Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

POTENSI PROBIOTIK DARI TIGA MACAM TEMPE KACANG MERAH, TEMPE KACANG TANAH, DAN KACANG KEDELAI Serly Ghoniyah; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.234 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Tempe merupakan salah satu produk fermentasi tradisional yang sering dikonsumsi oleh masyarakat dan merupakan salah satu protein nabati mengandung probiotik yang berpotensi sebagai antibakteri. Adanya aktivitas antibakteri pada tempe berasal dari kandungan BAL (Bakteri asam laktat ) yang dihasilkan saat proses fermentasi dan aktivitas antibakteri lain yang dihasilkan dari bahan baku kacang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur total bakteri asam laktat,pH dan laju pertumbuhan bakteri Escherichia coli pada tempe kacang merah, tempe kacang tanah,dan kacang kedelai .Metode :  Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental laboratorium dengan 3 kelompok tempe yakni tempe kacang merah , tempe kacang tanah dan tempe kacang kedelai dengan perlakuan pengulangan 3 kali. Ketiga kelompok sampel tersebut yakni ekstrak tempe, ekstrak tempe kombinasi E.coli  dengan pengenceran 10-1-10-3 . Setiap sampel diinokulasikan pada media MRS Broth dan MRS Agar (untuk BAL) dan media EMBA (Untuk Escherichia coli). Koloni yang tumbuh dihitung dengan TPC(Total Plate Count) dan pengukuran pH dengan pH meter yang di kalibrasi. Hasil dianalisa secara statistik menggunakan uji One Way Annova tingkat siginifikansi p < 0,05 .Hasil:  Koloni BAL paling tinggi diperoleh dari tempe kacang merah dengan hasil 2,06 ± 0,58 cfu/ml pada kacang tanah 1,79 ± 0,17 cfu/ml dan kacang kedelai 1,76 ± 0,55 cfu/ml. Analisa laju pertumbuhan  Escherichia coli paling tinggi pada tempe kacang tanah 5,68 ± 3,03 cfu/ml, pada kacang kedelai 2,06 ± 0,58 cfu/ml dan yang paling rendah pada tempe kacang merah 1,71 ± 1,41 cfu/ml. Hasil pH pada tempe kacang kedelai  6,96 ± 0,02, pada kacang tanah 5,97 ± 0,25 dan hasil pengukuran pH paling rendah pada tempe kacang merah yakni 4,39 ± 0,02. Kesimpulan:. Tempe kacang merah menghasilkan koloni BAL paling tinggi dan pH paling rendah dibandingkan tempe yang lain.  Hambatan koloni bakteri  Escherichia coli paling rendah didapatkan pada tempe kacang merah.Kata Kunci: Tempe kacang merah,Tempe kacang tanah,Tempe kacang kedelai , BAL, pH,  Escherichia coli
KOMBINASI Momordica charantia DENGAN KLINDAMISIN ATAU AMOKSISILIN PADA PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus Muhamad Hudaya Setio Utari; Yoni Rina Bintari; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.007 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Obat Herbal Terstandar (OHT) buah pare (Momordica charantia) merupakan salah satu produk obat herbal yang diklaim bermanfaat sebagai terapi antidiabetes, namun juga memiliki potensi antibakteri yakni sebagai adjuvan antibiotik. Terapi kombinasi herbal dan antibiotik dapat menimbulkan interaksi farmakokinetik seperti sinergis, aditif, potensiasi, not-distinguishable, dan antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri pada kombinasi produk OHT M. charantia dengan klindamisin dan amoksisilin pada koloni Staphylococcus aureus.Metode: Penelitian dilakukan secara in vitro yang mengkombinasikan herbal dengan antibiotik terhadap koloni S. aureus. Produk OHT M. charantia dilarutkan dengan metanol berdasarkan lima variasi dosis: 200.000, 