakon dan cerita yang digarap ke dalam bentuk pertunjukan wayang kreasi baru. Penciptaan ini secara umum bertujuan untuk menghasilkan sebuah karya seni Teater Wayang Inovatif yang bertolak dari pelestarian nilai-nilai estetis, etis yang terkandung dalam kesenian tradisi dan untuk mempersembahkan kreativitas seni yang adaptif dan edukatif pada apresiatornya. Sedangkan tujuan secara khusus untuk mewujudkan gagasan atau ide pencipta yang dapat menghidupkan pola-pola wayang tradisi lewat karya inovasi, meningkatkan kemampuan pencipta dalam berolah seni, dan dalam rangka menumbuhkan imajinasi baru sebagai kreativitas yang berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya teater wayang inovatif ini yaitu, studi kepustakaan, diskusi, kontemplasi, efisiensi, imitasi, revisi, partisipasi dan finishing. Karya ini merupakan salah satu teater tradisi yang digarap dalam bentuk baru dengan melakukan penjelajahan ruang teater tiga dimensi yang mana dalam pertunjukan tersebut penonton dapat melihat dari segala penjuru karena adegan dilakukan oleh manusia sebagai pemegang peran atau tokoh. Pertunjukan dijalin dalam sebuah cerita berbingkai, bentuk wayang kulit menggunakan nilai filsafat sebagai tuntunan bagi manusia untuk menghindari arogansi kekuasaan. Lakon dalam karya ini memberikan pemahaman terhadap seseorang yang semena-mena dalam kekuasaan dan akhirnya terkalahkan oleh kebijaksanaan.Creation of Innovative Puppet Theater with the title Stri Wiweka explores all the potential that exist in the field of puppetry art. The atmosphere and character displayed in each scene, worked in such a way and in accordance with the concept of work and the rules of creation in Balinese puppetry. With more emphasis on the beauty of the structure of the story and the story is cultivated into the form of an innovative new puppet show creations. This Creation generally aims to produce an innovative Puppet Theater art based on the preservation of aesthetic, ethical values embodied in traditional art and to offer creative, adaptive and educational creativity to its appreciator. While the goal is specifically to realize the idea or idea of the creator who can revive the patterns of wayang tradition through the work of innovation, improve the ability of creators in artistic work, and in order to foster new imagination as a sustainable creativity. The methods used in the creation of innovative wayang theater works are literature study, discussion, contemplation, efficiency, imitation, revision, participation and finishing. This work is one of the theater traditions worked on in a new form, by exploring the three-dimensional theater space. The show is woven in a framed story, staging a puppet full of the value of philosophical meaning as a guide for man to avoid the arrogance of power as in the story of the work of creation. The play in this work provides an insight into an arbitrary person in power that is ultimately constrained by wisdom.
Analisis Nilai Estetika Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk Dalam Lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” Ni Ketut Dewi Yulianti; Ni Komang Sekar Marhaeni
PANGGUNG Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.043 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i2.1593

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami nilai-nilai estetika pertunjukan wayang kulit Cenk Blonk dalam lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta”, serta nilai-nilai karakter yang dikandung dalam pertunjukan tersebut. Hal ini sangat signifikan dan perlu untuk diteliti, mengingat saat ini banyak terjadi kemerosotan karakter anak bangsa dan juga permasalahan kebangsaan, seperti bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan pendekatan berdasarkan estetika pewayangan dengan menganalisis tayangan wayang kulit Cenk Blonk dengan lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” di youtube juga melakukan wawancara dengan dalang Cenk Blonk, Jro Mangku Dalang Wayan Nardayana untuk mengkaji ulang hasil analisis awal terhadap nilai karakter dalam pertunjukan wayang kulit Cenk Blonk dalam lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blong dengan lakon “Tidak Cukup Hanya Cinta” Dalang Nardayana telah memenuhi kriteria micara dalam konsep estetika catur. Micara artinya bahwa seorang dalang harus mempunyai kemampuan dalam menyusun kata-kata serta piawai dalam menyusun dialog wayang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lakon ini mengandung nilai estetika yang sangat tinggi dalam hal ginem atau dialog tokoh wayang yang terlihat dalam penggunaan bahasa figuratif atau gaya bahasa anadiplosis, antitesis, asonansi, metafora dan simile. Nilai-nilai karakter yang disuguhkan dalam lakon tersebut adalah nilai karakter jujur, toleransi, komunikatif, cinta damai dan tanggung jawabKata Kunci: Estetika Pertunjukan Wayang, Nilai-Nilai Karakter, Wayang Kulit Cenk Blonk
The values of character education in the pakeliran art “Lord Shiva Saves the Universe” Komang Sekar Marhaeni; Ni Ketut Dewi Yulianti; I Ketut Garwa
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 1 No. 2 (2022): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.613 KB) | DOI: 10.31091/jacam.v1i2.1826

