Ichsan Achmad Fauzi
Department Of Aquaculture, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Bogor Agricultural University, Bogor, Jawa Barat

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Cellulase hydrolyzed Indigofera zolingeriana leaf utilization as a feed ingredient for gourami fingerling Jefry, Jefry; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Fauzi, Ichsan Achmad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.139-147

Abstract

This study was aimed to evaluate the utilization of hydrolyzed Indigofera zolingeriana by celullase enzyme as the feed ingredient of gourami fish. This study used a completely randomized design which contained three steps, whereas each step contained four treatments and four replications. The first step performed by evaluating the Indigofera leaf meal (ILM) added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of ILM on gourami seeds. The third step was feed evaluation added with ILM as much as 0% (control), 15%, 30%, and 45% against the growth performance on gourami seeds. The gourami seeds used in the second and third steps with a weight of 13.65 ± 0.39 g/seed and 5.95 ± 0.15 g/seed, respectively. The addition of 0.8 g/kg and 1.2 g/kg cellulase enzyme could significantly decrease the crude fiber of ILM with 43.33%, besides having the best value of total, ingredient, protein, lipid, and energy digestibility. The growth performance of gourami seeds given 15% ILM added feed had the best value and insignificantly different from the control feed without ILM addition based on the specific growth rate (SGR), protein retention (PR), and feed efficiency (FE). Keywords: Cellulase, feed, hydrolyze, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan daun Indigofera zolingeriana yang dihidrolisis enzim selulase sebagai bahan baku pada pakan benih ikan gurami. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga tahap, dimana masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Pada tahap pertama dilakukan evaluasi tepung daun Indigofera (TDI) yang ditambahkan enzim selulase sebesar 0 g/kg (kontrol), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, dan 1.2 g/kg. Pada tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan TDI pada benih ikan gurami. Pada tahap ketiga dilakukan evaluasi pakan yang ditambahkan TDI sebesar 0% (kontrol), 15%, 30% dan 45% terhadap kinerja pertumbuhan pada benih ikan gurami. Benih ikan gurami yang digunakan pada penilitian tahap kedua dengan bobot 13.65 ± 0.39 g/ekor dan 5.95 ± 0.15 g/ekor. Penambahan enzim selulase pada dosis 0.8 g/kg dan 1.2 g/kg secara signifikan mampu menurunkan serat kasar TDI sebesar 43.33 % dan memberikan nilai terbaik terhadap nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Kinerja pertumbuhan benih ikan gurami yang diberikan pakan yang ditambahkan TDI sebesar 15% memilki nilai terbaik dan tidak berbeda nyata terhadap pakan kontrol tanpa TDI dari aspek laju pertumbuhan spesifik (LPS), retensi protein (RP) dan efisiensi pakan (EP). Kata kunci: Hidrolisis, Indigofera zolingeriana, Osphronemus gouramy, pakan, selulase.
Utilization of hydrolyzed corncob as a carbohydrate source in diets for red Nile tilapia Oreochromis niloticus Fauzan; Suprayudi, Muhammad Agus; Fauzi, Ichsan Achmad; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.32-40

