Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

DEMONTRASI PENGOLAHAN JAHE SEBAGAI NUTRACEUTICAL PADA ACARA POSYANDU SAKURA III DI KELURAHAN JAMBIDAN KECAMATAN BANGUNTAPAN KABUPATEN BANTUL MENJADI PRODUK COOKIES JAHE Suprasetya, Edy; Yogi Hernawan, Jarot; Christiandari, Hanita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 Nomor 2, Oktober 2024
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpmpi.v7i2.319

Abstract

Nutraceutical adalah produk nutrisi yang bermanfaat juga sebagai obat. Kue jahe atau cookies jahe merupakan bagian nutriceutical yang mempunyai dampak Kesehatan. inovasi mengolah jahe dalam bentuk biscuit yang berfungsi sebagai bahan dasar masakan lezat dan juga membantu meningkatkan kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang manfaat jahe dan pengolahannya menjadi produk Nutraceutical kue jahe, serta meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang pemanfaatan jahe sebagai bahan makanan kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Sakura III dusun Jambidan dengan mengundang semua anggota posyandu. Kegiatan dilaksanakan dengan metode konsultasi, demonstrasi dan evaluasi hasil pengolahan jahe menjadi biskuit jahe. Luaran dari kegiatan antara lain peningkatan pengetahuan peserta mengenai berbagai jenis jahe, manfaatnya bagi kesehatan , dan proses pengolahan menjadi kue jahe. Melalui demontrasi tersebut, para peserta memperoleh pengetahuan praktis mengolah jahe menjadi biskuit jahe, meliputi pemilihan jahe yang berkualitas, pengupasan, pemotongan, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan yang tepat. Kegiatan ini berpotensi menumbuhkan inovasi produk berbahan dasar jahe. Lebih lanjut, hal ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memanfaatkan potensi jahe sebagai sumber pendapatan tambahan. Diharapkan setelah kegiatan ini, para peserta mampu memulai usaha berbasis produk biskuit jahe, meningkatkan pendapatan dan berkontribusi aktif terhadap minat pasar pemenuhan produk makanan sehat yang terus meningkat.
Edukasi Swamedikasi Rasional melalui Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) pada Komunitas Keluarga Alumni Pondok Pesantren Inayatullah di Sleman Dilalah, Idlohatud; Christiandari, Hanita; Hernawan, Jarot Yogi; Suprasetya, Edy; Laila, Wahyu Kumil; Nugraheni, Nadzifa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Permata Indonesia Vol 5 No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, Oktober 2025
Publisher : Permata Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpmpi.v5i2.358

Abstract

Self-medication refers to an individual’s effort to treat their own health complaints based on symptoms they experience. This practice commonly involves purchasing over-the-counter drugs, using leftover prescribed medicines, or taking medications recommended by family members, friends, or the media without medical supervision. Such self-treatment carries the risk of irrational drug use; therefore, education is essential to enhance public literacy regarding the proper use of medicines. The Inayatullah Islamic Boarding School Alumni Family Community consists of former students and their families, most of whom are in the 25–35 age range and have recently started families. This community service program aims to improve participants’ knowledge and attitudes toward self-medication through a community-based educational approach. The activity was implemented through the Smart Community Movement for the Rational Use of Medicines (GeMa CerMat), conducted in the form of interactive lectures and discussions during a regular monthly gathering at one of the alumni’s residences in Dukuh Nandan, Sariharjo Village, Ngaglik District, Sleman Regency. Participants actively engaged in discussions about appropriate and rational self-medication practices. It is expected that this educational initiative will enhance the community’s understanding of responsible self-medication, enabling them to make wiser decisions in treating minor health problems and to prevent irrational drug use.
Pengembangan Sabun Padat Transparan Berbasis Ekstrak Rimpang Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.): Formulasi dan Uji Mutu Fisik Hernawan, Jarot Yogi; Laila, Wahyu Kumil; Wahyu Ika Lestari, Nur; Dilalah, Idlohatud; Christiandari, Hanita; Nugraheni, Nadzifa
Jurnal Permata Indonesia Vol 16 No 2 (2025): Volume 16 Nomor 2, November 2025
Publisher : Politeknik Kesehatan Permata Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59737/jpi.v16i2.372

Abstract

Rimpang bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) merupakan bahan alam yang memiliki efek antibakteri dan antioksidan untuk kulit. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sabun padat transparan berbasis ekstrak rimpang bangle serta mengevaluasi mutu fisiknya. Ekstrak bangle diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan rendemen 10,50%. Ekstrak diformulasikan ke dalam empat formula sabun (F0–F3) dengan konsentrasi 0%, 3%, 6%, dan 9%. Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, tinggi busa, pH, dan kadar alkali bebas. Hasil menunjukkan bahwa semua formula memiliki bentuk padat oval, sementara penambahan ekstrak memengaruhi warna dari putih transparan (F0) menjadi oranye hingga oranye kecoklatan (F1–F3), disertai munculnya aroma khas bangle. Seluruh sediaan homogen tanpa terlihat adanya gumpalan. Tinggi busa menurun seiring peningkatan konsentrasi ekstrak, dari 115 mm (F0) menjadi 98,3 mm (F3), namun tetap memenuhi persyaratan SNI (13–220 mm). Nilai pH berada pada rentang 9,45–10,65 dan seluruhnya sesuai standar SNI (9–11). Kadar alkali bebas meningkat seiring peningkatan ekstrak, tetapi tetap berada di bawah batas SNI (<0,1%), sehingga aman digunakan. Secara keseluruhan, penambahan ekstrak bangle memengaruhi warna, aroma, tinggi busa, pH, dan kadar alkali bebas, namun seluruh formula tetap memenuhi standar mutu fisik, sehingga ekstrak bangle berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi sabun transparan.
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTI EPILEPSI PADA PASIEN DEWASA DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT “JIH” YOGYAKARTA PERIODE TAHUN 2023 Hanita Christiandari; Meylinda Putri Pamungkas; Jarot Yogi Hernawan
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.265

