Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PREPARASI DAN KARAKTERISASI SELULOSA MIKROKRISTAL DARI NATA DE PINA SEBAGAI BAHAN EKSIPIEN DALAM SEDIAAN TABLET Rum, Ira Adiyati
Journal of Pharmacopolium Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.053 KB)

Abstract

Microcrystalline cellulose is one of the excipients of the tablet. So far the pharmaceutical industry uses microcrystalline cellulose from synthetic materials, not much development of microcrystalline cellulose from natural materials. Pineapple fruit with abundant availability in Indonesia can be used as a base material in microcrystalline cellulose manufacturing process, pineapple fruit previously processed first into nata de pina. Pineapple fruit can be used as the basic ingredients of nata because pineapple fruit contains carbohydrates, vitamins and water needed in the process of fermentation of pineapple juice by Acetobacter xylinum bacteria. Objective: To find out whether nata de pina can be used as raw material for microcrystalline cellulose manufacture. Find out the characterization of microcrystalline cellulose from nata de pina and compare it with avicel PH 102 Knowing the characterization of tablets using microcrystalline cellulose nata de pina as excipient material. Methodology: Preparation of nata de pina, evaluation of nata de pina, manufacturing of microcrystalline cellulose nata de pina, evaluation of microcrystalline cellulose nata de pina, optimization of furosemide tablet formulations, evaluation of furosemide tablets, comparison test. Result: Nata de pina can be used as raw material in making microcrystalline cellulose. The SEM test shows the existence of size and shape equation between microcrystalline cellulose nata de pina and avicel PH 102. The formula with the best tablet that is the 2nd formula using microcrystalline cellulose nata de pina of 60%, tablet formula 2 has a break time 5,91 minutes With the amount of dissolved furosemide in the 60th minute of 87.20%. Tablets using microcrystalline cellulose nata de pina as 60% concentrates have faster disintegration time and better dissolution profiles than tablets using avicel PH 102 at the same amount. In the dissolution profile comparison test, tablets using avicel PH 102 had a reduced number of furosemides in the 60th minute ie only 86.56%. This is related to the time destroyed tablets avicel PH 102 is longer that is 8.32 minutes.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS PENCERAH KULIT DARI PAPAIN DALAM SEDIAAN DEODORAN ROLL ON Azhary, Deny Puriyani; Rum, Ira Adiyati; Mardhiani, Yanni Dhiani; Jannati, Nurullyta
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No. 2, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.9 KB)

Abstract

Deodoran merupakan kosmetik yang dapat mengurangi bau badan dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Tapi penggunaan deodoran dapat membuat kulit menjadi gelap karena adanya kandungan alkohol, yang menyebabkan iritasi kulit pada ketiak. Pencerah kulit (anti hiperpigmentasi) dari bahan alam dapat diperoleh diantaranya dari buah pepaya (Carica papaya L.) Pepaya ini mengandung papain, yang dapat menghambat aktivitas  enzim tirosinase. Enzim tirosinase merupakan salah satu enzim yang berperan dalam pembentukan melanin pada kulit. Jumlah melanin yang banyak menyebabkan warna kulit menjadi gelap.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk formulasi sediaan deodoran roll on dan uji aktivitas pencerah kulit dari papain. Deodoran roll on diformulasi dengan variasi konsentrasi HPMC 1% (FI); 1,5% (FII) dan 2% (FIII) dengan konsentrasi papain 1,5% dan  kitosan 1%. Evaluasi sediaan deodoran roll on meliputi uji organoleptis, pengukuran pH, viskositas dan daya sebar. Uji stabilitas dilakukan pada tiga suhu yang berbeda, yaitu suhu 40°C, suhu ruangan dan  4°C, serta dilakukan uji freeze and thaw selama 4 siklus. Uji aktivitas pencerah kulit dilakukan dengan metode uji penghambatan enzim tirosinase secara in vitro serta dilakukan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan papain dapat menghambat kerja enzim tirosinase dengan nilai log IC50 sebesar >15000 ppm dibandingkan dengan bahan standar kojic acid, log IC50 33,85 ppm. Formulasi terbaik adalah FI yang memberikan nilai pH dan viskositas mendekati sediaan deodoran roll on yang ada di pasaran. Deodoran roll on yang dihasilkan stabil pada penyimpanan dan efektif dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dengan diameter hambat sebesar 15 mm.
FORMULASI PEWARNA RAMBUT DARI BIJI PEPAYA ( Carica papaya L.) DALAM BENTUK SEDIAAN GEL Rum, Ira Adiyati; Ulfha, Maria; Ghazali, Dolih
Jurnal Mitra Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): JMK
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asli atau mengubah warna rambut asli menjadi warna baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pembuatan pewarna rambut alami dari biji papaya dengan penambahan bahan pembangkit warna piragolol, juga untuk mengetahui konsentrasi ekstrak biji pepaya yang menghasilkan warna terbaik. Metode dilakukan dengan maserasi, pengujian ini dengan berbagai konsentrasi ekstrak biji papaya yaitu 3%, 5% dan 8% masing-masing dicampur dengan formula gel yang mengandung HPMC 2,5%, gliserin 6,25%, propilenglikol 15%, dmdm hidantoin 0,6% sebagai pengawet antimikroba dan piragolol 1%. Formula sediaan yang telah dihasilkan dilakukan uji stabilitas fisik meliputi pengamatan secara visual, pH, viskositas, stabilitas warna terhadap pencucian, stabilitas warna terhadap sinar matahari, uji daya sebar, dan uji biologis (iritasi). Hasil penelitian menujukkan bahwa warna rambut yang dihasilkan dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak biji pepaya dan waktu perendaman, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak dan semakin lama waktu perendaman akan menghasilkan warna yang semakin gelap dari pirang sampai dengan pirang kecoklatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak biji pepaya dapat diformulasikan sebagai pewarna rambut. Konsentrasi ekstrak biji pepaya 8% memberikan warna terbaik yaitu pirang kecoklatan, pH masih sesuai persyaratan pH gel untuk kulit yaitu 5,0-10. Viskositas mengalami perubahan turun naik, perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor yang berpengaruh selama penyimpanan. Stabilitas terhadap pencucian, sinar matahari langsung, daya sebar dan tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit
FORMULASI DAN KARAKTERISASI TABLET VITAMIN C ENGAN EKSIPIEN DARI NATA DE TUBEROSUM (NATA KENTANG) Rum, Ira Adiyati; Ginayah, Gina; Muhsinin, Soni
Journal of Pharmacopolium Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : P3M STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jop.v4i1.720