100.000, 50.000, 25.000 dan 12.500 ppm. Kemudian melakukan uji kombinasi dengan klindamisin 2 µg atau amoksisilin 25 µg pada koloni S. aurues menurut metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Analisis data menggunakan uji One-Way Anova  yang dilanjutkan dengan post-test Least Significant Difference (LSD) untuk uji OHT M. charantia dengan klindamisin dan uji Kruskal-Wallis dengan post-test Mann-Whitney untuk uji OHT M. charantia dengan amoksisilin berdasarkan tingkat signifikansi P<0,05.Hasil: Diameter ZOI kombinasi OHT M. charantia dengan amoksisilin 25 µg berinteraksi aditif pada dosis 200.000, 100.000, 50.000, 25.000 dan 12.500 ppm adalah 51,07 ± 1,97; 51,57 ± 1,44; 50,33 ± 1,17; 50,47 ± 2,20 dan 50,80 ± 0,80 mm pada koloni S. aureus. Sedangkan diameter ZOI kombinasi OHT M. charantia dengan klindamisin 2 µg berinteraksi aditif pada dosis 200.000, 100.000, 50.000 dan 25.000 ppm adalah 40,85 ± 1,20; 41,57 ± 2,00; 37,93 ± 2,48 dan 38,73 ± 1,64 mm namun berinteraksi not distinguishable pada dosis 12.500 ppm 35,07 ± 1,01 mm pada koloni S. aureus.Kesimpulan: Kombinasi OHT M. charantia baik dengan amoksisilin 25 µg maupun dengan klindamisin 2 µg berpotensi meningkatkan aktivitas antibiotik dalam menghambat koloni S. aureus.Kata Kunci: Momordica charantia, Adjuvan Antibiotik, Kombinasi Herbal dan Antibiotik
PENGARUH BERSIWAK DAN MENYIKAT DENGAN PASTA GIGI TERHADAP FLORA NORMAL ANAEROB TAHAN ASAM (FNATA) TERHADAP KESEHATAN GIGI DAN MULUT SANTRI AR-RAZI Fakhry Setiawan Haryadi; Arif Yahya; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.255 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan : Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan dengan angka kejadian pada tahun 2018 yaitu 51,9% pada orang dengan usia 15-24. Angka ini dapat disebabkan oleh pertumbuhan bakteri, salah satunya adalah kelompok bakteri Flora Normal Anaerob Tahan Asam (FNATA). Siwak diketahui memiliki efek berupa antibakteri, antiplaque, mengurangi deminerlisasi, dan memperbaiki jaringan yang rusak pada gigi dan rongga mulut. Hal ini menjadi alasan peneliti menggunakan kombinasi siwak dan pasta gigi untuk mengurangi pertumbuhan FNATA sehingga dapat meninkatkan kesehatan gigi dan mulut.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Klinis Non-Terapeutik dengan desain pre dan post group only. Pada penelitian digunakan sampel berupa hasil swab dari gusi dan saliva santri Pondok Pesantren Ar-Razi FK UNISMA dengan rentang usia 19-21 tahun yang akan menyikat gigi dengan pasta gigi dan siwak selama 10 hari. Selanjutkan dilakukan kultur bakteri pada media sukrosa agar dengan Phenol red untuk melihat pertumbuhan Koloni bakteri FNATA. Setelah didapat jumlah koloni FNATA, dilakukan uji signifikansi dan kompartif dengan SPSS.Hasil : Penggunaan pasta gigi menghasilkan perbedaan signifikan terhadap penurunan pertumbuhan FNATA pre dan post perlakuan pada gusi (p = 0,041) dan saliva ( p = 0,00). Penggunaan pasta gigi dan siwak menghasilkan perbedaan signikan terhadap penurunan pertumbuhan FNATA pre dan post perlakuan pada saliva ( p = 0,00).Kesimpulan : Penggunaan kombinasi Pasta gigi dan Siwak tidak menghasilkan perbedaan pengaruh terhadap pertumbuhan koloni bakteri FNATA dibandingkan dengan penggunaan Pasta gigi saja pada sampel gusi dengan p = 0,406 dan saliva dengan p =.0,143. Kata Kunci : Siwak, Pasta gigi, bakteri anaerob, normal flora, gigi dan mulut.
