, Krisantini
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Study of Morphology and Growth of Alocasia spp. from Papua, Indonesia Daawia, Daawia; Kartika, Juang Gema; krisantini, krisantini; Rahayu, Megayani Sri; Asih, Ni Putu Sri; Matra, Deden D.; Suhartawan, Bambang
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 32 No. 2 (2025): March 2025
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.32.2.367-373

Abstract

Alocasia is a genus of perennial, flowering plants from Araceae, native to tropical and subtropical Asia and eastern Australia. The corms of some Alocasia species are edible, but many Alocasia species are cultivated as ornamentals. Despite the rich biodiversity of Alocasia, there have been limited studies on the morphology and anatomy of these genera. Our study aimed to describe the morphology and growth patterns of two Alocasia species found in Papua, one of the remote regions in Indonesia, A. brancifolia and A. lauterbachiana. The existence of A. lauterbachiana in Papua has never been reported before. The two Alocasia species can be distinguished by their distinct leaf shapes and colors. Alocasia brancifolia has pinnatifid leaves, while A. lauterbachiana has serrated leaves. The leaf of A. brancifolia is thin and predominantly green with faint spots, while the petioles exhibit stripes of brown and green, whereas A. lauterbachiana leaves are thicker and have darker green and reddish color. Due to their attractive leaf shape and colors, both species have the potential to be developed as ornamental potted plants. In terms of growth, A. lauterbachiana exhibited faster growth than A. brancifolia. However, A. brancifolia demonstrated a 50% increase in multiplication over the 16-week study period, while A. lauterbachiana primarily grew taller and larger. This information could prove valuable for future studies to optimize the growth and cultivation techniques of the two Alocasia species for commercial purposes, particularly ornamental foliage plants.
Evaluasi Pertumbuhan, Produksi dan Kompatibilitas Pepaya Calina (Carica papaya) Hasil Grafting Muslimin, Muhammad Farid Naufal; Kurniawati, Ani; Krisantini, Krisantini
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 2 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i2.51532

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu tanaman buah tropis yang banyak diminati karena rasa dan kandungan nutrisinya, seperti vitamin A, vitamin C, asam folat, dan kalium. Namun, kesulitan mengidentifikasi jenis kelamin tanaman pepaya pada fase vegetatif menjadi kendala dalam budidaya. Sambung pucuk (grafting) merupakan langkah yang banyak digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek sambung pucuk tanaman pepaya terhadap pertumbuhan, produksi dan kompatibilitas antara batang bawah dan batang atas. Penelitian dilakukan di Kebun Tajur 2 PKHT, Bogor, dilanjutkan dengan analisis pascapanen di Laboratorium Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Dua jenis batang bawah yang digunakan adalah pepaya Sukma (C-S) dan pepaya liar (C-L), yang keduanya disambung dengan varietas Calina (IPB 1) sebagai batang atas. Sebanyak 64 tanaman ditanam dalam 8 barisan, masing-masing terdiri atas 8 tanaman. Lima barisan menggunakan batang bawah C-L, sedangkan tiga barisan menggunakan batang bawah C-S. Data dianalisis menggunakan uji t pada taraf 5% dengan Minitab 19. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman dengan batang bawah C-L memiliki laju pertumbuhan vegetatif yang lebih tinggi dibandingkan C-S pada hampir seluruh parameter, kecuali lingkar batang sambungan, lingkar batang bawah, dan tinggi batang bawah. Tanaman C-L juga berbunga lebih awal dan menghasilkan lebih banyak bunga hermafrodit, yang berkontribusi pada jumlah buah lonjong yang lebih tinggi dibandingkan tanaman C-S. Selain itu, buah dari tanaman C-L memiliki tekstur daging yang lebih lunak, kulit yang lebih keras, serta nilai Padatan Terlarut Total (PTT) yang lebih tinggi. Kedua jenis batang bawah yang digunakan tidak menunjukkan gejala inkompatibilitas selama masa pengamatan. Kata kunci: batang bawah, Calina-Liar, Calina-Sukma
Pengendalian Tinggi Tanaman Hamparan Celosia dengan Zat Pengatur Tumbuh Paclobutrazol Kusumawardani, Annisa Try; Krisantini, Krisantini; Dinarti, Diny; Widaningsih, Ida
Buletin Agrohorti Vol. 13 No. 2 (2025): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v13i2.64395

