Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Evaluasi Waktu Tunggu Pelayanan Obat dan Ketersediaan Obat pada Pasien Rawat Jalan dengan Penyakit Degeneratif Lina Komalasari; Nirmala Manik; Masita Sari Dewi; Kusno Haryanto
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2456

Abstract

Mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit dapat dinilai antara lain melalui waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat bagi pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara  waktu tunggu pelayanan obat dan ketersediaan obat dengan kepuasan pasien penyakit degeneratif  (hipertensi dan diabetes melitus) di poli penyakit dalam Rumah Sakit Kartika Husada Setu. Penelitian  menggunakan metode observasional kuantitatif dengan desain cross-sectional pada 74 responden yang  dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi  dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa 87,83% responden memperoleh waktu tunggu pelayanan obat yang memenuhi standar dan  95,95% memperoleh obat yang tersedia sesuai resep. Tingkat kepuasan pasien yang disampaikan menjadi 39,2%  sangat puas, 36,5% puas, dan 24,3% tidak puas. Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan  yang signifikan antara waktu tunggu pelayanan obat dengan kepuasan pasien (p-value = 0,004),  sedangkan ketersediaan obat tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepuasan pasien  (p-value = 0,130). Dapat disimpulkan bahwa waktu tunggu pelayanan obat berhubungan dengan kepuasan pasien rawat jalan, sedangkan ketersediaan obat tidak berhubungan secara signifikan dengan  kepuasan pasien.
Analisis Hubungan Kualitas Pelayanan Kefarmasian dengan Tingkat Kepuasan pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi Gilang Aditia Perdiansyah; Kusno Haryanto; Nuzul Gyanata Adiwisastra; Sri Rachmi Firdausi
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2515

Abstract

Kepuasan pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan, khususnya bagi pasien hipertensi yang membutuhkan terapi berkelanjutan, dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada pasien menjadi salah satu faktor penentu utamanya di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Meskipun standar pelayanan kefarmasian telah diatur melalui regulasi pemerintah, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan informasi obat hingga waktu tunggu pelayanan, sehingga evaluasi terhadap hubungan antara kualitas pelayanan kefarmasian dan kepuasan pasien hipertensi menjadi penting, khususnya di Puskesmas Cikarang Kabupaten Bekasi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas pelayanan kefarmasian, tingkat kepuasan pasien hipertensi, serta hubungan keduanya berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, guna menjawab apakah kualitas pelayanan kefarmasian berhubungan signifikan dengan kepuasan pasien hipertensi di puskesmas tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan teknik accidental sampling terhadap 254 responden yang memenuhi kriteria inklusi; data dikumpulkan melalui kuesioner tervalidasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kefarmasian dan tingkat kepuasan pasien hipertensi secara umum berada pada kategori baik dan puas. Uji bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pelayanan kefarmasian secara keseluruhan dengan kepuasan pasien hipertensi (p=0,004), serta pada seluruh dimensi SERVQUAL yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy (masing-masing p=0,000), yang memperkuat pemahaman bahwa kelima dimensi tersebut secara konsisten berkontribusi terhadap kepuasan pasien hipertensi pada layanan kefarmasian di puskesmas. Dengan demikian, peningkatan mutu pelayanan kefarmasian perlu dilakukan secara berkelanjutan pada seluruh dimensi tersebut, dan penelitian selanjutnya disarankan menjangkau fasilitas kesehatan yang lebih beragam serta mempertimbangkan faktor lain yang turut memengaruhi kepuasan pasien.
Analisis Hubungan Karakteristik Pasien dengan Kepuasan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Cikarang Rosiana Putri; Nirmala Manik; Sri Rachmi Firdausi; Kusno Haryanto
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2624

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan primer di Puskesmas yang berperan penting dalam menjamin mutu dan kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik pasien rawat jalan (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jenis layanan asuransi pasien, dan frekuensi kunjungan) dengan tingkat kepuasan terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Cikarang periode Juni–Juli 2026. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional ini melibatkan 94 responden rawat jalan yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berdasarkan rumus Slovin. Data dikumpulkan menggunakan instrumen terstruktur yang telah teruji validitas (r hitung > 0,203) dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha > 0,70) mencakup lima dimensi SERVQUAL (Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 30–39 tahun (24,5%), berjenis kelamin perempuan (82,98%), berpendidikan SD dan SMA (masing-masing 41,49%), bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (70,2%), menggunakan layanan BPJS Kesehatan PBI (Penerima Bantuan Iuran) (65,96%), serta memiliki frekuensi kunjungan 1 kali (66%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa variabel usia memiliki hubungan yang signifikan secara bermakna dengan tingkat kepuasan pasien (p-value = 0,033. Sedangkan, jenis kelamin (p = 0,848), tingkat pendidikan (p = 0,219), pekerjaan (p = 0,924), jenis layanan (p = 0,543), dan frekuensi kunjungan (p = 0,762) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disimpulkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien berdasarkan usia dengan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Puskesmas Cikarang. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, jenis layanan asuransi pasien, dan frekuensi kunjungan terhadap tingkat kepuasan pasien.
Evaluasi Efektivitas Biaya Terapi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Bekasi Nasyah Suhartini; Ulyati Ulfah; Kusno Haryanto; Sri Rachmi Firdausi
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v5i1.2581

