Artikel ini menganalisis Begandring Soerabaia sebagai sejarawan publik kolektif yang memproduksi, menyeleksi, dan mendiseminasikan pengetahuan sejarah Kota Surabaya. Berbeda dari naskah pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pelaksanaan pelatihan, penelitian ini menempatkan klinik penulisan sejarah sebagai salah satu arena empiris untuk membaca hubungan antara komunitas, akademisi, sumber sejarah, media digital, dan publik. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan metode sejarah dan analisis dokumen. Sumber penelitian meliputi profil dan publikasi digital komunitas, dokumentasi kegiatan, materi serta draf tulisan dari klinik penulisan yang melibatkan 15 anggota, pemberitaan lembaga resmi, dan penelitian terdahulu. Data dianalisis melalui kritik sumber, interpretasi tematik, dan kerangka sejarah publik Faye Sayer yang dioperasionalkan ke dalam dimensi aksesibilitas, partisipasi, komunikasi, komunitas, media digital, etika, dan dampak. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan. Pertama, Begandring menghubungkan jejak material kota, memori warga, dan pengetahuan akademik melalui jelajah sejarah, publikasi, dokumentasi, serta advokasi cagar budaya. Kedua, otoritas sejarah di dalam komunitas tidak dihapus, tetapi dinegosiasikan melalui pembagian peran, verifikasi sumber, pengalaman lapangan, dan penyuntingan. Ketiga, klinik penulisan berfungsi sebagai infrastruktur epistemik yang mengubah pengalaman komunitas menjadi historiografi akademis populer yang dapat dipertanggungjawabkan. Artikel ini menyimpulkan bahwa kekuatan Begandring terletak pada kemampuannya menjadi mediator pengetahuan dan kurator memori kota.