Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Evaluasi Negatif dalam Kosakata Ujaran Kebencian di Twitter Perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Suriadi, Suriadi; Baharman, Baharman
Nuances of Indonesian Language Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : PPJB-SIP (Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/nila.v6i2.1291

Abstract

This research aims to analyze the motives behind the use of hate speech vocabulary features on Twitter. The research was conducted using a descriptive qualitative method. Data was collected through three stages: carefully reading tweets containing hate speech, documenting the tweets in the form of screenshots, and recording the tweets in a data classification table. Subsequently, the data was analyzed using Norman Fairclough's critical discourse analysis theory, encompassing text analysis, interpretation of discourse context, and explanation of social practice. The data analysis focused on the negative evaluation of hate speech. The results of the data analysis show that the negative evaluation of hate speech takes the form of insults directed at an individual's personality and insults directed at physical appearance (body shaming). These utterances aim to discredit certain parties and denigrate others.
Peran Mahasiswa dalam Manajemen Produksi Film Dokudrama “Daeng Mangalle: Pangeran Makassar” sebagai Upaya Pelestarian Budaya Lokal M Faidil; Muh Alun Anugrah Pratama; Suriadi, Suriadi; Elivia Tandiolah; Nisa, Nisa; Aditya Nugroho
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.572

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan melestarikan budaya lokal Makassar melalui produksi film dokudrama “Daeng Mangalle” sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam manajemen produksi film berbasis proyek. Metode yang digunakan bersifat aplikatif dan kolaboratif dengan pendekatan Project-Based Learning yang mencakup tahap pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi. Pada tahap pra-produksi, mahasiswa melakukan riset historis, penyusunan naskah, perencanaan logistik, serta pembentukan kru; tahap produksi dilaksanakan melalui syuting intensif selama sembilan hari di lokasi historis seperti Maros, Benteng Somba Opu, dan Benteng Rotterdam; dan tahap pascaproduksi mencakup penyuntingan film, evaluasi peran mahasiswa, serta penyusunan dokumentasi kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa dokudrama efektif sebagai media pelestarian budaya karena mampu merekontekstualisasi nilai sejarah menjadi narasi visual yang mudah dipahami generasi muda. Keterlibatan mahasiswa dalam berbagai departemen, seperti Talent Coordinator, Clapper, Aktor, dan Wardrobe, menghasilkan koordinasi produksi yang teratur sekaligus memastikan representasi budaya Bugis-Makassar tetap autentik. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya audiovisual yang menghidupkan kembali figur Daeng Mangalle, tetapi juga memberikan kontribusi edukatif melalui peningkatan keterampilan manajerial, kerja kolaboratif, literasi budaya, dan profesionalisme mahasiswa dalam industri kreatif. Dengan demikian, produksi film dokudrama terbukti menjadi strategi pengabdian yang efektif untuk menjaga warisan budaya lokal melalui pendekatan kreatif dan berbasis teknologi.
Eksklusi dalam Pemberitaan Kang Dedi Mulyadi dan Aura Cinta: Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen Ayu Lestari Syamsur; Suriadi Suriadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1521

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktor yang dimarjinalkan melalui strategi eksklusi dalam pemberitaan. Kajian dilakukan dengan pisau bedah analisis wacana kritis Theo Van Leeuwen, yang menyoroti strategi eksklusi: pasivasi, nominalisasi, dan penggantian anak kalimat. Data penelitian diambil dari tiga artikel berita, yaitu semarang.inews.id, mamikos.com, dan depok.tribunnews.com yang membahas Kang Dedi Mulyadi dan Aura Cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pasivasi, nominalisasi, dan penggantian anak kalimat secara sistematis mengaburkan peran aktor sosial dan mengalihkan fokus pembaca pada objek atau isu yang diberitakan. Narasi yang terbentuk cenderung menempatkan Aura Cinta sebagai figur kontroversial. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi eksklusi dalam teks berita dapat mengaburkan transparansi serta akuntabilitas dalam penyajian informasi.
Wacana Ideologi Perlawanan dalam Tuntutan Rakyat di Media Sosial: Perspektif Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk Suriadi Suriadi
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2465

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana ideologi perlawanan rakyat direproduksi dalam wacana “8 Tuntutan Rakyat” yang beredar di media sosial selama aksi nasional Agustus–September 2025. Masalah penelitian berangkat dari meningkatnya penggunaan ruang digital sebagai arena artikulasi politik publik di tengah krisis legitimasi kekuasaan dan ketidakadilan sosial. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis Teun A. van Dijk, penelitian ini memadukan analisis struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial untuk menguraikan bagaimana bahasa berfungsi sebagai instrumen ideologis dalam pembentukan kesadaran kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana “8 Tuntutan Rakyat” mengartikulasikan empat domain ideologi utama: anti-korupsi dan moralitas kekuasaan, reformasi institusional dan desentralisasi kekuasaan, keadilan ekonomi dan kebijakan publik inklusif, serta hak asasi manusia dan demokrasi partisipatif. Secara tekstual, struktur kalimat imperatif dan diksi evaluatif memperkuat legitimasi moral rakyat dalam menuntut perubahan; secara kognitif, wacana tersebut mencerminkan kesadaran kolektif mengenai urgensi pemulihan nilai moral dan keadilan sosial; dan secara sosial, wacana tersebut berfungsi sebagai arena simbolik yang menantang dominasi politik serta memperjuangkan otonomi moral dalam struktur kekuasaan negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa dalam wacana digital rakyat tidak hanya merepresentasikan perlawanan, tetapi juga membangun fondasi legitimasi moral baru bagi demokrasi Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan model multidimensi Van Dijk dalam studi aktivisme digital, sedangkan secara empiris memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana wacana rakyat membentuk resistensi politik melalui praktik bahasa.