Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kesenjangan Upah Buruh Tani Perempuan Dengan Laki-laki (Problematika Kesetaraan Gender) Huldiya Syamsiar; Abdurrohman Abdurrohman
Jurnal Masyarakat Maritim Vol 4 No 2 (2020): Oktober, 2020
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmm.v4i2.2855

Abstract

Penelitian ini tentang kesenjangan pemberian upah buruh tani laki-laki dan perempuan sehingga menjadi sebuah problematika kesetaraan gender di Desa Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap problematika kesetaraan gender yang tidak pernah bisa setara sampai saat ini. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu bagaimana sistem pengupahan buruh tani antara buruh tani perempuan dan laki-laki, serta bagaimana problematika kesetaraan gender dalam pemberian upah antara buruh tani perempuan dan laki-laki. Sedangkan tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan sistem pemberian upah buruh tani antara buruh tani perempuan dengan laki-laki serta untuk mengetahui problematika Kesetaraan Gender dalam pemberian upah antara buruh tani perempuan dengan laki-laki. Metode dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif pendekatan deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan skunder. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Analisis data menggunakan model interaktif Miles and Huberman. Hasil penelitian adalah sistem pemberian upah antara buruh tani perempan dengan laki-laki yaitu sistem harian dan borongan,serta problematika kesetaraan gender yaitu budaya patriarki, keliru dalam memahami agama, dan peran serta beban kerja.
Perempuan Pengangkut Air Dalam Tradisi Masyarakat Desa Dendun Kecamatan Mantang Kabupaten Bintan Muhammad Robby Chandra; Sri Wahyuni; Rahma Syafitri; Vivi Elvianora; Abdurrohman
Jurnal Masyarakat Maritim Vol 5 No 2 (2021): Oktober, 2021
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmm.v5i2.4165

Abstract

Desa Dendun merupakan bagian dari Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Desa Dendun memiliki permasalahan mengenai ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dari sinilah dimulailah tradisi membawa air yang dilakukan oleh para wanita desa Dendun. Penelitian ini dilakukan peneliti untuk melihat bagaimana tradisi perempuan pembawa air di desa Dendun tetap lestari hingga saat ini. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep konstruksi sosial dan tradisi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Informan penelitian ini adalah masyarakat Desa Dendun, baik ayah maupun anak laki-laki, serta ibu dan anak perempuan. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Analisis data digunakan dengan model metodologi penelitian kualitatif Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Tradisi mengangkut air yang dilakukan oleh perempuan di Desa Dendun hingga saat ini tidak lepas dari peran masyarakat khususnya keluarga dan lingkungan sosialnya. Anak perempuan dan laki-laki telah diajarkan untuk mengangkut air sejak usia dini, tetapi ketika mereka tumbuh dewasa kegiatan transportasi air hanya menjadi bagian dari kehidupan perempuan di desa Dendun. Selain itu, ada nilai-nilai yang dibangun di masyarakat bahwa membawa air bermanfaat bagi ibu hamil, mengangkut air sebagai kebutuhan, mengangkut air sebagai bentuk kasih sayang
Multicultural Education as a Strategy for Strengthening Students’ Tolerance Attitudes in Islamic Boarding Schools in Lombok Abdurrohman; Muh. Jaelani Al Pansori; Lia Rismawati
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 5 No. 3 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v5i3.2330

