Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Research Fair Unisri

PENGEMBANGAN KAWASAN EMBUNG LANGENSARI SEBAGAI IKON WISATA BATIK TULIS PEWARNA ALAM DI KOTA YOGYAKARTA Tutun Seliari, Kristian Oentoro & Sita Yuliastuti Amijaya
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.653 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.2561

Abstract

Kawasan Embung Langensari merupakan ruang terbuka hijau dan taman rekreasi masyarakat yang terletakdi tengah Kota Yogyakarta tepatnya di Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Di Embung langensari sering diadakan berbagai kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas–komunitas di Yogyakarta, bahkan setiap pagi dan sore hari cukup banyak pengunjung yang mendatangi kawasan ini sebagai tempat berolahraga, bersantai, hingga memancing. Disekitar Embung Langensari terdapat perajin batik yang tergabung dalam komunitas Paguyuban Batik Tulis Langensari (PBTLS). PBTLS merupakan komunitas perajin batik yang konsen terhadap batik pewarna alam. Kegiatan PBTLS sering diadakan di kawasan Embung Langensari. Pengembangan batik tulis warna alam di sekitar Embung Langensari diharapkan dapat menjadi potensi pengembangan wisata edukasi batik (educational tourism) di kota Yogyakarta. Keterlibatan masyarakat yang menekuni bidang batik secara langsung dapat mendukung Kota Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Arahan pengembangan Kawasan Embung Langensari sebagai destinasi wisata edukasi batik adalah dengan penanaman tanaman penghasil zat warna alam sebagai bagian dari lanskap ruang terbuka hijau di kawasan Embung Langensari dan regenerasi calon pembatik dengan melakukan kegiatan pelatihan batik di Embung Langensari. Kegiatan tersebut dapat dikemas sebagai salah satu atraksi sehingga para pengunjung nantinya dapat belajar membatik dengan pewarna alam yang dikelola oleh komunitas batik setempat, sehingga kedepannya Embung Langensari dapat menjadi ikon di Kota Yogyakarta sebagai pusat wisata batik pewarna alam yang merupakan tempat wisata budaya berbasis lingkungan (eco-culture tourism).Kata kunci: destinasi wisata, ikon wisata, wisata batik, batik warna alam, Embung Langensari
ANALISIS PENGEMBANGAN WIRAUSAHA BATIK TRADISIONAL DI SEKITAR EMBUNG LANGENSARI, YOGYAKARTA Kristian Oentoro, Sita Yuliastuti Amijaya & Tutun Seliari
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.677 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.2567

Abstract

Batik merupakan warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) asli Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2009. Kebijakan pemerintah untuk mengenakan seragam batik setiap hari Jumat di beberapa instansi swasta maupun pemerintah juga mendukung peningkatan penjualan batik di daerah masing-masing. Sebagai bentuk penguatan identitas budaya, kota Yogyakarta pada tahun 2014 mendapatkan gelar sebagai kota batik dunia oleh World Craft Council. Kemunculan beberapa pelaku usaha batik tradisional di sekitar Embung Langensari Yogyakarta perlu dikaji karena potensi batik di daerah ini jarang diketahui oleh sebagian besar masyarakat Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kendala pelaku usaha batik tradisional di sekitar Embung Langensari Yogyakarta. Pengumpulan data dalam penelitian menggunakan metode survei yang melibatkan 32 pelaku usaha batik sebagai responden, sedangkan analisis data dilakukan secara kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan 56% pelaku usaha batik berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan sebagian besar berusia 40-60 tahun. Fenomena berkembangnya wirausaha batik tradisional dari kalangan ibu rumah tangga disebabkan karena kegiatan membatik merupakan pekerjaan sambilan untuk mempersiapkan usaha di masa tua. Hasil penelitian juga memetakan tiga kendala utama, yakni (1) pemasaran batik tradisional, (2) penentuan harga pokok produksi, dan (3) pengembangan motif batik. Pembentukan organisasi pelaku batik tradisional merupakan salah satu solusi agar memperkuat dan menjaga keberlanjutan pengembangan wirausaha batik tradisional.Kata-kata kunci: Batik, Wirausaha, Embung Langensari, YogyakartaPENDAHULUANBatik
Mewujudkan Smart Kampung Melalui Pengelolaan Wisata Budaya dan Ekonomi Masyarakat Sita Yuliastuti Amijaya, Tutun Seliari & Kristian Oentoro
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.184 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.2610

Abstract

Smart city atau kota cerdas mengunggulkan sisi penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan kota, sehingga warga kota memiliki akses terbaik terhadap fasilitas infrastruktur kota secara lebih efektif dan efisien. Kenyataan yang terjadi pada masyarakat di kampung kota, kepuasan hidup mereka tidak melulu diukur pada aspek penguasaan teknologi dan keterjangkauannya terhadap teknologi informasi. Selain itu terdapat isu penting pada sisi transformasi peralihan dari masyarakat itu sendiri yang belum sepenuhnya mengusai teknologi informasi yang canggih menuju terwujudnya konsep kota cerdas dengan dukungan teknologi informasi yang terintegrasi. Kehidupan masyarakat di kampung kota tetap berjalan dan kualitas kehidupan juga tetap dapat terjaga. Studi ini dilakukan untuk menemukan dimensi kecerdasan kota pada masyakarat kampung terutama melalui parameter smart living dan smart economy. Studi kasus dilakukan pada masyarakat di Kampung Klitren yang bergerak menuju terwujudnya kampung wisata budaya dengan mengangkat kerajinan batik tulis pewarna alam sebagai salah satu andalan produk wisatanya. Tinjauan dimensi smart living dan smart economy dipilih pada penelitian ini untuk mengevaluasi aspek perkembangan wisata budaya dan ekonomi masyarakat melalui usaha kecil menengah (UKM). Metode kualitatif dalam bentuk kegiatan workshop dan pelatihan keterampilan batik tulis pewarnaan alami sesui untuk mengevalusi kedua aspek tersebut diatas.Kata-kata kunci: kota cerdas, batik tulis, wisata budaya, UKM