Abstract

This study was aimed to evaluate the influence of corncob hydrolysis on its crude fiber content, digestibility level, and utilization in the red Nile tilapia diet. This study was performed in two steps, namely hydrolysis and digestibility test. The first study step was enzymatic hydrolysis using 0.4 g/kg cocktail enzyme, followed by chemical hydrolysis using hydrochloric acid (HCl) at different treatments, i.e. concentration, incubation period, and ratio. The second step was designed using a completely randomized design with five treatments, i.e. Rd (reference diet), TJt15% (15% unhydrolyzed corncob), TJt30% (30% unhydrolyzed corncob), TJh15% (15% corncob hydrolysis), and TJh30% (30% corncob hydrolysis). The average weight of tilapia was 15.86 ± 0.19 g/fish. The hydrolyzed corncob meal used for the second study step from the hydrolysis production could reduce 57.53% of crude fiber, 38.15% of NDF fiber fraction, 6.43% of ADF fiber fraction, and 61.96% of hemicellulose. The digestibility test results showed that the hydrolyzed corn cob diet obtained a higher digestibility level, digestive enzyme activity, and blood plasma protein than the unhydrolyzed corncob diet (P<0.05). This study concludes that the corncob hydrolysis eliminates the crude fiber content, fiber fraction contents (NDF, ADF, and hemicellulose), and improves the digestibility level of red Nile tilapia. Keywords: Corn cobs, crude fiber, digestibility, hydrolysis, tilapia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh hidrolisis tongkol jagung terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatannya dalam pakan ikan nila merah. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu hidrolisis bahan dan uji kecernaan. Penelitian tahap pertama yaitu hidrolisis secara enzimatik menggunakan koktail enzim 0,4 g/kg dan dilanjutkan dengan hidrolisis kimiawi menggunakan asam klorida (HCl) dengan perlakuan yang berbeda yaitu konsentrasi, lama waktu inkubasi, dan rasio. Penelitian tahap kedua dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan yaitu Rd, TJt15% (tongkol jagung tidak dihidrolisis 15%), TJt30% (tongkol jagung tidak dihidrolisis 30%), TJh15% (tongkol jagung dihidrolisis 15%), dan TJh30% (tongkol jagung dihidrolisis 30%). Ikan uji dengan bobot rata-rata sebesar 15,86±0,19 g/ekor. Hidrolisis tepung tongkol jagung dengan konsentrasi HCl 0.1 N, lama waktu inkubasi 8 jam, dan dengan rasio 1:4 yang digunakan untuk penelitian selanjutnya. Hidrolisis terhadap tepung tongkol jagung dapat menurunkan serat kasar 57,53%, fraksi serat NDF 38,15%, ADF 6,43%, dan hemiselulosa 61,96%. Hasil penelitian uji kecernaan menunjukkan bahwan pakan yang mengandung tongkol jagung terhidrolisis menghasilkan nilai kecernaan, aktivitas enzim pencernaan dan protein plasma darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak dihidrolisis (P<0.05). Kesimpulanya, hidrolisis tongkol jagung menggunakan asam klorida (HCl) 0,1 N, lama waktu inkubasi 8 jam, dan rasio 1:4 dapat menurunkan serat kasar, fraksi serat (NDF, ADF, dan hemiselulosa), serta meningkatkan nilai kecernaan pakan ikan nila merah. Kata kunci : Hidrolisis, kecernaan, nila, serat kasar, tongkol jagung
Dietary citral increase growth and health performance of shrimp Penaeus vannamei Hadi Pratama, Ricky; Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Achmad Fauzi, Ichsan; Wiyoto, Wiyoto
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.200-209

