Mupid Hidayat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MINISTRY BEYOND TOLERANCE: REFRAMING INTERFAITH HARMONY THROUGH KURIKULUM BERBASIS CINTA (KBC) IN INDONESIA Cahyati, Sri; Encep Syarief Nurdin; Yadi Ruyadi; Asep Dahliyana; Mupid Hidayat; Warlim; Kama Abdul Hakam; Ganjar Muhammad Ganeswara
Harmoni Vol. 24 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v24i2.946

Abstract

Interfaith harmony remains a critical challenge in Indonesia’s plural society, where intolerance persists despite normative policy frameworks. Existing scholarship has rarely provided a systematic conceptual model linking Islamic compassion-based values to measurable indicators of harmony. Addressing this gap, this study examines the Ministry of Religious Affairs’ Kurikulum Berbasis Cinta (Love-Based Curriculum, KBC) and its relevance to strengthening tolerance, acceptance of difference, non-violence, and interreligious harmony. A qualitative descriptive design was employed, combining a systematic literature review of policy documents, peer-reviewed journal articles, and theoretical works. Data were extracted using a structured template and coded deductively around the values of mahabbah, rahmah, and amanah, and inductively to capture emergent themes. The analysis followed PRISMA guidelines to ensure transparency and rigor. Findings indicate three key contributions. First, KBC provides a coherent normative foundation that integrates spiritual, social, and ecological dimensions of education. Second, the values of mahabbah and rahmah are conceptually linked to empathy, tolerance, and conflict resolution, while amanah reinforces ecological responsibility and shared moral accountability. Third, the framework demonstrates that religious moderation can emerge as an outcome of KBC, moving beyond doctrinal instruction toward dialogical and inclusive practices. This study concludes that KBC offers a novel conceptual framework for embedding affective and ethical values into education. Future research should empirically test its implementation to assess its effectiveness in fostering sustainable interfaith harmony and social cohesion. ABSTRAKKerukunan antarumat beragama tetap menjadi tantangan krusial dalam masyarakat majemuk Indonesia, di mana intoleransi masih bertahan meskipun telah tersedia kerangka kebijakan normatif. Kajian sebelumnya jarang menyajikan model konseptual yang sistematis yang menghubungkan nilai-nilai berbasis cinta dalam Islam dengan indikator harmoni yang terukur. Untuk mengisi kekosongan tersebut, penelitian ini menelaah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Kementerian Agama serta relevansinya dalam memperkuat toleransi, penerimaan perbedaan, anti-kekerasan, dan kerja sama antaragama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan tinjauan sistematis terhadap dokumen kebijakan, studi akademik dan karya teoretis. Data diekstraksi menggunakan templat terstruktur dan dikodekan secara deduktif berdasarkan nilai mahabbah, rahmah, dan amanah, serta secara induktif untuk menangkap tema-tema baru. Analisis mengikuti pedoman PRISMA guna memastikan transparansi dan ketelitian. Temuan menunjukkan tiga poin utama. Pertama, Kurikulum Berbasis Cinta menyediakan landasan normatif yang koheren dengan mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekologis pendidikan. Kedua, nilai mahabbah dan rahmah terkait secara konseptual dengan empati, toleransi dan resolusi konflik; sedangkan amanah memperkuat tanggung jawab ekologis dan akuntabilitas moral bersama. Ketiga, kerangka ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat muncul sebagai hasil dari pedagogi berbasis cinta, melampaui pengajaran doktrinal menuju praktik dialogis dan inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta menawarkan kerangka konseptual baru untuk mengintegrasikan nilai afektif dan etis dalam pendidikan. Penelitian lanjutan perlu menguji implementasinya secara empiris guna menilai efektivitasnya dalam membangun kerukunan antarumat beragama dan kohesi sosial yang berkelanjutan.
Peran mediasi perma dalam hubungan antara karakter siswa dan kualitas pembelajaran di sekolah menengah kejuruan Sumantri, Zulkifli; Mupid Hidayat; Imas Kurniawaty; Asep Dahliyana; Edi Suresman
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 13 No. 3 (2025): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1185100

Abstract

Peningkatan kualitas pembelajaran menuntut perhatian terhadap faktor psikologis siswa, khususnya karakter dan kesejahteraan mental yang berperan dalam menentukan keberhasilan akademik. Namun, keterkaitan antara karakter, PERMA wellbeing, dan kualitas pembelajaran pada konteks pendidikan vokasional masih jarang diteliti secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh karakter terhadap kualitas pembelajaran melalui PERMA wellbeing sebagai mediator. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori, data dikumpulkan dari 120 siswa SMK melalui teknik proportional stratified random sampling. Analisis dilakukan menggunakan SEM-PLS dengan evaluasi model pengukuran dan struktural. Hasil menunjukkan bahwa karakter berpengaruh signifikan terhadap PERMA wellbeing, dan PERMA memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pembelajaran. Sementara itu, pengaruh langsung karakter terhadap kualitas pembelajaran tidak signifikan, tetapi mediasi PERMA terbukti kuat dengan VAF sebesar 61%. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas pembelajaran lebih banyak dipengaruhi kondisi psikologis internal siswa dibandingkan karakter secara langsung. Implikasi penelitian menekankan perlunya integrasi pendidikan karakter dan program penguatan wellbeing untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mendukung pencapaian SDG 3 dan SDG 4.