Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Jumlah Blade, Kemiringan Sudut dan Jarak Pengaduk dari Dasar Pada Proses Koagulasi Flokulasi dalam Menurunkan Parameter TSS dan Kekeruhan Dzaky, Muhammad Luqman; Tuhu Agung Rachmanto
Jurnal Serambi Engineering Vol. 10 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The quality of river water is influenced by the levels of Total Suspended Solids (TSS) and turbidity, which serve as indicators of environmental pollution. An effective method to reduce these parameters is the coagulation-flocculation process. The effectiveness of this process depends on physicochemical and hydrodynamic factors, including impeller design. However, hydrodynamic aspects such as the number of blades, blade angle, and distance of the impeller from the bottom are rarely considered in detail in previous studies. Therefore, the objective of this study is to analyze the optimal impeller design to improve TSS and turbidity removal efficiency. This study examines variations in the number of blades (2, 4, and 6), blade angles (0°, 30°, 45°, and 60°), and impeller distance from the bottom (3 cm, 4 cm, and 5 cm). The results indicate that the optimum impeller design for TSS and turbidity reduction is 6 blades, 0° blade angle, and 5 cm impeller distance from the bottom. Under these conditions, TSS removal reached 93.5%, while turbidity removal reached 98.2%. These results demonstrate that proper impeller design can significantly improve the efficiency of the coagulation-flocculation process.
Multi-Species Mangrove Restoration and Community Engagement for Coastal Resilience in Salurang Rieuwpassa, Frets; Wibowo, Indra; Choesin, Devi Nandita; Gansalangi, Ferdinang; Yuanita, Nita; Tomasoa, Aprelia Martina; Wuaten, Julius Frans; Dzaky, Muhammad Luqman; Sidauruk, Gaberaja Samuel Roosevelt; Mozes, Getruida Nita; Barlian, Anggraini; Balansa, Walter
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i2.768

Abstract

Ekosistem pesisir Salurang, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, menghadapi ancaman abrasi kritis yang diperparah oleh degradasi ekosistem mangrove dan kerusakan infrastruktur pelindung yang menyebabkan kerugian ekologis dan sosio-ekonomi. Salah satu strategi mitigasi adalah menerpakan rehabilitasi mangrove mono-spesies, yang telah terbukti tidak memadai dan kurang efektif untuk restorasi lingkungan jangka panjang. Keadaan ini mendorong penerapan pendekatan restorasi multi-spesies yang lebih holistik. Pengabdian kepada masyarakat kolaboratif antara ITB, Polnustar dan masyarakat Kampung Salurang ini bertujuan mengevaluasi potensi restoratif dari pendekatan multi-spesies yang pada fase ini berfokus pada kelangsungan hidup mangrove Rhizophora apiculata dan Calophyllum inophyllum. Monitoring selama 90 hari pasca-penanaman menunjukkan tingkat kelangsungan hidup C. inophyllum (82,48%) yang signifikan lebih tinggi dibandingkan R. apiculata (53,70%). Perbedaan ini diduga berhubungan erat dengan kerentanan R. apiculata terhadap tekanan lingkungan di muara sungai Salurang yang terdegradasi (sedimentasi, sampah, fluktuasi salinitas), sementara C. inophyllumdi lokasi relatif terlindung menunjukkan adaptasi yang optimal. Meskipun demikian, tingkat kelangsungan hidup R. apiculata masih lebih baik dari beberapa inisiatif mono-spesies di beberapa tempat lain. Hasil ini juga menegaskan pentingnya alokasi spesies berdasarkan kesesuaian ekologis dan menyoroti urgensi reintroduksi spesies kunci lain seperti Nypa fruticans untuk meningkatkan resiliensi ekosistem. Pendekatan partisipatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dan pelibatan masyarakat aktif dalam seluruh tahapan program telah memperkuat relevansi solusi lokal, menumbuhkan rasa kepemilikan, dan mengintegrasikan kearifan lokal dengan data ilmiah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggarisbawahi model rehabilitasi pesisir dengan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan partisipasi komunitas dalam upaya merestorasi pesisir dan mengoptimalkan manfaat multifungsi sumber daya lokal. Ketik abstrak bahasa Indonesia di sini.