Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Evaluasi Negatif dalam Kosakata Ujaran Kebencian di Twitter Perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Suriadi, Suriadi; Baharman, Baharman
Nuances of Indonesian Language Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : PPJB-SIP (Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/nila.v6i2.1291

Abstract

This research aims to analyze the motives behind the use of hate speech vocabulary features on Twitter. The research was conducted using a descriptive qualitative method. Data was collected through three stages: carefully reading tweets containing hate speech, documenting the tweets in the form of screenshots, and recording the tweets in a data classification table. Subsequently, the data was analyzed using Norman Fairclough's critical discourse analysis theory, encompassing text analysis, interpretation of discourse context, and explanation of social practice. The data analysis focused on the negative evaluation of hate speech. The results of the data analysis show that the negative evaluation of hate speech takes the form of insults directed at an individual's personality and insults directed at physical appearance (body shaming). These utterances aim to discredit certain parties and denigrate others.
Peran Mahasiswa dalam Manajemen Produksi Film Dokudrama “Daeng Mangalle: Pangeran Makassar” sebagai Upaya Pelestarian Budaya Lokal M Faidil; Muh Alun Anugrah Pratama; Suriadi, Suriadi; Elivia Tandiolah; Nisa, Nisa; Aditya Nugroho
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.572

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan melestarikan budaya lokal Makassar melalui produksi film dokudrama “Daeng Mangalle” sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam manajemen produksi film berbasis proyek. Metode yang digunakan bersifat aplikatif dan kolaboratif dengan pendekatan Project-Based Learning yang mencakup tahap pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi. Pada tahap pra-produksi, mahasiswa melakukan riset historis, penyusunan naskah, perencanaan logistik, serta pembentukan kru; tahap produksi dilaksanakan melalui syuting intensif selama sembilan hari di lokasi historis seperti Maros, Benteng Somba Opu, dan Benteng Rotterdam; dan tahap pascaproduksi mencakup penyuntingan film, evaluasi peran mahasiswa, serta penyusunan dokumentasi kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa dokudrama efektif sebagai media pelestarian budaya karena mampu merekontekstualisasi nilai sejarah menjadi narasi visual yang mudah dipahami generasi muda. Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai departemen, seperti Talent Coordinator, Clapper, Aktor, dan Wardrobe, menghasilkan koordinasi produksi yang teratur sekaligus memastikan representasi budaya Bugis-Makassar tetap autentik. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya audiovisual yang menghidupkan kembali figur Daeng Mangalle, tetapi juga memberikan kontribusi edukatif melalui peningkatan keterampilan manajerial, kerja kolaboratif, literasi budaya, dan profesionalisme mahasiswa dalam industri kreatif. Dengan demikian, produksi film dokudrama terbukti menjadi strategi pengabdian yang efektif untuk menjaga warisan budaya lokal melalui pendekatan kreatif dan berbasis teknologi.
Eksklusi dalam Pemberitaan Kang Dedi Mulyadi dan Aura Cinta: Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen Ayu Lestari Syamsur; Suriadi Suriadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1521

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktor yang dimarjinalkan melalui strategi eksklusi dalam pemberitaan. Kajian dilakukan dengan pisau bedah analisis wacana kritis Theo Van Leeuwen, yang menyoroti strategi eksklusi: pasivasi, nominalisasi, dan penggantian anak kalimat. Data penelitian diambil dari tiga artikel berita, yaitu semarang.inews.id, mamikos.com, dan depok.tribunnews.com yang membahas Kang Dedi Mulyadi dan Aura Cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pasivasi, nominalisasi, dan penggantian anak kalimat secara sistematis mengaburkan peran aktor sosial dan mengalihkan fokus pembaca pada objek atau isu yang diberitakan. Narasi yang terbentuk cenderung menempatkan Aura Cinta sebagai figur kontroversial. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi eksklusi dalam teks berita dapat mengaburkan transparansi serta akuntabilitas dalam penyajian informasi.
Wacana Ideologi Perlawanan dalam Tuntutan Rakyat di Media Sosial: Perspektif Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk Suriadi Suriadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2465

