Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PEMANFAATAN KARBOKSIMETIL SELULOSA (CMC) SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN ETHANOL GEL DENGAN MENGKAJI PENGARUH KONSENTRASI DAN JUMLAH CMC Rifdah, Rifdah
Jurnal Distilasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam sejarahnya Ethanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar. Ethanol adalah salah satu bahan bakar alternatif (yang dapat diperbaharui) yang ramah lingkungan. Ethanol cair banyak memiliki kekurangan terutama dalam segi transportasi dan safety yaitu sulit untuk dibawa kemana – mana karena bahan bakar cair mudah sekali tumpah. Dari segi safety, bahan bakar cair mempunyai resiko yang besar untuk disimpan karena sifat volatilenya dan mudah sekali tersambar api. Karenanya perlu dilakukan pembuatan Ethanol gel. Ethanol gel dibuat dengan cara mencampurkan etanol cair dengan bahan pengental (CMC) dan diaduk dengan kecepatan hingga 1000 rpm. Pada laporan ini dilakukan variasi konsentrasi etanol cair dari 50%, 60%, 70%, 80%, dan 96% serta variasi jumlah CMC dari 1 gr, 2 gr, 3 gr, 4 gr, dan 5 gr. Setelah ditambahkan CMC, viskositas etanol meningkat dan membentuk gel. Diperoleh etanol gel terbaik pada konsentrasi 70% dengan temperatur nyala 476 oC dengan lama waktu nyala 1.84 menit. 
PENGARUH OPERASI TEMPERATUR PEMANASAN,WAKTU PEMANASAN TERHADAP PERSEN YIELD PADA PROSES PENGURASAN MINYAK BIJI KEMIRI MENGUNAKAN PERALATAN EXPELLER PRESSING Rifdah, Rifdah
Jurnal Distilasi Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v2i1.1145

Abstract

Kemiri ( Aleurites sp ) merupakan tanaman yang dapat tumbuh di areal termasuk di lahan kritis dan juga merupakan salah satu komoditas perkebunan yang potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini termasuk termasuk dalam familia Euphorbiaceae ( jarak-jarakan ).  Tanaman kemiri tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis dari sebelah Timur Asia hingga Fiji di kepulawan Pasifik. Di Indonesia sendiri tanaman ini  tersebar luas  hampir di seluruh wilayah Nusantara. Inti biji kemiri mengandung 60%  -  66% minyak kemiri.  Biji kemiri bermanfaat sebagai obat tradisional yaitu sebagai obat sakit gigi,demam dan bengkat sendi. Selain  itu juga digunakan sebagai bahan campuran  dalam pembuatan gula aren karena biji kemiri memudahkan pembekuan nira aren serta memberikan aroma dan rasa lebih nikmat pada gula aren tersebut.    Percobaan dilakukan terhadap pengurasan minyak kemiri dengan temperatur pemanasan, waktu pemanasan dan umur  biji kemiri yang berbeda. Temperatur pemanasan dilakukan  pada  40ºC; 500C; 600C; 700C; 800C, waktu pemanasan adalah 10 menit, 20 menit, 30 menit, 40 menit, 50 menit, dan umur biji kemiri adalah 1 minggu, 2 minggu, dan 4 minggu. Setelah pemanasan, inti biji  kemiri dipress hingga menghasilkan minyak dan minyak tersebut dianalisa. Uji atau analisa yang dilakukan meliputi dencity, indeks bias dan bilangan penyabunan.
PEMBUATAN BIOBRIKET DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG PEDAGANG JAGUNG REBUS DAN RUMAH TANGGA SEBAGAI BAHAN BAKAR ENERGI TERBARUKAN DENGAN PROSES KARBONISASI Rifdah, Rifdah; Herawati, Netty; Dubron, Faisal
Jurnal Distilasi Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v2i2.1202

