Ichsan Achmad Fauzi
Department Of Aquaculture, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Bogor Agricultural University, Bogor, Jawa Barat

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Evaluation of Smoked Skipjack Processing Byproduct Meal as an Alternative Feed Ingredient for Juvenile Humpback Grouper Cromileptes altivelis Muhamad Agus Suprayudi; Fatma Hajiali; Nur Bambang Priyo Utomo; Julie Ekasari; Ichsan Fauzi
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 23 No. 1 (2016): January 2016
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.122 KB) | DOI: 10.4308/hjb.23.1.18

Abstract

This study aimed to evaluate the utilization of smoked skipjack processing byproduct meal (SPBM) to reduce the use of fish meal (FM) for juvenile humpback grouper Cromileptes altivelis. This study consisted of digestibility test of SPBM and biological test to observe growth performance. Five isonitrogenous and isocaloric experimental diets were used: Diet A contains 0% SPBM as a control diet, and diets B, C, D, and E contain 25%, 50%, 75%, and 100% of SPBM protein to substitute FM, respectively. Digestibility trial was performed for 14 days by adding Cr2O3 into the experimental diets and collecting fecal matter 40–60 minutes after each feeding. For growth trial, juvenile humpback grouper were kept in glass aquariums and fed by the experimental diet until apparent satiation for 60 days. Our result shows that the dry matter and protein SPBM apparent digestibility coefficient is lower compared to FM. The fish that was fed with diet B and C performed a comparable specific growth rate, feed efficiency, and protein retention compared to control (p > 0.05). However, lower specific growth rate, feeding efficiency, and protein retention were observed in fish that was fed with diet D (75% SPBM) and diet E (100% SPBM; p < 0.05). These results indicate that up to 50% of smoked SPBM can be used for the diet of humpback grouper.
Evaluasi Periode Pemberian Pakan mengandung Daun Kayu Manis Cinnamomum burmannii terhadap Kualitas Daging Ikan Nila Oreochromis niloticus: Evaluation of Feeding Period Contain Cinnamon Leaf Flour Cinnamomum burmannii on The Meat Quality of Tilapia Oreochromis niloticus Triana Retno Palupi; Mia Setiawati; Dedi Jusadi; Ichsan Ahmad Fauzi; Wasjan
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 1 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(1)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.113 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v23i1.31064

Abstract

Tekstur dan aroma menjadi salah satu indikator kualitas filet ikan nila untuk diekspor. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas filet ikan dapat dilakukan dengan pemberian tepung daun kayu manis pada pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode waktu pemberian tepung daun kayu manis (DKM) yang dapat meningkatkan kualitas daging dan pertumbuhan ikan nila. Dosis tepung daun kayu manis yang diberikan pada adalah 1%. Pakan diberikan selama 15 hari (15D), 30 hari (30D), 45 hari (45D) dan 60 hari (60D) sebelum panen. Pemeliharaan ikan dilakukan menggunakan 20 hapa berukuran 2x1x1,5 m3 dengan padat tebar 20 ekor ikan/hapa, bobot ikan 30,23±0,15 g/ekor dan panjang 11-13 cm/ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung DKM mampu meningkatkan kualitas tekstur daging ikan nila dengan perlakuan terbaik pada 30D dengan nilai 547,5±9,1 gf. Uji kinerja pertumbuhan bobot dan retensi protein perlakuan 60D memberikan nilai yang berbeda nyata dibanding kontrol dengan nilai 3.854,3±219,0 g dan 44,0±6,3%. Nilai glikogen hati menunjukkan semua perlakuan memberikan nilai yang berbeda nyata dibanding kontrol dengan nilai berturut-turut 0,33±0,01, 0,35±0,01, 0,35±0,00,dan 0,35±0,00 (mg g-1). Nutrien berupa protein, lemak dan kadar air paling baik ditunjukkan pada perlakuan 60D dengan nilai masing-masing 18,8±0,7%, 1,85±0,14%, dan 76,6±0,9%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan mengandung daun kayu manis selama periode waktu 30 hari memberikan kualitas kekerasan daging ikan paling tinggi.
Supplemental enzyme in artificial diets for north african catfish larvae Clarias gariepinus Burchell, 1822 Ucu Cahyadi; Dedi Jusadi; Ichsan Ahmad Fauzi; Ade Sunarma
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 20 No 2 (2020): June 2020
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v20i2.522

