Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Komparasi Mikrofisis Atmosfer pada Hujan Es Menggunakan Data Observasi, Model, dan Satelit (Studi Kasus: Hujan Es Sidoarjo 4 November 2024) Carundyatama, Daniar Ihza; Darmawan, Yahya; Rahma, Nuzula Elfa; Franchitika, Rizky; Sudarisman, Maman
DIFFRACTION: Journal for Physics Education and Applied Physics Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/diffraction.v7i1.13397

Abstract

Kondisi hujan ekstrem di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat pengaruh kondisi labilitas atmosfer. Penelitian ini menggambarkan dinamika parameter mikrofisis yang berpengaruh dalam labilitas atmosfer ketika hujan es terjadi. Data yang digunakan yaitu data observasi radiosonde, reanalisis ERA5 ECMWF, dan Satelit Himawari-9.  Kondisi hujan es di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal 4 November 2024 disebabkan oleh pertumbuhan awal Cumulonimbus (CB). Fase pembentukan, matang dan luruh berturut turut yaitu pukul 05.00 UTC, 06.10 UTC, dan 07.30 UTC. Citra kanal visibel menggambarkan bentuk awan, metode RGB menggambarkan kondisi lapisan dingin, dan citra IR menggambarkan suhu terendah yang diamati pada hujan es ini yaitu -80oC. Parameter mikrofisis vortisitas, vertical velocity, dan divergensi menunjukkan pola labil pada pukul 05.00 UTC. Nilai labilitas atmosfer pada wilayah Sidoarjo ketika pukul 00.00 UTC menunjukkan potensi adanya konveksi dengan didukung oleh kondisi yang ideal. Beberapa indeks menyatakan potensi terjadinya konveksi dan beberapa menunjukkan bahwa konveksi yang terjadi perlu dipicu oleh variabel atmosfer yang menguatkan
Identifikasi Variabilitas Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a Lombok Strait pada Triple-Dip La Niña 2020-2022 : Identification of Sea Surface Temperature and Chlorophyll-a Variability in the Lombok Strait During the Triple-Dip La Niña Event (2020–2022) Arzhida, Bima; Novitarini, Putu Widya; Nugraheni, Imma Redha; Carundyatama, Daniar Ihza
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v16i3.57981

Abstract

Fenomena La Niña sering menimbulkan perubahan signifikan pada suhu permukaan laut dan dinamika ekosistem laut dalam konteks perubahan iklim global. Studi ini fokus pada pengaruh Triple-Dip La Niña 2020-2022 di Selat Lombok yang berpotensi mempengaruhi keseimbangan biologis maritim. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami variabilitas suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a selama periode Triple-Dip La Niña. Penelitian menggunakan data Sea Surface Temperature (SST) dan chlorophyll (chlor_a) dari satelit Aqua-MODIS dan juga data arah dan kecepatan angin dalam bentuk Windrose di Mataram, Nusa Tenggara Barat selama periode 2020 hingga 2022 dengan periode 3 bulanan untuk meninjau variabilitas suhu permukaan laut dan klorofil-a yang terjadi. Pendekatan statistik, termasuk kalkulasi koefisien korelasi, diaplikasikan untuk menentukan hubungan antarvariabel. Ditemukan bahwa suhu tertinggi terjadi pada tahun 2020, sementara konsentrasi klorofil-a tertinggi tercatat pada tahun yang sama, khususnya di wilayah pesisir dengan suhu permukaan laut yang relatif lebih rendah dari sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh lemah antara klorofil-a dan SST pada wilayah Selat Lombok.
Dinamika Parameter Mikrofisis Hujan Es berbasis Satelit dan Data Model Reanalisis Carundyatama, Daniar Ihza; Novitarini, Putu Widya; Hakim, Muhammad Zaidan; Winarto, Hari; Kristianto, Aries
Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpg.v13i2.91059