Perbandingan Kadar Merkuri (Hg) dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanolik Akar Eceng Gondok (Eichornia crassipes ) di Daerah Lawang dan Pasuruan Chasan Arfisa; Anita Puspa Widiyana; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.042 KB)

Abstract

Background: Water hyacinth (Eichornia crassipes) is an aquatic plant that grows on the surface of the water and is also a high accumulator of heavy metals. E. crassipes has compounds containing sulfihydryl group which can bind to Hg. E. crassipes in Lawang and Pasuruan regions is thought to have high Hg levels which may result in the high antioxidant activity. The purpose of this research was to determine the levels of mercury and antioxidant activity in the methanol extract of water hyacinth roots in Lawang and Pasuruan. Methods: This research is an experimental research in the laboratory using water hyacinth roots in Lawang and Pasuruan areas taken by cluster sampling area. The extraction was by maceration method for 72 hours with methanol solvent. Extraction is done in 2 ways, namely using a shaker and without a shaker. Hg test was measured using atomic absorption spectrophotometry (AAS) at a maximum wavelength of 253.96 nm.. The antioxidant activity test was using 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method and their result was check using by Uv-Vis  spectrophotometry (517 nm wavelength).Result: Hg content of the water hyacinth root extract Lawang shaker area 0.5287 ppm while without shaker 0.2207 ppm. For the Pasuruan shaker area 0.7910 ppm while without the shaker 0.7874 ppm (p <0.05). The antioxidant activity of the water hyacinth root extract of Pasuruan area was higher than that of Lawang area (p <0.05). IC50 value of Lawang samples with 334.8 ppm shakers; without shakers 205.4 ppm while Pasuruan samples with 161.94 ppm shakers; without a shaker 168.45 ppmConclusion: Macerated extraction of water hyacinth roots to Hg levels in Pasuruan area was higher than Lawang area. There is a relation between Hg levels and high antioxidant activity. The antioxidant activity of the water hyacinth root in Pasuruan area is higher than Lawang area.Keyword: Antioxidant, Water hyacinth, Lawang Malang. Pasuruan, Mercury (Hg)
VALIDASI METODE PEWARNAAN SEDERHANA BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli DENGAN EKSTRAK METANOL DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis) Ibrahim Ashri; Yoni Rina Bintari; Rio Risandiansyah
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.213 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pewarna alami dapat menjadi solusi terhadap efek negatif yang ditimbulkan pewarna sintetik. Daun teh hijau (Camellia sinensis) sebagai pewarna alami telah sering digunakan pada pewarnaan industri tekstil. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas pewarnaan alami daun teh hijau dibandingkan dengan pewarna sintetik Methylene Blue pada pewarnaan sederhana bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, kemudian dilakukan validasi metode akurasi dan presisi.Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental in vitro. Pewarnaan sederhana dilakukan dengan menggunakan Methylene Blue sebagai kontrol positif (+) dan daun teh hijau (Camellia sinensis) konsentrasi 2,5%, 5%, dan 7,5%. Jumlah bakteri dihitung dalam 5 lapang pandang menggunakan software ImageJ dan dilakukan perhitungan akurasi dan presisi. Dilakukan pula pengamatan deskriptif oleh tiga pengamat yang berbeda, dan dilakukan uji statistik metode Mann-Whitney.Hasil: Pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, di semua konsentrasi nilai yang diperoleh tidak memenuhi standar %Recovery (80-110%). Sama halnya dengan nilai presisi kedua bakteri tidak ada yang memenuhi standar Relative Standard Deviation (11%). Pada pengamatan deskriptif nilai tertinggi kedua bakteri diperoleh pada konsentrasi 7,5%.Kesimpulan: Pewarnaan sederhana bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan ekstrak metanol daun teh hijau (Camellia sinensis) memiliki tingkat akurasi dan presisi yang lebih rendah daripada Methylene Blue namun memiliki nilai pengamatan deskriptif yang baik pada konsentrasi 7,5%. Kata Kunci: Camellia Sinensis; Pewarnaan Sederhana; Staphylococcus aureus; Escherichia coli; Akurasi; Presisi