Abstract

Supplemental enzyme in artificial diets with difference doses for African catfish Clarias gariepinus (initial weight of 0.0048±0.0001 g and total length 0.7633±0.0392 cm) were examined for 12 days feeding trial. The aim of this study was to analyze the effectiveness supplemental enzymes in diets for growth performance of catfish larvae. Tubifex sp. (control) and a multi enzyme was included at the level of 0.00 (ME0), 1.00 (ME1) and 2.00 g kg-1 (ME2 diet as a test diets. Each of the four experimental diets was randomly assigned to four plicate groups. Larva was allocated into 150 L aquaria at a density of 1350 larvae per aquarium. Data was analyzed using SPSS 20, followed by Duncan’s test. The result showed that the survival rate and condition factors were no statistical difference between experimental diets and control group. The highest final length, final weight, total food consumption, villi length and enzymes activity were recorded in the Control (P<0.05) and significantly different with other treatments. Feed efficiency’s control significantly different with other. Harvest size distribution, in the small size group (1-2 cm) did not show significantly different, in the medium size group (2-3 cm) and large size group (3-5 cm) the Tubifex sp. treatment were significantly different from the other treatments (P<0.05) whereas between ME0, ME1 and ME2 treatments were not significantly different. Among the supplemental enzyme in test diets, ME2 can improve weight and total length 6.25% and 13.4%, respectively than ME0 treatment. The results suggested that enzyme supplementation can improve intestinal structure and growth performance of catfish larvae. The supplemental enzyme in diets with doses up to 2 g kg-1 can increase intestinal villi’s length but have not been able to increase fish growth performance as use worm. Abstrak Penambahan enzim pada pakan buatan dengan dosis berbeda untuk ikan lele Afrika Clarias gariepinus (bobot awal 0,0048 ± 0,0001 g dan panjang total 0,7633 ± 0,0392 cm) telah dilakukan selama 12 hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas penambahan enzim pada pakan untuk pertumbuhan larva ikan lele. Cacing sutra (kontrol) dan multienzim ditambahkan pada pakan dengan dosis 0,00 g kg-1 (ME0), 1,00 g kg-1 (ME1) dan 2,00 g kg-1 (ME2) pakan. Masing-masing dari empat perlakuan disusun secara acak dengan empat ulangan. Larva ditebar dalam 150 L dengan kepadatan 1350 ekor per akuarium. Data dianalisis menggunakan SPSS 20, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwas intasan dan faktor kondisi tidak berbeda nyata antarperlakuan. Nilai panjang dan bobot akhir, jumlah konsumsi pakan, panjang vili dan aktivitas enzim tertinggi diperoleh pada kontrol (P<0,05) dan berbeda nyata dengan perlakuan yang lain. Efisiensi pakan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Distribusi ukuran panen, pada kelompok kecil (1-2 cm) tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, pada kelompok sedang (2-3 cm) dan kelompok besar (3-5 cm) kontrol menunjukkan perbedaan yang nyata, namun antara ME0, ME1 dan ME2 tidak berbeda nyata. Pada perlakuan pakan buatan yang ditambahkan enzim, ME2 dapat meningkatkan bobot dan panjang total 6,25% dan 13,4% dibandingkan ME0. Diduga bahwa penambahan enzim dapat meningkatkan struktur usus dan kinerja pertumbuhan pada larva lele Afrika. Penambahan enzim dengan dosis sampai 2 g kg-1 pakan dapat meningkatkan panjang villi usus, namun belum mampu meningkatkan pertumbuhan ikan sebagaimana penggunaan cacing.
Evaluation of glutamine supplementation in the diet on the structure and function of the intestine and the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus (Burchell 1822) juvenile Ismail Rahmat; Dedi Jusadi; Mia Setiawati; Ichsan Ahmad Fauzi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 21 No 2 (2021): June 2021
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v21i2.575

