Iwan Setiawan
Sekolah Tinggi Agama Kristen Sabda Holistik

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Paskah dalam Perspektif Kekristenan: Bukan Ritual Melainkan Kebenaran Bagi Orang Percaya Setiawan, Iwan; Arumi F. Setyaning Christi; Mardi Kalikit Bara; Arlen Rambu Saja; Yersim Fallo
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 17 No. 1 (2024): Pembinaan Warga Gereja
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47154/sjtpk.v17i1.246

Abstract

Prinsip-Prinsip Kekudusan Berdasarkan 1 Tesalonika 4:1-8 Setiawan, Iwan; Malo, Arvince; Bani, Astika Maya; Bani, Rut Srimulyani; Juniarto, Eko
Jurnal Teologi Injili Vol. 3 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi ATI Anjungan Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55626/jti.v3i2.58

Abstract

Hidup dalam kekudusan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan orang pecaya. Tanpa kekudusan manusia tidak berkenan dan tidak dapat berkomunikasi atau bersekutu dengan Allah. Tetapi yang nyata dalam zaman ini adalah manusia hidup dalam keberdosaan dan menjadi hal yang biasa dengan hidup dalam percabulan, hawa nafsu, pembunuhan, seks diluar nikah, dan juga saling memfitnah. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian ustaka yaitu dengan cara mencari dan menggunakan sumber-sumber untuk menemukan data yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian dengan maksud untuk mendapatkan sumber alternatif yang berkaitan dengan judul sehingga bisa menjawab masalah yang terjadi pada konteks saat ini. Tujuan Penelitian adalah untuk menemukan prinsip-prinsip kekudusan dalam 1 Tesalonika 4: 1-8 supaya prinsip-prinsip ini menjadi nilai dasar yang dapat digunakan orang percaya dalam konteks masa kini. Hasil penelitian yang didapat adalah berkenaan dengan prinsip-prinsip kekudusan yaitu Hidup Berkenan kepada Allah, Hidup Menjauhi Kejahatan, Hidup Tidak Menolak Allah. Tiga bagian ini menjadi hal yang mendasar yang harus dimiliki orang percaya dalam menjalankan prinsip dan nilai kekudusan.
Refleksi Teologis tentang “Dimerdekakan dari Dosa”: Kajian Eksegesis Roma 6:17-19 Setiawan, Iwan; Anggarsari, Sinta; Caroline, Lisa A.; Pasaribu, Samuel H.; Riada, Yakub Bulu
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i1.89

Abstract

Abstract: A liberated life is the result of God's work for His chosen people. Believers who admit that their lives have been set free, but still live in sin, are people who consider grace not to be important but only ordinary, so they continue to fall into sin and live in sinfulness. The research method used is descriptive qualitative with a literature approach and hermeneutic, namely a method used in researching the status of human groups, objects, research conditions, systems of thought, or a class of events in the present, by describing them using hermeneutics, namely a method that expresses, translates and interpreting, the source material is the biblical text to gain an understanding of the biblical text. His research aims to explain the theoretical basis of being freed from sin based on Romans 6:17-19 so that it can be implied in the lives of believers today. The research results obtained are: first, freedom gives rise to obedience to Allah. Second, the result of people who are freed from sin is that they become slaves of righteousness and experience sanctification. Abstrak: Kehidupan yang dimerdekakan merupakan hasil pekerjaan Allah bagi orang-orang pilihan-Nya. Orang percaya yang mengakui bahwa hidupnya telah dimerdekakan, namun masih hidup dalam dosa, mereka adalah orang yang menganggap kasih karunia bukan hal yang penting melainkan hanya yang biasa sehingga mereka terus jatuh dalam dosa dan hidup dalam keberdosaan. Metode penelitan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan hermeneutik yaitu suatu metode yang digunakan dalam meneliti status kelompok manusia, objek, riset kondisi, sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang, dengan menguraikannya dengan hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan, sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitiannya adalah untuk menjelaskan landasan teori mengenai dimerdekakan dari dosa berdasarkan Roma 6:17-19 supaya dapat diimplikasikan dalam kehidupan orang percaya masa kini. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: pertama, kemerdekakan menimbulkan ketaatan kepada Allah. Kedua, akibat orang yang dimerdekakan dari dosa adalah menjadi hamba kebenaran dan mengalami pengudusan.
Peranan Roh Kudus dalam Perspektif Tulisan Paulus Iwan Setiawan; Yanti Martina Ruku; Afrida Riska Bili; Kaleb Timuneno; Jimi Rasi
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.92

