Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Kelekatan Orang Tua Sebagai Prediktor Kecemasan Berpisah Pada Santri Baru MTs Di Pesantren Annajah Bekasi Zulfikri, Zulfikri; Riza, Wina Lova; Maulidia, Ananda Saadatul
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 6, No 3 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v6i3.824

Abstract

Fenomena yang tejadi dilapangan terdapat tren peningkatan angka pengunduran diri santri baru yang signifikan selama tiga tahun terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kelekatan orang tua terhadap kecemasan berpisah pada santri baru tingkat MTs di Pesantren Annajah Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal asosiatif. sampel berjumlah 155 santri baru, dan teknik sampling yg digunakan adalah convenience sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan skala likert yaitu skala kelekatan orang tua (IPPA) dan skala kecemasan berpisah (SASI). Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analiss regresi sederhana. Analisis data dihitung menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25.0 untuk windows 64-bit. Hasil penelitian menujukkan nilai signifikansi dari kelekatan orang tua 0,000 0,05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, artinya kelekatan orang tua dapat menjadi prediktor kecemasan perpisahan pada santri baru tingkat MTs. Hasil uji koefisien determinasi menyatakan R Square sebesar 0,889 maka besaran pengaruh kelekatan orang tua menjadi prediktor kecemasan berpisah pada santri baru sebesar 88,9%, sedangkan sisa 11,1% dipengaruhi oleh variabel lain.
Safety First: The Role of Safety Climate as a Predictor of Safety Behavior Through Safety Knowledge as a Mediating Variable maryati, Maryati; Hakim, Arif Rahman; Maulidia, Ananda Saadatul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15525

Abstract

Companies must prioritize work safety as the main thing to create a safe and healthy work environment. The research conducted has the aim of knowing the role of safety climate as a predictor of safety behavior through safety knowledge as a mediating variable. The method used is a convenient sampling technique. The number of respondents was 154 workers. The research instrument used a safety behavior scale created by Neal and Griffin, safety climate measured using (LSCAT) compiled by Cox and Cheyne, safety knowledge scale compiled by Vinodkumar and Bhasi. To analyze the data using classical assumptions, namely, Kolmogorov-smirnov normality test, linearity test and heteroscedasticity test and hypothesis testing, namely mediation regression analysis technique. The results of the direct effects test of the safety climate variable on safety behavior show a significant effect with a significance level of 0.006 which indicates a significant influence between safety climate and safety behavior, besides that the indirect effects between safety climate and safety behavior through mediation of safety knowledge have a significance level of 0.004, meaning that there is a mediating role between safety climate and safety behavior through safety knowledge. PT X is expected to maintain and improve safety behavior with a safety climate that supports the work safety program and can also design a more effective safety training program that suits the needs of workers.Perusahaan harus memprioritaskan keselamatan kerja sebagai hal utama untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Penelitian yang dilakukan ini memiliki tujuan untuk mengetahui peran safety climate sebagai prediktor safety behavior melalui safety knowledge sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan yaitu teknik convenient sampling. Jumlah responden sebanyak 154 pekerja. Instrumen penelitian menggunakan safety behavior scale yang dibuat oleh Neal dan Griffin, safety climate diukur dengan menggunakan (LSCAT) yang disusun oleh Cox dan Cheyne, skala safety knowledge yang disusun oleh Vinodkumar dan Bhasi. Untuk menganalisis data menggunakan asumsi klasik yaitu, uji normalitas Kolmogorov-smirnov, uji linearlitas dan uji heteroskedastisitas serta uji hipotesis yaitu teknik mediation regression analysis. Hasil uji direct effects variabel safety climate terhadap safety behavior menunjukan pengaruh yang signifikan dengan taraf siginifikansi 0,006 yang menunjukan adanya pengaruh signifikan antara safety climate dengan safety behavior, selain itu pengaruh indirect effects antara safety climate dan safety behavior melalui mediasi safety knowledge memiliki taraf signifikansi sebesar 0.004 artinya ada peran mediasi antara safety climate dengan safety behavior melalui safety knowledge. PT X diharapkan dapat mempertahankan serta meningkatkan perilaku keselamatan (safety behavior) dengan iklim keselamatan (safety climate) yang mendukung program keselamatan kerja, selain itu juga dapat merancang proram pelatihan keselamatan kerja yang lebih efektif yang sesuai dengan kebutuhan pekerja.
The Role of Organizational Climate in Increasing the Commitment of DPD KNPI Karawang Members Nugroho, Husen Saepudin; Hakim, Arif Rahman; Maulidia, Ananda Saadatul
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 11 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i11.1489