Abstract

A triplicate experiment was conducted to evaluate the effect of the diet supplemented with free glutamine (Gln) on intestinal structure and function, as well as the growth performance of African catfish Clarias gariepinus juvenile. The commercial feed was supplemented with Gln of either 0% (control), 0.7%, 1.4% or 2.1%. Fish measuring 2 ± 0.02 cm were stocked in 12 aquariums 50x40x35 cm filled with water at a volume of 50 L with a density of 2,000 fish m-2. Fish were cultured for 30 days and fed on the diets three times a day at satiation. Results showed that the growth rate and biomass of the fish at the end of the experiment had a quadratic response, with the maximum growth achieved at 0.7% Gln treatment. The response pattern of fish growth was in line with the distribution of fish length. Fish in 0.7% Gln treatment had number fish measuring 5-6 cm more than 12% less than other treatments, while fish measuring 7-8 cm were more than other treatments. Higher growth in the 0.7% Gln treatment correlated with longer villi, higher protein retention, and ultimately higher feed efficiency. Increased intake of Gln in the diet also caused an increase in intestinal protease enzyme activity, and accumulation of Gln in the liver, but did not increase the enzymes activity of the liver Superoxidase Dismutase (SOD). It can be concluded that feeding on a diet supplemented with 0.7% Gln can improve the structure and function of the intestine, as well as increase the target size of catfish juvenile production. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penambahan Glutamin bebas (Gln) pada pakan yang menghasilkan struktur dan fungsi usus, serta kinerja pertumbuhan benih ikan lele Clarias gariepinus yang terbaik. Pakan komersil disuplementasi Gln sebanyak 0% (kontrol), 0,7%, 1,4% dan 2,1%. Ikan lele ukuran 2 ± 0,02 cm ditebar ke dalam 12 akuarium 50x40x35 cm3 yang diisi air setinggi 30 cm dengan kepadatan 2000 ekor m-2. Ikan dipelihara selama 30 hari, dan diberi pakan sesuai perlakuan tiga kali sehari sekenyangnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan dan biomassa ikan di akhir penelitian memiliki respon kuadratik, dengan pertumbuhan maksimal tercapai pada perlakuan Gln 0,7%. Pola respon pertumbuhan ikan sejalan dengan distribusi panjang ikan. Ikan pada perlakuan 0,7% Gln memiliki jumlah ikan berukuran 5-6 cm lebih sedikit 12% dibandingkan dengan perlakuan lainnya, sedangkan ikan dengan ukuran 7-8 cm lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Lebih tingginya pertumbuhan di perlakuan 0,7% Gln berkorelasi dengan vili yang lebih panjang, retensi protein yang lebih tinggi, yang pada akhirnya efisiensi pakan juga tinggi. Peningkatan asupan Gln di pakan juga menyebabkan peningkatan aktivitas enzim protease usus, dan akumulasi Gln di hati, namun tidak meningkatkan aktivitas enzim Superoksidase Dimutase (SOD) hati. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan Gln 0,7% pada pakan dapat memperbaiki struktur dan fungsi usus, serta meningkatkan target ukuran produksi benih ikan lele.
Evaluation of dietary coffee Coffee canephora husk supplementation on the growth, blood chemicals, and antioxidative activity of red Nile tilapia Oreochromis sp. Azmi Afriansyah; Setiawati, Mia; Muhammad Agus Suprayudi; Ichsan Achmad Fauzi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.18-26