Abstract

Lombok is a region characterized by cultural, ethnic, and social diversity, which necessitates the implementation of multicultural values in education. Islamic boarding schools (pondok pesantren) play a strategic role as religious-based educational institutions in fostering tolerance among students. This study aims to describe the implementation of multicultural education in Islamic boarding schools in Lombok and its contribution to the development of students’ tolerance attitudes. This research employed a qualitative approach using a descriptive method. Data were collected through observations, in-depth interviews with pesantren leaders, teachers, and students, as well as document analysis of learning activities and pesantren culture. The findings indicate that multicultural education in Lombok’s Islamic boarding schools is implemented through the integration of tolerance values in classroom learning, educators’ role modeling, religious and social activities, and daily habituation of living together in a diverse pesantren environment. These practices contribute to the development of mutual respect, openness, and acceptance of differences among students. The study concludes that Islamic boarding schools have significant potential as strategic spaces for the development of multicultural education oriented toward strengthening students’ tolerance attitudes.
DERADIKALISASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MODEL KEBERAGAMAAN INKLUSIF DIKALANGAN SISWA SMA abdurrohman abdurrohman
Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram Vol. 7 No. 2 (2018): Schemata: Jurnal Pasca Sarjana IAIN Mataram
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of religious radicalism has become a global threat of the 21st century that phenomenon was a result of Islam as anaccused religion and was often associated with a terrorist religion. Educational institutions often "suspected" in creating of terrorists’ generations because the content material of Islamic Religious Education Study was dogmatic, indoctrinated, and related to proselytizing spirit that confirms truth claims. Anyway, substance of instructional materials used in senior high school does not contain inclusive religious content so it can create an exclusive and intolerant religious behavior among senior high school students. The aim of this study; 1).Providing foothold among students of theological and sociological thinking and behavior in order to have an inclusive and tolerant religiosity 2).Deploying and seeding ideas and behavior of an inclusive and tolerant religiosity as a form of resistance ideology (de-radicalization). 3). Filling the void literature Islamic Religious Education Study particular model of inclusive diversity relevant to mainstream Islam in Indonesia. To counteract the religious radicalism among students, the teaching material of Islamic Religious Education Study must contain religious inclusive content incorporating the teachings of Islam as a religion Rahmatan Lil Alamin, a religion of tolerance which is supported by the argument of the Qur'an and hadith. By using this model of teaching materials is expected of senior high school students have an inclusive religious behavior that is relevant to the character and Indonesian Islam mainstream in order to prevent radicalism behavior among senior high school students. Keywords: Islamic Religious Education, Inclusive Diversity, De-Radicalism
DERADIKALISASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MODEL KEBERAGAMAAN INKLUSIF DIKALANGAN SISWA SMA abdurrohman abdurrohman
Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram Vol. 7 No. 2 (2018): Schemata: Jurnal Pasca Sarjana IAIN Mataram
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of religious radicalism has become a global threat of the 21st century that phenomenon was a result of Islam as anaccused religion and was often associated with a terrorist religion. Educational institutions often "suspected" in creating of terrorists’ generations because the content material of Islamic Religious Education Study was dogmatic, indoctrinated, and related to proselytizing spirit that confirms truth claims. Anyway, substance of instructional materials used in senior high school does not contain inclusive religious content so it can create an exclusive and intolerant religious behavior among senior high school students. The aim of this study; 1).Providing foothold among students of theological and sociological thinking and behavior in order to have an inclusive and tolerant religiosity 2).Deploying and seeding ideas and behavior of an inclusive and tolerant religiosity as a form of resistance ideology (de-radicalization). 3). Filling the void literature Islamic Religious Education Study particular model of inclusive diversity relevant to mainstream Islam in Indonesia. To counteract the religious radicalism among students, the teaching material of Islamic Religious Education Study must contain religious inclusive content incorporating the teachings of Islam as a religion Rahmatan Lil Alamin, a religion of tolerance which is supported by the argument of the Qur'an and hadith. By using this model of teaching materials is expected of senior high school students have an inclusive religious behavior that is relevant to the character and Indonesian Islam mainstream in order to prevent radicalism behavior among senior high school students. Keywords: Islamic Religious Education, Inclusive Diversity, De-Radicalism
Phubbing sebagai Perilaku Menyimpang dalam Pembelajaran Mahasiswa: Perspektif Sosiologi Pendidikan Nurjihad Nurjihad; Abdurrohman Abdurrohman; M. Zainul Asror; Ahmad Tohri
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.36280

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi sosial mahasiswa, termasuk dalam aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Salah satu fenomena yang semakin sering ditemukan adalah phubbing, yaitu perilaku mengabaikan interaksi tatap muka karena lebih memusatkan perhatian pada smartphone. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk, faktor penyebab, dan proses normalisasi phubbing sebagai perilaku menyimpang dalam pembelajaran mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Hamzanwadi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif interpretatif. Informan penelitian terdiri atas 23 orang yang dipilih secara purposive, meliputi 20 mahasiswa dan 3 dosen. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu serta member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phubbing diwujudkan dalam aktivitas mengakses media sosial, membalas pesan, menonton video, bermain gim, dan memeriksa notifikasi selama perkuliahan. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh rendahnya orientasi akademik, kuatnya habitus penggunaan smartphone, pembelajaran yang kurang interaktif, rendahnya motivasi belajar, serta normalisasi penggunaan smartphone di lingkungan kelas. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa phubbing telah mengalami transformasi dari perilaku individual menjadi norma sosial baru melalui proses habituasi, imitasi, lemahnya kontrol sosial, dan penerimaan kolektif. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan konsep Academic Phubbing Normalization sebagai perspektif sosiologis untuk menjelaskan transformasi perilaku menyimpang menjadi praktik yang diterima dalam budaya akademik era digital.
BUDAYA LITERASI MAHASISWA DI ERA DIGITAL : KAJIAN TERHADAP PERILAKU MEMBACA, MENULIS DAN PEMANFAATAN SUMBER ILMIAH Siti Alipaturrokyi; Abdurrohman Abdurrohman; Huldiya Syamsiar
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15208

