Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Edukasi K3 bagi Pekebun Kelapa Sawit Bersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Kabupaten Lamandau Ihda Andrey Yanuar Setiawan; Ika Fitriana Dyah Ratnasari; Nur Ikhsan; Yulio Kristian Tinduh; Choirul Fuadi
Bahasa Indonesia Vol 23 No 02 (2026): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.232.01

Abstract

The use of Personal Protective Equipment (PPE) and safe pesticide spraying skills are integral to Occupational Safety and Health (OSH), which constitutes an important component of the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) and Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) standards. However, their implementation among independent smallholder oil palm farmers remains inconsistent. This community service program aimed to improve participants’ theoretical and practical OSH knowledge and assess their level of satisfaction throughout the program. The program was conducted in December 2025 at BUM Desa Berkah Mulya Jaya, Wonorejo Village, Sematu Jaya District, Lamandau Regency, involving 26 independent oil palm farmers certified under ISPO and RSPO. A participatory learning approach was employed, comprising partner coordination, educational sessions, field demonstrations and practical training, participatory discussions, and pre-tests and post-tests for evaluation. The results showed an increase in theoretical understanding from 57.7% to 100% and practical skills from 50.0% to 92.3%, with a participant satisfaction rate of 91.33%. These findings indicate that ISPO–RSPO-based OSH education effectively improves farmers’ competencies and supports the implementation of OSH practices in independent oil palm plantations. Abstrak Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan keterampilan penyemprotan pestisida yang aman merupakan bagian dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai komponen penting dalam standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang pelaksanaannya belum konsisten diterapkan di kalangan petani kelapa sawit swadaya. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan K3 secara teori dan praktik serta mengetahui tingkat kepuasan peserta selama kegiatan berlangsung. Program dilaksanakan pada Desember 2025 di BUM Desa Berkah Mulya Jaya, Desa Wonorejo, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, dengan melibatkan 26 petani kelapa sawit swadaya yang telah tersertifikasi ISPO dan RSPO. Metode yang digunakan berbasis pembelajaran partisipatif meliputi koordinasi dengan mitra, penyampaian materi edukasi, demonstrasi lapangan dan pelatihan praktik, diskusi partisipatif, serta pre-test dan post-test sebagai evaluasi. Hasil program pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman teori dari 57,7% menjadi 100% dan kemampuan praktik dari 50,0% menjadi 92,3%, dengan tingkat kepuasan peserta sebesar 91,33%. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi K3 berbasis ISPO–RSPO efektif meningkatkan kompetensi petani serta mendukung penerapan K3 pada perkebunan kelapa sawit swadaya.
Pelatihan Produksi Biomaterial Berbasis Serat Komposit Gulma Invasif sebagai Bahan Baku Produk Aplikatif Berkelanjutan Ika Fitriana Dyah Ratnasari; Firdaus Husein; Ihda Andrey Yanuar Setiawan; Lailatun Nisfimawardah; Ilham Febriansyah
Bahasa Indonesia Vol 23 No 02 (2026): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/sarwahita.232/06

Abstract

Invasive weeds are generally regarded as nuisance plants that reduce land productivity and remain underutilized. However, they contain lignocellulosic fibers with the potential to be processed into environmentally friendly biomaterials with higher economic value. This community service program aimed to enhance community knowledge and skills in producing composite fiber-based biomaterials from invasive weeds and developing them into sustainable applied products, such as reusable pens, keychains, bookmarks, coasters, ashtrays, and binder. The implementation methods included socialization and training on biomaterial production, training on the manufacture of sustainable applied products, and monitoring and evaluation through pre-tests and post-tests. Biomaterials were produced by processing invasive weeds into dry pulp through a delignification process using a 10% NaOH solution with the WAW-25 Pulp Machine, followed by mixing with resin as a binder, molding using silicone molds, and incorporating pressed flowers to enhance the aesthetic value of the products. The results showed that participants were able to produce biomaterials and various environmentally friendly applied products. The average participant score increased from 54.5 in the pre-test to 87.7 in the post-test, representing an improvement of 60.92%. These findings indicate that the learning by doing approach effectively improved participants' capacity to utilize invasive weeds as value-added biomaterials, thereby supporting the development of sustainable creative products based on local resources.   Abstrak Gulma invasif umumnya dianggap sebagai tanaman pengganggu yang menurunkan produktivitas lahan dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, gulma invasif memiliki kandungan serat lignoselulosa yang berpotensi diolah menjadi biomaterial ramah lingkungan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memproduksi biomaterial berbasis serat komposit gulma invasif serta mengembangkannya menjadi produk aplikatif berkelanjutan, seperti reusable pen, gantungan kunci, pembatas buku, tatakan gelas, asbak, dan binder. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi dan pelatihan produksi biomaterial, pelatihan pembuatan produk aplikatif, serta monitoring dan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Biomaterial diproduksi melalui proses delignifikasi menggunakan larutan NaOH 10% dengan WAW-25 Pulp Machine, dilanjutkan dengan pembuatan dry pulp, pencampuran resin sebagai bahan pengikat, pencetakan menggunakan silicone mold, serta penambahan pressed flower untuk meningkatkan nilai estetika produk. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memproduksi biomaterial dan menghasilkan berbagai produk aplikatif ramah lingkungan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 54,5 pada pre-test menjadi 87,7 pada post-test atau sebesar 60,92%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian yang dilaksanakan efektif dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dengan memanfaatkan gulma invasif menjadi biomaterial bernilai tambah yang mendukung pengembangan produk kreatif berbasis sumber daya lokal.