Abstract

Biomassa merupakan sumber energi potensial yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar dari fosil. Biomassa dapat diubah menjadi briket arang yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi seperti untuk proses pengeringan dalam pengolahan karet remah dan sit asap. Briket arang biomassa atau biobriket dibuat dari arang biomassa baik berupa bagian yang memang sengaja dijadikan bahan baku briket maupun sisa atau limbah proses produksi/pengolahan agroindustri. Misalnya kayu, tempurung kelapa, arang tempurung kelapa sawit, limbah bambu, tongkol jagung, sekam padi, dan limbah batang tembakau dapat menjadi bahan baku untuk biobriket. Selain itu, limbah dari industri karet remah berupa tatal juga dapat dijadikan biobriket. Teknologi pembuatan biobriket banyak tersedia. Pembuatan biobriket memerlukan bahan penunjang seperti tanah liat, lem kanji, air, dan bahan pencampur lainnya. Komposisi bahan tersebut sangat tergantung dari jenis bahan baku untuk pembuatan biobriket. Sebelum dibuat biobriket, biomassa harus diubah terlebih dahulu menjadi arang, kemudian arang tersebut dihaluskan, dicampur dan dicetak dalam berbagai bentuk briket seperti silinder, kubus dan telur. Dari beberapa hasil penelitian, secara umum nilai kalor yang dihasilkan dari biobriket ternyata tidak berbeda nyata dibandingkan dengan briket batubara. Oleh karena itu, biobriket dapat digunakan sebagai bahan bakar proses pengeringan karet alam.
KAJIAN PENGARUH WAKTU DAN UKURAN LEMPENGAN TERHADAP LIMBAH CAIR INDUSTRI KAIN TENUN SONGKET DENGAN METODE ELEKTROKOAGULASI Melani, Ani; Lesmana, Andre Indra; Rifdah, Rifdah
Jurnal Distilasi Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v2i1.1140

Abstract

Salah satu metode alternatif pengolahan limbah yang berkembang saat ini adalah metode elektreokoagulasi. Elektrokoagulasi merupakan suatu proses koagulasi dengan menggunakan arus listrik searah melalui peristiwa elektrokoagulasi yaitu gejala dekomposisi elektrolit digunakan untuk mengolah air limbah. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat efisiensi penurunan kadar COD, pH dan TSS yang  terkandung dalam limbah cair industri  kain  tenun songket  setelah melalui proses elektrokoagulasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan elektrokoagulasi menggunakan lempengan alumunium sebagai anoda dan katoda. Penelitian ini mengolah limbah  cair  kain  tenun  songket di dalam beaker gelas dan dialiri listrik supaya ion–ion yang ada pada limbah cair  teradsobsi oleh ion–ion pengikat yang dilepaskan oleh elektroda pada alat elektrokoagulasi sehingga akan terjadi ikatan antara ion senyawa organik yang yang ada pada limbah cair dengan ion yang disebabkan oleh proses elektrokoagulasi. Sampel diambil kemudian dianalisa. Hasil analisa ini menunjukkan penurunan pH tertinggi  dan relatif baik yang dicapai pada tegangan ukuran lempeng 5 x 8 yaitu sebesar 20,73 % dalam waktu 60 menit.  Penurunan nilai COD tertinggi  diperoleh, pada  ukuran lempeng 5 x 8, yaitu sebesar 33,01 % dalam waktu 60 menit.  Penurunan nilai TSS tertinggi  diperoleh, pada  ukuran lempeng 5 x 8, yaitu sebesar 54,45 % dalam waktu 60 menit.
PEMBUATAN BIOGASOLINE DARI LIMBAH AMPAS TEBU DAN ECENG GONDOK DENGAN PROSES THERMAL CATALYTIC Herawaty, Netty; Rifdah, Rifdah; Pratama, M. Aditya
Jurnal Distilasi Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Distilasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jd.v2i2.1148