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana ideologi perlawanan rakyat direproduksi dalam wacana “8 Tuntutan Rakyat” yang beredar di media sosial selama aksi nasional Agustus–September 2025. Masalah penelitian berangkat dari meningkatnya penggunaan ruang digital sebagai arena artikulasi politik publik di tengah krisis legitimasi kekuasaan dan ketidakadilan sosial. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk, penelitian ini memadukan analisis struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial untuk menguraikan bagaimana bahasa berfungsi sebagai instrumen ideologis dalam pembentukan kesadaran kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana “8 Tuntutan Rakyat” mengartikulasikan empat domain ideologi utama: anti-korupsi dan moralitas kekuasaan, reformasi institusional dan desentralisasi kekuasaan, keadilan ekonomi dan kebijakan publik inklusif, serta hak asasi manusia dan demokrasi partisipatif. Secara tekstual, struktur kalimat imperatif dan diksi evaluatif memperkuat legitimasi moral rakyat dalam menuntut perubahan; secara kognitif, wacana tersebut mencerminkan kesadaran kolektif mengenai urgensi pemulihan nilai moral dan keadilan sosial; dan secara sosial, wacana tersebut berfungsi sebagai arena simbolik yang menantang dominasi politik serta memperjuangkan otonomi moral dalam struktur kekuasaan negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa dalam wacana digital rakyat tidak hanya merepresentasikan perlawanan, tetapi juga membangun fondasi legitimasi moral baru bagi demokrasi Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan model multidimensi Van Dijk dalam studi aktivisme digital, sedangkan secara empiris memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana wacana rakyat membentuk resistensi politik melalui praktik bahasa.
Narratives of speaking anxiety under evaluative pressure in students’ classroom presentations: A communication apprehension perspective by DeVito Baharman, Baharman; Djumingin, Sulastriningsih; Suriadi, Suriadi; Safitri, Nur Anita Syamsi
LITERA Vol. 25 No. 1: LITERA (MARCH 2026)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v25i1.96165

Abstract

Classroom presentations in higher education not only function as a means of developing students’ speaking skills but also frequently become evaluative situations that trigger speaking anxiety. This study focuses on students’ narratives of speaking anxiety under evaluative pressure in classroom presentations by employing DeVito’s concept of communication apprehension. This study aimed to explain how students narrate their experiences of speaking anxiety and identify the main categories that shape those experiences. This study employed a descriptive qualitative approach with a narrative analysis design. Data were collected through a Google Form containing open-ended questions distributed to all respondents and were then analyzed through the stages of data condensation, coding, categorization, data display, and conclusion drawing and verification. The findings show that students’ speaking anxiety is primarily shaped by fear of verbal/cognitive errors, fear of negative audience evaluation, performative/nonverbal symptoms, feelings of shame or lack of confidence, lack of experience and preparation, and previous negative experiences. The conclusion of this study confirms that communication apprehension in classroom presentations is not merely an individual feeling of nervousness but a communicative experience shaped by evaluative pressure and students’ meaning-making of errors, audience responses, and the social risks of speaking.
Peningkatan Kualitas Bahan Bacaan Melalui Buku Cerita Anak Dwibahasa Produk Penerjemahan Suriadi Suriadi; Lili Nur Lisdawati; Asma Nur; Muhammad Ilham; Andi Fatimah Yunus
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v5i4.2567