Abstract

Coffee by-products can be used as a feed additive for red Nile tilapia. This study aimed to evaluate the utilization of different dietary coffee husk supplementation dosages on the growth and antioxidative activity of red Nile tilapia (Oreochromis sp.). This study was designed following the completely randomized design experimental method, containing five dietary supplementation treatments, namely P0 (control, 0%), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%), and P4 (4%). Fish were reared for 8 weeks and fed three times a day. Parameters observed contained growth performance and antioxidative activity. The results showed that dietary coffee husk powder supplementation treatments provide higher growth than control treatment. Based on blood chemicals, coffee husk-supplemented diets could enhance the HDL content and reduce cholesterol, triglycerides, and LDL (P<0.05). Superoxide dismutase enzyme was also found higher in coffee husk supplemented diets than in control diet (P<0.05). The MDA level decreased on the coffee husk-supplemented diet treatment and was lower than the control treatment (P<0.05). Dietary supplementation of coffee husk could positively affect liver performance, based on hepatosomatic index and glycogen level. This study concludes that 4% coffee husk in the diet is considered the best treatment to improve the growth and antioxidation level of red Nile tilapia. Keywords: antioxidant, coffee husk, diet, growth, tilapia ABSTRAK Coffee by- product dapat digunakan dalam pakan ikan nila sebagai feed additive. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung kulit dengan dosis berbeda terhadap kinerja pertumbuhan dan antioksidan ikan nila merah (Oreochromis sp.). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari lima perlakuan pakan, yaitu P0 (Kontrol), P1 (1%), P2 (2%), P3 (3%) dan P4 (4%). Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari. Parameter yang diamati adalah kinerja pertumbuhan dan antioksidan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian tepung kulit kopi dalam pakan memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi dari perlakuan kontrol. Profil biokimia darah menunjukkan bahwa penambahan tepung kulit kopi meningkatkan HDL dan menurunkan kolesterol, trigliserida dan LDL pada ikan yang diberi pakan perlakuan yang mengandung kulit kopi lebih tinggi dibandingkan dengan control (P<0,05). Enzim SOD lebih tinggi pada ikan yang diberi pakan perlakuan kulit kopi dibandingkan control (P<0,05). Kadar MDA menurun pada perlakuan penambahan tepung kulit kopi dan lebih rendah dari perlakuan control (P<0,05). Suplementasi tepung kulit kopi berpengaruh positif terhadap kinerja hati yang ditunjukkan pada nilai indeks hepatosomatik dan glikogen hati. Penelitian ini menyimpulkan bahwa, penggunaan tepung kulit sebesar 4% dalam pakan dianggap paling baik dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan dan antioksidan pada ikan nila. Kata kunci: antioksidan, kulit kopi, pakan, pertumbuhan, ikan nila
Crayfish as Food in Indonesia Ichsan Achmad Fauzi; Shella Marlinda; Zulhamsyah Imran
BIODIVERS - BIOTROP Science Magazine Vol. 1 No. 2 (2022): BIODIVERS (BIOTROP Science Magazine) - Save Biodiversity for Sustainable Well-b
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56060/bdv.2022.1.2.1983

Abstract

-
EVALUASI MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN PADA PEMBESARAN IKAN LELE DENGAN SISTEM BIOFLOK PADA SKALA LAPANG Ekasari, Julie; Banin, Muhammad Ilham Labulal; Fauzi, Ichsan Achmad; Vinasyiam, Apriana
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 20, No 2 (2024): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.20.2.59-66

Abstract

Manajemen pemberian pakan melalui kombinasi pemberian pakan protein tinggi dan pakan protein rendah diduga dapat menekan biaya produksi pada usaha budidaya pembesaran ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi manajemen pemberian pakan dengan kadar protein berbeda terhadap kinerja produksi dan kinerja usaha budidaya pembesaran ikan lele yang dipelihara dalam sistem bioflok. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini memiliki bobot awal 5,48±1,31 g dan panjang awal 9,36±0,54 cm. Manajemen pemberian pakan dilakukan dengan pemberian pakan tinggi protein (HP) (33%) selama masa pembesaran dan kombinasi pakan HP (selama 42 hari pertama) dengan pakan rendah protein (LP) (14%) hingga panen. Kedua perlakuan ini diujikan pada dua sistem pembesaran ikan lele dengan metode konvensional pada kepadatan rendah (150 ekor m-3) dan sistem bioflok dengan kepadatan tinggi (500 ekor m-3). Tingkat kelangsungan hidup ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05). Laju pertumbuhan dan efisiensi pakan terbaik terdapat pada perlakuan pemberian pakan protein tinggi dan tidak berbeda antara sistem konvensional dan sistem bioflok. Pemberian pakan rendah protein meningkatkan retensi protein pada kedua sistem pemeliharaan. Hasil analisis usaha menunjukkan bahwa perlakuan bioflok dengan pakan HP menghasilkan keuntungan terbesar di antara perlakuan lainnya yaitu Rp 24.413.257, R/C ratio sebesar 1,07, dan payback period selama 1,51 tahun. Penggunaan sistem bioflok dengan pakan berprotein tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha pembesaran ikan lele dibandingkan dengan sistem konvensional dengan kepadatan rendah. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan protein rendah tidak dapat menurunkan biaya pakan ataupun meningkatkan keuntungan usaha pembesaran ikan lele.
A Kinetic Approach for Employing Two Duckweed Species, Lemna minor, and Spirodela polyrhiza, in the Sustainable Aquaculture Wastewater Treatment and Fish Feed Production Rifai, Ridwan Muhamad; Yulistyorini, Anie; Siswahyudi, Dwi; Pratiwi, Jenvia Rista; Fauzi, Ichsan Achmad; Rachminiwati, Nina
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 31 No. 6 (2024): November 2024
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.31.6.1223-1230