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan beban biaya pengobatan yang terus meningkat sehingga diperlukan analisis efektivitas biaya untuk menentukan terapi antidiabetik oral (ADO) yang paling efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi ADO pada pasien DM tipe 2 rawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi periode Januari–Mei 2026. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan deskriptif non-eksperimental menggunakan desain retrospektif. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis farmakoekonomi dilakukan menggunakan metode Cost Effectiveness Analysis (CEA) melalui perhitungan Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), serta uji Mann–Whitney untuk membandingkan efektivitas klinis dan biaya antar kelompok terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berusia <60 tahun (69%), berjenis kelamin perempuan (66%), dengan komorbid hipertensi (56%) dan rata-rata lama rawat inap 4,27±2,85 hari. Sulfonilurea merupakan golongan ADO yang paling banyak digunakan (49,4%), diikuti Biguanida (41,6%) dan Acarbose (9,1%). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada efektivitas klinis (p=0,313) maupun biaya medis langsung (p=0,144) antara kelompok Biguanida dan Sulfonilurea. Namun, berdasarkan analisis ACER dan ICER, Biguanida memiliki nilai ACER terendah sebesar Rp2.952,28/mg/dL dan berada pada posisi dominan (Kuadran II), sehingga menjadi terapi yang paling cost-effective.
PENGARUH KUALITAS SARANA PRASARANA DAN PELAYANAN KEFARMASIAN DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS PELANGGAN DI APOTEK SEHATI JABABEKA Muhammad Andika Pandu Pambudi; Abdul Rozak; Kusno Haryanto; Sri Rachmi Firdausi
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15149

Abstract

ABSTRACT The dynamic competition in health retail demands pharmacy managers to improve the quality of customer experience through the provision of physical facilities and the quality of pharmaceutical interactions. This study aimed to analyze the effects of facility quality and pharmaceutical services on customer loyalty at Sehati Jababeka Pharmacy, so that the results can provide an empirical basis for facility evaluation and the development of strategies to maintain customer loyalty. A quantitative analytical correlational approach with a cross-sectional design was applied to 96 respondents recruited through purposive sampling based on a margin of error of 10% from the monthly population. Data from a Likert-scale questionnaire were processed using multiple linear regression testing on SPSS version 26 software. The test results proved that pharmaceutical services made a positive and significant contribution to customer loyalty (B = 0.380; p < 0.001), whereas facility quality did not show a significant partial effect (B = 0.244; p = 0.090). Nevertheless, simultaneously, both variables significantly affected customer loyalty (F = 26.950; p < 0.001) with an R-squared value of 0.367. These findings indicate that customer loyalty in an industrial area is determined more by the quality of interaction and responsiveness of the staff than by physical support alone, making the improvement of interpersonal service quality the main priority in pharmacy management. ABSTRAK Dinamika persaingan ritel kesehatan menuntut pengelola apotek untuk membenahkan kualitas pengalaman pelanggan melalui penyediaan fasilitas fisik dan mutu interaksi kefarmasian. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kualitas sarana prasarana dan pelayanan kefarmasian terhadap loyalitas pelanggan di Apotek Sehati Jababeka, sehingga hasilnya dapat memberikan dasar empiris bagi evaluasi fasilitas dan pengembangan strategi merawat kesetiaan konsumen. Pendekatan kuantitatif analitik korelasional berdesain cross-sectional diterapkan terhadap 96 responden yang dijaring melalui purposive sampling berdasarkan toleransi kesalahan (margin of error) 10% dari populasi bulanan. Data kuesioner berskala Likert diolah menggunakan pengujian regresi linear berganda pada piranti SPSS versi 26. Hasil pengujian membuktikan bahwa pelayanan kefarmasian berkontribusi positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan (B = 0,380; p < 0,001), sementara kelayakan sarana prasarana tidak menunjukkan dampak parsial yang signifikan (B = 0,244; p = 0,090). Walau demikian, secara simultan kedua variabel terbukti memengaruhi loyalitas secara signifikan (F = 26,950; p < 0,001) dengan nilai R-squared sebesar 0,367. Temuan ini mengindikasikan bahwa loyalitas konsumen di kawasan industri lebih ditentukan oleh kualitas interaksi dan ketanggapan petugas ketimbang dukungan fisik semata, sehingga perbaikan mutu layanan interpersonal menjadi prioritas utama pengelolaan apotek.