Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Evaluasi Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Industri Furnitur Berbasis Metode HIRADC Fandeli, Hary; Tomas, Micko
Jurnal Andalas: Rekayasa dan Penerapan Teknologi Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jarpet.v5i2.125

Abstract

The furniture industry is one of the key contributors to Indonesia’s manufacturing sector, supporting national economic growth through exports and employment opportunities. However, this sector is also characterized by a high level of occupational hazards, including exposure to wood dust, machine noise, chemical solvents, and poor ergonomic practices. Small and medium-sized enterprises (SMEs) in particular often lack formal Occupational Health and Safety (OHS) management systems, making workers more vulnerable to accidents and occupational diseases. To address these challenges, this study aims to identify potential hazards, assess risk levels, and provide control recommendations in the furniture production process. The research employed the HIRADC method (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) through field observation and interviews in one of the small and medium industries in Padang City, West Sumatra. The results indicate that most risks fall into the low to moderate categories, with one high-risk activity identified during wood sanding due to dust exposure. Recommended controls focus on applying the OHS control hierarchy, including engineering controls (local ventilation, noise reduction, ergonomic design), administrative measures (training and housekeeping), and the use of personal protective equipment. The findings conclude that HIRADC is effective in minimizing potential hazards and supporting the creation of a safe and sustainable working environment in the furniture industry.
Pemilihan dan Implementasi Strategi Peningkatan Kenyamanan Termal Ruang Kuliah Lusi Susanti; Hary Fandeli
Jurnal Optimasi Sistem Industri Vol. 16 No. 2 (2017): Published in October 2017
Publisher : The Industrial Engineering Department of Engineering Faculty at Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/josi.v16.n2.p112-119.2017

Abstract

Optimum conditions help us think and work better. Thermal comfort in lecture buildings is important to maintain students’s comfort and help them concentrate on study. The fastest way to achieve expected thermal comfort inside the lecture room is using air conditioner, however, compensation on high electricity bills and degradation of the environmental quality has to be made. Therefore, the aim of this paper is to find and promote several environmental friendly strategies which can provide comfort to users in one hand, but also can reduce energy consumption in another hand. There have been several strategies in records to increase thermal comfort in buildings. To select the best and the most appropriate alternative, Analytical Hierarchy Process method was used by setting the criteria, sub-criteria, and alternatives to increase thermal comfort in lecture buildings of Andalas University. To test the selected alternative, thermal comfort inside two lecture rooms were evaluated experimentally. The comfort level was evaluated using PMV (Predicted Mean Vote) and PPD (Predicted Percentage Dissatisfied) model. For all experimental conditions, PMV and PPD results and individual thermal vote results showed a good match statistically meaning that the PMV and PPD models could predict thermal condition inside the lecture rooms. Results also showed that the presence of natural vegetation infront of glass windows of the lecture rooms statistically improved thermal comfort sensations of students under natural ventilation mode and reduced thermostat setting under air conditioning mode.
Pengenalan Lean Manufacturing untuk Meningkatkan Daya Saing UKM Rendang Gadih di Payakumbuh Fahlevi, Fidruzal; Amrina, Elita; Hasan, Alizar; Putri, Nilda Tri; Zadry, Hilma Raimona; Indrapriyatna, Ahmad Syafruddin; Taufik; Wirdianto, Eri; Kamil, Insannul; Fithri, Prima; Wisnel; Rahmayanti, Dina; Jumeno, Desto; Patrisina, Reinny; Adi, Alexie Herryandie Bronto; Huda, Ashila Nurul; Liperda, Rahmad Inca; Fandeli, Hary; Maulana, Ghufran; Febriano, Raihan
Warta Pengabdian Andalas Vol 33 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.33.1.19-27.2026

Abstract

Small and Medium Enterprises (SMEs) are the backbone of Indonesia's economy, contributing over 60% to the national GDP and employing more than 97% of the workforce. In Payakumbuh, culinary SMEs have significant potential due to the abundance of local raw materials and high demand for traditional foods such as rendang. Rendang Gadih is one such SME focusing on rendang production for both local and regional markets. However, inefficiencies in production, inconsistent quality, and manual management processes limit its competitiveness. This community service activity introduced the concept of Lean Manufacturing to improve efficiency and reduce waste. The main tools socialized were Value Stream Mapping (VSM), Process Activity Mapping (PAM), and identification of the eight types of waste, along with the application of Kaizen principles for continuous improvement. Implementation was carried out through preparation, socialization, and evaluation stages. The results of this activity are expected to help Randang Gadih enhance production efficiency, minimize waste, and strengthen competitiveness, serving as a model for other culinary SMEs in West Sumatra.
Evaluasi  dan Sosialisasi Kesehatan Keselamatan Kerja Pada IKM Cahaya Mulia Bakery Kota Padang Rozza Linda; Isna Juwita; Mufrida Meri; Irmayani Irmayani; Hary Fandeli; Desriyenti Desriyenti
Interaksi : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Interaksi - Juni
Publisher : PT. Faaslib Serambi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66341/interaksi.v1i1.24