Abstract

ARTIKEL REVIEW : STUDY α-AMILASE DARI MIKROBA SERTA PEMANFAATANYA DALAM PEMBUATAN MALTODEKSTRIN Algofar, Muhammad Alif Aziz; Rosmansyah, Hurryatul Fikri; Rum, Ira Adiyati; Muhsinin, Soni; Fatmawati, Fenti
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/inrpj.v6i1.4517

Abstract

Amilase adalah hidrolase penting yang telah digunakan secara luas selama beberapa dekade. Enzim ini secara acak memotong ikatan glikosidik internal dalam molekul pati untuk menghidrolisisnya dan menghasilkan gula. Di antara amilase, α-amilase memiliki permintaan terbesar karena berbagai aplikasinya di bidang industri. Ketika konsumen menjadi lebih sadar akan masalah lingkungan, industri menemukan bahwa enzim dapat menggantikan katalis kimia lainnya. α-amilase dapat diproduksi dari tumbuhan atau sumber mikroba. Karena keuntungan yang diberikan oleh produksi mikroba, α-amilase dari mikroorganisme telah menjadi fokus perhatian dan lebih disukai daripada sumber produksi lainnya. Sifatnya yang ada di mana-mana, produksi yang mudah, dan berbagai aplikasi menjadikan α-amilase sebagai enzim yang penting bagi industri. Tujuan review ini adalah untuk memberikan informasi mengenai pengaplikasian enzim α-amilase yang berasal dari mikroba yaitu bakteri dan yeast serta pemanfaatannya dalam industri farmasi terutama dalam pembuatan maltodekstrin.Kata kunci: α-Amilase ; Mikroba ; Maltodekstrin
FORMULASI PEWARNA RAMBUT DARI BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM BENTUK SEDIAAN GEL Ira Adiyati Rum; Maria Ulfha; Dolih Ghazali
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.15