Abstract

Pemanfaatan biomassa yang dikonversikan menjadi bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil. Hal  ini dilakukan agar produksi bahan bakar fosil dapat beralih ke bahan bakar alternatif. Biomassa ini menjadi permasalahan yang cukup serius bagi pemerintah dikarenakan akan limbah yang menumpuk akan tetapi pemanfaatannya yang sedikit. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengolah biomassa limbah ampas tebu dan e ceng gondok menjadi biogasoline.  Dalam pemanfaatan biomassa ini menggunakan metode thermochemical salah satunya adalah metode thermal catalytic. Metode thermal catalytic adalah pendekomposisian bahan dengan menggunakan panas dan dibantu dengan adanya katalis untuk mempercepat reaksi tersebut. Dalam penelitian ini mengkaji pengaruh waktu (30,60,90,120,150,180,210,240 menit), temperatur (200,250,300?C), dan katalis (zeolite alam dan serbuk besi). Dari   data hasil penelitian ini diketahui %yield tertinggi pada kondisi optimal temperatur 300?C, waktu 150 menit, dan menggunakan katalis zeolite alam dengan %yield sebesar 64,40 %.
P PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN METODE ENZIMATIS MENGGUNAKAN SARI BONGGOL NANAS Rifdah Rifdah; Ani Melani; Aisyah Amini Reformis Intelekta
Jurnal Teknik Patra Akademika Vol 12 No 02 (2021): Jurnal Teknik Patra Akademika
Publisher : Politeknik Akamigas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.604 KB) | DOI: 10.52506/jtpa.v12i02.131

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki banyak pulau dan Indonesia termasuk negara produsen kelapa terbesar di dunia setelah Filipina. Hal ini merupakan peluang untuk pengembangan kelapa menjadi aneka produk yang bermanfaat, misalnya dengan menjadikan kelapa sebagai bahan baku pembuatan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) sehingga menaikkan nilai jual dari kelapa. Minyak kelapa murni memiliki banyak keunggulan yaitu proses pembuatan tidak membutuhkan biaya yang mahal, pengolahan yang sederhana dan tidak terlalu rumit. Metode enzimatis adalah salah satu metode dalam produksi VCO yang dapat menghasilkan produk dengan rendemen yang lebih banyak. Salah satu enzim yang bisa digunakan adalah enzim bromelin, dimana enzim ini akan menghidrolisis protein dan membuat minyak dapat terpisah dengan air dalam emulsi santan. Kirim santan yang digunakan adalah 200 ml dan variabel yang digunakan untuk diteliti adalah variasi waktu yaitu 24 jam, 36 jam, 48 jam, 60 jam, dan juga variasi konsentrasi ekstrak bonggol nanas yaitu 5 %, 10 %, 15 %, dan 20 %. Hasil penelitian pembuatan virgin coconut oil (VCO) dengan metode enzimatis menggunakan sari bonggol nanas yang terbaik sesuai SNI 7381 2008 adalah pada waktu inkubasi 24 jam dan konsentrasi ekstrak bonggol nanas 5 %. Dimana massa jenisnya adalah 0,9150 g/cm3, asam lemak bebas 0,133%, bilangan asam 0,1870, bilangan peroksida 1,8 meq/kg, dan untuk warnanya kuning bening.
PENINGKATAN KADAR BIOETANOL DARI KULIT NANAS DENGAN BEKAS CRACKING PERTAMINA RU III TERAKTIVASI SECARA KIMIA Ki agus Ahmad Roni; Rifdah Rifdah; Tri Susanto
Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan Vol 3 No 1 (2020): Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46774/pptk.v12i1.102

Abstract

Bioethanol is ethanol produced from glucose (sugar) fermentation, followed by the distillation process. Another method besides distillation is needed to increase the bioethanol produced. This study aims to increase the levels of bioethanol from pineapple skin using a cracking former catalyst by comparing the effectiveness of the use of chemically activated adsorbents using a base (NaOH) and acid (HCl). The adsorbent used in this study is the former RU III cracking catalyst, the FCC catalyst. The adsorbent is as a substitute for natural zeolite adsorbents, which are relatively expensive compared to the FCC catalyst. The results showed that the most effective ratio for bioethanol levels was 10 mL: 6 gr of adsorbent that activated by HCl, was 63.73%.
PEMANFAATAN AMPAS TEBU MENJADI PULP DENGAN PROSES PEROKSIDA ALKALI Kiagus Ahmad Roni; Rifdah Rifdah; Tri Susanto
Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan Vol 3 No 1 (2020): Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46774/pptk.v12i1.107

