Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Deteksi Mutasi Epidermal Growth Factor Receptor pada Pasien Kanker Paru Menggunakan Algoritma Random Forest Fauzi, Ichsan; Muflikhah, Lailil; Adikara, Putra Pandu
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 9 No 10 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker paru adalah gangguan sistem pernapasan terutama pada paru-paru yang disebabkan oleh pertumbuhan sel kanker. Mutasi EGFR adalah mutasi yang terjadi pada gen EGFR yang berperan penting dalam menangani sel kanker tanpa proses operasi. Deteksi mutasi EGFR masih sulit untuk dilakukan sehingga membutuhkan pendekatan baru untuk mendeteksi mutasi EGFR dengan aman, akurat, dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model Random Forest yang dapat digunakan untuk mendeteksi mutasi EGFR pada pasien kanker paru. Penelitian ini juga melibatkan beberapa teknik preprocessing data dan optimasi hyperparameter untuk membangun model dengan kinerja terbaik. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari data klinis pasien RSUD Dr. Saiful Anwar Kota Malang pada tahun 2018 dan 2019. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SMOTE sebagai metode resampling terbaik yang mampu meningkatkan kinerja model Random Forest hingga memperoleh accuracy 0,975, f1-score 0,969, dan AUC 0,994 pada data uji. Kombinasi hyperparameter n trees 50, max depth 7 dan 9, dan min samples split 3 dan 5 menjadi kombinasi hyperparameter terbaik berdasarkan pengujian data uji dengan accuracy 0,975, f1-score 0,969, dan AUC 0,997. Model yang dihasilkan diharapkan dapat berkontribusi dalam perkembangan di bidang teknologi dan kesehatan terutama dalam penanganan pasien kanker paru di Indonesia.
KONTRIBUSI BIOFLOK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT BERBEDA Ekasari, Julie; Handayani, Tri Novi; Fauzi, Ichsan Achmad; Maulana, Fajar; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.17.2.2022.59-70

Abstract

Biomassa bioflok dalam sistem pemeliharaan ikan dapat dimanfaatkan menjadi pakan alami tambahan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan lele Clarias gariepinus yang dipelihara menggunakan teknologi bioflok dengan tingkat pemberian pakan berbeda. Perlakuan terdiri dari tiga tingkat pemberian pakan, yaitu 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), dan 2,5% (FR2,5). Benih ikan lele dengan panjang awal 11,92 ± 0,03 cm dan bobot awal 11,31 ± 0,11 g dipelihara dengan padat tebar 25 ekor per akuarium (500 ekor m-3) selama 42 hari. Ulangan biologis tiap perlakuan berupa 3 unit akuarium (volume air 50 L). Ikan diberi pakan 3 kali setiap hari dengan jumlah pakan sesuai perlakuan. Penambahan tepung tapioka dilakukan setiap hari untuk mencapai rasio C/N 10. Hasil penelitian menunjukkan bobot akhir menurun seiring penurunan tingkat pemberian pakan (P<0,05), seperti ditunjukkan pula laju pertumbuhan spesifik. Terdapat indikasi kontribusi bioflok terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele berdasarkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan dan retensi protein. Akan tetapi, tidak dapat menggantikan peran pakan eksternal. Tingkat pemberian pakan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele pada sistem bioflok.Biofloc biomass could be used as additional natural food for fish in a biofloc-based fish culture system. This study aimed to evaluate the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus cultured in a biofloc system fed at different feeding levels. The treatments consisted of three feeding levels; 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), and 2,5% (FR2,5). Catfish juveniles with an initial average body length of 11,92 ± 0,03 cm and average body weight of 11,31 ± 0,11 g were reared at a density of 25 fish per aquarium (500 fish m-3) for 42 days. Each treatment had three unit aquaria (50 L water volume) as replicates. Cassava meal was added daily to reach C/N ratio of 10. The results showed that the fish’s final weight and specific growth rate were reduced, corresponding to the feeding rate. There was an indication that biofloc contributes to the fish growth performance based on the feed efficiency and protein retention level. However, biofloc could not replace the role of external feed to support the growth of African catfish.
Pestisida Nabati Berbahan Baku Limbah Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) untuk Mengatasi Hama Penting pada Tanaman Asparagus (Asparagus officinalis) Damanik, Dina Layali; Ifana, Cindy Anola; Firmansyah, Lutfi; Wandira, Sindy; Fauzillah, Ridwan; Dewi, Ratna; Rakanu, Andrian; Gupi, Ainul Firman; Hanifa, Salma; Anwar, Ruly; Fauzi, Ichsan Ahmad; Novianti, Shilfa
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpim.4.2.23-30

Abstract

Asparagus merupakan tanaman dari golongan hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi pada kancah global maupun nasional. Tanaman asparagus di Indonesia merupakan jenis varietas dari hasil introduksi negara yang berada di kawasan subtropis, hal ini menyebabkan pertumbuhan tanaman asparagus tidak dapat optimal di Indonesia. Selain itu, kondisi suhu dan kelembaban yang tinggi di Indonesia menyebabkan tanaman asparagus rentan terserang oleh penyakit dan hama. Desa Cigunungsari belum lama melakukan budidaya tanaman asparagus sehingga banyak masalah yang terjadi. Ulat grayak (Spodoptera litura) adalah hama utama yang menyerang asparagus di Desa Cigunungsari sehingga mengakibatkan adanya penurunan pada jumlah panen serta kualitas asparagus, sehingga diperlukan upaya untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Upaya yang dilakukan yaitu melakukan sosialisasi pestisida nabati dari limbah kulit bawang merah kepada masyarakat Desa Cigunungsari. Ulat grayak memiliki sifat yang polifag sehingga memungkinkan untuk menyerang tanaman lain. Pembuatan pestisida nabati cukup mudah dilakukan, yakni merendam kulit bawang dengan toples berisi air. Rendaman tersebut kemudian ditutup rapat dan difermentasi selama 48 jam sebelum diaplikasikan. Pestisida nabati ini masih belum dapat dinyatakan efektif untuk mengendalikan hama ulat grayak. Stadia telur merupakan stadia yang dilaporkan petani berhasil dikendalikan serta pestisida ini bersifat repelen bagi semut.