Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Etnomedisin : Analisa Potensi Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional di Desa Tempurejo Bunga, Cut Dewi; Rianawati, Luluc; Nurkhayati, Nurkhayati; Azizah, Bilqis Rahil; Yuliastuti, Fitriana; Lutfiyati, Heni; Azzahra, Adinda Laila
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v11i1.760

Abstract

Penggunaan obat tradisional di kalangan masyarakat Indonesia tetap menjadi kepercayaan bagi sebagian orang dalam mengatasi berbagai penyakit. Obat tradisional Indonesia terdiri dari kombinasi berbagai tumbuhan yang telah terbukti secara empiris efektif dalam menjaga kesehatan, serta mencegah dan mengobati penyakit. Studi etnomedisin bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang mendalam mengenai penggunaan tumbuhan obat di masyarakat, manfaat serta potensi ekonominya di pasar, dan keberadaannya dalam konteks ekologi. Tujuan: Membuat database tanaman obat yang sering digunakan oleh masyarakat Kecamatan Tempuran khusunya di Desa Tempurejo sehingga dapat dipergunakan sebagai langkah awal dalam upaya penemuan senyawa obat baru guna pembuatan obat-obatan atau pengembangan obat tradisional. Metode: Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam dan teknik pengambilan data menggunakan metode snowball sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan non-parametrik chi-square. Hasil: Hasil etnomedisin diperoleh sebanyak 17 jenis tanaman obat digunakan oleh masyarakat setempat dengan tanaman obat yang paling sering digunakan masyarakat setempat adalah kunyit (Curcuma longa) dan kencur (Kaempferia galanga). Tanaman obat kebanyakan diperoleh dengan cara membeli di pasar. Sebanyak 78% responden mendapatkan obat herbal dari hasil ramuan, dengan bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah rimpang dan daun. Sebanyak 36% responden mengolah tanaman obat dengan teknik direbus dan mayoritas masyarakat menggunakan tanaman obat tradisional dengan cara pemakaian diminum dengan persentase sebesar 96%. : Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Tempurejo masih sangat mengandalkan obat tradisional, terutama kunyit dan kencur, untuk menjaga kesehatan. Temuan tersebut dapat membuka peluang besar untuk pengembangan obat-obatan baru berbasis tanaman dan pelestarian pengetahuan tradisional.
Aktivitas Fagositosis Ekstrak Etil Asetat Daun Binahong dari Borobudur untuk Imunomodulator Pandemi COVID-19 Bunga, Cut Dewi; Haresmita, Perdana Priya; Rianawati, Luluc; Nurkhayati, Nurkhayati; Azizah, Bilqis Rahil; Latifah, Elmiawati; Hermawansyah, Adi
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v10i2.628

Abstract

Kawasan penghasil tanaman herbal ditemukan di daerah Borobudur, Jawa Tengah. Tanaman herbal dapat dimanfaatkan sebagai bahan fitofarmaka yang dapat diolah menjadi bahan dasar obat herbal. Berdasarkan data hingga minggu keempat bulan Juli 2023 dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa terdapat 8.245 kasus Covid-19 yang aktif sampai saat ini. Banyak fenomena yang dilakukan oleh masyarakat selama pandemi Covid-19 salah satunya masyarakat Indonesia menggunakan tanaman herbal yang diolah menjadi jamu guna menambah imunitas tubuh pada pandemi Covid-19. Tanaman yang dapat dimanfaatkan adalah tanaman Binahong (Anredera cordifolia). Penelitian tersebut penting dilakukan karena dapat memberikan alternatif sebagai bahan baku obat imunomodulator dari bahan alam yaitu ekstrak etil asetat daun Binahong dari Borobudur. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui efek imunomodulator ekstrak etil asetat daun Binahong yang terdapat di daerah Borobudur, Jawa Tengah yang menggunakan metode maserasi dengan mengukur aktivitas fagositosis dan indeks fagositosis. Peneliti menggunakan 30 mencit yang terbagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok memiliki 5 mencit dengan perlakuan positif, perlakuan pelarut dan kelompok dosis 25mg/kgBB, 50mg/kgBB, 75mg/kgBB dan 100mg/kgBB. Uji ANOVA One Way digunakan untuk menganalisis data penelitian ini. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, aktivitas fagositosis sel makrofag pada parameter indeks fagositosi menunjukkan dosis efektif yang dapat memberikan efek imunomodulator adalah 100 mg/kgBB. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa ekstrak etil asetat daun binahong (Anredera cordifolia) dengan dosis 100mg/kgBB menunjukan aktivitas imunomodulator secara signifikan dan mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid.
Enhancing the value-added of traditional herbal medicine through instant product diversification and KUBE Strengthening Wardani, Arief Kusuma; Apriyanto, Nugraha Dimas; Aji, Adiwira Wahyu; Azizah, Bilqis Rahil; Firdausa, Clara Adinda; Niamah, Nailiz Zulfiatin
Community Empowerment Vol 10 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.11203

Abstract

The traditional 'jamu gendong' (herbal medicine) business in Trasan Hamlet, Magelang, faces challenges due to low productivity and an extremely short product shelf life (only one day), which limits the welfare of its practitioners. This community service program aims to transform this traditional business through product innovation and digital market expansion. The methodology employed a participatory approach involving institutional strengthening, product diversification, and digital literacy. The results demonstrated the successful formation of the "Trajaya" Joint Business Group (KUBE) as a collective platform for vendors. The implemented technological innovation successfully converted liquid jamu into an instant powder format, which possesses a longer shelf life and higher market value. Furthermore, the integration of digital marketing through e-commerce (Shopee) has opened national market access for these local products. The transformation from a conventional business model to one based on product innovation and digitalization has proven effective in increasing competitiveness and providing sustainable solutions for the income growth of traditional herbal medicine vendors.