Abstract

Pendahuluan: Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asli atau mengubah warna rambut asli menjadi warna baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pembuatan pewarna rambut alami dari biji papaya dengan penambahan bahan pembangkit warna piragolol, juga untuk mengetahui konsentrasi ekstrak biji pepaya yang menghasilkan warna terbaik. Metode: Metode dilakukan dengan maserasi, pengujian ini dengan berbagai konsentrasi ekstrak biji papaya yaitu 3%, 5% dan 8% masing-masing dicampur dengan formula gel yang mengandung HPMC 2,5%, gliserin 6,25%, propilenglikol 15%, dmdm hidantoin 0,6% sebagai pengawet antimikroba dan piragolol 1%. Formula sediaan yang telah dihasilkan dilakukan uji stabilitas fisik meliputi pengamatan secara visual, pH, viskositas, stabilitas warna terhadap pencucian, stabilitas warna terhadap sinar matahari, uji daya sebar, dan uji biologis (iritasi). Hasil: Hasil penelitian menujukkan bahwa warna rambut yang dihasilkan dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak biji pepaya dan waktu perendaman, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak dan semakin lama waktu perendaman akan menghasilkan warna yang semakin gelap dari pirang sampai dengan pirang kecoklatan. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak biji pepaya dapat diformulasikan sebagai pewarna rambut. Konsentrasi ekstrak biji pepaya 8% memberikan warna terbaik yaitu pirang kecoklatan, pH masih sesuai persyaratan pH gel untuk kulit yaitu 5,0-10. Viskositas mengalami perubahan turun naik, perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor yang berpengaruh selama penyimpanan. Stabilitas terhadap pencucian, sinar matahari langsung, daya sebar dan tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit.
Preparasi dan Karakterisasi Selulosa Mikrokristalin dari Nata De Tuberosum Sebagai Eksipien Tablet Ira Adiyati Rum; Nova Munikasari; Rahmat Santoso
An-Najat Vol. 2 No. 1 (2024): FEBRUARI : An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v2i1.863

Abstract

Kentang merupakan tanaman umbi yang kaya akan karbohidrat yang dapat dijadikan bahan pembuatan nata. Kandungan selulosa dalam nata yang diproduksi oleh bakteri Acetobacter xylinum dapat diisolasi menjadi selulosa mikrokristalin. SM banyak digunakan dalam bidang farmasi sebagai eksipien tablet. Isolasi dilakukan denganhidrolisis α selulosa dengan HCl 2,5N. Selulosa mikrokristalin yang didapat dibandingkan dengan avicel PH 102. Tablet dibuat dengan metode kempa langsung. Hasil uji organoleptis serbuk berwarna putih kecoklatan, tidak berbau, tidak berasa. Uji identifikasi biru-violet, uji pati negatif, nilai susut pengeringan 4,80%, pH 6,84, laju alir 11,81 g/dtk, sudut diam : 39,19o, kompresibilitas 14,95%, kelarutan 0,13% dan kadar air 4,98%. Hasil uji FTIR dari nata de tuberosum mirip dengan Avicel PH 102. Hasil uji SEM pada SMNDT menyerupai Avicel PH 102 . Uji XRD menunjukkan puncak-puncak yang mirip dengan avicel PH 102. Hasil evaluasi tablet uji disolusi pada menit ke-45 82,15%, waktu hancur 1m 2s , keseragaman bobot 205 mg, keseragaman ukuran d=0,80 cm dan t=0,31 cm, kekerasan tablet 4,8 kg dan friabilitas 0,42%. Hasil evaluasi karakteristik SMNDT mirip dengan avicel PH 102. Evaluasi tablet memiliki kemiripan dengan tablet Avicel PH 102.
Workshop Production of Liquid Soap Made from Arabica Coffee and Yogurt in Cibiru, Bandung to Develop Hygiene Lifestyle Rum, Ira Adiyati; Supriadi, Dadih; Kurnia, Dewi; Mardhiani, Yanni Dhiani; Kosasih, Kosasih
Inaba of Community Services Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Volume 3 No. 1, June 2024
Publisher : Universitas INABA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56956/inacos.v3i1.259

Abstract

Few communities in Cibiru have a problem, namely that they have not implement a clean and healthy lifestyle, namely the lack of the habit of washing hands with soap before eating, especially for children, resulting in moderate diarrhea in the community area, as well as a lack of post-harvest diversification of coffee and milk. The solution   provided is to educate the community by presentation about the importance of washing hands with soap before eating. This event also holds training in making liquid hand washing soap, so that people are skilled at making the product, and can even sell the product. There are three specific goals and targets to be achieved, namely the community gaining knowledge on how to make hand washing soap, the community get used to a clean and healthy lifestyle and increasing community income by selling the liquid soap. The methods that are used are presentation of material using in focus and Microsoft PPT, training in making hand-washing soap products (hands-on) and monitoring post-training product marketing. The method used to make this hand washing soap is the fermentation method for making yogurt, the maceration method for making Arabica coffee extract. From the results of the questionnaire evaluation, there was an increase in participants' insight after being given the training, namely from an average score of 68 to 90, so there is quantitative data on the results of this training
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS PENCERAH KULIT DARI PAPAIN DALAM SEDIAAN DEODORAN ROLL ON Deny Puriyani Azhary; Ira Adiyati Rum; Yanni Dhiani Mardhiani; Nurullyta Jannati
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No. 2, 2017
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v4i2.94