Abstract

Pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pada industri kecil dan menengah (IKM) sangat penting dalam memastikan lingkungan kerja yang aman dan produktif. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi K3 di Cahaya Mulia Bakery, sebuah IKM di Kota Padang, Sumatera Barat. Berdasarkan observasi dan wawancara, ditemukan bahwa IKM ini menghadapi berbagai tantangan terkait pemahaman dan pelaksanaan K3. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Cahaya Mulia Bakery telah mempertahankan kebersihan, sanitasi, dan pengelolaan limbah yang baik, serta menyediakan ventilasi dan pencahayaan yang memadai. Penggunaan alat pelindung diri (APD) dan prosedur keselamatan lainnya juga diterapkan dengan benar, yang ditunjukkan oleh minimnya insiden kecelakaan kerja. Namun, ada kebutuhan untuk terus meningkatkan kesadaran pekerja terhadap K3 dan mengadopsi teknologi baru untuk mengurangi risiko. Program pelatihan K3 yang berkelanjutan dan evaluasi berkala juga diidentifikasi sebagai langkah penting ke depan. Secara keseluruhan, Cahaya Mulia Bakery telah menunjukkan komitmen yang signifikan terhadap praktik K3, yang telah menghasilkan lingkungan kerja yang lebih aman dan efisien. Namun, perhatian lebih lanjut diperlukan dalam aspek peningkatan fasilitas, pelatihan berkelanjutan, dan keterlibatan pekerja dalam keputusan terkait K3 untuk lebih memperkuat implementasi K3 di masa mendatang.
Analisis Kerusakan Komponen Kritis pada Mesin Slitting dengan Pendekatan FMEA Hary Fandeli; Selli Aulia Rezkita
Jurnal Andalas: Rekayasa dan Penerapan Teknologi Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jarpet.v6i1.136

Abstract

Industri manufaktur baja di Indonesia saat ini berada dalam fase transformasi dengan tingkat persaingan yang sangat kompetitif, di mana keandalan mesin produksi menjadi variabel krusial untuk meminimalkan pemborosan (waste) dan menjaga stabilitas rantai pasok. PT Kunango Jantan, sebagai pemain kunci dalam industri pengolahan baja, sangat bergantung pada mesin slitting sebagai jantung awal proses produksi, namun unit ini justru memiliki frekuensi gangguan teknis tertinggi yang memicu breakdown mendadak, downtime yang signifikan, hingga potensi penalti keterlambatan pengiriman. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam terhadap jenis kerusakan pada mesin slitting dan menentukan prioritas perbaikan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Melalui analisis data historis tahun 2024, risiko dikuantifikasi berdasarkan parameter Severity, Occurrence, dan Detection untuk menghasilkan nilai Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian mengidentifikasi 54 kejadian kerusakan yang terbagi dalam 32 failure mode dengan ambang batas kritis RPN sebesar 33,84. Sebanyak 11 jenis kegagalan teridentifikasi memiliki nilai di atas batas kritis yang telah ditetapkan. Prioritas risiko tertinggi ditunjukkan oleh kegagalan Oli Tekor dengan nilai RPN sebesar 120, diikuti oleh Oli Hidrolik Tekor (RPN = 75) dan Monitor & Sensor Error (RPN = 64). Temuan ini mengindikasikan bahwa titik lemah utama sistem permesinan terletak pada komponen sistem hidrolik dan sistem kendali. Kondisi tersebut diduga dipengaruhi oleh belum optimalnya pelaksanaan perawatan preventif. Oleh karena itu, direkomendasikan penerapan standardisasi prosedur inspeksi harian, khususnya pada pemeriksaan volume dan kualitas oli, serta pelaksanaan kalibrasi sensor secara periodik. Langkah ini diharapkan dapat menurunkan potensi kegagalan, meningkatkan keandalan mesin, dan menjamin keberlanjutan operasional perusahaan secara berkelanjutan.
Analisis Pengendalian Kualitas Produk Pipa Baja Di PT Kunango Jantan Dengan Metode Six Sigma Dzakirah Rofiana Fadri; Hary Fandeli
Jurnal Andalas: Rekayasa dan Penerapan Teknologi Vol. 6 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Electrical Engineering Department Faculty of Engineering Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jarpet.v6i1.139

