Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Efektivitas Sitikolin Dan Pirasetam Pada Perbaikan Neurologis Pasien Stroke Iskemik Di Rsud H. Boejasin Pelaihari Halisa, Siti N; Jihan, Jihan; Ismail, Hasan; Mulyani, Risya; Miranti, Rizka M
Journal of Medicine and Health Vol 7 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jmh.v7i2.10379

Abstract

Stroke iskemik merupakan salah satu penyebab utama kecacatan neurologis yang memerlukan intervensi farmakologis yang tepat. Sitikolin dan pirasetam merupakan agen neuroprotektif yang umum digunakan dalam praktik klinis, namun perbandingan efektivitas keduanya masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas kedua obat tersebut terhadap perbaikan fungsi neurologis pasien stroke iskemik, yang dinilai berdasarkan perubahan skor Glasgow Coma Scale (GCS). Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan potong lintang dan data retrospektif. Sebanyak 57 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima sitikolin (n=29) dan kelompok yang menerima pirasetam (n=28). Kedua terapi diberikan secara terpisah dengan dosis sitikolin 500–1.000 mg/hari dan pirasetam 4,8–9,6 g/hari selama 7–14 hari perawatan. Analisis statistik menunjukkan peningkatan skor GCS yang signifikan setelah terapi, baik pada kelompok sitikolin (rerata skor 10,5 menjadi 12,8; p<0,001) maupun pada kelompok pirasetam (rerata skor 10,7 menjadi 12,6; p=0,027). Namun, uji Mann–Whitney tidak menunjukkan perbedaan efektivitas yang bermakna antara kedua kelompok (p=0,821). Temuan ini menunjukkan bahwa sitikolin dan pirasetam sama-sama efektif dalam meningkatkan fungsi neurologis pada pasien stroke iskemik, dan keduanya dapat digunakan secara setara berdasarkan pertimbangan klinis dan ketersediaan obat.
Edukasi dan Pemberian Informasi Obat Penyakit Diabetes Melitus di Kampung Biru: Community Education and Drug Information Provision on Diabetes Melitus in Kampung Biru Mulyani, Risya; Hafizah, Nurul; Riauwati, Rossa; Sukmawati, Anita; Hairi, Dewi Gulyla; Mulyani, Evi
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 10 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i10.10229

Abstract

The high prevalence of disease and limited public understanding of appropriate medication use prompted the implementation of a community service program in Kampung Biru, Banjarmasin City. This activity aimed to enhance community knowledge of degenerative diseases through group-based education, post-tests, satisfaction surveys, and the distribution of educational materials and drug information by the service team. The program involved collaboration among 17 pharmacy education institutions, healthcare professionals from the local health center (Puskesmas), and professional organizations. A total of 58 participants attended the event, 10 of whom were identified with elevated blood glucose levels. Evaluation results indicated an increase in average post-test scores compared to pre-test scores, reflecting improved understanding following the educational intervention. Challenges such as time constraints and limited participant numbers were addressed by dividing the group and rotating service schedules. Educational leaflets were also provided to reinforce comprehension. Most participants reported high satisfaction and demonstrated better awareness regarding their health conditions and the proper, safe use of medications. This program contributed positively to increasing public awareness of the importance of preventing and managing degenerative diseases, particularly diabetes mellitus.
Kecerdasan Emosional Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kota Banjarmasin: Emotional Intelligence of Pharmacists in Pharmaceutical Service Banjarmasin City Purnama, Syahida; Mulyani, Risya; Ismail, Hasan; Muthaharah, Mustika
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 4 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i4.2254

Abstract

Pharmacists are described as professionals in clinical competence and service orientation towards care. Pharmacists are required to have professionalism to build compliance, satisfaction, and the image of the pharmacist himself. However, professionalism alone is still not enough to build a pharmacist's image without having good emotional intelligence, because a pharmacist with good emotional intelligence can control himself, understand patients' feelings, and build good relationships with patients. To improve service quality and customer satisfaction and build a good image of the pharmacist profession, a strategy is needed not only in professionalism but also in the need to build courtesy or courtesy values, namely emotional intelligence. This study aims to determine pharmacists' emotional intelligence in pharmacies in Banjarmasin city. The research method used was cross-sectional using a questionnaire instrument. In this study, the results of low pharmacist emotional intelligence were 4 people (13.3%,) pharmacists with moderate emotional intelligence were 23 people (76.7%) and pharmacists who had high emotional intelligence were 3 people (10%). The results showed that pharmacists' emotional intelligence was still in the low and medium categories so it still needed to be improved. Keywords:          pharmacist, emotional intelligence, pharmaceutical services   Abstrak Apoteker digambarkan sebagai profesional dalam kompetensi klinis dan orientasi layanan terhadap kepedulian. Apoteker dituntut memiliki profesionalitas untuk membangun kepatuhan, kepuasan, dan citra apoteker itu sendiri. Akan tetapi profesionalitas saja masih belum cukup untuk membangun citra apoteker tanpa memiliki kecerdasan emosional yang baik, karena seorang apoteker dengan kecerdasan emosional yang baik dapat mengendalikan dirinya sendiri, memahami perasaan pasien dan membangun hubungan yang baik kepada pasien. Sebagai upaya peningkatan kualitas layanan dan kepuasan konsumen serta membangun citra yang baik terhadap profesi apoteker diperlukan strategi bukan hanya dalam profesionalitas saja tetapi juga perlunya membangun courtesy atau nilai kesopanan yaitu kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecerdasan emosional apoteker yang bekerja di apotek di kota Banjarmasin. Metode penelitian yang digunakan cross-sectional menggunakan instrument berupa kuesioner. Dalam penelitian ini didapatkan hasil kecerdasan emosional apoteker rendah sebanyak 4 orang (13,3%,) apoteker dengan kecerdasan emosional sedang sebanyak 23 orang (76,7%) dan apoteker yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sebanyak 3 orang (10%). Jadi hasil penelitian menunjukkan kecerdasan emosional apoteker masih ada dalam kategori rendah dan sedang sehingga masih perlu ditingkatkan. Kata Kunci:         apoteker, kecerdasan emosional, pelayanan kefarmasian