Abstract

This research aims to determine the effect of organizational climate on organizational commitment. The research method used is quantitative with a causality research design. The data collection technique uses saturated samples, where the entire population is sampled. The population in this study were 110 members of the Karawang Regency Regional Executive Board of the Indonesian Youth National Committee, consisting of 97 men and 13 women. Data were collected using the Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) and the organizational climate scale constructed by the researcher. Hypothesis testing was conducted with simple regression analysis using SPSS version 25.0 for Windows 64-bit. The results showed a significance value of 0.025 (P < 0.05), which means that there is a negative effect of organizational climate on organizational commitment in members of the Karawang Regency Indonesian Youth National Committee. The coefficient of determination (R Square) value of 0.045 indicates that 4.5% of the variation in organizational commitment is explained by organizational climate. In comparison, the remaining 95.5% is influenced by other factors not included in this study.
DIGITAL WELL-BEING REMAJA: PSIKOEDUKASI UNTUK MENJAGA KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA Maulidia, Ananda Saadatul; Tyas, Devi Marganing; Wahyudi, Juan Berlianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): NOPEMBER
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v8i2.5671

Abstract

ABSTRACTThe Digital Well-Being Psychoeducation Program was implemented at SMKN 2 Cikarang Barat to enhance students’ understanding and awareness of healthy, balanced, and responsible technology use. The program involved 40 students from grades X and XI, aged 15 to 18 years old. The learning materials covered key topics including the digital world and its psychological impacts, strategies for managing screen time, digital literacy, and the development of essential psychological skills such as self-esteem and assertive communication. The sessions were designed to be interactive and reflective, integrating discussions, educational games, and contextual activities that resonated with students’ everyday digital experiences. Results from the pre-test and post-test demonstrated a notable increase in comprehension, with the proportion of students classified as having “good knowledge” rising from 27.5% to 62.5%. Beyond cognitive improvement, students’ reflective feedback indicated positive growth in digital awareness and self-regulation, such as better time management, more critical evaluation of online information, and improved balance between online and offline activities. As part of the program’s sustainability efforts, a follow-up initiative was developed through the creation of a Digital Well-Being school wall magazine and the use of the school’s official social media platforms to showcase student-produced educational content. These initiatives aim to nurture a lasting culture of digital wellness and literacy within the school community. Overall, the findings suggest that psychoeducation serves not only to strengthen digital literacy but also to foster a reflective, empathetic, and sustainable approach to digital well-being among adolescents.Keywords: Psychoeducation, Digital Well-Being, Digital Literacy, Adolescents ABSTRAKProgram Psikoedukasi Digital Well-Being dilaksanakan di SMKN 2 Cikarang Barat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa mengenai penggunaan teknologi yang sehat, seimbang, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini melibatkan 40 siswa kelas X dan XI berusia 15–18 tahun, dengan materi meliputi dampak psikologis kehidupan digital, pengelolaan waktu layar, literasi digital, serta keterampilan pribadi seperti harga diri dan komunikasi asertif. Kegiatan dirancang secara interaktif dan reflektif melalui diskusi, permainan, dan aktivitas yang relevan dengan kehidupan digital siswa sehari-hari. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan kategori “pengetahuan baik” meningkat dari 27,5% menjadi 62,5%. Siswa juga melaporkan peningkatan kemampuan dalam mengatur waktu, berpikir kritis terhadap informasi daring, serta menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan offline. Sebagai upaya keberlanjutan, siswa membuat mading Digital Well-Being dan membagikan konten edukatif melalui mediaKata Kunci: Psikoedukasi, Kesejahteraan Digital, Literasi Digital, Remaja
Pengaruh Dukungan Sosial dan Stres Akademik Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Bekerja di Karawang Mubina, Nuram; Maulidia, Ananda Saadatul; Octaviani, Shelly Dwi
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 04 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i04.2560

Abstract

Mahasiswa bekerja di Karawang kerap menghadapi tantangan psikologis. Mahasiswa bekerja rentan mengalami stres karena harus menjalani peran ganda sebagai seorang mahasiswa dan pekerja yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana dukungan sosial dan stres akademik memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa bekerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif asosiatif kausalitas dengan sampel berjumlah 204 responden yang dikumpulkan menggunakan teknik convenience sampling. Skala psikologi pada penelitian ini menggunakan tiga instrument skala baku, yaitu adopsi Ryff’s Scales of Psychological Well-Being (RPWB), adaptasi Social Provisions Scale (SPS), dan adaptasi The Perceptions of Academic Stress Scale (PASS). Temuan pada penelitian ini membuktikan adanya pengaruh antara dukungan sosial dan stres akademik terhadap kesejahteraan psikologis, secara signifikan kedua variabel indipenden memberikan pengaruh sebesar 61% terhadap kesejahteraan psikologis.
Body Dissatisfaction Sebagai Prediktor Kecenderungan Kecemasan Sosial: Studi Kuantitatif pada Remaja Perempuan Pengguna Media Sosial di Kabupaten Karawang Riza, Wina Lova; Maulidia, Ananda Saadatul; Dini, Nur Lamya Arya
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 3 No 04 (2025): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v3i04.2561