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara komprehensif dan alkitabiah ajaran Paulus mengenai peranan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Trinitas, Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk menyertai dan Roh Kudus membawa untuk lebih mengenal dengan benar dan percaya kepada Yesus Kristus. Kehidupan orang percaya masa kini terkadang tidak menekankan tentang Roh Kudus sebagai pribadi yang penting dalam kehidupannya. Metode penelitian yang gunakan adalah tinjauan pustaka yang diartikan sebagai ringkasan yang diambil dari sumber bacaan yang berkaitan dengan suatu topik penelitian. Hasil penelitian yang didapat adalah Roh Kudus memberi hidup yang memerdekakan, Roh Kudus memberikan perlengkapan rohani, Roh Kudus memberi keselamatan bagi yang menerima-Nya, Roh Kudus dalam pemberitaan Injil, Roh Kudus mengerjakan firman dalam hati orang percaya dan Roh Kudus hadir dalam buah-buah Roh.
Signifikansi Mazmur 119:9-16 dalam Penggunaan Media Digital bagi Generasi Z Kristen Indonesia Galuh Pandandari; Dina Elisabeth Latumahina; Iwan Setiawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/fmzdd864

Abstract

Currently, the rapid expansion of digital media has become increasingly complex and intensive, exerting significant influence on human language, habits, mindsets, and behavior when not managed wisely. Many individuals, including Christian members of Generation Z, experience mental health problems ranging from mild to severe as a result of excessive gadget use. Furthermore, criminal activities on social media continue to increase. This study aims to articulate the spiritual principles of Psalm 119:9–16 as a foundational framework for digital media use among Christian Generation Z, enabling them to maintain moral and spiritual integrity in the digital era and emphasizing the relevance of this biblical passage for guiding behavior in accordance with God’s will. This research employs a qualitative descriptive method using a hermeneutical approach to interpret and explain the biblical text as the primary data source. In addition, content analysis and narrative research methods are applied to examine documents and interview data reflecting Generation Z experiences with digital media and its behavioral impacts. The findings demonstrate that digital media can be used constructively and with eternal value when Generation Z applies the principles of Psalm 119:9–16, including moral purity, wholehearted devotion to God, obedience to His commandments, and internalization of God’s Word.     Saat ini, perkembangan media digital yang sangat pesat menjadi semakin kompleks dan intensif, serta memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bahasa, kebiasaan, pola pikir, dan perilaku manusia apabila tidak dikelola dengan bijaksana. Banyak individu, termasuk generasi Z Kristen, mengalami gangguan kesehatan mental mulai dari tingkat ringan hingga berat sebagai akibat dari penggunaan gawai yang berlebihan. Selain itu, aktivitas kriminal di media sosial juga terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip-prinsip spiritual dalam Mazmur 119:9–16 sebagai kerangka dasar penggunaan media digital bagi generasi Z Kristen, sehingga mereka mampu mempertahankan integritas moral dan spiritual di era digital, serta menegaskan relevansi bagian Alkitab ini dalam membimbing perilaku sesuai dengan kehendak Allah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan dan menjelaskan teks Alkitab sebagai sumber data utama. Selain itu, metode analisis isi dan penelitian naratif diterapkan untuk mengkaji dokumen dan data wawancara yang merefleksikan pengalaman generasi Z dalam penggunaan media digital serta dampaknya terhadap perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital dapat dimanfaatkan secara konstruktif dan bernilai kekal apabila generasi Z menerapkan prinsip-prinsip Mazmur 119:9–16, yang meliputi kemurnian moral, penyerahan diri sepenuh hati kepada Allah, ketaatan pada perintah-Nya, serta penghayatan terhadap firman Allah.
Implikasi Hukum Taurat dan Janji Bagi Generasi Produktif Indonesia: Studi Eksegetis Terhadap Galatia 3:15-29 Iwan Setiawan; Kezia Savitra Karunia Lebi; Susanti Bida; Agustina Dawa
JURNAL SABDA HOLISTIK Vol. 1 No. 1 (2025): Maret
Publisher : STAK Sabda Holistik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63218/0gx8bx04

