Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Kecanduan Smartphone, Self-Esteem, dan Jenis Kelamin dengan Kecemasan pada Siswa di SMAN 1 Mataram Perdana, Made Krisna Wahyu; Syuhada, Irwan; Santosa, Hilda; Imam, Lalu Yogi Prasetio
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.19109

Abstract

ABSTRACT The World Health Organization (WHO) states that anxiety is a common mental health disorder with a very high prevalence rate. According to the Basic Health Research (Riskesdas) conducted by the Ministry of Health in 2018, emotional disorders among adolescents increased from 6% in 2013 to 9.8% in 2018. Objective to determine the relationship between smartphone addiction, self-esteem, and gender with anxiety among students at SMAN 1 Mataram. This study employed a quantitative, observational analytic approach with a cross-sectional design. The sampling technique used was stratified random sampling. The study was conducted at SMAN 1 Mataram in October 2024, involving a total of 102 respondents. Data were analyzed using the chi-square test with a significance level of p < 0.05. The bivariate analysis revealed a significant relationship between smartphone addiction and anxiety (p-value 0.001), no significant relationship between self-esteem and anxiety (p-value 0.879), and a significant relationship between gender and anxiety (p-value 0.032). There is a significant relationship between smartphone addiction and gender with anxiety, while no significant relationship was found between self-esteem and anxiety among students at SMAN 1 Mataram. Keywords: Smartphone Addiction, Self-Esteem, Gender, Anxiety  ABSTRAK World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kecemasan adalah gangguan kesehatan jiwa yang umum dengan tingkat prevalensi yang sangat tinggi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan (2018), gangguan emosi pada remaja meningkat dari 6% pada tahun 2013 menjadi 9,8% pada tahun 2018. Tujuan penelitian mengetahui hubungan kecanduan smartphone, self esteem, dan jenis kelamin dengan kecemasan pada siswa di SMAN 1 Mataram. Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Mataram pada bulan Oktober 2024. Sampel penelitian sebanyak 102 responden. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan signifikan kecanduan smartphone dengan kecemasan dengan p-value 0,001, tidak terdapat hubungan signifikan self esteem dengan kecemasan dengan p-value 0.879 dan ada hubungan signifikan jenis kelamin dengan kecemasan dengan p-value 0,032. Terdapat hubungan signifikan kecanduan smartphone dan jenis kelamin dengan kecemasan, dan tidak terdapata hubungan signifikan self esteem dengan kecemasan pada siswa di SMAN 1 Mataram. Kata Kunci: Kecanduan Smartphone, Self Esteem, Jenis Kelamin, Kecemasan
Hubungan Kepatuhan Menjalani Terapi, Kecemasan, dan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa Berusia Lanjut di RSUD Kota Mataram Mahendra, I Kadek Tirta; Sherliyanah, Sherliyanah; Bagiansa, Mamang; Imam, Lalu Yogi Prasetio
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.19005

Abstract

ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) with hemodialysis (HD) therapy has a high prevalence in Indonesia, particularly among individuals aged 55-64 years. Routine HD significantly impacts patients' lifestyles, and non-compliance can lead to severe complications, including death. Patients often experience anxiety due to pain, dependence, and social changes, affecting their quality of life. Family support plays a crucial role in encouraging and enhancing patients' emotional well-being. This study highlights the relationship between therapy compliance, anxiety, family support, and the quality of life of elderly hemodialysis patients at RSUD Kota Mataram. Objective to determine the relationship between therapy compliance, anxiety, and family support with the quality of life of elderly hemodialysis patients at RSUD Kota Mataram in 2024. A quantitative, observational analytic study with a cross-sectional design. Data collection was conducted using questionnaires, and data were analyzed using the Kendall Tau correlation test with a significance threshold of p-value ≤ 0.05. Bivariate analysis showed a significant relationship between therapy compliance and quality of life (p-value 0.003), anxiety and quality of life (p-value 0.039), and family support and quality of life (p-value < 0.001) among elderly hemodialysis patients at RSUD Kota Mataram. There is a significant relationship between therapy compliance, anxiety, and family support with the quality of life of elderly hemodialysis patients at RSUD Kota Mataram in 2024. Keywords: Therapy Compliance, Anxiety, Family Support, Quality of Life  ABSTRAK Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dengan terapi hemodialisis (HD) memiliki prevalensi tinggi di Indonesia, terutama pada usia 55-64 tahun. HD yang dilakukan rutin memengaruhi pola hidup pasien, dan ketidakpatuhan dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Pasien sering menghadapi kecemasan akibat nyeri, ketergantungan, dan perubahan sosial, yang berdampak pada kualitas hidup. Dukungan keluarga berperan penting dalam memberikan semangat dan meningkatkan kesejahteraan emosional pasien. Penelitian ini menyoroti hubungan kepatuhan terapi, kecemasan, dukungan keluarga, dan kualitas hidup pasien lansia hemodialisis di RSUD Kota Mataram. Tujuan mengetahui hubungan kepatuhan menjalani terapi, kecemasan, dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien hemodialisa berusia lanjut Di RSUD Kota Mataram tahun 2024. Penelitian kuantitatif metode observasional analitik dengan pengambilan data secara cross sectional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji korelasiKendall Tau dengan batas nilai signifikansi p-value ≤ 0,05. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan menjalani terapi dengan kualitas hidup (p-value 0,003), kecemasan dengan kualitas hidup (p-value 0,039), dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup (p-value < 0,001) pada pasien hemodialisa berusia lanjut di RSUD Kota Mataram. Terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan menjalani terapi, kecemasan, dan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien hemodialisa berusia lanjut Di RSUD Kota Mataram tahun 2024. Kata Kunci: Kepatuhan Menjalani Terapi, Kecemasan, Dukungan Keluarga, Kualitas Hidup
Hubungan Durasi Penggunaan Smartphone, Tingkat Stress dan Kecemasan Terhadap Kualitas Tidur di SMK Negeri 1 Batu Layar Atmaja, Ida Bagus Gde Weda Karna; Dahlia, Yolly; Setyobudi, Irwan; Imam, Lalu Yogi Prasetio
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.19241