Abstract

Waste from sugar cane, bagasse or bagasse contains cellulose which is the main raw material for making pulp. The lack of utilization of sugarcane bagasse makes sugarcane bagasse into a pile of garbage that pollutes the environment. This research aims to make pulp from sugarcane bagasse using NaOH as a cooking solution and H2O2. The research method was carried out by varying the cooking solution at 2%, 4%, 5%, 6%, 8%, and 10% NaOH concentrations at temperatures of 100oC, 110oC, 120oC, 130oC and 140oC, then proceed with calculating the percentage of yield and permanganate numbers . The highest percentage of yield is at a temperature of 140oC with a concentration of 2% NaOH, while the lowest permanganate number is at a temperature of 140oC with a concentration of 10% NaOH.
P PENGARUH JENIS BAHAN PENGISI TERHADAP SIFAT FISIK PADA PEMBUATAN KOMPON KARET Rifdah Rifdah; Heni Juniar; Elvira Dara Sariska
Jurnal Teknik Patra Akademika Vol 13 No 01 (2022): Jurnal Teknik Patra Akademika
Publisher : Politeknik Akamigas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.305 KB) | DOI: 10.52506/jtpa.v13i01.142

Abstract

Karet alam berperan penting sebagai sumber devisa negara dari sektor non migas. Akan tetapi karet alam tidak tahan terhadap oksidasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menambahkan karet sintetis pada pembuatan kompon karet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan karet alam (NR) terhadap sifat mekanik-fisik dan ketahanan terhadap pelarut organik kompon karet, serta mendapatkan formula kompon karet yang memenuhi persyaratan untuk bahan baku jadi karet selang gas LPG. Kompon karet dibuat dari campuran karet alam (NR) dan styrene butadiene rubber (SBR) dengan variasi perbandingan NR : SBR adalah 100 : 0, 80 : 20, 60 : 40, 50 : 50, 40 : 60, 20 : 80 dan 0 : 100.
A ADSORPSI ASAM LEMAK BEBAS PRETREATMENT CPO MENGGUNAKAN ZEOLIT ALAM PROSES KONTINYU Robiah Robiah; Ani Melani; Rifdah Rifdah
Jurnal Teknik Patra Akademika Vol 13 No 02 (2022): Jurnal Teknik Patra Akademika
Publisher : Politeknik Akamigas Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52506/jtpa.v13i02.175

Abstract

CPO merupakan salah satu andalan produk perkebunan Indonesia yang digunakan sebagai bahan baku minyak goreng yang memiliki kandungan α-dan ß-karoten, tokoferol dan tokotrienol. Kadar ALB (Asam Lemak Bebas) dalam konsentrasi tinggi yang terikat dalam CPO sangat merugikan. Tingginya kadar ALB tersebut dapat mengakibatkan penurunan rendemen pada hasil olahan CPO yaitu sekitar kurang lebih 5-13%. Kenaikan ALB pada CPO disebabkan oleh adanya proses hidrolisa selama penyimpanan. Kenaikan ALB selama penyimpanan akan mempengaruhi hasil randemen minyak dari pengolahan CPO. Zeolit merupakan adsorben yang unik, karena memiliki ukuran pori yang sangat kecil dan seragam jika dibandingkan dengan adsorben yang lain seperti karbon aktif dan silika gel. Hasil penelitian ini bahwa pengaruh waktu terhadap penurunan kadar asam lemak bebas pada CPO dengan adsorpsi menggunakan zeolit alam didapatkan hasil terbaik pada waktu 240 menit dengan nilai Asam Lemak Bebas 3,007 % dari kadar asam lemak bebas awal 7,577 % atau penurunan kadar asam lemak bebasnya sebesar 60,3 %. Sedangkan pengaruh flowrate didapatkan hasil terbaik pada 3 L/m diperoleh kadar asam lemak bebas 3,147 % dari kadar asam lemak bebas awal 7,577 % atau penurunan kadar asam lemak bebasnya sebesar 58,5 %. Kata kunci: CPO, Zeolit, Asam Lemak Bebas.