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology has expanded access to academic information, but such convenience has not always been accompanied by the strengthening of critical reading and writing literacy. This study aimed to examine the reading and writing literacy culture of students in the Sociology Education Study Program in the digital era, particularly their reading behavior, writing practices, and use of scholarly sources. This qualitative study employed a digital ethnography method. The participants were 19 students of Universitas Hamzanwadi selected through purposive sampling. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The findings showed that students increasingly relied on electronic journals, e-books, Google Scholar, digital libraries, and AI in their literacy activities. However, easy access also encouraged brief reading, task-oriented writing, and dependence on instant information. Students' abilities to verify sources and use AI critically varied. The findings indicate that literacy culture is a social practice shaped by habits, digital capital, academic demands, and the academic environment. Literacy development should promote deep reading, independent writing, information evaluation, and responsible AI use. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital memperluas akses terhadap informasi akademik, tetapi kemudahan tersebut belum selalu diikuti penguatan budaya literasi membaca dan menulis secara kritis. Penelitian ini bertujuan mengkaji budaya literasi membaca dan menulis mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi di era digital, khususnya perilaku membaca, menulis, dan pemanfaatan sumber ilmiah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi digital. Informan terdiri atas 19 mahasiswa Universitas Hamzanwadi yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa semakin mengandalkan jurnal elektronik, e-book, Google Scholar, perpustakaan digital, dan AI dalam aktivitas literasi. Namun, kemudahan akses juga mendorong kecenderungan membaca singkat, orientasi menulis pada penyelesaian tugas, serta ketergantungan terhadap informasi instan. Kemampuan verifikasi sumber dan penggunaan AI secara kritis masih beragam. Temuan menegaskan bahwa budaya literasi merupakan praktik sosial yang dipengaruhi kebiasaan, modal digital, tuntutan akademik, dan lingkungan akademik. Penguatan literasi perlu diarahkan pada kebiasaan membaca mendalam, menulis mandiri, evaluasi informasi, dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Dominasi Politik Bangsawan dalam Pemerintahan Desa Dasan Lekong Rama Dhani; Abdul Latif; Abdurrohman
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.2564

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dominasi politik golongan bangsawan dalam pemerintahan Desa Dasan Lekong Kecamatan Sukamulia Kabupaten Lombok Timur, serta mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan reproduksi kekuasaan elite lokal terus bertahan dari masa ke masa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan melibatkan kepala desa, mantan kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi politik bangsawan di Desa Dasan Lekong dipengaruhi oleh faktor keturunan, legitimasi sejarah, tingginya kepercayaan masyarakat, pengaruh budaya tradisional, modal ekonomi, modal sosial, dan dominasi simbolik yang dimiliki golongan bangsawan. Golongan bangsawan mampu mempertahankan kekuasaan melalui pembangunan sistem kepercayaan masyarakat, hubungan sosial yang erat, pelaksanaan birokrasi yang dianggap baik, serta keterlibatan dalam kegiatan adat dan sosial masyarakat. Dominasi tersebut menyebabkan kekuasaan politik cenderung diwariskan secara turun-temurun kepada kelompok elite tertentu sehingga peluang golongan amaq (jajar karang) untuk memperoleh jabatan kepala desa menjadi lebih terbatas. Penelitian ini juga menemukan bahwa stratifikasi sosial dan budaya memiliki pengaruh besar terhadap dinamika politik desa. Masyarakat masih memandang bangsawan sebagai kelompok yang lebih layak menjadi pemimpin karena dianggap memiliki kewibawaan, kharisma, dan jasa besar dalam membangun desa. Akibatnya, demokrasi desa berjalan kurang kompetitif karena pilihan politik masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh status sosial dan faktor keturunan dibandingkan kualitas kepemimpinan calon kepala desa. Dengan demikian, dominasi politik bangsawan di Desa Dasan Lekong menunjukkan adanya reproduksi kekuasaan elite lokal yang dipertahankan melalui legitimasi sosial, budaya, dan simbolik dalam kehidupan masyarakat desa. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pendidikan politik dan keterbukaan partisipasi masyarakat untuk mewujudkan pemerintahan desa yang lebih demokratis dan inklusif.