Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Penyuluhan Asal Usul Bhineka Tunggal Eka Bagi Generasi Z Di Rusunawa Susilo, Tanto Budi; Soesanto, oni; Elma, Tiara; Nur, Ailsa Dewinta; Agustin, Dwina Laura; Malisah, Siti Nor; Idris, Muddatstsir; Edi Mikrianto, Edi Mikrianto; Lili Utami, Umi Baroroh; Akbar, Arief Rahmad Maulana
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 4, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v4i3.13352

Abstract

Abstrak Kisaran 250-300 ribu tahun lalu sampai saat ini, proses kebinekaan atau keanekaragaman (diversity) biologis homo sapiens sedang berproses. Kebinekaan biologis manusia ini menelurkan secara kongruen pada bidang budaya dan bahasa. Orientasi ulasan kebinekaan ini mengutamakan pada asal usul kebinekaan budaya saja di Indonesia, yang diwakili suatu situs candi Jawi, di Pasuruan. Adapun ulasan kebinekaan biologis/genetika dan bahasa adalah sebagai tambahan. Monumen artifak kebinekaan ini dapat direnungkan dengan jelas melalui candi Jawi itu, candi yang merujuk pada pararelisme Siwa (hindu) dan Budha, merujuk pada kebinekaan Siwa dan Budha, merujuk pada ajaran dewi Prajna Paramita. Program kreatifitas masyarakat (PKM) kali ini melibatkan generasi Z untuk memberi apresiasi asal-usul konsepsi kebinekaan sebagai falsafi visioner Jawa. Metode structural equation modelling (SEM) digunakan untuk koleksi responden. Hasil ujinya, berturut-turut sebagai berikut; sangat mengerti (0%), mengerti (96%), kurang mengerti (4%) dan tidak mengerti (0%). Secara umum, responden generasi Z mengerti atas konsepsi kebinekaan dalam keberagamaan, kebinekaan dalam genetika dan kebinekaan dalam bahasa.Kata kunci: Kebinekaan, candi Jawi, Sapiens 
Pelatihan GLP (Good Laboratory Practice) dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di MAN 2 Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan Idris, Muddatstsir; Sanjaya, Rahmat Eko; Yunus, Rahmat; Umaningrum, Dewi; Sunardi, Sunardi; Santoso, Uripto Trisno; Irwan, Azidi; Istikowati, Wiwin Tyas
Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (Pamas) Vol 9, No 2 (2025): Jurnal Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat (PAMAS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/pamas.v9i2.5913

Abstract

Laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA) seperti labotarorium kimia, fisika, dan biologi merupakan laboratorium dengan risiko tinggi dan memerlukan pengelolaan yang baik agar kegiatan di laboratorium dapat berjalan dengan lancar dan aman. Penerapan GLP (Good Laboratory Practice) dan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) di laboratorium berperan penting dalam meminimalkan risiko dan kecelakaan kerja di laboratorium. Olehnya itu, tujuan kegiatan pelatihan ini adalah memberikan pemahaman terhadap guru, pengelola laboratorium dan siswa mengenai pentingnya penerapan GLP dan K3 di laboratorium. Metode yang digunakan untuk memberikan pemahaman kepada guru, pengelola laboratorium, dan siswa kelas XII MAN 2 Hulu Sungai Selatan (HSS) adalah pemaparan materi di kelas. Berdasarkan hasil kuesioner yang dibagikan, peserta memberikan respon yang positif terhadap kegiatan ini dan memiliki pemahaman yang baik terkait GLP dan K3 setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan ini dapat mewujudkan GLP dan K3 di laboratorium sehingga praktikum, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat dapat berjalan dengan aman dan lancar. Kata Kunci: Good Laboratory Practice, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Laboratorium
PEMBERDAYAAN KELOMPOK MASYARAKAT AREA GAMBUT MELALUI PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN PENGOLAHAN MINYAK ATSIRI BERBASIS BAHAN LOKAL Lestari, Hayatus Sa’adah Ayu; Pashar, Imran; Idris, Muddatstsir
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34657

