Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Marrakesh Treaty and Facilitating Access to Literary Works in the Field of Knowledge for Blind People Rroisah, Kholis; Rakhmi, Wendy Budiati
Hasanuddin Law Review VOLUME 4 ISSUE 3, DECEMBER 2018
Publisher : Faculty of Law, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.697 KB) | DOI: 10.20956/halrev.v4i3.1539

Abstract

Freedom to gain knowledge, information and technology is very important by everyone including blind people which one realized the right of access to literary works through the Marrakesh Treaty 2013. Regulation about facilitating access to copyright of published works for blind people in Indonesia is still considered inadequate to give protection in the implementation of freedom to gain knowledge. This study applied normative juridical approach described descriptive-analytically. Accessibility to the scientific work of the blind people is a part of human rights which must be respected, protected and fulfilled by the State. The Government has an important role in the realization of the wider access of the disabled by formalizing the governmental regulation in accordance with the mandate of Article 44 paragraph (4) of the Copyright Act 2014 and the Government shall immediately establish The Disabilities National Commission granted the authority and responsibility to fulfill the facilitation of access for blind people and limited reading by guiding Marrakesh Treaty or by looking at other country's regulatory practices.
PELAKSANAAN KEWAJIBAN NEGARA TERHADAP HAM KAUM TRANSGENDER (STUDI TERHADAP PEMENUHAN HAK UNTUK DIPILIH DI INDONESIA) Wendy Budiati Rakhmi, Rahayu, Elfia Farida
Diponegoro Law Journal Vol 1, No 4 (2012): Volume 1, Nomor 4, Tahun 2012
Publisher : Program Studi S1 Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.801 KB)

Abstract

The right to be elected is a right that applies to everyone, it means that both men, women and transgender people can use their right to be elected. Transgender basically have the same rights as any other normal human being, witch distinguishes only the will and desire of sexual orientation alone. However, in the implementation the right to be elected transgender often get discriminatory treatment. Based on these discussions. For answering those question, here used social legal approaching with research specification of analytic descriptive. Sort of data contain inside it consisted of primary data, secondary data and tertiary data, whereas the sampling is done through non random sampling method with purposive sampling. Bassed on discussion result that the right to be elected is part of the human rights of every citizen without any distinction between men, women and transgender. The right to be elected is include in derogable right to do that in the implementation of restriction by the state as a stakeholder in the fulfillment of human rights obligations of every citizen. The implementation of the right to be elected has been fulfilled by normative, but legal culture of Indonesian society still hasn’t allowed a transgender use their right to be elected in election to take a position either in public position nor non public position.
Memanusiakan Hak Asasi Manusia: Ethnic Profiling & Counter Terrorism di Palestina Elkristi Ferdinan Manuel; Dita Rosalia Arini; Ahmad Iqbal; Prameswara Winriadirahman; Faqih Zuhdi Rahman; Wendy Budiati Rakhmi; Ema Nurkhaerani; Dwi Najah Tsirwiyati; Slamet Tri Wahyudi; Irsyaf Marsal
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v6i2.2400

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pandangan non-populer terhadap genosida yang terjadi di Palestina, serta memberikan sudut pandang berbeda dalam melihat permasalahan tersebut, yaitu menggunakan pendekatan Hak Asasi Manusia. Permasalahan dalam konflik tersebut adalah masyarakat masih memandang konflik Palestina dengan subjektifitas dan keberpihakan. Kegiatan ini menggunakan metode sosialisasi terbuka dan diskusi interaktif yang diikuti oleh 20 peserta dari masyarakat seni dan kedokteran di T-Space Bintaro. Kesimpulan dari pengabdian untuk para peserta adalah pentingnya menganalisa kasus internasional, menggunakan sudut pandang kemanusiaan dan universalisme dalam konsep Hak Asasi Manusia serta menggeser paradigma tersebut menjadi keberpihakan terhadap kehidupan dan keberlangsungan umat manusia
Devil’s Justice: Genosida & Keadilan Bagi Warga Palestina (Promosi Pandangan Hak Asasi Manusia) Ferdinan Manuel, Elkristi; Arini, Dita Rosalia; Iqbal, Ahmad; Winriadirahman, Prameswara; Rahman, Faqih Zuhdi; Rakhmi, Wendy Budiati; Nurkhaerani, Ema; Tsirwiyati, Dwi Najah; Wahyudi, Slamet Tri; Marsal, Irsyaf; Nasution, Ali Imran
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi April - Juni
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i2.6021