Abstract

Phytoadditives have been acknowledged to have some beneficial effects on metabolic processes and health of some aquaculture species. This study aimed to evaluate the effect of dietary citral on carbohydrate utilization, growth and health performance of vannamei shrimp P. vannamei. This study used a completely randomized design (CRD) with four dietary treatments with different citral doses (0, 50, 75, and 100 mg citral/kg feed) in triplicates. Shrimp were reared for 60 days using fiber containers (50×50×80cm) of 30 shrimp/container. The frequency of feeding is given four times a day. Dietary citral supplementation of 100 mg/kg resulted in higher shrimp growth and feed utilization efficiency than those of the control. The level of amylase enzyme, post-prandial blood glucose, muscle, and liver glycogen were higher in the treatments with dietary citral than those of the controls. The shrimp immune response was also higher in the shrimp fed with dietary citral diets as shown by the higher total hemocyte count, respiratory burst, and phenoloxidase activity compared to those of the control. At the same time, antioxidant capacity in the hepatopancreas as indicated by superoxide dismutase and malondialdehyde level were also improved in shrimp with citral treatment. It can be concluded that dietary citral could increase the utilization carbohydrate, growth performance and health of shrimp at a concentration 75 mg/kg. Keywords: citral, carbohydrate, growth, health, P. vannamei ABSTRAK Secara umum telah diketahui bahwa fitoaditif memiliki pengaruh yang menguntungkan pada proses metabolisme dan kesehatan beberapa spesies akuakultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan citral pada pakan terhadap pemanfaatan karbohidrat, kinerja pertumbuhan dan kesehatan udang vanname. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dosis citral yang berbeda (0, 50, 75, dan 100 mg citral/kg pakan) dengan tiga ulangan. Udang vanname dipelihara selama 60 hari menggunakan wadah bak fiber (50×50×80cm) sebanyak 30ekor/wadah. Frekuensi pemberian pakan diberikan sebanyak empat kali sehari. Penambahan citral 100 mg/kg menghasilkan pertumbuhan udang yang lebih tinggi dan efisiensi pemanfaatan pakan dibandingkan kontrol. Tingkat enzim amilase, glukosa hemolim post-prandial, glikogen otot, dan glikogen hati lebih tinggi pada perlakuan penambahan citral dibandingkan kontrol. Respon imun udang juga lebih tinggi pada udang yang diberi penambahan citral seperti yang ditunjukkan oleh jumlah total hemosit, respiratory burst, dan aktivitas fenoloksidase yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Pada saat yang sama, aktivitas antioksidan dalam hepatopankreas udang yang ditunjukkan oleh Superoksida dismutase dan Malondialdehida juga meningkat pada udang dengan perlakuan citral. Dapat disimpulkan bahwa penambahan citral dapat meningkatkan pemanfaatan karbohidrat, pertumbuhan dan kesehatan udang pada konsentrasi 75. Kata kunci: citral, karbohidrat, kesehatan, pertumbuhan, udang vaname
Characteristics and quality of biofloc in vannamei shrimp culture with different carbon sources Faris Allam, Muhammad; Ekasari, Julie; Achmad Fauzi, Ichsan; Wiyoto, Wiyoto
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.1.92-100

Abstract

The different carbohydrate complexities are thought to affect the bioavailability of carbon sources for heterotrophic bacteria in the biofloc formation process and produce different biofloc characteristics. Based on these, the purpose of this study was to evaluate the effect of using carbon sources with different levels of complexity on the characteristics and quality of biofloc in pacific white shrimp (Penaeus vannamei) rearing. The carbon sources used in this study were dextrose (DX), potato starch (ST), and α-cellulose (CL). The experimental tests were the TAN (total ammonia nitrogen) reduction test which was carried out for 16 hours and the shrimp rearing test which was carried out for 30 days. Parameters measured to determine the characteristics of biofloc in shrimp rearing test were bifloc volume, biofloc particle size, biofloc nutrient composition, and water quality. The DX treatment produced the lowest TAN in the TAN reduction test. The shrimp rearing test showed the biofloc had different nutrient quality between the treatments. Meanwhile, the water quality between the treatments had relatively close values, but the CL treatment was able to suppress TAN and NO2 lower than the DX and ST treatments during the rearing period. In addition, it is feared that the biofloc volume of the DX treatment which is higher than the ST and CL treatments is feared to be the main cause of stress in shrimp. The conclusion of this study is that complex carbohydrates, especially cellulose, have more potential in improving the performance of the biofloc system. Keywords: biofloc volume, carbohydrate complexity, nutrient composition, particle size ABSTRAK Kompleksitas karbohidrat diduga dapat memengaruhi bioavaibilitas sumber karbon bagi bakteri heterotrof dalam proses pembentukan bioflok, sehingga kompleksitas karbohidrat yang berbeda diduga dapat menghasilkan karakteristik bioflok yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan sumber karbon dengan tingkat kompleksitas yang berbeda terhadap karakteristik dan kualitas bioflok pada pemeliharaan udang vaname (Penaeus vannamei). Sumber karbon yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekstrosa (DX), tepung kentang (ST), dan α-selulosa (CL) dan rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (rancangan acak lengkap). Penelitian ini memiliki dua jenis pengujian yang dilakukan secara paralel, yaitu uji penurunan TAN (total ammonia nitrogen) yang dilakukan selama 16 jam dan uji pemeliharaan udang yang dilakukan selama 30 hari. Parameter yang diukur untuk mengetahui karakteristik bioflok pada pemeliharaan udang adalah volume biflok, ukuran partikel bioflok, komposisi nutrien bioflok, dan kualitas air pemeliharaan. Perlakuan DX menghasilkan TAN paling rendah pada uji penurunan TAN. Bioflok yang dihasilkan dari uji pemeliharaan udang menunjukkan kualitas nutrien bioflok yang berbeda-beda antar perlakuanya. Sementara itu kualitas air antar perlakuan memiliki nilai yang relatif berdekatan, tetapi perlakuan CL mampu menekan TAN dan NO2 lebih rendah dari perlakuan DX dan ST selama masa pemeliharran. Selain itu, volume bioflok akhir perlakuan perlakuan DX yang lebih tinggi dari perlakuan ST dan CL dikhawatirkan dapat menjadi penyebab utama stres pada udang. Kesimpulan dari penelitian ini adalah karbohidrat kompleks khususnya selulosa lebih berpotensi dalam meningkatkan performa sistem bioflok. Kata kunci: kompleksitas karbohidrat, komposisi nutrisi, ukuran partikel, volume bioflok
Evaluation of food digestibility in Nile tilapia fish Oreochromis niloticus given NSP enzymes and organic chromiium Oktaviani, Amelia; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.136-147