Abstract

Latar belakang: WHO memperkirakan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 5 juta individu yang didiagnosis mengalami epilepsi. Di Indonesia, jumlah penderita epilepsi juga tergolong tinggi, yaitu sekitar 8,2 kasus per 1.000 penduduk. Selain itu, laporan WHO menunjukkan bahwa negara-negara berkembang memiliki prevalensi epilepsi tertinggi pada kelompok usia 20 hingga 50 tahun Tujuan: Mengidentifikasi pola penggunaan obat antiepilepsi pada pasien dewasa dengan mempertimbangkan jenis kelamin, klasifikasi obat, tipe kejang, serta bentuk terapi yang diberikan Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan pemanfaatan data historis. Sampel penelitian menggunakan seluruh populasi pasien epilepsy sejumlah 75 pasien. Data dianalisis dengan analisis kuantitatif. Hasil: Penggunaan obat anti epilepsi pada perempuan (52%) adalah Levetiracetam (33%), laki-laki (48%) adalah Fenitoin (42%). Golongan obat yang paling banyak yaitu Hidantoin (33%). Obat untuk kejang umum paling banyak yaitu Fenitoin (35%), kejang fokal dengan Levetiracetam (33%), kejang tidak diketahui dengan Fenitoin (36%). Jenis terapi obat yang adalah monoterapi (65%) dengan Fenitoin dan politerapi sebesar (35%) dengan kombinasi Fenitoin dengan Clonazepam (5%). Simpulan: Penggunaan obat antiepilepsi pada populasi penelitian menunjukkan bahwa Levetiracetam merupakan pilihan yang paling sering digunakan pada pasien perempuan, sedangkan Fenitoin lebih dominan pada pasien laki-laki. Secara keseluruhan, golongan obat yang paling umum diresepkan adalah Hidantoin. Untuk penatalaksanaan kejang, Fenitoin paling banyak digunakan pada tipe kejang umum, sementara Levetiracetam lebih sering dipilih untuk kejang fokal. Selain itu, pola terapi yang paling sering diterapkan adalah monoterapi.
EVALUASI KETEPATAN PENGOBATAN ANTIDIABETES TERHADAP OUTCOME KLINIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT PURI HUSADA Christiandari, Hanita
Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy) Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Farmasi (Journal of Pharmacy), April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional & Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.373013/3d62mm36

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah akibat kelainan pada sekresi insulin, resistensi insulin, atau kombinasi keduanya. Keberhasilan pengelolaan penyakit ini sangat bergantung pada penggunaan terapi farmakologis yang rasional disertai pemantauan terapi secara berkala. Penilaian efektivitas pengobatan dilakukan melalui beberapa indikator klinis, antara lain kadar glukosa darah puasa (GDP), glukosa darah sewaktu (GDS), glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP), serta hemoglobin terglikasi (HbA1c). Penelitian ini bertujuan untuk menilai ketepatan pemilihan obat antidiabetes dan menganalisis hubungannya dengan pencapaian outcome klinik pada pasien DM tipe II rawat jalan di RS Puri Husada selama periode Maret–Mei 2024. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan secara retrospektif dari rekam medis pasien. Sebanyak 191 sampel dipilih melalui teknik purposive sampling. Evaluasi ketepatan terapi meliputi aspek kesesuaian diagnosis, indikasi, karakteristik pasien, serta dosis. Outcome klinik ditentukan berdasarkan keberhasilan mencapai target kontrol glikemik. Analisis statistik hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji chi-square. Karakteristik responden menunjukkan mayoritas berjenis kelamin perempuan (63,35%), berada pada rentang usia 41–60 tahun (52,35%), serta memiliki berat badan 71–100 kg (53,40%). Ketepatan pada aspek diagnosis, indikasi, dan pasien mencapai 100%, sedangkan ketepatan dosis dan pemilihan obat masing-masing sebesar 97,90%. Target outcome klinik berhasil dicapai oleh 76,97% pasien. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara ketepatan pemilihan obat dengan pencapaian outcome klinik (p=0,003; OR=0,214). Kesesuaian pemilihan terapi antidiabetes berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pengendalian glikemik. Oleh karena itu, penerapan prinsip penggunaan obat yang rasional menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas terapi pada pasien DM tipe II.
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN LIPTINT EKSTRAK DAUN JATI (Tectona Grandis Linn.f) Christiandari, Hanita; Hernawan, Jarot Yogi; Laila, Wahyu Kumil
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol. 7 No. 3 (2025): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/v7i3.807

Abstract

Teak leaves (Tectona grandis L.f.) are known to contain anthocyanin compounds that function as natural dyes and have antioxidant activity. This study aims to formulate and evaluate lip tint preparations using teak leaf extract as a natural dye. Method: extraction using a maceration method with 70% ethanol solvent acidified with citric acid, resulting in the characteristic red color of anthocyanins. Three lip tint formulas were created with varying extract concentrations (40%, 50%, and 60%) and evaluated through organoleptic, homogeneity, pH, spreadability, and hedonic tests. The results showed that all formulas were homogeneous, thick in texture, with colors varying from pink to deep red. The pH of the formulas was within the safe range for lips (4.6–5.5), and the spreadability met the standards for comfortable use. Formula 3 with a 60% extract concentration showed the best results in terms of color, pH, and panelist preference. Conclusion: teak leaf extract has the potential to be used to develop safe, high-quality, and environmentally friendly herbal lip tints.