Abstract

Peningkatan literasi anak merupakan fondasi penting dalam membangun generasi yang cerdas dan berkarakter, terutama dalam menghadapi tantangan era globalisasi. Salah satu strategi yang efektif untuk mendukung penguatan literasi adalah penyediaan bahan bacaan berkualitas, termasuk buku cerita anak dwibahasa yang mampu memadukan nilai edukatif, keterbacaan, dan pelestarian budaya. Kegiatan Revisi dan Finalisasi Buku Cerita Anak Dwibahasa Produk Penerjemahan dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif yang melibatkan penulis, penyunting, ilustrator, pengatak, serta narasumber dari instansi terkait seperti Pusat Perbukuan dan Pusat Penguatan dan Pemberdayaan Bahasa. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diselenggarakan dalam bentuk lokakarya intensif yang mencakup sosialisasi kebijakan, penyuntingan terstruktur, revisi konten dan ilustrasi, finalisasi produk, serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas terjemahan, kesesuaian konteks budaya, keterbacaan, serta integrasi antara unsur visual dan naratif, sehingga buku-buku yang dihasilkan layak diterbitkan dan didistribusikan secara nasional. Selain menghasilkan produk bacaan yang bermutu, kegiatan ini juga memperlihatkan model kerja kolaboratif yang efektif dalam pengembangan bahan bacaan anak yang inklusif, edukatif, dan mendukung pelestarian bahasa daerah. Buku cerita anak dwibahasa yang dihasilkan dapat menjadi media yang efektif dalam meningkatkan minat baca, kemampuan literasi, dan pembentukan karakter anak sejak usia dini.
Aksi Literasi Kreatif : Kelas Menulis Puisi dan Publikasi Antologi Puisi Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 27 Makassar Arianti Talib; Intan Marjan; Suriadi Suriadi; Nisa Nisa; Latifa Turohma; Resmadyar Resmadyar
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i1.730

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kreatif siswa melalui program Aksi Literasi Kreatif: Kelas Menulis Puisi dan Publikasi Antologi Puisi bagi siswa kelas VIII SMPN 27 Makassar. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan literasi siswa, khususnya keterampilan menulis dan membaca puisi, sebagai bagian dari pengembangan kreativitas, kepekaan bahasa, keberanian berekspresi, dan budaya literasi sekolah. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk pelatihan interaktif dan pendampingan partisipatif yang meliputi tahap perencanaan, asesmen kebutuhan, registrasi peserta, penyampaian materi menulis puisi, penyampaian materi membaca puisi, diskusi, praktik kreatif, evaluasi, penerbitan buku antologi puisi, dan penyerahan buku kepada pihak sekolah. Partisipan kegiatan adalah siswa kelas VIII SMPN 27 Makassar yang terlibat dalam proses pembelajaran menulis puisi dan publikasi karya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh peningkatan pemahaman mengenai proses kreatif menulis puisi, terutama dalam menemukan ide dari pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, perasaan, dan peristiwa sederhana. Siswa juga memahami bahwa puisi tidak harus panjang, sedih, atau menggunakan kata-kata sulit, tetapi dapat dibangun melalui diksi, imajinasi, larik, bait, dan makna yang sesuai. Dalam aspek membaca puisi, siswa memperoleh pemahaman tentang pentingnya penghayatan, vokal, intonasi, ekspresi, jeda, dan keberanian tampil di depan umum. Luaran utama kegiatan ini adalah terbitnya buku antologi puisi siswa sebagai bentuk apresiasi terhadap karya peserta sekaligus bukti nyata penguatan gerakan literasi sekolah. Dengan demikian, kegiatan ini berimplikasi positif terhadap peningkatan minat literasi, keterampilan menulis kreatif, kepercayaan diri, dan budaya berkarya siswa. Program ini dapat dijadikan model pembelajaran literasi kreatif yang inovatif, produktif, dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.
METAPHORS OF SOCIAL JUSTICE IN DIGITAL DISCOURSE: IDENTITY CONSTRUCTION AND MINORITY VOICES IN INDONESIA’S PROTESTS Mahmudah Mahmudah; Suriadi Suriadi; Filawati Filawati
Jurnal Gramatika Vol 12, No 1 (2026): Spring Issue (April-September)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2026.v12i1.10565