Abstract

Deodoran merupakan kosmetik yang dapat mengurangi bau badan dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Tapi penggunaan deodoran dapat membuat kulit menjadi gelap karena adanya kandungan alkohol, yang menyebabkan iritasi kulit pada ketiak. Pencerah kulit (anti hiperpigmentasi) dari bahan alam dapat diperoleh diantaranya dari buah pepaya (Carica papaya L.) Pepaya ini mengandung papain, yang dapat menghambat aktivitas enzim tirosinase. Enzim tirosinase merupakan salah satu enzim yang berperan dalam pembentukan melanin pada kulit. Jumlah melanin yang banyak menyebabkan warna kulit menjadi gelap.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk formulasi sediaan deodoran roll on dan uji aktivitas pencerah kulit dari papain. Deodoran roll on diformulasi dengan variasi konsentrasi HPMC 1% (FI); 1,5% (FII) dan 2% (FIII) dengan konsentrasi papain 1,5% dan kitosan 1%. Evaluasi sediaan deodoran roll on meliputi uji organoleptis, pengukuran pH, viskositas dan daya sebar. Uji stabilitas dilakukan pada tiga suhu yang berbeda, yaitu suhu 40°C, suhu ruangan dan 4°C, serta dilakukan uji freeze and thaw selama 4 siklus. Uji aktivitas pencerah kulit dilakukan dengan metode uji penghambatan enzim tirosinase secara in vitro serta dilakukan uji antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasil penelitian menunjukkan papain dapat menghambat kerja enzim tirosinase dengan nilai log IC50 sebesar >15000 ppm dibandingkan dengan bahan standar kojic acid, log IC50 33,85 ppm. Formulasi terbaik adalah FI yang memberikan nilai pH dan viskositas mendekati sediaan deodoran roll on yang ada di pasaran. Deodoran roll on yang dihasilkan stabil pada penyimpanan dan efektif dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dengan diameter hambat sebesar 15 mm.
OPTIMASI METODE UNTUK MENINGKATKAN RENDEMEN SELULOSA MIKROKRISTAL YANG TERBUAT DARI NATA DE TUBEROSUM Ira Adiyati Rum; Gina Ginayah Amaliah; Dahlia Permatasari
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 6 No 2 (2019): Jurnal Farmasi Galenika Volume 6 No. 2
Publisher : Universitas Bhakti Kencana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70410/jfg.v6i2.146

Abstract

Latar belakang: Indonesia dikenal memiliki beraneka ragam sumber daya alam namun hingga saat ini 95% bahan baku obat diimpor salah satunya SM. SM dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari tumbuhan maupun hasil fermentasi, salah satunya yaitu nata. Nata adalah produk fermentasi yang dibuat dengan bantuan Acetobacter xylinum. Tujuan: Mengetahui SM yang dihasilkan apakah memiliki karakteristik yang sama dengan Avicel®102, metode mana yang menghasilkan rendemen selulosa mikrokristal lebih banyak dan mengetahui berapa persen efisiensi peningkatan rendemen. Metodologi: Optimasi metode dilakukan untuk meningkatkan rendemen yaitu metode penambahan sukrosa, metode penambahan starter dan metode hidrolisis. Hasil: Evaluasi karakteristik (uji organoleptik, pH dll) dan sifat fisikokimia (FTIR, SEM dan XRD) dari SM Nata de tuberosum telah memenuhi persyaratan dan mempunyai kemiripan dengan Avicel®pH102 tetapi memiliki ukuran partikel yang lebih besar. Kesimpulan: SM yang dihasilkan memenuhi persyaratan dan karatretistiknya sama dengan Avicel®102. Metode yang dapat meningkatkan rendemen yaitu penambahan starter 12,5%, dan efisiensi peningkatan 0,34% Background : Indonesia is known to have rich natural resources, but is currently 95% of drug raw materials imported one MC. MC retrieved from various sources, both from plant or fermented, one that is nata. Nata is fermented product that is made with the help of Acetobacter xylinum. The purpose is MC produced has the same characteristics with Avicel® 102 is which method produces microcrystalline cellulose yield more and find out how many percent efficiency improvement yield. Methodology : Method of optimization is done to improve yield the addition method sucrose, addition method starter and hydrolysis method. Results: Evaluation of characteristics (organoleptic test, pH etc.) and physicochemical properties (FTIR, SEM and XRD) of SM Nata de tuberosum has met the requirements and has similarities with Avicel® pH102 and has a larger size. Conclusion: The resulting MC agreed to the terms and characteristics of Avicel®102. A method that can increase yield is increasing starter 12.5%, and increasing efficiency by 0.34%