Abstract

Feed is a crucial factor in tilapia farming because it contributes 92% of the total production cost. This study aims to evaluate the digestibility and utilization of carbohydrates in low-protein feed supplemented with NSP enzymes and organic chromium. The research method employed a factorial completely randomized design with treatments of organic chromium (0, 1, 2) and NSP enzymes (0, 1). The study used 18 aquariums, each measuring 50×40×35 cm. The fish used were tilapia with an average weight of 33.09 ± 0.06 g per fish. The feed used was commercial feed supplemented with organic chromium and NSP enzymes. The study focused on digestibility performance, digestive enzyme activity, growth performance, and antioxidant status. The results showed that the treatments E1C1 and E0C2 resulted in better total digestibility, energy digestibility, and protein digestibility compared to the control and other treatments. Lipase, protease, and amylase enzymes in tilapia fed with the E1C1 treatment showed significantly higher results (P<0.05) compared to the control. Growth performance in tilapia fed with NSP enzymes and organic chromium did not show significant differences from the control (P>0.05). However, antioxidant status, specifically SOD and GPx, was significantly higher in the E0C1 treatment compared to the control (P<0.05). The conclusion of this study is that the addition of NSP enzymes and organic chromium to low-protein feed can improve digestibility and optimize carbohydrate utilization, with the best results achieved with the E1C1 treatment. Keywords: antioxidant, digestive enzymes, Nile tilapia, nutrient digestibility ABSTRAK Pakan menjadi factor krusial dalam usaha budidaya ikan nila karena memiliki kontribusi sebesar 92% dari total biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan dan kemampuanpemanfaatan karbohidrat pada pakan protein rendah yang diberienzim NSP dan kromium organik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan kromium organic (0,1,2) dan enzim NSP (0,1). Wadah yang digunakan merupakan aquarium yang berukuran 50×40×35 cm sebanyak 18 unit. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 33,09 ± 0,06 g/ekor. Pakan yang digunakan merupakan pakan komersial yang diberi penambahan kromium organik dan enzim NSP. Penelitian ini difokuskan pada kinerja kecernaan, aktivitas enzim pencernaan, kinerja Pertumbuhan serta status Antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan E1C1 dan E0C2 menghasilkan nilai kecernaan total, kecernaan energi dan kecernaan protein yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol dan perlakuan lainnya. Enzim lipase, protease dan amilase pada ikan nila yang diberipakan perlakuan E1C1 menunjukkan hasil yang lebih tinggi secarasignifikan (P<0,05) terhadap kontrol. Kinerja pertumbuhan pada ikan nila yang diberienzim NSP dan kromium organik menghasilkan nilai yang tidak signifikan dengan kontrol (P>0,05). Walaupun demikian, status antioksidan yang dihasilkan yaitu SOD dan GPx pada perlakuan E0C1 menghasilkan nilai yang lebih tinggi secara signifikan terhadap kontrol (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan enzim NSP dan kromium organik pada pakan rendah protein mampu meningkatkan kinerja kecernaan dan memanfaatkan karbohidrat dengan optimal. Hasil terbaik pada perlakuan E1C1. Kata kunci: antioksidan, enzim pencernaan, kecernaan nutrient, ikan nila
Growth and health performance of pacific white shrimp fed diets with varying protein levels and citral supplementation Paramadina, Siwi; Ekasari, Julie; Agus Suprayudi, Muhammad; Achmad Fauzi, Ichsan; Shofa Adestia, Talita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.185-198