Abstract

Social justice protests in digital discourse increasingly rely on metaphor to articulate political demands, construct collective identity, and amplify marginalized voices. However, limited research has examined how metaphors function as ideological tools in postcolonial protest discourse, particularly in Indonesia. Addressing this gap, this study critically analyzes social justice metaphors circulating in Indonesian digital protests from August to September 2025 to explore how language constructs political identity and represents minority voices. Drawing on Teun A. van Dijk’s Critical Discourse Analysis framework, this qualitative study examines seventeen widely circulated protest texts from social media platforms. The analysis integrates textual structure, social cognition, and socio-political context to identify dominant metaphorical patterns and their ideological functions. The findings reveal five major metaphor categories: spatial power, institutional justice, moral, economic justice, coercive, repressive state, and democratic solidarity. These metaphors function to delegitimize state coercion, frame social inequality as a moral crisis, and construct “the people” as ethical political actors. Importantly, metaphors of solidarity and justice provide discursive space for marginalised groups, such as workers, students, and victims of state violence, to assert their legitimacy in the public sphere. This study argues that metaphors in digital protest discourse operate not merely as rhetorical devices but as instruments of resistance that challenge dominant power structures and reconfigure political identity. By foregrounding Indonesia’s postcolonial context, the research extends critical metaphor studies beyond Western-centric analyses and highlights the role of digital discourse in shaping contemporary democratic struggles. Future research is encouraged to adopt multimodal and comparative approaches to explore further the relationship between metaphor, ideology, and minority representation in global protest movements.
The Digital Communication Media Reliance and its Implications on Students' Speaking Skills from The Perspective of Media System Dependency Theory Baharman Baharman; Suriadi Suriadi
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8548

Abstract

The development of digital communication media has reshaped how students interact and practice speaking skills. This study aims to examine how dependency on digital communication media influences students’ face-to-face speaking skills by situating their language experiences within the framework of Media System Dependency Theory (Ball-Rokeach & DeFleur, 1976). The central problem addressed in this study arises from the growing comfort associated with speaking through digital media, which does not always correspond to readiness for speaking in offline contexts. This research adopts a qualitative approach with a descriptive–interpretative design. Data were obtained from reflective responses provided by 18 students and collected through an online open-ended questionnaire. The findings reveal three main results. First, digital communication media function as a means of emotional regulation by reducing anxiety and enhancing a sense of safety in speaking. Second, media dependency contributes to a shift in communication practices from face-to-face oral interaction to mediated communication, thereby reducing the intensity of direct speaking practice. Third, this shift has implications for decreased self-confidence, increased awkwardness, and reduced fluency in face-to-face speaking situations. The study concludes that media dependency shapes a contextual and performative orientation toward speaking. Theoretically, these findings extend Media System Dependency Theory into the field of language education by emphasizing that speaking skills constitute a linguistic practice shaped by systemic relations among individuals, media, and social contexts. Abstrak Perkembangan media komunikasi digital telah mengubah cara mahasiswa berinteraksi dan melatih keterampilan berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana ketergantungan terhadap media komunikasi digital memengaruhi keterampilan berbicara tatap muka mahasiswa dengan menempatkan pengalaman berbahasa mereka dalam kerangka Media System Dependency Theory yang dikemukakan oleh Ball-Rokeach dan DeFleur (1976). Permasalahan utama dalam penelitian ini muncul dari meningkatnya kenyamanan berbicara melalui media digital yang tidak selalu sejalan dengan kesiapan berbicara dalam konteks luring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data diperoleh dari respons reflektif 18 mahasiswa yang dikumpulkan melalui kuesioner terbuka secara daring. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, media komunikasi digital berfungsi sebagai sarana regulasi emosional dengan mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa aman dalam berbicara. Kedua, ketergantungan media berkontribusi terhadap pergeseran praktik komunikasi dari interaksi lisan tatap muka menuju komunikasi bermedia sehingga mengurangi intensitas latihan berbicara secara langsung. Ketiga, pergeseran tersebut berdampak pada menurunnya rasa percaya diri, meningkatnya kecanggungan, dan berkurangnya kelancaran dalam situasi berbicara tatap muka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketergantungan terhadap media membentuk orientasi berbicara yang bersifat kontekstual dan performatif. Secara teoretis, temuan ini memperluas Media System Dependency Theory ke dalam bidang pendidikan bahasa dengan menegaskan bahwa keterampilan berbicara merupakan praktik kebahasaan yang dibentuk oleh relasi sistemik antara individu, media, dan konteks sosial.