Abstract

This study is motivated by the occurrence of defects in steel pipe products, which lead to decreased product quality, increased production costs, and reduced organizational competitiveness. Therefore, this research aims to evaluate the effectiveness of quality control in steel pipe production using the Six Sigma approach and to propose improvement recommendations based on the analysis results. This study adopts a quantitative approach using secondary data in the form of historical production records and defect data from 2023 to 2024. The analysis is conducted using the Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) framework. In the measurement stage, control charts, Defects per Unit (DPU), Defects per Million Opportunities (DPMO), and sigma level are calculated to assess process performance and capability. The results show that the average sigma level of the steel pipe production process is at 4 sigma, with a DPMO value of 5,355.8989, indicating that the process performance is relatively good but still requires improvement. The most dominant type of defect identified is incomplete welding. Further analysis indicates that the root causes of defects are related to human, machine, material, and method factors. Based on these findings, several improvement recommendations are proposed, including enhancing operator training, implementing routine machine maintenance, strengthening material quality control, and improving standard operating procedures (SOP). These recommendations are expected to reduce defect rates and improve overall process quality.
Key Determinants of SMEs Sustainable Performance in West Sumatra: A PLS-SEM Analysis Hary Fandeli; Micko Tomas; Fitrah Qalbina; Nasywa Firdaus Har
Jurnal Optimasi Sistem Industri Vol. 25 No. 1 (2026): Published in June 2026
Publisher : The Industrial Engineering Department of Engineering Faculty at Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/josi.v25.n1.p174-190.2026

Abstract

Rising environmental pressures from population growth and industrial expansion in Indonesia necessitate sustainable business practices. Yet, adoption among Small and Medium-sized Enterprises (SMEs) remains obstructed by low energy efficiency, inadequate waste management, limited technological and financial access, and managerial shortcomings. Using‍‌‍‍‌‍‌‍‍‌ two theories, resource based view (RBV) and institutional theory (IT), this study has mapped the relationships between internal and external factors and the triple-bottom-line performance of SMEs. This study investigates and tests these relationships amongst the factors that influence environmental, social, and economic sustainability performance by Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). This study designs the approach as a cross-sectional survey, gathering primary data from 110 SMEs to assess the proposed relationships among internal, external, and sustainability performance. Internal factors consist of green entrepreneurial orientation (GEO), green innovation (GI), and leadership commitment (LC), while market orientation (MO) and stakeholder pressure (SP) represent the external factors. Findings indicate that market orientation (MO) has a positive and significant effect across the entire triple-bottom-line (financial, social, environmental), whereas stakeholders pressure (SP) exerts a significant positive effect only on the financial and social dimensions. On the other hand, the internal factor comprising green entrepreneurial orientation (GEO), green innovation (GI), and leadership commitment (LC) does not significantly impact sustainability performance. These results indicate that among the external drivers examined, market orientation is the most comprehensive predictor of sustainability performance, whereas stakeholder pressure has a significant effect only on the financial and social dimensions. Practically, Indonesian SMEs are advised to constantly interpret and react to market signals and stakeholder expectations, whereas, policymakers are recommended to pair the tool of stakeholder pressure with capability-enhancement programs in terms of the operational system.
Model Pengambilan Keputusan Untuk Analisis Hambatan Manufaktur Berkelanjutan pada Industri Kecil dan Menengah Hary Fandeli; Muhammad Thoriq Habibi Lubis; Aulia Rizki
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1276