Abstract

Citral is known for its antimicrobial, antioxidant, and anti-diabetic properties. This study evaluates the effects of dietary citral supplementation on glucose absorption, growth, feed utilization, and health of Pacific white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) fed different protein levels. A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.22 ± 0.01 g) were reared in 180 L tanks (30 shrimp/tank) for 60 days. Citral supplementation increased blood glucose levels in the first two hours post-feeding, with a faster return to basal levels. Growth and feed efficiency also improved with citral diets. After stress testing, citral and dietary protein showed a synergistic effect on superoxide dismutase (SOD), with the highest level in the 75 mg/kg citral, 35% protein diet, correlating with higher post-challenge survival. Total haemocyte count (THC), phenoloxidase (PO) activity, respiratory burst (RB), and blood clotting time improved with citral supplementation, while protein level only affected RB. After Vibrio challenge, higher protein increased THC and reduced clotting time, while citral enhanced THC, PO, and RB. The highest post-challenge survival was observed in shrimp fed 75 mg/kg citral with 35% protein (p<0.05). These findings suggest dietary citral supplementation may enhance shrimp health and resilience against stress and Vibrio infection. Keywords: Citral, Cymbopogon citratus, post-prandial glucose, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus ABSTRAK Citral dikenal memiliki sifat antimikroba, antioksidan, dan anti-diabetes. Studi ini mengevaluasi efek suplementasi citral dalam pakan terhadap absorpsi glukosa, pertumbuhan, pemanfaatan pakan, dan kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Percobaan faktorial 2×3 dilakukan dengan dua variabel: kadar protein (30% dan 35%) serta konsentrasi citral (0, 50, dan 75 mg/kg). Udang (3,22 ± 0,01 g) dipelihara dalam tangki 180 L (30 ekor/tangki) selama 60 hari. Suplementasi citral meningkatkan kadar glukosa darah dalam dua jam pertama setelah makan, dengan penurunan lebih cepat ke tingkat basal. Pertumbuhan dan efisiensi pakan juga meningkat dengan pakan yang mengandung citral. Setelah uji stres, citral dan protein menunjukkan efek sinergis terhadap kadar superoksida dismutase (SOD), dengan kadar tertinggi pada perlakuan 75 mg/kg citral dalam diet protein 35%, yang berkorelasi dengan tingkat kelangsungan hidup pasca tantangan yang lebih tinggi. Jumlah hemosit total (THC), aktivitas fenoloksidase (PO), respiratory burst (RB), dan waktu pembekuan darah meningkat dengan suplementasi citral, sementara kadar protein hanya berpengaruh pada RB. Setelah tantangan Vibrio, kadar protein yang lebih tinggi meningkatkan THC dan mempercepat pembekuan darah, sedangkan citral meningkatkan THC, PO dan RB. Kelangsungan hidup pasca tantangan tertinggi ditemukan pada udang yang diberi 75 mg/kg citral dengan protein 35% (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa suplementasi citral dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan dan ketahanan udang terhadap stres dan infeksi Vibrio. Kata kunci: Citral, Cymbopogon citratus, glukosa pasca makan, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus
Evaluation of protein and lipid on feed of Tilapia Oreochromis niloticus Niagara, Niagara; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.266-273