Abstract

The purpose of this paper is to analyze the values of character education in the traditional art of “Lord Shiva Saves the Universe” and the moral messages contained in it, which are beneficial not only for humanists and artists, but also for activists in the field of character education. The method used is a qualitative by analyzing the performance of "Lord Shiva Saves the Universe" which is an English language performance art whose play is adapted from the Srimad Bhagavatam skanda 8 in chapter 7 with the title Lord Shiva Saves the Universe by Drinking Poison. The character values contained in the traditional art of "Lord Shiva Saves the Universe" are: 1) religious, 2) tolerance, 3) discipline, 4) hard work, 5) creative, and 6) responsibility. The moral message contained in it reminds everyone to be careful in believing someone's appearance because a charming appearance can be a trap to deceive someone. This is very important to study, considering that there are currently many declines in the character of the nation's children and also national problems, such as reduced ethical values in the life of the nation and state.
Pembinaan Pupuh Macepat “Surki” pada Sekaa Pasantian Swasti Marga Brata di Desa Selisihan Klungkung I Kadek Widnyana; Ni Komang Sekar Marhaeni; Ni Putu Hartini
Abdi Seni Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v13i2.4503

Abstract

“Surki” is an acronym for the word sasur siki. Sasur (pasasur) means thirty-five, and asiki means one. Therefore, in this context, pasasur asiki is 36 pupuh (traditional poem) verses/stanzas containing the implementation of 36 items of Pancasila (Five Principles of Indonesia). It is summarized into seven types of pupuh/macapat songs by an art maestro, I Made Sija, namely pupuh Sinom, Pucung, Ginada, Durma, Maskumambang, Pangkur, and Dandang. What makes it unique is that the lyrics contain Pancasila’s noble values, namely divinity, humanity, unity, democracy, and justice, applied in thirty-six pupuh verses that adopt 36 Pancasila values. During Suharto’s New Order in Indonesia, this activity belongs to the Program of Guidelines for the Appreciation and Practice of Pancasila (P4). Then in PKM, the development of the Macapat songs focused on identifying the importance of fostering the Pupuh Macepat “surki” as a medium for guiding Pancasila values for the people of Selisihan Klungkung village. In addition, there has never been a pupuh containing 36 points of Pancasila values and the preservation of the “surki” pupuh by the Pasantian group of people in Selisihan Klungkung village.
PEMBINAAN PUPUH MACEPAT “SURKI”I MADE SIJA PADA SEKAA PASANTIAN SWASTI MARGA BRATA DI DESA SELISIHAN KLUNGKUNG I Kadek Widnyana; Ni Komang Sekar Marhaeni; Ni Putu Hartini
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan analisis situasi di desa Selisihan Klungkung lingkungan tersebut sudah timbul gejolak adanya perselisihan, etika yang kurang baik dan kurangnya persatuan. Atas dasar itu mitra memerlukan sebuah pembinaan guna menuntun ke arah tersebut agar kedamaian mampu terwujud. Materi yang ditawarkan demi terwujudnya hal itu dengan pembinaan tembang Macapat “Surki” (akronim dari kata sasur siki). Sasur (pasasur) artinya 35, asiki artinya satu. Jadi pasasur asiki berarti 36 pada/bait pupuh implementasi dari 36 butir Pancasila yang dirangkum dalam 7 pupuh macapat. Tujuan pembinaan agar meminimalis perselisihan, bertika, persatuan dan kedamaian dapat terwujud, diawali dengan pemahaman tembangnya. Melalui tembang unik ini, liriknya berisi nilai luhur Pancasila yaitu ke-Tuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan terjabarkan dari 36 butir nilai Pancasila. Pembinaan tembang Macapat dengan metode drill (pengulangan-pengulangan). Hasil pembinaan sekaa Pasantian Selisihan Klungkung mulai memahami dan selanjutnya selalu mengumandangkan lewat Radio Orari di lingkungan desa sebagai media sosialisasi, pelestarian dan pengembangan.
Potensi Pertunjukan Wayang Kulit Rakyat Pakeliran Karikatur: Muktapala (Pan Balang Tamak) Sebagai Katarsis Di Era Pandemi Dwitiya, I Kadek Bhaswara; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Kodi, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v2i2.1866