Abstract

Abstrak: Tujuan PKM ini memberdayakan kelompok tani untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan manajemen dalam mengolah daun galam menjadi minyak atsiri. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode yang menitikberatkan pada keaktifan peserta seperti demontrasi dan simulasi. Langkah-langkah pelaksanaan kegiatan pengabdian terbagi 3 tahapan yaitu Pertama, perencanaan; Tim pelaksana telah melakukan pelaksanaan kegiatan PKM kepada mitra yang dilaksanakan pada rentang waktu 5 – 19 Juli 2025 di desa Pandahan. Peserta dalam kegiatan ini sebanyak 30 orang. Tahap pelaksanaan; Pre test yang didapatkan hasil hanya 10% atau 3 peserta yang mengetahui dan tau tentang cara pengolahan duan galam menjadi minyak atsiri. Dilanjutkan pemberian penyuluhan tentang manfaat dan penggunaan duan galam, pelatihan dan pendampingan pengolahan daun galam menjadi minyak atsiri. Tahap evaluasi; berdasarkan hasil dari post-test didapatkan hasil bahwa sebesar 100% atau 30 orang peserta sudah mampu mempraktekkan pengolahan daun galam menjadi minyak atsiri. Pada program pengabdian ini diwujudkan kegiatan berkelanjutan melalui pemantauan dalam bentuk monitoring perkembangan peserta khususnya pada keterampilan mengolah daun galam menjadi minyak atsiri.Abstract: The objective of this PKM is to empower farmer groups to improve their knowledge, skills, and management capabilities in processing galam leaves into essential oils. The methods used in this activity emphasize participant activity, such as demonstrations and simulations. The implementation of the community service activity is divided into three stages. First, planning; the implementation team carried out the PKM activity with partners from July 5 to 19, 2025, in Pandahan village. There were 30 participants in this activity. Implementation stage: The pre-test results showed that only 10% or 3 participants knew and understood how to process galam leaves into essential oil. This was followed by an information session on the benefits and uses of galam leaves, training, and assistance in processing galam leaves into essential oil. Evaluation phase: Based on the post-test results, 100% or 30 participants were able to practice processing galam leaves into essential oil. This community service program was realized through sustainable activities in the form of monitoring the progress of participants, particularly in their skills in processing galam leaves into essential oil.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT AREA GAMBUT MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN MINYAK ATSIRI BERBAHAN DAUN GALAM Pashar, Imran; Ayu Lestari, Hayatus Sa’adah; Idris, Muddatstsir
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2795

Abstract

The Peat Hydrological Area (KHG) in South Kalimantan in 2023 covered approximately 238,465 hectares. In Pandahan Village, Tanah Laut Regency, approximately 50 hectares of land are covered with wild galam plants. Galam plants are native to peatlands that naturally associate with endophytic fungi and have the potential to produce essential oils of high economic value as an Indonesian export commodity. Until now, galam has only been used by some communities for firewood without further processing. This Student Creativity Program (PKM) aims to empower farmer groups to acquire the knowledge, skills, and managerial abilities to process galam leaves into essential oils. Activities are carried out using a participatory method through demonstrations and simulations. The program is implemented in three stages: planning, implementation, and evaluation. The activity took place from July 5–19, 2025, in Pandahan Village with 30 participants. Pre-test results showed that only 10% of participants knew the process of processing galam leaves. Following the training and mentoring, post-test results improved significantly, with 100% of participants able to successfully process galam leaves into essential oil. The program continues through monitoring activities to ensure ongoing skill improvement.
Penyuluhan Artifak Museum Lambung Mangkurat: Potensi De-Extinction Fosil Gajah Kalimantan Susilo, Tanto Budi; yunus, rahmat; Soesanto, Oni; Hindarto, Imam; Utami, Umi Baroroh Lili; Idris, Muddatstsir; Mikrianto, Edi; Mursyidin, Dindin Hidayatul
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 5, No 3 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v5i3.16203

Abstract

Abstrak Museum bukan hanya tempat untuk koleksi artefak kebudayaan bangsa, tetapi juga tempat untuk artefak intelektual bangsa, atau tempat koleksi epistemologi intelektual bangsa. Sementara itu, ibu kandung kebudayaan adalah pendidikan. Museum Lambung Mangkurat adalah rumah bagi anak kandung artefak kebudayaan dan ibu kandung bagi pendidikan masyarakat Kalimantan ini. Nama Lambung Mangkurat sendiri, diambil dari putra seorang pedagang (kasta Waisya) keturunan etnis Keling, era kerajaan Mapapahit. PKM ini membahas temuan artefak bendawi (tangible), berupa fosil gajah kisaran 5000 tahun lalu. Fosil ini berperan strategis dalam projek pembangkitan spesies yang punah (de-extintion) pada masa depan. Pokok bahasan ini menjelaskan peristiwa sejarah tentang asal usul gajah kecil (hobbit elephant) yang ada di Kalimantan. Fosil gajah menjelaskan bahwa gajah Kalimantan adalah asli (indigenius) meski kolonial Inggris juga mendatangkan sebagai gajah introduser dari India. Program kreatifitas masyarakat (PKM) ini berupaya mengapresiasi terhadap temuan gajah Kalimantan di daerah Kabupaten Batola. Metode hermeneutika yang dielaborasi structural equation modelling (SEM) digunakan sebagai koleksi tanggapan responden generasi muda. Hasil evaluasi PKM ini adalah sebagai berikut; sangat mengerti (12,5%), mengerti (45%), kurang mengerti (30%) dan tidak mengerti (12,5%) terhadap 12 responden. Hasil PKM menyatakan bahwa generasi muda mengerti atas pentingnya temuan fosil gajah yang terhubung dengan perdagangan era kolonial Inggris di Kalimantan.Kata kunci: Museum; Lambung Mangkurat; fosil gajah