Abstract

The goal of this study was to discover the optimal protein and lipid levels for increasing the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus. A 2×2 randomized factorial design was used for this research, and two treatment factors were used: the protein level (28% and 32%) and the lipid level (6% and 8%). So, there were four test treatments and carried out with three replications. Nile tilapia with an average body weight of 5.60 ± 0.06 g were grown in a 900×45×35 cm3 aquarium at a density of 20 fish/aquarium. The experimental fish were grown for 60 days and fed three times daily until they appeared to be satisfied. Parameters evaluated in this study were growth performance and blood chemistry. The fish fed with diet 32;8 showed significantly higher growth than other treatments. Plasma protein in the fish fed with 32;6 diets were higher than those of plasma triglycerides, high density lipoprotein, and low density lipoprotein content were the same among the treatments. The result shows that feed 28;8 has the best protein efficiency ratio and protein retention. Keywords: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lipid, feed ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar protein dan lipid yang optimum dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak faktorial 2×2 dengan dua faktor perlakuan yaitu kadar protein (28% dan 32%) dan kadar lipid (6% dan 8%). Jadi terdapat empat perlakuan uji dan dilakukan dengan tiga kali ulangan. Ikan nila dengan rata-rata bobot badan 5,60 ± 0,06 g dipelihara dalam akuarium berukuran 900×45×35 cm3 dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi makan tiga kali sehari secara at satiation. Parameter yang dievaluasi dalam penelitian ini adalah kinerja pertumbuhan dan kimia darah. Ikan yang diberi perlakuan dengan pakan 32;8 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Protein plasma pada ikan yang diberi pakan 32;6 lebih tinggi dibandingkan dengan trigliserida plasma, HDL dan LDL rendah yang sama antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan 28;8 mempunyai nilai protein efesiensi rasio dan retensi protein terbaik. Kata Kunci: Oreochromis niloticus, protein sparing effect, lemak, pakan
KONTRIBUSI BIOFLOK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT BERBEDA Ekasari, Julie; Handayani, Tri Novi; Fauzi, Ichsan Achmad; Maulana, Fajar; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.59-70

Abstract

Biomassa bioflok dalam sistem pemeliharaan ikan dapat dimanfaatkan menjadi pakan alami tambahan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan lele Clarias gariepinus yang dipelihara menggunakan teknologi bioflok dengan tingkat pemberian pakan berbeda. Perlakuan terdiri dari tiga tingkat pemberian pakan, yaitu 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), dan 2,5% (FR2,5). Benih ikan lele dengan panjang awal 11,92 ± 0,03 cm dan bobot awal 11,31 ± 0,11 g dipelihara dengan padat tebar 25 ekor per akuarium (500 ekor m-3) selama 42 hari. Ulangan biologis tiap perlakuan berupa 3 unit akuarium (volume air 50 L). Ikan diberi pakan 3 kali setiap hari dengan jumlah pakan sesuai perlakuan. Penambahan tepung tapioka dilakukan setiap hari untuk mencapai rasio C/N 10. Hasil penelitian menunjukkan bobot akhir menurun seiring penurunan tingkat pemberian pakan (P<0,05), seperti ditunjukkan pula laju pertumbuhan spesifik. Terdapat indikasi kontribusi bioflok terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele berdasarkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan dan retensi protein. Akan tetapi, tidak dapat menggantikan peran pakan eksternal. Tingkat pemberian pakan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele pada sistem bioflok.Biofloc biomass could be used as additional natural food for fish in a biofloc-based fish culture system. This study aimed to evaluate the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus cultured in a biofloc system fed at different feeding levels. The treatments consisted of three feeding levels; 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), and 2,5% (FR2,5). Catfish juveniles with an initial average body length of 11,92 ± 0,03 cm and average body weight of 11,31 ± 0,11 g were reared at a density of 25 fish per aquarium (500 fish m-3) for 42 days. Each treatment had three unit aquaria (50 L water volume) as replicates. Cassava meal was added daily to reach C/N ratio of 10. The results showed that the fish’s final weight and specific growth rate were reduced, corresponding to the feeding rate. There was an indication that biofloc contributes to the fish growth performance based on the feed efficiency and protein retention level. However, biofloc could not replace the role of external feed to support the growth of African catfish.
Reduksi Nitrogen dan Fosfor dari Air Limbah Budidaya Perikanan menggunakan Free-Water Surface Constructed Wetlands dengan Lemna minor Ummi Afifatul Mufida; Ridwan Muhamad Rifai; Ichsan Achmad Fauzi; Nina Rachminiwati; Anie Yulistyorini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 23, No 4 (2025): July 2025
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.23.4.907-914

