Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS PERAN TIM LOKASI DALAM MANAJEMEN PRODUKSI FILM MENUJU PELAMINAN Syahputra, Andri; Sasongko, Hery; Fitri, Dynia
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.463

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tim lokasi dalam menunjang keberhasilan produksi film Menuju Pelaminan. Tim lokasi merupakan bagian integral dari proses produksi film yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan tempat pengambilan gambar, koordinasi lapangan, serta hubungan sosial dengan masyarakat di area produksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode observasi langsung dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim lokasi memiliki peran strategis dalam tiga tahap utama produksi, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, tim lokasi berperan dalam menentukan lokasi syuting, mengurus perizinan, dan menyiapkan logistik. Pada tahap produksi, mereka mengatur jalannya kegiatan di lapangan agar sesuai dengan rencana kerja. Sedangkan pada tahap pasca-produksi, tim lokasi memastikan pemulihan lokasi serta penyelesaian administrasi. Keberhasilan produksi film Menuju Pelaminan tidak terlepas dari profesionalitas, komunikasi, dan kemampuan adaptasi tim lokasi dalam mengatasi berbagai kendala di lapangan.
Long Take to Support Drama in the Film Women from Rote Island Director Jeremias Nyangoen Asyraf, Muhammad; Fitri, Dynia
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 4 No. 4 (2025): Vol. 4 No. 4 2025
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v4i4.931

Abstract

This study aims to reveal, examine, and analyze how the long take technique can support the dramatic elements in the film Women From Rote Island directed by Jeremias Nyangoen. The research method used is qualitative with a descriptive analysis approach. The results of the study show that the application of the long take technique in the film Women From Rote Island proves that the long take does not stand alone, but is combined with other cinematographic elements such as camera movement, framing, camera angle, and lighting, which is in accordance with the theories of Bordwell, Thompson & Smith, Blain Brown, Joseph Mascelli. This combination successfully supports the dramatic elements of conflict, suspense, surprise, and curiosity. The effective use of long takes provides an opportunity for the audience to feel the tension and emotions of the characters directly.
ASISTEN PENATA SUARA PADA WEB SERIES MALAM PERTAMA DI PRODUCTION HOUSE SINEMART JAKARTA BARAT Revilia; Fitri, Dynia
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.505

Abstract

Pentingnya kualitas audio yang jernih dan bebas gangguan dalam sebuah karya audio visual membuat peran Asisten Penata Suara (Sound Utility) menjadi sangat penting di lokasi syuting. Penelitian profesi ini bertujuan untuk memahami dan menerapkan secara langsung alur kerja, tugas, dan tanggung jawab seorang Asisten Penata Suara dalam produksi web series Malam Pertama di Production House Sinemart. Metode yang digunakan adalah Praktik Kerja Profesi (magang) dengan terlibat secara aktif dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari Pra-Produksi Meeting (PPM) dan workshop alat, hingga proses shooting di lapangan. Hasilnya, penulis berhasil melaksanakan tugas utama seperti mempersiapkan dan memasang mikrofon wireless pada pemain, mencatat sound report harian, melakukan final check peralatan sebelum take, serta memastikan sinyal audio aman dan bebas dari gangguan selama proses pengambilan gambar. Pengalaman ini memberikan wawasan mendalam mengenai penggunaan peralatan dan manajemen kerja tim suara profesional, yang sangat bermanfaat untuk pengembangan karir di industri perfilman.
SOUND UTILITY PADA FILM LOVE THERAPY DI BANYUMILI SOUND SERVIS JAKARTA Maisyarah, Siti; Sasongko, Hery; Fitri, Dynia
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.507

Abstract

Pengabdian ini dilakasnakan untuk Mata Kuliah Riset dan Pengembangan Profesi merupakan program pembelajaran lapangan yang bertujuan memberikan pengalaman kerja nyata kepada mahasiswa sesuai bidang keahliannya. Kegiatan ini dilaksanakan penulis di Banyumili Sound Servis Jakarta, sebuah tim profesional yang bergerak di bidang penataan suara film. Selama dua bulan, penulis terlibat dalam produksi film Love Therapy yang disutradarai oleh Ody C. Harahap dan diproduksi oleh MD Pictures. Dalam proyek tersebut, penulis menjalankan tugas sebagai Sound Utility dengan tanggung jawab utama memasang perangkat wireless, melakukan pengecekan kualitas audio, serta menyusun sound report selama proses produksi berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peran Sound Utility memiliki kontribusi penting dalam menjaga kualitas suara dan kelancaran kerja tim audio di lapangan. Program ini memberikan pengalaman profesional yang relevan bagi mahasiswa dalam memahami proses teknis dan kolaboratif dalam produksi film.
Editor’s Role in Event Video Loop Visual Identity Aqil, Sutan Muhammad; Fitri, Dynia
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i1.991

Abstract

Video loops are visual media used in events to build atmosphere and strengthen audience identity. The Bundafest Haibunda event utilizes video loops with a specific visual style aimed at mothers and families.This study aims to analyze the role of editors in shaping the visual identity of the Bundafest Haibunda eventvideo loops. The research uses a qualitative approach with participant observation methods, in which theauthor is directly involved as an editor in the production process. Data is obtained through observation ofthe editing process, visual documentation, and work experience reflections, then analyzed using RolandBarthes' semiotic approach which includes denotation, connotation, and myth. The results show that the editor's decisions in color selection, editing rhythm, and visual consistency play an important role inconstructing the meaning of warmth, cheerfulness, and emotional closeness. At the mythical level, the video loop represents the image of modern mothers as active, positive, and adaptive figures in the digitalspace. This study confirms that editors do not only play a technical role but also act as strategic actors inthe production of event-based media visual identities.
Resistance to Patriarchy in Minangkabau Cinema Prakarti DB, Vicia Dwi; Fitri, Dynia
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.5911

Abstract

This study examines forms of resistance to patriarchy in Minangkabau-themed cinema through an analysis of two films, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck and Surau dan Silek. Although Minangkabau society is widely recognized for its matrilineal kinship system, social practices and cinematic representations continue to reflect strong patriarchal values, particularly in regulating gender relations, marriage, and female honor. This research employs a descriptive qualitative approach using film text analysis, visual observation, and literature review. The analysis is grounded in Stuart Hall’s theory of representation and feminist film theory, with particular attention to patriarchy and the concept of the male gaze. The findings indicate that women’s resistance in Minangkabau cinema is rarely portrayed in overt or confrontational forms; instead, it emerges through symbolic, emotional, and moral expressions embedded in narrative structures, characterization, and visual strategies. Women are represented as ethical subjects who negotiate their identities amid the pressures of tradition, religion, and modernity. Consequently, Minangkabau cinema functions as a cultural space that both reflects and critiques the paradox between matrilineal ideology and patriarchal practice within Minangkabau society.