Abstract

Dalam sejarah agama Yahudi dan Kristen, taurat atau hukum taurat merupakan landasan moral dan spiritual yang sangat berperang penting dalam membentuk kehidupan beriman. Namun sangat disayangkan tidak semua orang memahami arti dari janji itu sendiri. Generasi Produktif Indonesia yang menjadi pilar utama di Era Bonus Demografi saat ini rentan ketika menghadapi tantangan dan pergumulan, dengan jumlah generasi produktif yang melimpah juga didalamnya beragama Kristen namun rentan karena tidak memiliki pondasi yang kuat secara alkitabiah, sehingga gampang untuk jatuh dan terjerumus dalam era saat ini. Metode yang penulis gunakan ialah metode kajian Pustaka dengan menggunakan menggabungkan sumber-sumber antara lain artikel, jurnal dan dokumen lainnya secara tertulis, dengan menggunakan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan, sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks Alkitab. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan secara alkitabiah dan komprehensif prinsip-prinsip hukum taurat atau janji berdasarkan Galatia 3:15-29 supaya Generasi Produktif Indonesia memiliki pemahaman yang benar berkenaan dengan hal itu. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: Pertama, hukum Taurat merupakan penuntun pada keselamatan. Kedua, janji tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat. Ketiga, janji diberikan bagi yang beriman atau percaya kepada Kristus. Keempat, orang yang menerima janji akan dibenarkan karena Iman.
Arumi F. Tinjauan Etis Kristen Terhadap Fenomena Mentalitas Inlander Arumi F. Setianing Christy; Iwan Setiawan
Makarios: Jurnal Teologi Kontekstual Vol 5 No 1 (2026): Mei
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/mak.v5i1.494

Abstract

Delapan puluh tahun kemerdekaan, mentalitas Inlander masih sangat kuat menjerat mentalitas bangsa ini. Mentalitas ini ditandai dengan munculnya rasa tidak percaya diri atas potensi dan kemampuan diri sendiri dan lebih suka mempergunakan hasil temuan bangsa lain. Dan penyakit ini dapat menggerogoti mentalitas dan nasionalisme rakyat Indonesia. Tujuan penelitian ini penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dari mentalitas Inlander, dampak mentalitas Inlander, dan tinjauan etis Kristen terhadap mentalitas Inlander. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah literature review yaitu digunakan untuk   mengidentifikasi, mengkaji, mengevaluasi, dan menafsirkan semua penelitian yang tersedia dengan bidang topik fenomena yang menarik. Dan hasil penelitian yang didapatkan adalah mentalitas inlander adalah sebuah bentukan kepribadian oleh karena sebuah kondisi yang membentuk cara berpikir dan cara menilai diri yang kemudian mematikan inisiatif untuk menghasilkan karya. Mentalitas inlander merupakan produk dari dosa. Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, mentalitas inlander menjangkit manusia. Namun Firman Tuhan menyatakan bahwa hidup di dalam Dialah, maka kita dimerdekakan (Roma 6:11; 18-19), maka seharusnya orang percaya tidak lagi hidup sebagaimana hamba dosa, melainkan dibaharui hari demi hari (Kolose 3:5-17).
POLA DAN DINAMIKA PENGINJILAN RASUL PAULUS: STUDI TEMATIK BIBLIKAL BERDASARKAN KISAH PARA RASUL Iwan Setiawan; Yuliana Lu; Zummy Anselmus Dami
Manna Rafflesia Vol. 12 No. 2 (2026): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v12i2.417