Abstract

Semakin banyaknya pembangunan di Indonesia termasuk fasilitas industri perikanan memberikan dampak pada kondisi lingkungan. Fasilitas industri perikanan di Kota Malang saat ini belum memiliki sistem pengolahan air limbah. Faktanya air limbah budidaya ikan yang dihasilkan dapat mencemari air permukaan. Polutan (Nitrogen dan Fosfor) yang terdapat pada air limbah budidaya ikan baik hasil dari sisa metabolisme maupun sisa pakan ikan dapat menyebabkan eutrofikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa reduksi konsentrasi polutan (Nitrogen dan Fosfor) pada air limbah budidaya perikanan dengan menggunakan tanaman air Lemna minor menggunakan sistem Free-Water Surface Flow Constructed Wetlands (FWS CW). FWS CW yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai dimensi tinggi 0,4 m, panjang 2 m dan lebar 1 m. Debit air limbah budidaya ikan yang dialirkan menggunakan dua macam Hydraulic Retention Time (HRT), yaitu 14 jam dan 7 jam. FWS CW dengan HRT 14 jam dengan debit inlet 15,14 mL/s dapat menurunkan konsentrasi amonium, nitrat dan fosfat dengan tingkat efisiensi 50,09%; 28,11%; dan 72,37%. Sedangkan FWS CW dengan HRT 7 jam dan debit inlet 30,28 mL/s dapat menurunkan konsentrasi amonium, nitrat dan fosfat dengan tingkat efisiensi 38,93%; 23,91%; dan 88,28%. Dapat disimpulkan bahwa FWS CW dengan HRT 14 jam lebih efisien untuk mereduksi nitrogen, sedangkan FWS CW dengan HRT 7 jam lebih efisien untuk mereduksi fosfor.
Optimization of Thalassiosira sp. Growth in Mixotrophic Culture by Adding Sucrose and Indole-3-Acetic Acid (IAA): Optimization of Thalassiosira sp. Growth in Mixotrophic Culture by Adding Sucrose and Indole-3-Acetic Acid (IAA) Talita Shofa Adestia; Anargya Pradipa Tristanandana; Muhammad Ridzky Adhory; Ichsan Achmad Fauzi; Muhammad Agus Suprayudi; Julie Ekasari
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 15 No. 2 (2026): JAFH Vol. 15 No. 2 June 2026
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v15i2.85600

Abstract

Thalassiosira sp. is a significant marine diatom utilized as live feed in aquaculture; however, its culture productivity frequently remains below optimal levels. The present study evaluated the growth performance and culture quality of Thalassiosira sp. under two parallel cultivation strategies: a mixotrophic system supplemented with sucrose and a system supplemented with Indole-3-Acetic Acid (IAA). Both cultivation schemes were maintained for seven days under identical environmental conditions. Sucrose was administered at concentrations ranging from 0.25 to 1 g/L, while IAA was applied at 2.5 to 10 mg/L. Cell density, specific growth rate, dry biomass, and total Vibrio count were measured. Sucrose supplementation, particularly at 1 g/L, resulted in increased growth and biomass accumulation but was accompanied by elevated Vibrio abundance. IAA supplementation also promoted growth and biomass production, with the most pronounced effect observed at 10 mg/L, although it did not reduce bacterial proliferation. These findings indicate that both sucrose and IAA can enhance Thalassiosira sp. culture productivity under controlled conditions, but effective microbial management remains essential for practical implementation.