Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Science Day 2025: Memperkenalkan Asma Kepada Anak Sekolah Dasar Melalui Edukasi Interaktif Maria Mardalena Martini Kaisar; Putri Regita Anggraini; Kevin Budijono; Felicia Anggraini; Anastasia Hangestu; Muhammad Fadli Muhyidin; Soegianto Ali
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7209

Abstract

Anak-anak termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap polusi udara yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk asma. Edukasi sejak dini penting untuk mengenalkan asma dan menumbuhkan kesadaran menjaga kesehatan paru. Tim Pengabdi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK-UAJ) terlibat dalam acara Science Day 2025 di Kota Bandung untuk melaksanakan pengabdian masyarakat. Kegiatan bertujuan untuk mengenalkan asma melalui edukasi interaktif dan penilaian fungsi paru anak sekolah dasar (SD). Aktivitas meliputi pemutaran video edukasi, pengisian kuesioner pengetahuan, dan penentuan indikasi obstruksi paru atau peak expiratory flow (PEF) menggunakan peak flow meter (PFM). Hasil kuesioner menunjukkan sebesar 81,4% dari 43 siswa memperoleh nilai sempurna, menandakan siswa dapat menerima materi yang disampaikan melalui media video dengan baik. Sedangkan pengukuran PEF pada 48 siswa menunjukkan sebagian besar siswa (56,3%) berada di zona kuning yang mengindikasikan adanya penyempitan saluran napas ringan hingga sedang yang perlu diperhatikan. Secara spesifik, 8 anak perlu memperhatikan kesehatan paru mereka dikarenakan nilai PEF yang mengindikasikan adanya obstruksi paru yang berat. Analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kategori PEF berdasarkan jenis kelamin (p=0,285) maupun usia (p=0,133), menandakan semua anak berisiko sama terhadap asma. Akhirnya, edukasi serta tindakan preventif sejak dini perlu ditekankan untuk menjaga kesehatan pernapasan anak-anak.
KECACINGAN MASIH MENGINTAI: EDUKASI MASYARAKAT DAN TUTORIAL PEMERIKSAAN TINJA MELALUI VIDEO YOUTUBE Meiliyana Wijaya; Vanessa; Olivia Belinda; Maria Mardalena Martini Kaisar; Sem Samuel Surja; Hanna Yolanda; Freggy Spicano Joprang
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 02 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i02.7416

Abstract

Infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminths (STH) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat global, khususnya di negara tropis dan berkembang seperti Indonesia. Secara global, diperkirakan sekitar 1,5 miliar orang atau hampir 24% populasi dunia terinfeksi STH memerlukan pengobatan serta upaya pencegahan secara berkala. Infeksi STH berdampak signifikan terhadap morbiditas, terutama pada anak usia sekolah. Lingkungan yang tidak bersih, terutama tanah yang lembap dan terkontaminasi feses, dapat menjadi tempat berkembangnya telur dan larva cacing serta meningkatkan risiko penularan. Infeksi yang berulang dapat menyebabkan gangguan gizi, anemia, dan stunting. Deteksi melalui pemeriksaan tinja penting untuk menegakkan diagnosis serta memantau keberhasilan pengobatan dan pencegahan reinfeksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan melalui pembuatan video edukasi mengenai infeksi kecacingan dan metode pemeriksaan apusan langsung, Kato-Katz, serta Harada-Mori. Video edukasi diunggah melalui platform YouTube sebagai sarana pembelajaran yang mudah diakses. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan kecacingan serta membantu tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan tinja secara tepat.  
House Dust Mite Allergies Among Elementary Students in a Semi-Rural Area Maria Kaisar; Anastasia Hangestu; Airen Wang; Joyceline Chika Tanely; Putri Regita Anggraini; Soegianto Ali
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2026): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v8i3.3286

Abstract

Allergies represent a chronic health concern among schoolchildren in Indonesia. The disorder is increasing in number but often underdiagnosed, particularly in semi-rural areas facing limited access to health services. This community service sought to facilitate access to initial allergy screening and increase awareness of the allergic status of elementary schoolchildren in the semi-rural area of Muaragembong, Bekasi. Allergy screening was conducted using the Skin Prick Test (SPT) method to detect sensitization to house dust mite (HDM) allergens Dermatophagoides pteronyssinus (Derp) and D. farinae (Derf) in 98 participants aged 6–13 years. Subsequent data analysis and interpretation aimed to enhance health awareness. The results indicated that the total prevalence of HDM sensitization reached 24.5%, with 7.1% of them sensitized to both allergens. This finding highlights the critical nature of the allergy issue and the need for its proactive intervention. Direct discourse about this discovery with parents/guardians and local healthcare services is pivotal to raise their awareness. Future efforts should prioritize the development of HDM avoidance protocols that require active parental participation in routine household cleaning as a community-based solution. Additionally, establishing formal referral networks to local health facilities, governments, and other policymakers is essential for ensuring ongoing allergy management.