Abstract

Hail events result from atmospheric dynamic processes, including a low freezing layer, strong downdrafts, and the growth of convective clouds. This study describes the microphysical dynamic conditions during the hail event in Batu City, East Java Province, on November 2, 2024. Microphysical analysis was conducted using observations, satellite data, and ERA5 ECMWF reanalysis data. The microphysical reanalysis data reveal dynamics in vertical, horizontal dimensions and time series during the formation to dissipation phases. Radiosonde observation data were used for atmospheric stability analysis. Additionally, IR imagery showed increased convective activity with very low temperatures reaching -75°C. The low boundary layer height and increased total cloud column ice indicate a significant concentration of ice particles. The moderate CAPE value of 1300 J/kg indicates sufficient energy potential for convection, while the low CIN value of 50 J/kg facilitates upward air movement to form clouds. The low LFC height and high EL further strengthen the indication that convection can develop vertically into the upper troposphere, allowing for the formation of intense hail.
Analisis Dinamika Labilitas Atmosfer Hujan Es berbasis Satelit, Model ERA-5, dan Observasi (Studi Kasus : Jawa Timur, 8 Oktober 2025 Carundyatama, Daniar Ihza; Anisa Nabilah; Ramadhan, Faiz Ahza; Achmad Zakir; Aditya Mulya
Newton-Maxwell Journal of Physics Vol. 7 No. 1: April 2026
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/nmj.v7i1.47973

Abstract

Hujan es adalah fenomena cuaca langka yang terjadi di daerah tropis dengan proses fenomena ketika tetesan air di dalam awan konvektif mengalami pembekuan akibat suhu yang sangat rendah pada ketinggian troposfer atas, kemudian jatuh ke permukaan sebelum sempat mencair. Penelitian ini menganalisis kondisi atmosfer yang memicu terjadinya hujan es di Jawa Timur, khususnya Mojokerto, dan daerah sekitarnya pada tanggal 8 Oktober 2025. Analisis ini dilakukan melalui pendekatan multi-data, termasuk citra satelit dari Himawari-9, reanalisis ERA5, pengamatan radiosonde Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda. Analisis satelit menunjukkan perkembangan cepat awan konvektif dengan suhu puncak awan di bawah -60 °C, yang menandakan adanya awan cumulonimbus yang sangat dalam. Atmosfer ditandai dengan kelembaban tinggi di lapisan bawah, geseran angin vertikal yang kuat, serta konvergensi di lapisan bawah dan divergensi di lapisan atas. Indeks labilitas seperti K Index dan Total Totals Index menunjukkan bahwa atmosfer sangat kondusif untuk konveksi yang kuat. Analisis penampang vertikal ERA5 menunjukkan adanya aliran naik yang signifikan dan peningkatan kandungan es awan di lapisan tengah. Di sisi lain, diagram Skew-T menunjukkan CAPE rendah hingga sedang dengan CIN yang cukup besar, menunjukkan bahwa pemicu dinamis diperlukan untuk memicu konveksi. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang mekanisme hujan es di daerah tropis.
Klasifikasi dan Estimasi Ketinggian Planetary Boundary Layer (PBL) Menggunakan Data Radiosonde Carundyatama, Daniar Ihza; Anisa Nabilah; Yosafat Donni Haryanto
Jurnal FisTa Fisika dan Terapannya Vol 7 No 1 (2026): APRIL
Publisher : Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Kebumian, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Planetary Boundary Layer (PBL) is the atmospheric layer closest to the Earth’s surface that plays a crucial role in weather dynamics. This study aims to classify the types and estimate the heights of the PBL in three regions of Indonesia representing different latitudes using radiosonde data during the period of January–December 2024. Classification was performed using the Potential Temperature Difference (PTD) method, while PBL height estimation utilized the potential temperature gradient, relative humidity, and parcel methods. The results show that at 00:00 UTC, the PBL is dominated by a stable boundary layer (SBL), whereas at 12:00 UTC, there is an increase in variability with the emergence of a neutral boundary layer (NBL) and a convective boundary layer (CBL). Estimates of PBL height ranged from <500 m to >2000 m, with the lowest values generally occurring in the morning and the highest during the JJA period. This study demonstrates that PBL variability in Indonesia is controlled by diurnal cycles, latitudinal differences, and atmospheric thermodynamic conditions, and contributes to the understanding of PBL characteristics in tropical maritime regions.