Abstract

ABSTRACT Sleep is a condition where there is a change in consciousness when an individual's perception and reaction to an environment decreases. The American Academy of Sleep Medicine recommends that the optimal sleep period for adolescents aged 13-18 years is 8-10 hours each night. However, currently ≥ 30% of adolescents have a sleep duration of <6 hours each night. The purpose of this study was to determine the relationship between the duration of smartphone use, stress levels and anxiety levels on sleep quality at SMK Negeri 1 Batu Layar. The type of research used by researchers is an observational analytical method with a cross-sectional approach, the subject selection technique used in this study is purposive sampling. Bivariate analysis of stress levels on sleep quality using the chi-square test with a significant p value of 0.0024, anxiety levels on sleep quality p-value 0.006, Duration of Smartphone Use on Sleep Quality P-Value 0.021. There is a relationship between stress levels, anxiety levels and duration of smartphone use on sleep quality at SMK Negeri 1 Batu Layar. Keywords: Smartphone, Stress Level, Anxiety, Sleep Quality  ABSTRAK Tidur merupakan suatu kondisi dimana terjadinya perubahan kesadaran ketika presepsi dan reaksi individu terhadap suatu lingkungan menurun. American academy of sleep medicine menyarankan, jangka tidur yang optimal terhadap remaja usia 13-18 tahun dengan rentang waktu 8-10 jam setiap malamnya. Akan tetapi, sekarang ini ≥ 30% remaja mempunyai durasi tidur < 6 jam setiap malam. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan durasi penggunaansmartphone, tingkat stress dan kecemasan terhadap kualitas tidur di SMK Negeri 1 Batu Layar. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, teknik pengambilan subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Analisa bivariat pada tingkat stress terhadap kualitas tidur menggunakan uji chi-square dengan besar kemaknaan p-value 0.0024, tingkat kecemasan terhadap kualitas tidur p-value 0.006, Durasi Penggunaan Smartphone Terhadap Kualitas Tidur P-Value 0.021. Terdapat hubungan tingkat Stress, tingkat kecemasan dan  durasi penggunaan smartphone terhadap kualitas tidur SMK Negeri 1 Batu Layar.  Kata Kunci: Smartphone, Tingkat Stress, Kecemasan, Kualitas Tidur
Hubungan Akses Media Pornografi dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja di Sekolah XX Wilayah Lombok Barat Sastrawan, Komang Riski; Mardiah, Aena; Mathar, Muhammad Ashhabul Kahfi; Imam, Lalu Yogi Prasetio
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/62gxsz76