Abstract

Body dissatisfaction telah menjadi isu penting pada kalangan remaja perempuan, terutama di era media sosial yang telah menciptakan ekspektasi yang tidak realistis. Di antara dampak tekanan terhadap kesehatan mental, salah satunya adalah munculnya kecemasan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh body dissatisfaction terhadap kecendererungan kecemasan sosial pada remaja perempuan pengguna media di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas. Sebanyak 391 perempuan berusia 12 hingga 22 tahun dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Body Shape Questionnaire (BSQ-34) dan Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A). Hasil analisis regresi linier menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara body dissatisfaction dan kecemasan sosial, dengan tingkat signifikansi 0,000 (p < 0,05) dan nilai R2 sebesar 0,883 (88,3%). Mayoritas responden melaporkan tingkat body dissatisfaction yang tinggi (71,6%) dan kecemasan sosial yang tinggi (77,2%). Selain itu, ditemukan bahwa durasi penggunaan media sosial memiliki perbedaan signifikan terhadap tingkat kecemasan sosial, di mana penggunaan yang lebih lama cenderung meningkatkan kecemasan sosial. Namun, tidak ada perbedaan signifikan dalam kecemasan sosial berdasarkan tingkat pendidikan. Keterbaruan penelitian ini terletak pada fokus yang diarahkan secara spesifik pada remaja perempuan pengguna media sosial di Kabupaten Karawang, sebuah populasi yang jarang diteliti dalam konteks hubungan antara body dissatisfaction dan kecemasan sosial.
An Examination of Self-Concept and Consumptive Behavior: The Phenomenon of Online Shopping Jasmine, Yufita; Dimala, Cempaka Putrie; Maulidia, Ananda Saadatul
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i4.16833

Abstract

One of the basic elements that influences consumer behavior is self-concept. Online shopping is most often done by adolescents aged 18-21 years. This study aims to examine the influence of self-concept on consumer behavior in online shopping among adolescents in Karawang Regency. Participants in this study were adolescents aged between 12 and 21 years totaling 204 and using accidental sampling for this study. The Self-Concept Scale (PSC) contains eighteen valid questions on the Self-Concept Scale (reliability α = 0.942) and the Consumptive Behavior Scale twenty-three valid questions on the Consumptive Behavior Scale (reliability α = 0.948). Specifically, self-concept has an impact on consumer behavior (sig 0.000 <0.05). The regression coefficient of the self-concept variable is -0.155 which means there is a negative influence between self-concept and consumer behavior in online shopping among adolescents in Karawang Regency. Adolescents who have a high and positive self-concept tend to be wiser in shopping, while those with a low self-concept are more susceptible to external influences and more likely to engage in excessive consumer behavior.Salah satu elemen mendasar yang mempengaruhi perilaku konsumtif adalah konsep diri. Belanja online paling sering dilakukan oleh remaja yang berada di rentang usia 18-21 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh konsep diri terhadap perilaku konsumtif dalam berbelanja online pada remaja di Kabupaten Karawang. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja yang berusia antara 12 hingga 21 tahun yang berjumlah 204 dan menggunakan accidental sampling untuk penelitian ini. Skala Konsep Diri (PSC) terdapat delapan belas pertanyaan yang valid pada Skala Konsep Diri (reliabilitas α = 0,942) dan Skala Perilaku Konsumtif dua puluh tiga pertanyaan yang valid pada Skala Perilaku Konsumtif (reliabilitas α = 0,948). Secara khusus, konsep diri memiliki dampak pada perilaku konsumtif (sig 0.000<0.05). Koefisien regresi variabel konsep diri adalah -0.155 yang berarti ada pengaruh negatif antara konsep diri terhadap perilaku konsumtif dalam berbelanja online pada remaja di Kabupaten Karawang. Remaja yang memiliki konsep diri yang tinggi dan positif cenderung lebih bijaksana dalam berbelanja, sementara mereka yang memiliki konsep diri yang rendah lebih rentan terhadap pengaruh eksternal dan lebih cenderung terlibat dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.