PENGARUH JAMU DAUN KELOR (Moringa oleifera) PADA AZITROMISIN TERHADAP Staphylococcus aureus Al Fareza Farhan Pradista Irgi Putra; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.791 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Daun kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman herbal yang tumbuh di Indonesia dan sering digunakan dalam sediaan jamu untuk mengobati osteoarthritis (OA) dan memiliki aktivitas antibakteri. Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri penyebab artritis septik yang merupakan penyulit OA. Azitromisin merupakan antibiotik yang digunakan untuk terapinya. Terapi kombinasi herbal dan antibiotik dapat menimbulkan interaksi farmakologis seperti sinergis, aditif, potensiasi, not-distinguishable, dan antagonis. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi interaksi kombinasi antara jamu Moringa oleifera dengan Azitromisin dalam menghambat S. aureus. Metode: Penelitian in vitro ini menggunakan campuran larutan jamu M. oleifera dengan etanol dengan lima variasi dosis yaitu 400.000, 200.000, 100.000, 50.000 dan 25.000 ppm. Uji interaksi larutan etanol jamu bersama azitromisin 25 µg sesuai dengan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST). Data dianalisis menggunakan One-Way Anova dilanjutkan dengan post-test Tamhane’s T2 dengan tingkat signifikansi p < 0,05.Hasil: Diameter zone of inhibition (ZOI) kombinasi azitromisin dengan jamu M. oleifera pada dosis-dosis yang digunakan (dari tertinggi ke terendah) adalah 33,35 ± 1,77, 34,50 ± 1,77, 34,03 ± 1,50, 33,83 ± 0,21 dan 32,90 ± 0,87 mm. Azitromisin secara tunggal memiliki ZOI dengan rentang 31,33 ± 0,55–32,53 ± 0,57 mm. Perbedaan signifikan (p<0,05) antara kombinasi dengan antibiotik tunggal didapatkan pada dosis 50.000 ppm saja. Secara tunggal, jamu tidak memiliki ZOI terhadap S. aureus.Kesimpulan: Kombinasi jamu M. oleifera dengan azitromisin berpotensi menghambat S.aureus.Kata Kunci : Kombinasi, Jamu, Antibiotik, S.aureus
Pengaruh Metode Ekstraksi (Dekoktasi, Infudasi, dan Microwave) Terhadap Aktivitas Antioksidan Pada Rumput Laut Gracilaria verrucosa Fandaratsani Tsaqif Ibrahim; Zainul Fadli; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.988 KB)

Abstract

Latar Belakang: Gracilaria verruccosa yang berasal dari perairan laut Ngemboh Gersik diduga memiliki aktivitas antioksidan. Namun, kadar antioksidan akan berbeda bergantung dari metode ekstraksi. Ekstraksi G. verrucosa dilakukan dengan berbagai variasi metode. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui metode yang paling efektif dalam memperoleh antioksidan dari G verruccosa.Metode: Penelitian eksperimental di laboratorium menggunakan G. verrucosa yang dilakukan secara in vitro. Ekstraksi G. verrucosa dilakukan dengan metode dekoktasi, infudasi, dan microwave. Uji senyawa aktif menggunakan metode fitokimia. Uji aktivitas antioksidan ekstrak G. verrucosa dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidradrazil (DPPH) yang diukur dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 517 nm. Uji struktur senyawa aktif dilakukan dengan menggunakan gas chomatography mass (GC-MS). Data dianalisis menggunakan one way anova dengan least signifikan difference (LSD) hasil dinyatakan bermakna bila p<0.05.Hasil: Hasil ekstraksi dekoktasi memiliki nilai rendemen tertinggi 60%. Uji fitokimia didapatkan senyawa metabolit sekunder meliputi flavonoid, alkaloid dan terpenoid. Uji one way anova didapatkan (p<0.05) terdapat perbedaan yang signifikan. Uji aktivitas antioksidan didapatkan Nilai IC50 metode dekoktasi 8,29 ppm, infudasi 21,62 ppm, microwave 10,402 ppm. Uji GC-MS ekstrak G. verrucosa dengan pelarut air terdeteksi adanya senyawa bezenedyccarboxylic acid, Octadeceonic Acid, Hexadeceonic Acid.Kesimpulan: Metode Ekstraksi dekoktasi menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi dibanding dengan metode infudasi dan microwave. Ekstrak G. verrucosa memiliki aktivitas penangkapan radikal DPPH dan uji GC-MS ekstrak G. verrucosa dengan metode dekoktasi menunjukkan adanya senyawa aktif berupa asam bezenedyccarboxylic.Kata kunci: Gracilaria verrucosa, Fitokimia, DPPH, Antioksidan, GC-MS.