Abstract

Pertunjukan Wayang Kulit Rakyat Pakeliran Karikatur: Muktapala (Pan Balang Tamak) Oleh Dalang I Nyoman Sutama., S.Sn Dari Desa Payangan merupakan pertunjukan wayang yang atraktif dalam ranah pertunjukan wayang Bali. Penelitian ini dianalisis menggunakan konsep kuasa simbolik dan disandingkan dengan keterkaitan emosional masyarakat di era pandemic. Penelitian ini menghasilkan pandangan baru tentang strategi alternalif dalam menentukan dan memilih sesuatu yang digunakan dalam pertunjukan wayang, sehingga dalam perkembangannya mampu diterima sebagai bentuk legalitas dalang dan pertunjukannya di tengah masyarakat. Dalang Sutama sebagai creator wayang karikatur tanpa sadar menjadi disposisi dalam dunia wayang melalui bentuk pertunjukan dan wacana di tengah pandemic.
Peran Sastra Bali Dalam Perwujudan Nilai Budaya Pada Cerita Pewayangan Suryanata, I Putu Gede; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 3 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v3i2.2848

Abstract

Karya sastra merupakan komponen penting dalam suatu pertunjukan karena dua hal tersebut memanglah saling terkait antara satu dan yang lainnya. Seorang seniman seni pertunjukan alangkah baiknya mengetahui karya sastra yang ada. Untuk memperkaya diri sebagai seniman khususnya Dalang, karena dalang dalam pertunjukannya terdapat ajaran-ajaran kebaikan yang dimana terdapat dalam berbagai sastra, yang bisa dimasukkan dalam kanda atau digunakan sebagai lelucon bagi dalang agar tidak kekurangan bahan dalam pentas, seorang seniman khususnya dalang wajib mengetahui seluk beluk karya sastra yang akan dibawakan. Untuk mendapatkan taksu yang menggugah hati penonton, penyatuan jiwa seniman terhadap sastra juga penting, untuk menimbulkan ikatan batin dalang dalam pementasan yang dituangkan dalam gerak ,bahasa dan suara seorang dalang untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pertunjukan.
Pelatihan Pertunjukan Wayang Kulit Tradisi Di Desa Adat Batur “Karya Sudhaningrat” Mahendra, I Kadek Yogi; Hendro, Dru; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3740

Abstract

Dilihat dari perkembangan zaman di masa sekarang dimana segala hal sudah bersifat inovasi hal tersebut menyebabkan tradisi mulai tidak diminati oleh generasi muda. Dilihat dari budaya khususnya seni pertunjukan Wayang Kulit di masa sekarang sudah sangat rendah kesksistensiannya di masyarakat, hal ini tidak hanya di alami di satu daerah namun hampir semua daerah di Bali memiliki masalah sepereti ini. Di Bali Utara khususnya di Desa Adat Batur yang dimana kesenian Wayang Kulit Tradisi sangat berperan penting sebagai pelengakap upacara yang diselenggarakan di Pura Ulun Danu Batur, walaupun demikian sangat susah sekali untuk mendapatkan generasi muda yang mau untuk mempelajari kesenian Wayang Kulit Tradisi. Dari permasalahan yang terdapat di Desa Adat Batur penulis melakukan program pembelajaran pertunjukan Wayang Kulit Tradisi kepada salah satu masyarakat yang ingin mendalami di duni seni Pedalangan bliau adalah I Made Sasmika. Ada beberapa tahapan yang dilakukan di dalam proses pembelajaran pertunjukan Wayang Kulit Tradisi antara lain mulai dari memberikan pemahaman tentang kesenian Wayang dan pemilihan gaya pementasan yang pantas dijadikan sebagai dasar pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini dipilih Style pementasan Sukawati karena di dalam pertunjukan Wayang Sukawati sangat banyak terdapat komponen – komponen yang membangun di dalam pementasan. Pada tahap pertama pembelajaran, peserta didik diberikan materi gending Alasarum diserta gerak Wayang, dilanjutkan dengan Penyacah Parwa sebagai sinopsis di dalam pertunjukan wayang yang menggunakan bahasa kawi, tahap ketiga mempelajari gending Bebaturan dan gerakan Mangkat, dilanjutkan dengan mempelajari Tarian Delem dan Siat Wayang. Dengan adanya program ini semoga kedepannya kesenian Wayang Kulit Tradisi di Desa Adat Batur bisa lestari tidak hanya di Batur saja, juga di tempat lain agar bisa terus diminati dan dilestarikan.
Pelestarian Seni Pertunjukan Wayang Kulit Tradisi di Desa Adat Batur Pramana, I Komang Agus; Marhaeni, Ni Komang Sekar; Hendro, Dru; Sudiana, I Ketut
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3743