Abstract

Duckweed, a widely used natural fish feed, has also become more popular as the phytoremediation agent for wastewater, including one sourced from aquaculture. These two features indicate that duckweed can be utilized in a sustainable aquaculture system by treating and reclaiming nutrients from wastewater and then harvesting them for fish feed production. Hence, this study attempted to assess the approach of the two most known duckweed species, i.e., Lemna minor and Spirodela polyrhiza, in depleting NH4 and PO4 from synthetic controlled aquaculture wastewater as well as to understand their yield based on the N : P ratio. Cultivation in synthetic aquaculture wastewater media was carried out, followed by nutrient uptake and growth analysis. According to statistical analysis, both L. minor and S. polyrhiza could remove NH4 and PO4 with a relatively equal rate (p-val > 0.050). Nonetheless, both duckweed species absorb nitrogen more easily than phosphorous (p-val < 0.050). Considering the yield based on nutrient uptake, NH4 drove a more efficient yield for L. minor to S. polyrhiza at 16.70 g dry biomass/g NH4 and 14.14 g dry biomass/g NH4, respectively. Meanwhile, a higher yield was observed on S. polyrhiza than on L. minor regarding PO4 concentration, at 19.31 g dry biomass/g PO4 and 9.10 g dry biomass/g PO4, respectively. Therefore, a strategy to remove nutrients and produce biomass for fish feed can be formulated based on the N : P concentration ratio, where L. minor tends to produce biomass more rapidly in a higher N : P ratio, whereas S. polyrhiza works in the opposite.
Effectiveness of NSP enzyme and organic chromium supplementation in low-protein feed on carbohydrate utilization in Pomfret Colossoma macropomum Faiqotul Himmah, Maihardiyanti; Achmad Fauzi, Ichsan; Ekasari, Julie; Raditya Gumelar, Muhammad; Muhammad Agus Suprayudi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.21-31