STUDI IN SILICO AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI SENYAWA BIOAKTIF Tetraselmis chuii MELALUI PENGHAMBATAN PROTEIN DEFORMYLASE Muhammad Askar Arroisy Zawa; Muhammad Zainul Fadli; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.099 KB)

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik memerlukan upaya penemuan obat baru atau target baru. Salah satu target adalah enzim protein deformylase (PDf) yang berperan peran penting dlam sintesis protein. Penelitian ini melakukan skrinning secara insilico pada senyawa aktif Tetraselmis chuii terhadap PDf pada bakteri gram negative dan gram positif. Metode: Penambatan senyawa aktif T. chuii terhadap PDf pada bakteri gram negative (Pseudomonas aeruginosa dan Escherichia coli) dan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus dan Enterococcus faecalis) yang di evaluasi secara In silico menggunakan docking server dengan actinonin sebagai kontrol secara berurutan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif 2,6,10-trimethyl dan Phytol-1 dalam T. chuii memiliki potensi dalam menghambat PDf pada bakteri. Pada senyawa 2,6,10-trimethyl mempunya energi ikatan bebas ∆G E. coli -7.13 kcal/mol; ∆G P. aeruginosa -7.48; ∆G E. faecalis -7.13; ∆G S. aureus -6.8), sedangkan pada phytol 1 yaitu ∆G E. coli -6.88; ∆G P. aeruginosa -7.3; ∆G E. faecalis -7.03; ∆G S. aureus -6.51. Ikatan yang terjadi antara actinonin dengan senyawa aktif T. Chuii terjadi pada jenis asam amino yang sama pada semua bakteri. Kesimpulan: Senyawa aktif T. chuii yang diduga memiki kemampuan sebagai PDf-inhibitor yaitu - 2,6,10- trimethyl dan Phytol-1, sehingga pada kedua senyawa tersebut diduga memiliki kemampuan antibakteri secara Broad-spectrum Kata Kunci: Antibakteri, Tetraselmis chuii, protein deformylase , In silico
STUDI IN SILICO: POTENSI ANTIBAKTERI SENYAWA AKTIF Cladophora sp. terhadap PBP 2 dan PBP2a Staphylococcus aureus Riza Ma’rufin; Rio Risandiansyah; Yoni Rina Bintari
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.962 KB)

Abstract

ABSTRAKPendahuluan : Resistensi antibiotik terhadap S. aureus meningkat akibat mutasi Penicillin Binding Protein (PBP) 2 menjadi Penicillin Binding Protein (PBP) 2a. Sehingga dilakukan pencarian antibiotik baru. Cladophora sp. mengandung senyawa antibakteri, tapi belum diketahui mekanisme dan potensinya. Penelitian ini memprediksi potensi senyawa aktif Cladophora sp. terhadap protein target PBP2 dan PBP2a S. aureus menggunakan metode in silico dengan pendekatan moleckular docking serta prediksi farmakokinetik dan fisikokimia menggunakann pkCSM.Metode : Penambatan senyawa aktif Cladophora sp. terhadap protein target menggunakan docking server. Profil fisikokimia dan farmakokinetik melalui web pkCSM. Analisa data dilakukan secara deskriptif analitik.Hasil : Penambatan kontrol dengan PBP2 memiliki binding affinity -5.03 kcal/mol di ikatan Hidrogen dengan residu asam amino LEU219, GLU224. Beta sitosterol glucoside, Hexadecatetraenoic acid, Dihydroactinidiolide berpotensi lebih baik dibanding kontrol, nilainya -6.87 kcal/mol, -6.76 kcal/mol, -6.62 kcal/mol. Hexadecatetraenoic acid memiliki kesamaan titik seperti kontrol di GLU224. Penambatan kontrol PBP2a memiliki binding affinity -5.16 kcal/mol di ikatan Hidrogen dengan residu asam amino ASP56, ASN57. Palmitic acid, Myristic acid, Beta sitosterol glucoside berpotensi lebih baik dibanding kontrol, nilainya -7.29 kcal/mol, -7.28 kcal/mol, -7.16 kcal/mol. Palmitic acid dan Myristic acid memiliki kesamaan titik seperti kontrol di ikatan ASN57. Fisikokimia senyawa Cladophora sp. yang memenuhi Lipinski adalah Hexadecatetraenoic acid, Dihydroactinidiolide, Myristic acid. Senyawa Cladophora sp. memiliki profil farmakokinetik yang berpotensi kandidat antibakteri.Kesimpulan : Senyawa pecladophorA SPnghambat PBP2 adalah Beta sitosterol glucoside, Hexadecatetraenoic acid, Dihydroactinidiolide. Senyawa penghambat  PBP2a adalah Palmitic acid, Myristic acid, Beta sitosterol glucoside. Senyawa yang memenuhi Lipinski dan ADMET Hexadecatetraenoic acid, Dihydroactinidiolide dan Myristic acidKata Kunci : Cladophora sp., Amoxicillin Clavulanate, PBP2a.