Abstract

Evangelism was preaching the Good News about Christ. Preaching the Gospel is the responsibility of every believer and church. The church still has not fulfilled its mandate to make disciples. Most churches already know that they must preach the Gospel to all people who do not believe, but they only know but do not try to go to preach the Gospel, so preaching the Gospel is not the main thing.This research aimed to find the basis, area, strategy, principles and impact of evangelism contained in the Acts of the Apostles. The research method used is a qualitative approach with an analytical description method, explaining it in a hermeneutic way. The research results are: The research results obtained based on the book of Acts of the Apostles regarding evangelism were the basis of the apostle Paul's evangelism, namely the inclusion of the holy spirit, the Bible or the gospel of Christ, the commandment or great commission. area of ​​evangelism, exemplary for evangelism, Paul’s evangelism strategy was preaching among his tribes, telling the chronology of the salvation of the Israelites, going to areas, and forming an evangelism team. Principles of Evangelism and Impact of Evangelism
Perspektif Alkitabiah Makanan Persembahan Berhala dan Implikasinya bagi Orang Percaya Iwan Setiawan; Ronald Y.G Honin; Aristoporus Dendo; Carlin Taihuttu; Inka Butet Simanjuntak
YADA : Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi Vol. 3 No. 1 (2025): YADA: Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Providensia Adonay

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makanan persembahan berhala adalah makanan yang sudah dipersembahkan kepadaalah-alah lain atau kepada dewa-dewa asing. Makanan persembahan berhala menjadi topikpembahasan yang serius, ada berbagai pendapat mengenal hal ini, ada yang mengijinkanmemakannya, ada pula yang melarang untuk memakannya. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode studi pustaka yaitu dengan cara memahami dan mempelajariteori-teori dari berbagai literatur yang berhubungan dengan makan persembahan berhalaberdasarkan persepektif alkitabiah. Tujuan penelitian untuk menjelaskan secara alkitabiahdan komprehensif mengenai makanan persembahan berhala supaya orang percaya memilikipemahaman yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Hasil penelitian yang diperolehberdasarkan kajian alkitabiah adalah bahwa makanan persembahan berhala adalah makananyang sudah dipersembahkan kepada allah-allah lain dan bukan kepada Allah pencipta didalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga tidak boleh memakannya. Semua makanan yang sudahdipersembahkan kepada allah-allah lain itu adalah makanan berhala sehingga itu perludiperhatikan, akan tetapi makanan persembahan berhala boleh dimakan jika seseorang tidakmengetahui asal-usul makanan itu, apakah sudah dipersembahkan kepada berhala. Secaraalkitabiah, orang percaya perlu memperhatikan dan memahami akan hal-hal yang berkenaandengan makanan persembahan berhala, bersikap tegas dan tidak kompromi. Orang percayaperlu berdiri teguh dalam keyakinan kepada Yesus Kristus di atas segala-galanya, termasukterhadap makanan yang diberikan kepada berhala dan juga tindakan menduakan Tuhandengan menyembah berhala.
Menyelesaikan Pekerjaan Tuhan Berdasarkan Yohanes 4: 34 Iwan Setiawan; Elisabeth Ngana Hama Ayli; Chresty Thessy Tupamahu; Elri Masniari Saragih; Risart Pelamonia
Manna Rafflesia Vol. 8 No. 2 (2022): April
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.873 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v8i2.217

Abstract

Completing His work is the duty of every believer who serves God with the main task of preaching the gospel of the Kingdom of God. The fact is that there are still believers who serve God without having the right understanding and motivation, one of which is only to pursue material things. As a result, many believers specifically those who are called to be servants of God resign or quit the ministry for worldly reasons. The purpose of this research is to find out the meaning, methods, and authority in 'finishing God's work' according to John 4: 34 so that believers who are called as servants of God have the right understanding and view and are able to implement it in real life. The method used is a qualitative method that focuses on a literature review. The results of the study are: First, the meaning of completing His work is a perfect act that has been carried out by the Lord Jesus, but continues, so that Jesus wants His work to be done by every believer with confidence and sincerity. Second, the way to accomplish His work is to do His will, by bringing souls to God. Third, the authority to complete His work only from God who sent.