Interfaith harmony remains a critical challenge in Indonesia’s plural society, where intolerance persists despite normative policy frameworks. Existing scholarship has rarely provided a systematic conceptual model linking Islamic compassion-based values to measurable indicators of harmony. Addressing this gap, this study examines the Ministry of Religious Affairs’ Kurikulum Berbasis Cinta (Love-Based Curriculum, KBC) and its relevance to strengthening tolerance, acceptance of difference, non-violence, and interreligious harmony. A qualitative descriptive design was employed, combining a systematic literature review of policy documents, peer-reviewed journal articles, and theoretical works. Data were extracted using a structured template and coded deductively around the values of mahabbah, rahmah, and amanah, and inductively to capture emergent themes. The analysis followed PRISMA guidelines to ensure transparency and rigor. Findings indicate three key contributions. First, KBC provides a coherent normative foundation that integrates spiritual, social, and ecological dimensions of education. Second, the values of mahabbah and rahmah are conceptually linked to empathy, tolerance, and conflict resolution, while amanah reinforces ecological responsibility and shared moral accountability. Third, the framework demonstrates that religious moderation can emerge as an outcome of KBC, moving beyond doctrinal instruction toward dialogical and inclusive practices. This study concludes that KBC offers a novel conceptual framework for embedding affective and ethical values into education. Future research should empirically test its implementation to assess its effectiveness in fostering sustainable interfaith harmony and social cohesion. ABSTRAKKerukunan antarumat beragama tetap menjadi tantangan krusial dalam masyarakat majemuk Indonesia, di mana intoleransi masih bertahan meskipun telah tersedia kerangka kebijakan normatif. Kajian sebelumnya jarang menyajikan model konseptual yang sistematis yang menghubungkan nilai-nilai berbasis cinta dalam Islam dengan indikator harmoni yang terukur. Untuk mengisi kekosongan tersebut, penelitian ini menelaah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Kementerian Agama serta relevansinya dalam memperkuat toleransi, penerimaan perbedaan, anti-kekerasan, dan kerja sama antaragama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan tinjauan sistematis terhadap dokumen kebijakan, studi akademik dan karya teoretis. Data diekstraksi menggunakan templat terstruktur dan dikodekan secara deduktif berdasarkan nilai mahabbah, rahmah, dan amanah, serta secara induktif untuk menangkap tema-tema baru. Analisis mengikuti pedoman PRISMA guna memastikan transparansi dan ketelitian. Temuan menunjukkan tiga poin utama. Pertama, Kurikulum Berbasis Cinta menyediakan landasan normatif yang koheren dengan mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis pendidikan. Kedua, nilai mahabbah dan rahmah terkait secara konseptual dengan empati, toleransi dan resolusi konflik; sedangkan amanah memperkuat tanggung jawab ekologis dan akuntabilitas moral bersama. Ketiga, kerangka ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat muncul sebagai hasil dari pedagogi berbasis cinta, melampaui pengajaran doktrinal menuju praktik dialogis dan inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menawarkan kerangka konseptual baru untuk mengintegrasikan nilai afektif dan etis dalam pendidikan. Penelitian lanjutan perlu menguji implementasinya secara empiris guna menilai efektivitasnya dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan kohesi sosial yang berkelanjutan.