Mekanisme Senyawa Aktif Daun Sirsak (Annona muricata Linn.) Sebagai Anti Diabetes: Studi In Silico Muhammad Iqbal Sugiharto; Yoni Rina Bintari; Dini Sri Damayanti
Jurnal Kedokteran Komunitas Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurnal Kedokteran Komunitas (Journal of Community Medicine)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.27 KB)

Abstract

Pendahuluan: Secara In Vivo dan In Vitro daun Sirsak (Annona muricata Linn.) diketahui memiliki efek sebagai anti diabetik melalui penghambatan aktifitas enzim α-Glucosidase dan α-Amylase, namun senyawa aktif yang bekerja sebagai penghambat kedua enzim tersebut masih belum diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prediksi sifat fisikokimia dan farmakokinetik serta mekanisme senyawa aktif daun Sirsak menghambat enzim αGlucosidase dan α-Amylase dengan studi In Silico.Metode: prediksi Sifat fisikokimia (Lipinski Rule of Five) dan farmakokinetik dengan parameter ADME dan toksisitas menggunakan PKCSM. Visualisasi menggunakan Software drug discovery studio. Uji In Silico dilakukan terhadap 27 senyawa aktif dari 200 senyawa penelitian sebelumnya yang teridentifikasi. Pengukuran afinitas senyawa aktif daun sirsak terhadap α-Glucosidase dan α-Amylase secara In Silico menggunakan pemodelan komputasi molecular docking, dengan parameter nilai energi bebas, konstanta inhibisi, interaksi permukaan dan residu asam amino dibandingkan dengan kontrol Acarbose.Hasil: Dari prediksi fisikokimia dan farmakokinetik (ADMET) senyawa aktif daun sirsak mempunyai sifat fisikokimia dan farmakokinetik mirip dengan Acarbose yaitu tidak memenuhi kriteria 5 Lipinski, tidak diabsorbsi oleh intestinal, dimetabolisme dihepar, dan diekskresikan melalui ginjal, hepar dan saluran cerna, serta tidak bersifat toksik. Dari hasil molecular docking berdasarkan empat kriteria didapatkan 5 senyawa aktif yang diprediksi mempunyai afinitas tinggi terhadap enzim α- Glucosidase dan α-Amylase. Lima senyawa tersebut secara berurutan dari yang tertinggi Rutin, Quercetin 3-O-neohesperidoside, Kaempferol 3-O rutinoside, Coclaurine dan Roseoside. Kesimpulan: Senyawa aktif daun sirsak yaitu Rutin, Quercetin 3-O-neohesperidoside, Kaemferol 3-O-rutinoside, dan Roseoside, mempunyai kemiripan sifat fisikokimia dan farmakokinetik serta potensi yang lebih rendah dalam menghambat α-Glucosidase dan α-Amylase dibandingkan Acarbose Kata Kunci : Daun Sirsak,α-Glucosidase dan α-Amylase,ADMET, INSILICO