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of NSP enzyme and organic chromium supplementation in low-protein Colosoma macropomum diet to increase carbohydrate utilization. The diets contains isoprotein (20%) and isoenergy. Factorial design with two factors, namely NSP enzyme (0 and 1 g/kg) and organic chromium (0, 1, and 2 mg/kg). Fish are reared in an aquarium measuring 80 x 50 x 35 cm3 and containing 75 L of water and stock at the density of 15 fish and reared for 60 days. The test parameters used are postprandial blood glucose levels, antioxidant activity, glycogen in muscle and liver, and growth performance. The results showed that the highest postprandial blood glucose levels were when the NSP enzyme was administered. Furthermore, the lowest malondialdehyde (MDA) values and the highest superoxide dismutase (SOD) and glutathione peroxide (GPx) values were obtained in fish fed feed containing 1 g/kg of NSP enzyme and 1 mg/kg organic chromium. Fish fed feed containing 1 g/kg NSP enzyme and 1 mg/kg organic chromium showed significant values in liver and muscle glycogen as well as growth performance compared to other treatments. From this research, it can be concluded that supplementation of NSP enzyme and organic chromium at doses of 1 g and 1 mg per kg of feed produces the best growth performance and anti-oxidant capacity in pomfret fish. Keywords: antioxidant, glycogen, growth performance, postprandial blood glucose ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas suplementasi enzim NSP dan kromium organik pada pakan ikan bawal Colosoma macropomum rendah protein untuk meningkatkan pemanfaatan karbohidrat. Pakan yang digunakan mengandung iso protein (20%) dan isoenergi. Rancangan faktorial dengan dua faktor yakni enzim NSP (0 dan 1 g/kg) dan kromium organik (0, 1, dan 2 mg/kg). Ikan bawal dipelihara dalam akuarium dengan ukuran 80 x 50 x 35 cm3 dan berisi air 75 L diisi 15 ekor ikan dan dipelihara selama 60 hari. Adapun parameter uji yang digunakan adalah pengukuran kadar glukosa darah postprandial, aktivitas antioksidan, glikogen, dan kinerja pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan kadar glukosa darah postprandial tertinggi pada pemberian enzim NSP. Selanjutnya nilai malondialdehyde (MDA) terendah dan superoxide dismutase (SOD) dan glutathione peroxide (GPx) tertinggi didapat pada ikan yang diberi pakan mengandung pada 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik. Ikan yang diberi pakan yang mengandung 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik menunjukkan nilai signifikan pada glikogen hati dan otot serta kinerja pertumbuhan dibanding perlakuan lainnya. Dari penelitian ini dapat disimpulakan bahwa suplementasi enzyme NSP dan Kromium organik pada dosis 1 g dan 1 mg per kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan dan kapasitas antioksidan terbaik pada ikan bawal. Kata kunci: antioksidan, glikogen, glukosa darah postprandial dan kinerja pertumbuhan
Evaluation of processed rubber seed oil Hevea brasiliensis utilization as lipid source in Clarias gariepinus feed Annisa, Nuraini; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Fauzi, Ichsan Ahmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.131-141

Abstract

ABSTRACT Clarias gariepinus rearing is mostly done with intensive systems that use a lot of commercial feed. The price of raw material for the feed lipid source which is currently the main source of fatty acids in freshwater fish feed continues to increase and compete with human needs. Rubber seed oil (RSO) is considered feasible to be an alternative. This study aimed to evaluate the use of heated RSO as alternative lipid source in C gariepinus feed. The results of this study indicated that heating could reduce HCN levels in RSO by 95%. Even after heated RSO was inserted into the feed formulation there is still HCN in feed, however it did not affect the survival rate of C. gariepinus statistically. Heated RSO based feed shows a specific growth rate that was higher than non-heating RSO-based feed. Feeding with heated RSO also did not affect nutrient retention in C. gariepinus. This also followed by blood profile, blood chemistry and body fatty acids profile, MDA levels and SOD levels which were almost same as treatment feed using fish oil and corn oil. From these results, it can be concluded that heating can reduce 95% HCN content in RSO and can be used as a lipid source in C. gariepinus feed. Keywords: Aquaculture, essential fatty acids, growth performance, HCN, rubber seed oil. ABSTRAK Budidaya ikan lele Clarias gariepinus dengan sistem intensif menggunakan banyak pakan buatan. Harga bahan baku untuk sumber lemak pakan terus meningkat dan bersaing dengan kebutuhan manusia. Minyak biji karet (MBK) layak menjadi alternatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan MBK yang dipanaskan sebagai sumber lemak alternatif dalam pakan ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan proses pemanasan dapat mengurangi kadar HCN pada MBK hingga 95%. Walaupun masih terdapat sejumlah kecil HCN pada pakan berbasis MBK yang dipanaskan, tetapi tidak memengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan lele (p>0,05). Pakan berbasis MBK proses pemanasan menunjukkan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dari pakan berbasis MBK yang tidak dipanaskan. Pemberian pakan berbasis MBK proses pemanasan juga tidak memengaruhi retensi nutrisi ikan lele. Demikian pula parameter profil darah, kimia darah, profil asam lemak tubuh, kadar MDA dan kadar SOD hampir sama dengan pakan perlakuan berbasis minyak ikan dan minyak jagung. Sehingga dapat disimpulkan MBK proses pemanasan dapat mengurangi 95% kandungan HCN dan dapat digunakan sebagai sumber lemak dalam pakan ikan lele. Kata kunci: Akuakultur, asam lemak esensial, HCN, kinerja pertumbuhan, minyak biji karet.