Abstract

Celosia merupakan salah satu species tanaman hamparan yang popular karena warna bunganya yang cerah dan berwarna-warni. Celosia yang tumbuh pada lingkungan tropika umumnya memiliki batang tinggi sehingga tampak kurang estetis, disamping menyulitkan penanganan, pengepakan dan transportasi. Penggunaan paclobutrazol dapat menghambat pemanjangan batang, membuat tanaman lebih kekar dan pendek. Penelitian ini dilakukan di nurseri PT Bina Usaha Flora, Cianjur, Jawa Barat untuk menentukan cara aplikasi dan konsentrasi paclobutrazol yang efektif untuk mengendalikan tinggi tiga kultivar Celosia argentea. Terdapat lima perlakuan pada percobaan ini, yaitu pemberian paclobutrazol dengan cara disemprot pada daun sebanyak 30 ppm dan 40 ppm, pemberian paclobutrazol disiram pada media tanam sebanyak 10 ppm dan 20 ppm, dan tanaman kontrol (tanpa aplikasi paclobutrazol). Setiap perlakuan terdiri atas 15 tanaman yang ditanam dalam polybag, satu tanaman per polibag. Pemberian paclobutrazol 20 ppm dengan cara disiram pada media dapat menghambat pertumbuhan tinggi tanaman C. argentea ‘Cristata’ hingga 67% (43.2 cm), C. argentea ‘Plumosa’ 48% (23.9 cm), dan C. argentea ‘Spicata’ 61% (44.4 cm) dibandingkan tanaman kontrol, namun menunda pembungaan Celosia argentea ‘Cristata’ 5-7 hari. Pemberian paclobutrazol dapat menghasilkan Celosia yang lebih pendek dan kekar. Kata kunci: Celosia, pembungaan, retardan, tanaman hias
Metabolic Profiling of Three Species of Amorphophallus (Araceae) Santosa, Edi; Fatah, Muhammad; Kuswanto, Lianah; Krisantini, Krisantini
Journal of Tropical Crop Science Vol. 9 No. 02 (2022): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jtcs.9.02.105-113

Abstract

A study was conducted to determine the metabolic contents of corms of three species of Amorphophallus, A. muelleri, A. paeoniifolius, and A. variabilis using gas chromatography mass spectrometry (GCMS) with water as polar solvent. The corms were collected from plants cultivated at the Leuwikopo Experimental Station, IPB University, Darmaga, Bogor, Indonesia. Metabolic profiling conducted at the Jakarta Regional Health Laboratory, Indonesian Ministry of Health, demonstrated that the three species of Amorphophallus vary in metabolic content, specifically for 12 compounds belonging to antioxidants, vitamins, saturated fatty acids, polyunsaturated fatty acids, phytosterol, alcohol, aldehyde, and alkane. Our study had shown that metabolic profiling is a potentially useful method of differentiating or determining species markers that in turn could be efficient way for genetic conservation and development of future food source.
PENGARUH IAA DAN GA3 TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF BIBIT ANGGREK DENDROBIUM Walter Ouemae 4N x Singapore White Krisantini, ,; Tanu, Meijliani; Irawati, ,
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 27 No. 2 (1999): Buletin Agronomi
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.073 KB) | DOI: 10.24831/jai.v27i2.1577

Abstract

The objective of the experiment was to study the effect of lAA and GA3 on vegetative growth of Dendrobium orchids. The experiment was carried out using 10 months-old orchid plants, and consists of two treatments, one with lAA of 0, 30, 60, and 90 ppm and the other with GA3 of and 100 ppm. The experiment was conducted at Baranang Siang Research Centre of Bogor: Agriculture University. Each treatment was replicated three times. Data were taken on number of leave, height, leaf size, number of roots, and number of pseudobulbs. Application of IAA up to 90 ppm increased the number of leaves, leaf size, height, number of roots and number of pseudobulbs. Application of 100 ppm GA 3 increased number of leaves and number of roots. Application of 90 ppm IAA combined with 100 ppm GA3 significantly increased number of roots and leaf size of orchid plants.
PENGARUH STERILISASI DAN DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN UMBI CALLA LILY (Zanthedeschia elliottiana) Krisantini, ,; Yusuf, M.; Tjia, B.
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 24 No. 1 (1996): Buletin Agronomi
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.273 KB) | DOI: 10.24831/jai.v24i1.1618

Abstract

The objective of the experiment was to find out if sterilization of the media prior to planting, combined with application of various rates of chicken manure for fertilization, would increase production of calla lily tubers with are 3 - 5 cm diameter size. The experiments used two plots, one with sterilized and the other with non-sterilized media and chicken manure. Small tubers with ± 1 cm diameter and had fulfilled their dormancy requirement were planted. Chicken manure was applied at four different rates: 3, 5, 7, 9 kg/m2, and replicated four times. Data were taken on height, fresh and dry weight of plants, number of leaves. and percentages of various tuber size, following harvest. Tubers showed better results in terms of fresh and dry weight, and percentages of larger than 3 cm diameters tubers. Highest yields were obtained with 3 kg/m2 chicken manure.