Abstract

Perilaku seksual pranikah pada remaja merupakan masalah yang berdampak pada kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, dan stres psikologis. Remaja mengalami perubahan fisik dan emosional yang sering tidak disertai pengetahuan seksual yang memadai, sementara paparan media pornografi dan stres dapat memengaruhi kecenderungan perilaku seksual mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan seksual, akses media pornografi, dan tingkat stres terhadap kejadian perilaku seksual pranikah pada remaja di Sekolah XX wilayah Lombok Barat. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan 102 responden yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan seksual, paparan pornografi, dan tingkat stres melalui Perceived Stress Scale (PSS-10), serta perilaku seksual pranikah. Data  dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan  menunjukkan Terdapat hubungan bermakna antara akses media pornografi dan perilaku seksual pranikah (p = 0,000), sedangkan pengetahuan seksual (p = 0,352) dan tingkat stres (p = 0,289) tidak berhubungan dengan perilaku seksual pranikah. The Relationship Between Access to Pornographic Media and Premarital Sexual Behavior among Adolescents at XX Schools in the West Lombok Region Abstract Premarital sexual behavior among adolescents is an issue that can lead to unwanted pregnancies, sexually transmitted infections, and psychological stress. Adolescents undergo physical and emotional changes that are often not accompanied by adequate sexual knowledge, while exposure to pornographic media and stress may influence their tendency to engage in sexual behavior. This study aims to analyze the relationship between sexual knowledge, access to pornographic media, and stress levels with the occurrence of premarital sexual behavior among adolescents at School XX in the West Lombok region.This research used a cross-sectional design with 102 respondents selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using questionnaires on sexual knowledge, pornography exposure, stress levels measured by the Perceived Stress Scale (PSS-10), and premarital sexual behavior. Data were analyzed using the Chi-Square test and showed a significant relationship between access to pornographic media and premarital sexual behavior (p = 0.000), while sexual knowledge (p = 0.352) and stress levels (p = 0.289) were not associated with premarital sexual behavior.
Hubungan Tingkat Pengetahuan, Riwayat Pengobatan, dan Aksesibilitas Antibiotik Terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Dewi, Ida Ayu Putri Liana; Wanadiatri, Halia; Andriana, Ana; Imam, Lalu Yogi Prasetio
Empiricism Journal Vol. 7 No. 1: March 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v7i1.4311

Abstract

Swamedikasi antibiotik merupakan salah satu penyebab meningkatnya resistensi antimikroba secara global. Mahasiswa kedokteran memiliki dasar pengetahuan farmakologi, praktik penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih dapat terjadi akibat kemudahan akses dan kepercayaan diri berlebih dalam melakukan diagnosis mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi swamedikasi antibiotik, karakteristik responden, jenis antibiotik yang dikonsumsi serta hubungan tingkat pengetahuan, riwayat pengobatan, dan aksesibilitas antibiotik dengan perilaku swamedikasi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain potong lintang pada September 2025 melibatkan 84 mahasiswa dari angkatan 2022–2024 yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan uji Chi-square (α = 0,05). Sebanyak 39 responden (46,4%) memiliki riwayat swamedikasi antibiotik dalam tiga tahun terakhir, dengan amoksisilin sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan (69,5%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (72,6%) dan perilaku swamedikasi yang baik (66,7%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan (p < 0,001) dan aksesibilitas antibiotik (p = 0,002; PR = 2,75; 95% CI: 1,6–4,7) dengan perilaku swamedikasi antibiotik. Namun, riwayat pengobatan tidak berhubungan signifikan dengan perilaku swamedikasi (p = 0,260). Pengetahuan yang tinggi dan keterbatasan akses antibiotik berperan dalam mendorong perilaku swamedikasi yang lebih rasional. The Association of Knowledge Level, Treatment History, and Antibiotic Accessibility with Antibiotic Self-Medication Behavior among Medical Students at the Faculty of Medicine, Universitas Islam Al-Azhar Abstract Antibiotic self-medication is one of the contributors to the global increase in antimicrobial resistance. Although medical students have a basic understanding of pharmacology, irrational antibiotic use may still occur due to easy access to antibiotics and excessive confidence in making self-diagnoses. This study aimed to determine the prevalence of antibiotic self-medication, respondent characteristics, types of antibiotics used, and the association between knowledge level, treatment history, and antibiotic accessibility with self-medication behavior among students of the Faculty of Medicine, Universitas Islam Al-Azhar. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach in September 2025, involving 84 students from the 2022–2024 cohorts selected through proportionate stratified random sampling. Data were collected using an online questionnaire and analyzed using the Chi-square test (α = 0.05). A total of 39 respondents (46.4%) had a history of antibiotic self-medication within the previous three years, with amoxicillin being the most commonly used antibiotic (69.5%). Most respondents had a good level of knowledge (72.6%) and good self-medication behavior (66.7%). Bivariate analysis showed a significant association between knowledge level (p < 0.001) and antibiotic accessibility (p = 0.002; PR = 2.75; 95% CI: 1.6–4.7) with antibiotic self-medication behavior. However, treatment history was not significantly associated with self-medication behavior (p = 0.260). Higher knowledge and limited access to antibiotics were associated with more rational antibiotic self-medication behavior.