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat betapa pentingnya memberikan paradigma baru dalam memandang genosida yang terjadi bagi warga Palestina. Prinsip keadilan sejati nyatanya tidak berlaku bagi kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang terjadi di seluruh dunia, khususnya di Paliestina. Prinsip ini menjadikan keadilan berubah makna menjadi devil’s justice yang menggambarkan bagaimana kekuasaan dan hawa nafsu menuyelimuti jiwa manusia terhadap manusia lainnya. Keadilan model seperti ini tidak mencerminkan keadilan sejati bila dikaitkan dengan pendekatan keselamatan bagi manusia dalam bingkai Hak Asasi Manusia (HAM). Hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberikan pemahaman secara holistik terhadap kasus-kasus kemanusiaan yang terjadi dan bagaimana pemberian sudut pandang ini merubah paradigma bagi peserta yang hadir di T-Space, Bintaro, Tangerang Selatan dari keadilan dalam sebuah peperangan dan kejahatan manusia yang terjadi berubah menjadi tumbahnya rasa hormat kepada martabat manusia yang dikesampingkan dalam peristiwa kejahatan. Salin itu, dengan pengabdian kepada masyarakat ini turut memberikan pemahaman bagaimana kekerasan secara keilmuan bukan hanya kekerasan personal saja, lebih jauh dari itu kekerasan struktural melalui tatanan sosial, dan kekerasan kultural yang lebih kompleks telah terjadi, sehingga dalam menganalisa genosida yang terjadi di Palestina, seluruh peserta mendapatkan pandangan yang menyeluruh dan holistik tersebut.
The Influence of International Law on the Enforcement of State Sovereignty Over Digital Resources Rakhmi, Wendy Budiati
LEGAL BRIEF Vol. 13 No. 5 (2024): December: Law Science and Field
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/legal.v13i5.1149

Abstract

This research examines the influence of international law on the enforcement of state sovereignty over digital resources, focusing on a comparison of digital sovereignty policies in the European Union, the United States and China. With the rapid development of technology and the increasing reliance on digital infrastructure, many countries have sought to strengthen their digital sovereignty to protect data, privacy and national security. However, the absence of comprehensive international legal instruments poses challenges in the fair and uniform enforcement of digital sovereignty. This research uses a qualitative-descriptive approach with a multiple case study method, analyzing legal documents, national policies, and reports of relevant international organizations to identify the impact of international law on digital regulation. The results show that the European Union places privacy rights as a priority by implementing the General Data Protection Regu-lation (GDPR), while the United States tends to support market freedom and technological innovation, but with some exceptions related to national security. China, on the other hand, takes a protectionist and centralized approach with strict control over data and digital access in its territory. In conclusion, these different approaches result in fragmentation in the management of digital sovereignty, which could threaten global connectedness. This research recommends international cooperation to create a global digital legal framework that balances state sovereignty rights with the need for connectedness and equitable access to data around the world
Pemerintahan Desa Adat dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat: Studi terhadap Nagari di Sumatera Barat dan Negeri di Ambon Rakhmi, Wendy Budiati; Wahyuni, Sri
IN RIGHT: Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines indigenous village governance within Indonesia’s national legal framework by emphasizing the protection of customary law communities’ rights as an integral part of human rights. The study focuses on two distinctive models of indigenous villages, namely Nagari in West Sumatra and Negeri in Ambon. It aims to analyze the extent to which Law Number 6 of 2014 on Villages provides recognition, protection, and fulfillment of the collective rights of indigenous peoples, including the rights to cultural identity, self-governance, and legal certainty. Employing a normative juridical method with statutory and conceptual approaches, this research analyzes national legislation, regional regulations, and relevant human rights principles. The findings reveal that the Village Law recognizes indigenous villages as public legal entities, subject to specific conditions, such as the continued existence of customary law communities, their compatibility with social development, and conformity with the principles of the Unitary State of the Republic of Indonesia. In practice, the governance models of Nagari and Negeri demonstrate institutional and leadership variations that reflect the protection of cultural diversity and collective identity. Nevertheless, challenges remain in ensuring legal certainty and regulatory harmonization between state law and customary law. This study underscores the importance of strengthening indigenous village governance as a legal mechanism for safeguarding the human rights of customary law communities within Indonesia’s pluralistic legal system. Artikel ini mengkaji pemerintahan desa adat dalam kerangka hukum nasional Indonesia dengan menitikberatkan pada aspek perlindungan hak masyarakat hukum adat sebagai bagian dari hak asasi manusia. Fokus kajian diarahkan pada dua model desa adat yang memiliki karakteristik khas, yaitu Nagari di Sumatera Barat dan Negeri di Ambon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pengaturan desa adat dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak kolektif masyarakat adat, khususnya hak atas identitas budaya, hak mengatur dan mengurus kepentingan sendiri, serta hak atas kepastian hukum. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, melalui penelaahan terhadap Undang-Undang Desa, peraturan daerah, serta prinsip-prinsip hak asasi manusia yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Undang-Undang Desa telah mengakomodasi pengakuan desa adat sebagai subjek hukum publik dengan syarat keberadaan masyarakat hukum adat yang masih hidup, sesuai dengan perkembangan masyarakat, dan sejalan dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam praktiknya, pemerintahan Nagari dan Negeri memperlihatkan perbedaan model kelembagaan dan kepemimpinan yang mencerminkan pemenuhan hak atas keberagaman dan identitas budaya. Namun demikian, masih ditemukan tantangan dalam aspek kepastian hukum dan harmonisasi regulasi antara hukum negara dan hukum adat. Artikel ini menegaskan pentingnya penguatan desa adat sebagai instrumen perlindungan hak asasi masyarakat hukum adat dalam sistem hukum Indonesia yang pluralistik.