Abstract

Desa Adat Batur merupakan salah satu desa adat tua di Bali, dimana desa ini memiliki banyak sekali potensi dalam bidang seni yang ada, seperti Wayang Kulit, Tari Baris, dan Seni Kerawitan, seluruh potensi kesenian yang ada di Desa Adat Batur sangat erat kaitanya dengan tradisi dan upacara adat, oleh karena itu, upaya pelestarian dari kesenian ini mestinya harus tetap dijaga. Dengan adanya perubahan Era globalisasi sekarang ini dapat menimbulkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih modern, akibatnya masyarakat cendrung untuk memilih kebudayan baru yang dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal, permasalahan ini dapat ditemukan di Desa Adat Batur. Dimana dengan adanya pola hidup modern salah satu kesenian yaitu Seni Pedalangan/Wayang Kulit mulai mengalami kemunduran dan hampir saja punah. Faktor yang menyebabkan seni tradisi dan budaya lokal di Desa Adat Batur mulai dilupakan dimasa sekarang adalah; kurangnya generasi penerus yang memiliki minat untuk belajar dan mewarisi kebudayaanya sendiri. Oleh karena itu, dalam mewujudkan upaya pelestarian Seni Pertunjukan Wayang Kulit Tradisi di Desa Adat Batur penulis melakukan kegiatan dengan metoda Culture Expericence dengan pelaksanaan secara langsung di lapangan dan melibatkan masyarakat lokal dalam pelatihan Seni Pedalangan. Serta menggunakan metode penulisan secara kualitatif dengan teknik studi pustaka dalam mengumpulkan data.
Nilai-Nilai Keutaman Dalam Konflik dan Relosusi Pada Alur Dramatik Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk Lakon Katundung Anggada Suryanata, I Putu Gede; Hendro, Dru; Marhaeni, Ni Komang Sekar
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i2.4383

Abstract

Pertunjukan Wayang Kulit Cenk Blonk lakon Katundung Anggada merupakan lakon carangan dengan penyajian konflik yang melibatkan isu sosial. Isu ini diselesaikan melalui resolusi yang merefleksikan nilai-nilai keutamaan tokoh Anggada melalui alur struktur dramatik pertunjukan wayang. Penelitian bertujuan menganalisis bentuk konflik serta resolusi dalam pertunjukan tersebut, dan bagaimana kedua elemen ini menghadirkan nilai dan pesan moral bagi audiens. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis struktur alur dramatik dan resolusi konflik lakon Katundung Anggada. Hasil penelitian menunjukkan pertama, bahwa konflik dan resolusi lakon Katundung Anggada dihadirkan dalam basis cerita carangan dengan latar waktu pasca runtuhnya Alengkapura. Diperkenalkannya tokoh anggada sebagai sosok kera bertubuh manusia (wenara) dengan sifat-sifat kejujudan, ketabahan, dan berpegang teguh pada kebenaran sebagai tokoh protagonis, diuji ketika ia menghadapi fitnah atas terjadinya kerusuhan di kerajaan Ayodya yang dipimpin Sri Rama akibat tuduhan Raksasa Sura Prenawa yang dikisahkan pasca perang Alengka dipungut dan diangkat oleh Sri Rama sebagai Patih di Ayodya. Konflik memuncak ketika hasutan Sura Prenawa berhasil membuat Sri Rama mengusir Anggada yang disinyalir akan melakukan pembalasan, di mana Sura Prenawa meyakinkan Rama bahwa Anggada masih menyimpan dendam akibat keterlibatan Rama dalam meninggalnya Subali ayah Anggada. Dengan sifat-sifat keutamaanya, Anggada didampingi para punakawan memilih mengasingkan diri dan memohon petunjuk Bhatari Durga, di mana resolusinya Anggada diminta untuk menyerang Ayodya dalam rupa raksasa dan berhasil mengalahkan kelicikan Sura Prenawa. Kedua Konfilk dan Resolusi dalam kisah Katundung Anggada yang dihadirkan secara dramatis dalam analisisnya mengandung nilai-nilai keutamaan yang memiliki dampak psikologis di anataranya nilai kejujuran, pengabdian, integritas, dan kebijaksanaan.