Communication Studies students are not always exempt from public speaking anxiety, even though public speaking skills are part of their academic requirements. This study aims to analyze the process of using and ascribing meaning to self-talk within the public speaking anxiety experiences of Communication Studies students in Yogyakarta. This research employs a qualitative approach with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) design. Data were gathered through in-depth interviews with six active students from several universities in Yogyakarta, selected using snowball sampling. The results indicate that anxiety is experienced through physical responses, concentration disruptions, and concerns over audience evaluation. The use of self-talk demonstrates dynamics before, during, and after performances, although its form and occurrence vary among informants. Internal dialogue is used to self-soothe, limit focus to the duration of the presentation, challenge anxiety-inducing thoughts, and evaluate post-performance experiences. However, some informants also experience self-criticism and remain uncertain about the benefits of self-talk for themselves. This study shows that self-talk should not only be understood as positive dialogue, but as intrapersonal communication whose meaning is shaped by anxiety experiences and the way individuals perceive their role demands as Communication Studies students. Mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak selalu terbebas dari kecemasan berbicara di depan umum (public speaking anxiety), meskipun keterampilan tersebut menjadi bagian dari tuntutan akademiknya. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses penggunaan dan pemaknaan self-talk dalam pengalaman kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa Ilmu Komunikasi di Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam mahasiswa aktif dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta yang dipilih menggunakan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dialami melalui respons fisik, gangguan konsentrasi, dan kekhawatiran terhadap penilaian audiens. Penggunaan self-talk memperlihatkan dinamika sebelum, saat, dan setelah tampil, meskipun bentuk serta kemunculannya berbeda pada setiap informan. Dialog internal digunakan untuk menenangkan diri, membatasi fokus pada durasi penampilan, mempertanyakan pikiran yang memicu kecemasan, serta mengevaluasi pengalaman setelah tampil. Namun, sebagian informan juga mengalami kritik diri dan belum dapat memastikan manfaat self-talk bagi dirinya. Penelitian ini memperlihatkan bahwa self-talk tidak hanya dapat dipahami sebagai dialog positif, tetapi sebagai komunikasi intrapersonal yang maknanya dibentuk oleh pengalaman kecemasan dan cara individu memandang tuntutan perannya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi.