Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Saline Solution Oral Hygiene dalam Meningkatkan Nafsu Makan Pasien Anoreksia Dhina Widayati; Sulistyowati Ariningsih; Muhammad Taukhid
The Indonesian Journal of Health Science Vol 13, No 1 (2021): The Indonesian Journal of Health Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ijhs.v13i1.4902

Abstract

ABSTRACT Background and Aim : Anorexia can be caused by symptoms of disease or disorders / conditions in the digestive system. To overcome the problem in anorexia that is by examining the cause of decreased or loss of appetite,where the problem of discomfort in the oral cavity can be done oral hygiene with salt water rinse.Oral hygiene is an action to clean and  refresh the mouth to eat and avoid pathogenic microfloral. This research aims to determine the effect of salt solution rinses on appetite in anorexia patients at Amelia Pare Hospital. Methods : The research design used was Pre Experiment Design with one group pre-post design approach. The population in this research were all patients with anorexia who were hospitalized at Amelia Hospital. Research time was 15-29 February 2020. The sampling technique was done by accidental sampling, as many as 30 respondents. The research instrument was a questionnaire and observation sheet, the statistical test used was the Wilcoxon Signed Rank Test. Results : the identification of appetite in anorexic patients before being given the majority of salt water rinse or more than half of respondents (53.3%) was in a pretty bad criterion. While the results of the identification of appetite in anorexic patients after being given salt water rinses showed the majority or almost half of respondents (46.7%) were in pretty good criteria. Conclusion : Based on the Wilcoxon signed rank test, p value =0,001or p α  which means there is an effect of salt water  rinse on increasing appetite in anorexia patients. Where salt contains sodium chloride which is naturally osmotic which works to absorb fluids in tissues or cells and can make bases, there by increasing pH in the mouth which can limit the amount of bacterialgrowth. Besides salt also contains water moleculer that are isotonicand do not irritate mucous membranes. This research is expected to be a reference for further research in patients who experience discomfort in the oral cavity. Keywords : oral hygiene, Salt solution, Appetite, Anorexia
Peningkatan Self Management Penyakit Gasritis Melalui Gastroeduweb Pada Remaja Nian Afrian Nuari; Dhina Widayati
The Indonesian Journal of Health Science Vol 13, No 2 (2021): The Indonesian Journal of Health Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ijhs.v13i2.5826

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang dan Tujuan : Gastritis merupakan salah satu jenis gangguan pada sistem pencernaan yang sering dialami remaja dengan tingkat kekambuhan yang tinggi. Pengetahuan dalam management gastritis berkorelasi dalam meningkatkan kekambuhan. Media penyampaian edukasi kesehatan berbasis web pada sasaran remaja dapat menjadi solusi alternatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh GASTROEDUWEB terhadap self management gastritis pada remaja.Metode : Penelitian ini menggunakan desain Pre Eksperimen dengan dua variabel yakni  GASTROEDUWEB (variabel Independen) dan Self management gastritis (variabel dependen). Besar sampel sejumlah 40 remaja SMA yang diperoleh mealui purposive sampling. Data self management diukur menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan wilcoxon sign rank test pada α0,05Hasil : Hasil penelitian menunjukkan self mengement gastritis pada sebagian responden sebelum pemberian GASTROEDUWEB dalam kategori kurang dan setelah pemberian intervensi terjadi peningkatan, yakni hampir seluruh responden dalam kategori cukup. Nilai  p  value = 0,001, menunjukkan terdapat pengaruh pemberian GASTROEDUWEB terhadap self management gastritis pada remajaSimpulan dan Implikasi : GASTROEDUWEB dapat meningkatkan self management gastritis pada remaja. Penyampaian informasi yang dikemas melalui media berbasis web dapat meningkatkan motivasi remaja untuk memperoleh informasi berkaitan dengan management gastritis. Desain yang menarik dan juga dapat di akses melalui gadget dimanapun dan kapanpun dari media ini juga dapat meningkatkan pengetahuan remaja sehingga dapat melakukan self managment gastritits untuk mencegah kekambuhan penyakit ini. GASTROEDUWEB dapat digunakan sebagai salah satu media penyampaaian edukasi kesehatan terutama pada sasaran remaja .Kata kunci: GASTROEDUWEB, Self Management, Gastritis, Remaja.ABSTRACT Background and Aim : Gastritis is a type of digestive disorder that is often experienced by adolescents with a high recurrence rate. Knowledge in the management of gastritis is correlated in increasing recurrence. The media web-based for delivering health education to adolescents can be an alternative solution to this problem. This study aims to determine the effect of GASTROEDUWEB on self-management of gastritis in adolescents at SMA Negeri 3 Nganjuk Methods : Pre Experiment Design with a one group pre-post design approach became the design in this study. The variables in this study were GASTROEDUWEB (independent variable) and Self management gastritis (dependent variable). The sample size are 40 student of senior hig school obtained by purposive sampling. Self-management data was measured using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon sign rank test at 0.05. Results : The results showed that some respondents had gastritis self-management before the intervention in the less category and after the intervention there was an increase, almost all of respondents were in the sufficient category. P value = 0.001 from the Wilcoxon signed rank test, indicating that there is an effect of giving GASTROEDUWEB on self-management of gastritis in adolescents.Conclusion : GASTROEDUWEB can improve self-management of gastritis in adolescents. Submission of information packaged through web-based media can increase the motivation of adolescents to obtain information related to gastritis management. An attractive design can also be accessed through gadgets anywhere and anytime from this media can also increase adolescent knowledge so that they can do self-management of gastritis to prevent recurrence of this disease. This research is expected to be one of the alternative media for delivering health education, especially to adolesence.Keywords : GASTROEDUWEB, Self Management, Gastritis, Adolesence.  
Edukasi Managemen Diabetes Berbasis Kelompok Sebaya sebagai Upaya Meningkatkan Kepatuhan Diet dan Perawatan Mandiri Penderita Diabetes Mellitus Dhina Widayati
The Indonesian Journal of Health Science Vol 12, No 2 (2020): The Indonesian Journal of Health Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ijhs.v12i2.4870

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Kepatuhan penderita Diabetes Mellitus (DM) dalam manajemen Diabetes tidak terlepas dari faktor informasi dan teman sebaya. Edukasi yang diberikan oleh teman sebaya akan meningkatkan informasi dan pemahaman pasien tentang manajemen pengelolaan DM yang salah satunya berupa manajemen diet dan perawatan mandiri karena merasa saling merasakan hal yang sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi manajemen diabetes berbasis kelompok sebaya terhadap kepatuhan diet dan perawatan mandiri pada penderita DM. Metode: Pra eksperimen menjadi desain dalam penelitian ini dengan melibatkan 16 sampel yang diperoleh melalui purposive sampling. Data kepatuhan diet dan perawatan mandiri dianalisis melalui uji wilcoxon Sign Rank Test. Hasil: Diketahui p value 0,02 (kepatuhan diet), p value 0,01 (perawatan mandiril) pada α 0,005 yang berarti ada beda kepatuhan diet dan perawatan mandiri sebelum dan sesudah diberikan edukasi kelompok sebaya. Simpulan dan Implikasi: Edukasi berbasis kelompok sebaya dapat menigkatkan kepatuhan diet dan perawatan mandiri penderita DM karena edukasi yang diberikan oleh teman sebaya membuat seorang individu lebih dapat menerima dan percaya dengan pemikiran bahwa mereka merasakan hal yang sama. Metode ini dapat diterapkan sebagai salah satu pendekatan intervensi berbasis edukasi dalam  menigkatkan kepatuhan diet dan perawatan mandiri penderita DM baik dalam lingkup klinik maupun komunitas.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGKAJIAN M3 (METHOD) DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN BERBASIS STANDAR AKREDITASI JOINT COMISSION INTERNATIONAL Diana Rachmania; Widyasih Sunaringtyas; Dhina Widayati
The Indonesian Journal of Health Science Vol 11, No 2 (2019): The Indonesian Journal Of Health Science
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ijhs.v11i2.2957

Abstract

Tahap pengkajian metode (M3) dalam manajemen keperawatan memerlukan inovasi untuk menyesuaikan dengan perkembangan antara kondisi ruangan dengan keperluan standar akreditasi Rumah Sakit. Tujuan dari penelitian untuk mengembangkan instrumen pengkajian M3 (Method) dalam manajemen keperawatan berbasis standar akreditasi Joint Comission International. Desain Penelitian adalah mix method memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini semua perawat (76) di RS Amelia. Sampel dalam penelitian ini 20 perawat dengan teknik purposive sampling. Tahap 1 peneliti menyusun instrumen melalui small group discussion dengan pihak bidang keperawatan, kepala ruang, dan perawat.  Tahap 2 melakukan analisis uji validitas dan reliabitas. Hasil uji validitas menunjukkan instrumen pengkajian M3 (Method) manajemen keperawatan memiliki rata-rata r count r table (0,652 0.423) dan hasil uji reliabilitas dengan rata-rata r hitung (0,7843) 0,6. Hasil evaluasi subjektif 20 responden, 80% menyatakan instrumen mudah dipahami, 70% sesuai kebutuhan Rumah Sakit, dan 80% mudah diaplikasikan. Pengembangan instrumen pengkajian M3 (Method) manajemen keperawatan dinyatakan valid dan reliabel. Instrumen pengkajian M3 (Method) manajemen keperawatan memiliki beberapa kompenen meliputi model MAKP, timbang terima, ronde keperawatan, supervisi, sentralisasi obat, discharge planning. Pengisian instrumen pegkajian tersebut sebaiknya dilakukan secara bertahap oleh perawat sehingga hasilnya dapat menggambarkan kondisi riil Rumah Sakit.
Peningkatan kenyamanan dan early mobilization pada ibu post SC melalui efflurage back massage Dhina Widayati
Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 6, No 1 (2022): Juni
Publisher : AIPKEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah-'Aisyiyah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Ibu Post SC mempunyai permasalahan nyeri akibat luka post sc yang dapat menggangu kenyamanan dan mobilisasi, padahal mobilisasi dini dapat meningkatkan proses penyembuhan luka. Massage merupakan salah satu upaya menurunkan nyeri sehingga kenyamanan meningkat dan diharapakan dapat mempercepat mobilisasi dini. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh efflurage back massage terhadap tingkat kenyamanan dan early mobilization pada ibu post sc di Rumah Sakit Amelia Pare Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental yang melibatkan 40 responden melalui total sampling. Efflurage back massage sebagai variabel independen, kenyamanan dan early mobilitation sebagai variabel dependen. Data kenyamanan diukur menggunakan kuesioner dan early mobilization dengan lembar observasi. Data dianalisa dengan paired T-Test dengan α 0.05. Hasil: rata – rata early mobilitation kelompok kontrol 6,4 dan peningkatan kenyamanan (mean = 3,85) sedangkan pada kelompok perlakuan rata - rata early mobilitation 11,65 dan peningkatan kenyamanan (mean = 5,32). Nilai P=0,000 menunjukkan effleurage back massage berpengaruh terhadap kenyamanann dan early mobilitation. Simpulan: massage pada punggung klien dapat menstimulasi release hormon endhorphin yang dapat menurunkan nyeri, kenyamanan meningkat dan responden dapat lebih cepat melakukan mobilisasi. Intervensi effleurage back massage dapat digunakan salah satu intervensi untuk meningkatkan kenyamanan dan early mobilization yang berguna untuk mempercepat kesembuhan luka.
Literature Review : Instrumen Penilaian Nyeri Pada Anak Dengan Gangguan Kognitif Dhina Widayati - STIKES Karya Husada Kediri
Indonesian Journal on Medical Science Vol 5 No 2 (2018): IJMS 2018
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.095 KB)

Abstract

Abstract: Difficulty assessing pain in a person who can not express perceived pain, for example in a child with cognitive impairment provides a significant obstacle in pain management. The purpose of this study was to review some lithographs that contain pain-reducing instruments in children with cognitive impairment and to discuss instruments that can be applied effectively and have clinical uses. Method used by searching for English article, articles on Medline, Cinahl, and PubMed databases, and is limited from 1990 to 2018. Through topical keywords and 5 articles are reviewed. Result in this study has showed that assessment of pain in children with cognitive impairment can be done through rFLACC, NCCPC-PV, NCCPC-R and NAPI. rFLACC is the most effective and has great clinical use with ICC: 0.73-0.9). rFLACC assesses 5 indicators (face expression, leg, activity, cry & consoability) more simple and easy to apply to all children with cognitive impairment at all levels. Assessment of post elective surgical pain in clinical settings in children with cognitive impairment can be done by using rFLACC. In an effort to improve instrument reliability, improvements in leg and activity items can be the basis of subsequent research. Keywords: assessment of pain, child, cognitive impairment Abstrak: Kesulitan penilaian nyeri pada seseorang yang tidak dapat mengungkapkan nyeri yang dirasakan, misalnya pada anak dengan gangguan kognitif  memberikan hambatan yang signifikan dalam manajemen nyeri. Tujuan dari studi ini untuk melakukan review pada beberapa litarur yang memuat instrumen penialaian nyeri pada anak dengan gangguan kognitif dan mendiskusikan instrumen yang dapat diterapkan secara efektif dan mempunyai kegunaan klinis. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah pencarian artikel bahasa inggris pada database Medline, Cinahl, dan PubMed, dan dibatasi dari tahun 1990 hingga 2018. Melalui keyword sesuai topik didapatkan 5 artikel yang direview. Penilaian nyeri pada anak dengan gangguan kognitif dapat dilakukan melalui rFLACC, NCCPC-PV, NCCPC-R dan NAPI. rFLACC merupakan instrumen yang paling efektif dan mempunyai kegunaan klinis yang besar dengan ICC : 0,73-0,9). Hasil penelitian menunjukkan pada instrumen rFLACC dapat dinilai 5 indikator yang lebih lengkap, yakni : (face expression, leg, activity, cry & consoability). Intrumen tersebut juga lebih simple dan mudah untuk diterapkan pada semua anak dengan gangguan kognitif pada semua tingkatan. Penilaian nyeri post pembedahan elektif pada tatanan klinis pada anak dengan gangguan kognitif dapat dilakukan dengan rFLACC. Dalam upaya meningkatkan reliabilitas instrumen, penyempurnaan item leg dan activity dapat menjadi dasar penelitian berikutnya.Kata kunci : penilaian nyeri, anak, gangguan kognitif
PENINGKATAN KENYAMANAN LANSIA DENGAN NYERI RHEUMATOID ARTHRITIS MELALUI MODEL Comfort Food For The Soul Dhina Widayati; Farida Hayati
Journal of Nursing Science Update (JNSU) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Health Sciencce, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.789 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu permasalahan lansia dalam sistem muskuloskeletal adalah Rheumatoid Arthritis (RA). Pada orang tua dengan RA memiliki keluhan utama nyeri yang juga dapat menjadi stressor terhadap stres. Salah satu bentuk intervensi dalam model kenyamanan makanan bagi jiwa dapat dilakukan dengan terapi musik religius. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Model Comfort Food For The Soultingkat stres dan kenyamanan. Penelitian ini menggunakan Quasy eksperimen dengan Pre-post test control group design. Jumlah sampel 32 responden diperoleh dengan purposive sampling dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Data variabel dependen dikumpulkan melalui DASS kuesioner (tingkat stres) dan GCQ (kenyamanan). Hasil data tingkat stres yang dianalisis dengan Wilcoxon Sign Rank Test pada masing-masing kelompok menunjukkan p = 0,001 (intervensi) dan p = 0,262 (kontrol), dan data kenyamanan p = 0,002 (intervensi) dan p = 0.180 (kontrol). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan p = 0,000 (tingkat stres) dan p = 0,008 (kenyamanan), p <0,05 yang berarti ada pengaruh yang signifikan dari Model Comfort Food For The Soul terhadap tingkat stres dan kenyamanan. Terapi musik religius dapat mengurangi tingkat stres lansia karena musik lembut akan mendorong rasa relaksasi. Musik masuk ke dalam saraf pendengaran dan melalui mekanisme HPA Axis akan meningkatkan produksi β Endhorphin. Saran bagi perawat di PSLU untuk menerapkan model comfort food for the soul melalui terapi musik sebagai terapi alternatif untuk mengurangi stres dan meningkatkan kenyamanan.Kata Kunci : stres, kenyamanan, lansia, nyeri AbstractOne of the elderly’s problems in musculoskeletal system was Rheumatoid Arthritis (RA). In the elderly with RA had a main complaint of pain which can also be a stressor to stress. One form of intervention in the model of comfort food for the soul can be done by religious music therapy. The purpose of this study was to determine the effect of comfort food for the soul model on the stress level and comfort. This study used Quasy experiment with pre-posttest control group design. Total samples were 32 respondents gotten by purposive sampling were divided into experiment and control groups. Dependent variable data were collected by DASS questionnaire (stress level) and GCQ (comfort). Results of stress level data were analized by Wilcoxon Sign Rank Test in each group showed p = 0.001 (experiment) and p = 0.262 (control), and the comfort data p = 0.002 (experiment) and p = 0.180 (control). Mann Whitney Test showed p = 0.000 (stress level) and p = 0.008 (comfort), p <0.05 which means there were significant effect of comfort food for the soul model on stress level and comfort. Religious music therapy could be reduce stress levels of elderly due to soft music will encourage a sense of relaxation. Music into the auditory nervous to the HPA Axis that improved  production of β Endhorphin. Advise for nurse in Elderly hostel to apply model of comfort food for the soul by religious music therapy as an alternative therapy to reduce stress and increase comfort.Keywords : stress, comfort, elderly, pain
Peningkatan kenyamanan dan early mobilization pada ibu post SC melalui efflurage back massage Dhina Widayati; Farida Hayati; Dwi Rori Fajarotin
Jurnal Riset Kebidanan Indonesia Vol 6, No 1 (2022): Juni
Publisher : AIPKEMA (Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Muhammadiyah-'Aisyiyah Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32536/jrki.v6i1.217

Abstract

Latar belakang: Ibu Post SC mempunyai permasalahan nyeri akibat luka post sc yang dapat menggangu kenyamanan dan mobilisasi, padahal mobilisasi dini dapat meningkatkan proses penyembuhan luka. Massage merupakan salah satu upaya menurunkan nyeri sehingga kenyamanan meningkat dan diharapakan dapat mempercepat mobilisasi dini. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh efflurage back massage terhadap tingkat kenyamanan dan early mobilization pada ibu post sc di Rumah Sakit Amelia Pare Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental yang melibatkan 40 responden melalui total sampling. Efflurage back massage sebagai variabel independen, kenyamanan dan early mobilitation sebagai variabel dependen. Data kenyamanan diukur menggunakan kuesioner dan early mobilization dengan lembar observasi. Data dianalisa dengan paired T-Test dengan α 0.05. Hasil: rata – rata early mobilitation kelompok kontrol 6,4 dan peningkatan kenyamanan (mean = 3,85) sedangkan pada kelompok perlakuan rata - rata early mobilitation 11,65 dan peningkatan kenyamanan (mean = 5,32). Nilai P=0,000 menunjukkan effleurage back massage berpengaruh terhadap kenyamanann dan early mobilitation. Simpulan: massage pada punggung klien dapat menstimulasi release hormon endhorphin yang dapat menurunkan nyeri, kenyamanan meningkat dan responden dapat lebih cepat melakukan mobilisasi. Intervensi effleurage back massage dapat digunakan salah satu intervensi untuk meningkatkan kenyamanan dan early mobilization yang berguna untuk mempercepat kesembuhan luka.
Family Empowerment dalam Deteksi Dini Stroke pada Keluarga Pasien dengan Hipertensi Diana Rachmania; Dhina Widayati
TRI DHARMA MANDIRI: Diseminasi dan Hilirisasi Riset kepada Masyarakat (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : JTRIDHARMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtridharma.2022.002.01.10

Abstract

Adanya keterlambatan penanganan stroke dikarenakan kemampuan deteksi dini stroke masyarakat yang masih kurang. Hal ini berkaitan dengan penyakit hipertensi yang merupakan faktor risiko terjadinya stroke 6 kali lebih tinggi. Keluarga sebagai orang yang paling dekat dengan pasien riwayat hipertensi memiliki peran yang sangat besar dalam upaya pencegahan terjadinya keparahan akibat penyakit stroke. Oleh karenanya, pengenalan deteksi dini penyakit stroke pada keluarga serta pemberdayaan keluarga yang merawat pasien dengan hipertensi penting untuk dilakukan. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan pemahaman keluarga serta memberdayakan keluarga dalam deteksi dini stroke pada keluarga yang merawat pasien dengan hipertensi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6-22 September 2021 di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri terhadap 16 peserta. Metode yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman keluarga dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang deteksi dini stroke yang dilakukan secara door to door (karena pandemi Covid-19) dengan media pamflet. Alat ukur untuk menilai pemahaman keluarga berupa lembar observasi. Hasil dari kegiatan ini yaitu sebanyak 75% peserta yang awalnya tidak mampu melakukan deteksi dini stroke ditunjukkan dari hasil pre-test kegiatan menggunakan lembar observasi tentang cara deteksi dini stroke. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan berupa penyuluhan tentang cara deteksi dini stroke, sebanyak 87,5% mampu melakukan bagaimana cara deteksi dini stroke. Hal ini ditunjukkan dari hasil post-test. Peran serta keluarga sangatlah penting dalam upaya pencegahan terjadinya keparahan pada penyakit stroke terutama stroke yang diakibatkan karena adanya riwayat hipertensi. Oleh karena itu, diharapkan keluarga mampu menerapkan deteksi dini stroke pada anggota keluarga dengan hipertensi yang berisiko tinggi mengalami kondisi penyakit stroke.
Blood cholesterol and its related factors among Indonesian blood donors Nian Afrian Nuari; Efa Nur Aini; Dhina Widayati
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 12, No 1: March 2023
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v12i1.21816

Abstract

Blood donation nowadays were considered to improve health status of the donors by declining human’s cholesterol level. The high level of cholesterol inside the blood bags influenced the blood quality. However, there was limited data about cholesterol level and its influencing factor on the blood donors. This cross-sectional study aimed to analyse the associated factors of cholesterol levels in blood donors. This study involved 120 respondents using the purposive sampling as sampling method. Data was collected using questionnaires and blood cholesterol examination. The obtained data was analysed using univariate and bivariate statistic tests with significance level α=0.05. This study found that the majority of respondents aged 35-45 years (60.8%) and male (60.8%). More than half respondents were routine to donate their blood. Although they consumed cholesterol foods, their cholesterol level remained normal (88.3%). This study also found that blood donation had an association with cholesterol level p=0.000, while the other variables did not show any relationship. The normal cholesterol level among blood donors was influenced by frequent blood donation. Further study needs to be explored about the activities and the foods type to identify the cholesterol level among blood donors.