Abstract

Industri kecil dan menengah (IKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia melalui kontribusinya terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Namun, meningkatnya tuntutan global terhadap keberlanjutan mendorong IKM untuk menerapkan sustainable manufacturing, yaitu praktik produksi yang efisien, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Implementasi konsep ini belum optimal karena keterbatasan modal, teknologi, kapasitas sumber daya manusia, serta lemahnya dukungan eksternal. Hambatan tersebut saling berkaitan dan membentuk sistem yang kompleks sehingga diperlukan analisis yang menyeluruh untuk menentukan strategi penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan utama, memetakan hubungan antarhambatan, serta menentukan prioritas penanganannya pada IKM di Kota Padang. Metode yang digunakan adalah Interpretive Structural Modelling (ISM) untuk menganalisis keterkaitan hierarkis antarhambatan, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot prioritasnya. Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh hambatan dalam empat kategori, yaitu manajerial, finansial, teknologi, dan eksternal. Melalui ISM, kurangnya dukungan pemerintah teridentifikasi sebagai akar hambatan, sedangkan lemahnya dukungan manajemen, tingginya biaya investasi awal, dan sulitnya akses pendanaan menjadi hambatan penggerak. Selanjutnya, hasil AHP menunjukkan bahwa hambatan manajerial dan finansial merupakan hambatan paling krusial yang perlu diprioritaskan penanganannya dibanding hambatan eksternal dan teknologi. Temuan ini memberikan dasar strategis bagi pelaku IKM dan pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah percepatan implementasi manufaktur berkelanjutan.
Identifikasi Kriteria dan Pemilihan Pemasok Benang pada Industri Tekstil dengan Metode Analytical Hierarchy Process Hary Fandeli; Mufrida Meri; Tommy Desrian
Fusion : Journal of Research in Engineering, Technology and Applied Sciences Vol. 1 No. 1 (2024): Fusion - April
Publisher : PT. Faaslib Serambi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66341/fusion.v1i1.16

Abstract

Pemilihan pemasok yang tepat dapat menjamin kelancaran operasional industri manufaktur. Pemasok  berperan dalam dalam menentukan bahan baku yang berkualitas, jumlah yang tepat dan pengiriman yang aman.  Industri manufaktur perlu melakukan evaluasi terhadap pemasoknya dengan cermat dan berkelanjutan. Biaya bahan baku dan komponen pendukung merupakan bagian dari biaya sebuah produksi yang harus dikelola dengan baik. Pengambilan keputusan tentang kriteria dan pemilihan pemasok yang tepat penting dalam upaya untuk meningkatkan kepuasan konsumen. Penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk melakukan identifikasi kriteria dan pemilihan pemasok benang pada industri tekstil PT.Taltex Industry. Proses pengambilan keputusan dimulai dengan menyusun hirarki AHP, penilaian perbandingan berpasangan untuk kriteria dan alternatif, pengujian konsistensi dan pembobotan supplier. Kriteria yang diidentifikasi dalam proses pemilihan pemasok di PT.Taltex Industry adalah kualitas, harga, pengiriman, pelayanan dan adaptif. Terdapat 3 alternatif supplier yang akan dipilih, setiap alternatif dinilai oleh pakar dalam bentuk kuesioner AHP. Hasilnya, urutan prioritas kriteria yang dipertimbangkan dalam pemilihan supplier adalah adalah kriteria harga (29,2%), kualitas (27,5%), adaptif (19,0%), pelayanan (12,7%), dan pengiriman (11,6%). Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut secara keseluruhan pemasok CV. Sentosa dinilai sebagai pemasok  terbaik dengan nilai 53,5%. CV. Sentosa unggul pada semua kriteria dibandingkan dengan dua pemasok lainnya.
Analisis Pemilihan Pemasok Bahan Baku Karet Menggunakan Metode Analitycal Hierarchy Process Irmayani; Hary Fandeli; Mufrida Meri. Z; Ratih Zulia Zulia Ramadhani
Jurnal Sains dan Teknologi: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknologi Industri Vol. 25 No. 1 (2025): Regular Issue
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36275/53cy9h88

Abstract

Manajemen rantai pasok merupakan salah satu perencanaan strategis perusahaan. Tahapan kegiatan untuk mendapatkan bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi, hingga kegiatan pendistribusian produk ke konsumen yang melibatkan produsen, pemasok, distributor, pengecer, dan pelanggan merupakan salah satu mata rantai kegiatan terpenting perusahaan agar sirkulasi produksi yang efektif dan menguntungkan terjamin.  PT Lembah Karet bergerak pada pengolahan karet mentah menjadi karet setengah jadi, (karet remah), yaitu Crumb Rubber SIR 2.  Permasalahan pasokan bahan baku seperti keterlambatan dan perbedaan jumlah yang diterima dengan jumlah yang diorder menjadi permasalahan di lantai produksi hingga bagian pemasaran. Hal ini menyebabkan perusahaan harus menetapkan urutan kriteria penting dalam pemilihan pemasok agar dapat menetapkan pemasok yang tepat.  Pada penelitian ini digunakan metoda Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan software expert choice dan MS processing dalam menentukan urutan kriteria untuk menetapkan pemasok yang tepat di PT. Lembah Karet Padang.  Hasil penelitian menunjukkan variable kualitas merupakan prioritas pertama dalam pemilihan pemasok (33,6%), selanjutnya variable adaptif (21,7%), harga (15,9%), pengiriman (15,2%), dan pelayanan (13,6%).